Latest Post

Photo Story: Poster Cafe, 2014

Poster Cafe, sekarang.
Poster Cafe, sekarang.

"Kita sedang ziarah," seloroh Zaka, menyeringai. Saya mengangguk antusias. "Ini Ka'bah-nya indie."

Sepanjang dekade 90'an, pojok kecil di kompleks Museum Satria Mandala, Gatot Subroto, Jakarta ini menjadi titik lebur bagi berbagai komunitas musik di Jakarta. Pada mulanya ia bernama Manari Open Air, sebuah kafe ruangan terbuka. Di antara akuarium dan pub ini, band-band seperti Netral dan Java Jive bermain.

Kemudian, ia bertransformasi pada 1993 menjadi Poster Cafe, sebuah kafe milik Ahmad Albar (vokalis grup rock legendaris, God Bless) yang lantas menjadi salah satu titik terpenting dalam perkembangan subkultur musik independen.

Pasca Poster Cafe ditutup pada tahun 1999, ia beralih fungsi menjadi kafe biliar bernama Jakarta Club, yang juga berujung bangkrut. Pasca Jakarta Club gulung tikar, menurut petugas di Museum Satria Mandala, pengelola museum tak lagi memperbolehkan pojok tersebut disewakan sebagai kafe atau ruang bisnis lain.

Kedua gedung legendaris tersebut pun membusuk. Di dalam gedung eks-Manari Open Air, kami melihat ceruk-ceruk hampa bekas akuarium melalui pintu kaca yang terkunci rapat. Atap eks-Manari pun bocor, membuat tetesan air hujan berakumulasi selama bertahun-tahun. Kerak lumut dan jamur aneka warna tumbuh subur di lantai, dinding, dan atap. Sayang, kamera Zaka tak mampu memotret interior tersebut dengan baik. Lensa tersebut tak mampu menembus debu tebal dan sarang laba-laba yang memburamkan kaca.

Usaha kami memotret interior eks-Poster Cafe pun tak berjalan mulus. Pintu reot itu dulu pernah dilewati band-band seperti Rumahsakit, Pestolaer, Waiting Room, dan Naif. Kini, ia dibungkam oleh gembok berkarat. Beruntung, sebuah lubang ventilasi kecil luput ditutup. Zaka berdiri di atas tempat sampah, menjaga keseimbangan sambil menyelipkan kameranya ke dalam.

Sementara itu, saya mengintip di antara pintu dan melalui kisi-kisi kaca yang berdebu. Di dalamnya, terletak tumpukan peralatan masak dan tempat duduk yang berkarat dan berdebu. Sebatas puing. Zaka memanggil saya dan menunjukkan hasil fotonya. Interior eks-Poster Cafe tampak seperti medan perang. Saya ganti mengintip melalui lubang ventilasi itu. Mata saya disambut dinding berjamur, cat mengelupas, sarang laba-laba, dan rangka kompor berkarat. Hidung saya pun diserang bau apak yang kentara. Saya bergidik. Rasanya seperti digiring masuk kerangka gedung rubuh di Sarajevo.

"Jangan lupa foto meriam di depan, Rak." Pesan Bin Harlan sebelum kami berangkat memotret. "Itu salah satu ikon." Kami melewati sepasang meriam di lapangan depan Museum Satria Mandala sambil merengut menahan terik matahari, takjub pada peziarahan kami.

Terakhir saya berdebar-debar sehebat ini pasca mengunjungi sepotong masa lalu, saya masih duduk di Taman Kanak-Kanak. Mata saya terbelalak melihat replika fosil Tyrannosaurus Rex di Museum Geologi Bandung.

Di dekat pintu masuk gedung museum itu sendiri, saya melihat sebuah penanda. Ia berbunyi - "Jangan sekali-kali melupakan sejarah." Saya menepuk bahu Zaka, lantas menunjuk penanda tersebut. Ia tersenyum lebar dan mengangguk-anggukkan kepala.

Ia paham ironinya.

Tags: