Latest Post

“We’re gonna die, and you’re gonna watch”: Yegor Letov dan Para Pelopor Punk Uni Soviet

CATATAN REDAKSI: Satu hal yang patut diingat dan dicamkan baik-baik sebelum membaca adalah bahwa di tulisan ini, ‘rock’ dan ‘punk’ sering ditulis seolah-olah keduanya adalah hal yang sama dan bisa dialihbahasakan dengan satu sama lain. Dalam konteks Barat, jelas keduanya adalah hal yang berbeda walau – bisa dibilang – bersaudara. Namun dalam konteks Uni Soviet, rock dan punk adalah bagian dari sebuah subkultur alternatif dan ‘pinggiran’ yang sama. Di Uni Soviet, bercerita tentang punk mustahil tanpa bercerita tentang rock. Begitupun sebaliknya. Oleh karena itu, jangan kaget bila tulisan ini tak sekedar berbicara mengenai sejarah dan pergerakan punk rock saja, namun juga melihatnya dari kacamata musik rock secara umum. Selamat membaca!

****

Pada tanggal 19 Februari 2008, Yegor Letov tidur di rumahnya di Omsk dan tak bangun lagi. Kondisi jantung yang sudah dia miliki sejak kecil akhirnya merenggut nyawanya di usia 43 tahun. 73 penggemar Letov ditahan polisi saat hendak berkumpul untuk mengenangnya. Tak lama kemudian, konser tribute untuk Letov dibubarkan polisi. “Bahkan ketika sudah meninggal, Letov tak memberi mereka kedamaian.” Ujar Mikhail Novitsky, personil band SP Babai. “Warisannya adalah sebuah pemberontakan yang berani, namun tak memiliki tujuan jelas.” Komentar kolumnis Sergey Chernov. “Dan sesungguhnya, itu benar-benar punk.”

“Dia seniman yang dianugerahi bakat luar biasa,” ujar pendiri stasiun radio rock Nashe, Mikhail Kozyrev. “Tapi bakat itu datang bersama setan-setan yang menyiksanya sepanjang hidupnya. Saya rasa dia tak bisa mengendalikan setan-setan itu.” Majalah RUSSIA! memproklamirkan bahwa kematiannya adalah “akhir sebuah era.” The Guardian menimpali bahwa Yegor Letov “adalah contoh utama dari hal-hal terbaik dan terburuk di budaya rock Rusia.” Media-media, baik lokal maupun internasional, berbondong-bondong memujinya sebagai inkarnasi Rusia dari Sid Vicious dan Kurt Cobain. Sementara itu, chorus salah satu lagunya berdeklamasi kencang: “We’re gonna die, and you’re gonna watch.

Yegor Letov meninggal sebagaimana dia hidup – dengan penuh perdebatan. Mulai dari warisannya, peran dan sumbangsihnya pada pergerakan punk di Rusia, hingga ideologi dan pandangannya. Bahkan perdebatan terjadi tentang cara dia meninggal. Menurut pernyataan resmi band, dia meninggal dengan tenang dan tiba-tiba. Sementara, koran Komsomolskaya Pravda menyebut bahwa dia meninggal secara pelan dan penuh rasa sakit. Yegor Letov menyulut begitu banyak pertanyaan sepanjang hidupnya. Bahkan dalam tidur abadinya sekalipun, dia terus menggelitik pikiran pendengar-pendengarnya.

Rasanya seolah dia ingin kita terus bergumul dengan diri kita sendiri. Terus bertanya dan mengevaluasi ulang nilai-nilai yang kita pegang teguh. Rasanya seolah dia ingin mendorong kita menuju sebuah kondisi perubahan yang konstan dan tak pernah berakhir. Ada yang bilang dia “satu-satunya punk sejati di Rusia”. Ada yang bilang dia pengkhianat. Yang jelas, sepanjang hidupnya dia setia pada satu kredo. Sebuah kredo yang selalu meneriakkan genderang perlawanan.

 

 

Berbicara mengenai Yegor Letov adalah berbicara tentang punk Rusia. Dan, berbicara tentang punk Rusia adalah berbicara tentang musik rock di Rusia. Pada awal kemunculannya, musik rock ditolerir sampai pada batas tertentu oleh otoritas Uni Soviet. Salah satu sumber menyebutkan bahwa band asal Uni Soviet pertama yang memainkan musik rock adalah The Revengers, yang muncul pada tahun 1961 di Riga, Latvia, memainkan versi cover dari band AS dan bernyanyi dalam bahasa Inggris.

Ini karena rock dianggap sebagai salah satu jenis musik peneman dansa belaka oleh otoritas Uni Soviet. Tapi, perkembangan rock di Barat berkata lain. Rock tidak diam di tempat, melainkan bertransformasi seiring dengan semakin peliknya situasi sosial sepanjang dekade 60’an. Lagu-lagu yang lebih rumit dan mengandung pesan politik semakin marak. Belum lagi eksperimentasi musik yang semakin mendorong batas-batas konvensi mengenai apa itu rock, dan bahkan musik itu sendiri. Rock berubah dari sekedar perayaan kehidupan yang hedonis menjadi sebentuk pemberontakan budaya. Takut bahwa rock di Rusia akan ikut menjadi subversif seperti para pelopornya di Barat, pemerintah Uni Soviet mulai menekan perkembangan musik rock di dekade 70'an.

Rock dituding sebagai budaya yang tidak berfaedah, sekedar komoditas kapitalis yang merusak pikiran rakyat. Salah satu sumber yang cukup mencerminkan sikap meremehkan campur curiga dari otoritas Uni Soviet ini adalah makalah ‘Popular Music In The Soviet Union: Problems And Opinions’ karya Israel Nestiev, seorang musikolog asal Uni Soviet.

“Musik populer di sebuah masyarakat kapitalis menawarkan momen kesenangan yang palsu dan sementara. Kesenangan semu inilah yang mereka jadikan komoditas.” Terang Nestiev. “Sementara di masyarakat yang bebas dari eksploitasi kelas di mana budaya tidak tergantung pada komersialisme, seni dan musik populer memiliki fungsi lain. Yakni; memperkaya kehidupan spiritual, estetika, dan budaya dari masing-masing individu.”

Dengan ‘masyarakat yang bebas dari eksploitasi kelas’, tentu yang dia maksudkan adalah masyarakat komunal yang terbentuk dalam idealisme komunis Uni Soviet.

Tapi, waktu terus bergulir. Dekade gila 60’an melahirkan idealisme hippies, menentang kekerasan dan kehancuran tak perlu yang dibawa oleh Perang Dingin antara blok Barat dan blok Komunis. Perang Dingin seolah termanifestasi di hutan hujan dan jalanan Vietnam, di mana blok dukungan AS melawan blok dukungan Uni Soviet dalam perang yang melelahkan dan kontroversial. Vietnam berakhir bencana bagi Amerika Serikat. Idealisme hippies runtuh. Memasuki dekade 70’an, keputusasaan dan nihilisme di generasi itu mulai perlahan-lahan menemukan pengejewantahannya; sebuah subkultur anyar yang membawa ide-ide perbedaan, melawan otoritas dan ideologi yang sudah mantap, dan menjunjung idealisme tinggi. Sebuah subkultur bernama punk

Sejarah masuknya punk ke Uni Soviet sendiri adalah sejarah yang penuh dengan interpretasi asal, nihilisme tidak jelas, dan sikap ugal-ugalan. Sejak pemerintah Uni Soviet semakin mengekang distribusi dan diseminasi informasi mengenai budaya Barat – termasuk di antaranya musik – informasi sekecil apapun mengenai perkembangan budaya Barat menjadi sesuatu yang sulit diterima. Ketika pergerakan punk mulai berkembang dan meledak di Barat pada tahun 70’an, Uni Soviet tak terlalu terpengaruh oleh ledakan budaya tersebut. Vladimir Kozlov, dalam artikelnya “Punk Rock In a Non-Western Society” bahkan berani menyebut bahwa tidak ada ‘scene’ punk yang benar-benar terorganisir, setidaknya dalam pengertian umum mengenai apa itu sebuah ‘scene’, di Uni Soviet, bahkan hingga tahun 1990’an.

Musisi-musisi Uni Soviet harus berhadapan dengan gabungan sensor negara ketat dan isolasi budaya. Di Uni Soviet, semua musisi yang hendak merilis lagu harus mengirimkan lirik lagu mereka terlebih dahulu ke otoritas negara, yang akan menimbang kelayakan lirik tersebut. Jika liriknya subversif dan melawan ideologi komunis, bahkan secara tersirat, maka lagu tersebut akan dibredel. Ketika lagu tersebut lolos dari sensor, distribusi dan perilisan kemudian dimonopoli oleh Melodiya, satu-satunya label rekaman yang diakui dan dikelola oleh negara. Ini berpengaruh besar pada musik Uni Soviet pada masa itu. Pada tahun 60’an dan 70’an, musisi-musisi Uni Soviet mulai jamak memainkan gaya musik yang dijuluki Kozlov, “Estrada”

Estrada bisa dibilang adalah istilah payung untuk musik-musik yang dihasilkan dalam konteks sistem sensor ketat Uni Soviet. Lirik yang terlampau berbau filosofis dan merujuk pada individu dikecam dan dianggap memiliki potensi subversif. Apalagi lirik-lirik yang merembet isu sosial dan politik. Kehabisan bahan lirik, para pencipta lagu di era Soviet akhirnya selalu berputar-putar di topik yang sama: cuaca dan alam. Tema syair yang semuanya serupa ini akhirnya membuat lagu-lagu mereka banyak disindir dan diparodikan.

 

 

Penyanyi populer Eduard Khil, misalnya, diminta mengganti lirik lagunya yang berkisah tentang kehidupan seorang koboi, karena kisah koboi dianggap menglorifikasikan kehidupan Amerika Serikat. Muak dengan sensor ini, Khil memutuskan untuk membuang lirik lagunya dan bernyanyi dengan gaya vocalization nan operatik. Lagunya terbukti populer, dan ketika generasi abad 21 menemukan kembali musik Khil, mereka menertawakan gaya vocalization kaku Khil, tanpa menyadari bahwa tindakan Khil adalah sebentuk pemberontakan kecil. Kini, dia lebih dikenal sebagai Mr. Trololo.

Terlepas dari siasat-siasat kecil di ranah arus utama, tetap ada pergerakan di budaya arus pinggir. Selaras dengan perkembangannya di Barat, musik rock di Uni Soviet seolah tiba di waktu yang tepat. Pada dekade 60’an dan 70’an, pengaruh dan kekuatan dari ideologi komunis Uni Soviet mulai luntur perlahan-lahan di masyarakat. Hilangnya pengaruh ini dibarengi dengan sistem sensor negara yang semakin membabi buta dan tidak masuk akal. Pada mulanya, ekspresi apapun – dalam konteks ini, ekspresi budaya – yang secara jelas maupun tersirat menentang ideologi Partai Komunis akan dikekang. Tapi revolusi budaya di tahun 60’an seolah membuat ‘kaget’ otoritas tertinggi Soviet. Sehingga pada akhirnya, pemerintah pusat seolah memutuskan untuk membungkam ekspresi budaya apapun yang tidak mereka mengerti. Apalagi yang mengandung pengaruh dan ‘aroma’ Barat.

Contoh tulisan dari Israel Nestiev tadi bisa dibilang cukup subtil. Sejatinya, rock dicaci sebagai penyakit masyarakat, semacam kanker yang patut dirontokkan. Bahkan, makalah-makalah pseudo-ilmiah yang menghubung-hubungkan musik rock dengan turunnya kesehatan pada manusia mulai digencarkan oleh aparatur propaganda negara. Negara memosisikan rock sebagai bagian dari budaya Barat yang dekaden dan kapitalistik. Dan oleh karena itu, dia patut digilas tanpa ampun.

Tapi, masyarakat Uni Soviet tak bisa selamanya diatur oleh aparatur negara. Bahkan sejak musik rock pertama kali mencapai kesuksesan di dekade 60’an, sudah ada pergerakan illegal di antara para penikmat musik dan masyarakat awam untuk mendapatkan berbagai bentuk ekspresi budaya Barat. Saluran radio Barat dibajak dan didengarkan bersama-sama, lepas dari hadangan lembaga sensor. Beberapa orang yang diizinkan bepergian ke luar negeri oleh negara pulang membawa piringan hitam dan cerita mengenai subkultur-subkultur baru di Barat, subkultur yang perlahan-lahan mereka kembangkan juga secara bawah tanah. Seniman oposisi memegang pekerjaan kantoran normal di pagi hari, namun membuat pameran seni avant-garde di antara teman-teman mereka sendiri pada malam hari. Karya-karya mereka dijual ke satu sama lain, atau pada kolektor-kolektor asing terpilih yang diundang secara rahasia. Literatur yang tak sesuai dengan ideologi negara disebarluaskan secara mandiri melalui sistem fotokopi bernama samizdat. Kemudian, musisi-musisi bawah tanah juga mengaplikasikan prinsip tersebut dan membuat sistem distribusi dan penggandaan kaset secara mandiri yang diberi nama magnitizdat. Dalam mata Barat, Uni Soviet adalah musuh abadi dalam Perang Dingin yang seolah tak berkesudahan. Namun nyatanya, di bawah tanah, sebuah budaya alternatif perlahan-lahan terbentuk.

 

 

Sayang, keterbatasan informasi ini seolah menjadi pedang mata dua yang ikut ‘mematikan’ perkembangan punk di Uni Soviet. Patut diingat bahwa karena sensor dan pengawasan ketat negara, bahkan rekaman musik dari musisi-musisi papan atas di Barat sekalipun sangat sulit diperoleh di Uni Soviet. Kalaupun ada, rekaman tersebut diproduksi dan didistribusikan melalui sistem bawah tanah yang, dalam kasus terbaik, bersifat semi-legal. Jika mendapatkan kaset Sinatra saja butuh perjuangan besar, bisa terbayang betapa sulitnya memperoleh rekaman terbaru dari band-band punk yang, notabene, masih terhitung bawah tanah dan lepas dari arus utama, bahkan di negara asalnya sendiri. Belum lagi mempelajari ideologi-ideologinya. Kenyataan ini berimbas besar pada peta musik punk di Uni Soviet.

Propeller, sebuah band dari Talinn, Estonia, biasa disebut-sebut sebagai band punk pertama di Uni Soviet. Namun, mereka segera diringkus dan ditekan oleh pemerintah, lantas bubar setelah merilis satu album secara illegal. ‘Pergerakan’ punk pertama baru muncul di Leningrad (kini disebut St. Petersburg) pada tahun 1979 dan 1980 awal. Band punk pertama yang mampu bertahan cukup lama adalah Avtomaticheskiye Udovletvoriteli, yang biasa disingkat AU. Nama tersebut, yang bila diterjemahkan berarti The Automatic Satisfiers, adalah terjemahan literal ‘The Sex Pistols’ dari bahasa Inggris ke Rusia. AU adalah contoh band yang bisa mewakili keadaan punk Uni Soviet di awal perkembangannya. Tak seperti rekannya di dunia Barat yang menyematkan berbagai ideologi dan diskurs pemberontakan sosial pada musik punk yang mereka usung, punk di Uni Soviet hanya berbentuk gejolak keliaran remaja belaka.

 

 

Singkat kata, ketika punk di Barat kental akan aroma politik dan isu sosial, punk di Uni Soviet hanya soal asal rusuh. Punk di Uni Soviet diartikan sebagai ‘ngaco terserah gue’, tanpa ada embel-embel politis atau ideologis apapun. Artemy Troitsky, seorang kritikus musik rock terkemuka di Uni Soviet, menulis tentang mereka: “AU menunjukkan bahwa mereka tak bisa bermain sama sekali. Dan lebih buruknya lagi – mereka tak punya energi. Anarki santai mereka di atas panggung disertai dengan mengganggu penonton, meludah ke mana-mana, dan memecahkan piring.” Troitsky kemudian berseloroh mengejek Andrey ‘Svin’ Panov, penyanyi AU, “Lihat band favorit kalian, The Sex Pistols. Mereka bukan cuma orang busuk yang mabuk. Mereka memainkan musik yang bagus, mereka punya energi. Mereka nihilis, tapi mereka juga peduli tentang isu sosial. Mereka tak cuma berpura-pura menjadi idiot.”

Andrey ‘Svin’ Panov sendiri mengaku bahwa ketika dia pertama kali jatuh cinta pada punk, dia sama sekali belum pernah mendengar musik punk. Justru, dia pertama kali tahu mengenai punk setelah melihat artikel mengenai Sex Pistols di salah satu koran resmi negara. Artikel koran tersebut mengejek habis-habisan Sex Pistols dan pergerakan punk, menyebutnya sebagai bukti dekadensi dan kehancuran peradaban kapitalistik Barat.

Namun, seperti diterangkan oleh Vladimir Kozlov, melihat gambar Sex Pistols dan punk saja sudah menjadi titik balik bagi AU, serta banyak remaja-remaja yang satu generasi dengan mereka. Orang-orang berdandanan nyentrik dan berkelakuan nakal ini diadopsi menjadi idola dan simbol perlawanan oleh generasi-generasi baru anak muda yang muak dengan rezim komunis. Namun, memang semuanya berhenti di situ saja. Sekedar simbol. Setidaknya dalam konteks AU dan pergerakan punk awal di Uni Soviet, mereka sama sekali tidak paham musiknya – apalagi ideologi perlawanan yang mereka bawa.

 

 

Mulainya punk sebagai ideologi perlawanan justru terjadi jauh dari Moskow dan Leningrad. Punk malah semakin berkobar di daerah-daerah pinggiran dan industri, salah satunya di kota Omsk. Di sinilah tempat tinggal seorang remaja muda bernama Yegor Fyodorovich Letov. Perkenalan Letov pada musik dan budaya arus pinggir sendiri bermula dari distribusi CD-CD illegal. Dari situ, dia mulai mencium adanya kemungkinan untuk perubahan. “Semua bermula di 1982.” Terang Letov dalam sebuah wawancara dengan zine legendaris Maximum Rocknroll. “Kami membentuk band bernama Posev, mengambil nama dari judul buku terkenal. Kami memainkan campuran antara punk, psikedelia, dan musik tahun 60’an.” Posev terus berlanjut antara 1982 hingga 1984 dengan formasi Letov, Babenko sebagai gitaris, dan Kuzja sebagai pemain bass. Sebagaimana kebanyakan konser band-band yang tidak diakui oleh otoritas resmi pada waktu itu, Posev hanya bermain di rumah pribadi orang lain, bahkan di ruang bawah tanah.

Tak seperti band-band punk di Moskow dan Leningrad yang melihat punk lebih dari sisi estetika daripada dari sisi ideologis, sejak awal Letov menyadari potensi punk sebagai cara untuk menyampaikan kebencian yang mendalam pada sistem yang ada. Lirik-lirik Posev, yang kemudian berubah nama menjadi Grazhdanskaya Oborona (biasa disingkat GroB), makin berbau politis. Titik balik terjadi pada tahun 1984. “Semua dimulai dengan ibu Babenko.” Tutur Letov. “Dia anggota Partai Komunis Uni Soviet. Dia mendengar rekaman lagu kami dan pergi ke KGB (polisi rahasia Uni Soviet – Red). Dia berkata ke KGB, ‘Kamerad, anak saya terlibat di organisasi anti-Soviet.’”

Lingkup kecil yang mengelilingi Letov pun terancam. Lingkup yang, selain menikmati dan menghadiri konser-konser bawah tanah illegal, juga rutin membaca fanzine dan literatur perlawanan yang dilarang negara. “Pada bulan Maret 1985, KGB membuat catatan kriminal tentang kami. Catatan itu mulai menebal pada bulan November.” Lanjut Letov. “Mereka mengunjungi kami, mencari informasi. Mereka menginterogasi semua orang dan memberi ancaman-ancaman mencekam pada kami semua.”

“Pernah suatu ketika, teman saya yang bekerja di diskotik membawa beberapa peralatan rekaman audio ke apartemen saya.” Kisah Letov. “Lalu KGB menemui dia di stasiun kereta dan bilang, mungkin akan ada sedikit ‘masalah’ dengan anaknya yang masih bayi. Wajahnya langsung pucat. Dia kembali ke rumah saya dan mengambil semua peralatannya. Semua orang ditekan.”

Tuduhan-tuduhan tak masuk akal pun dilancarkan kepada sekumpulan pemuda ini. “Kami semua digiring oleh KGB di bulan November. Mereka menuduh kami organisasi anti-Soviet, teroris. Mereka ingin menangkap kami atas tuduhan merencanakan penghancuran sebuah kilang minyak.” Terang Letov. “Kami diancam. Berkas kasus kami akhirnya sampai ke Moskow. Kuzja dipaksa menjadi tentara meskipun jantungnya tidak sehat. Dia dikirim ke Bajkonur, sebuah zona tertutup. Mereka bilang saya juga bisa dituduh mengkhianati negara, tanpa siapapun tahu saya sedang ditekan. Semua itu berlanjut selama satu bulan.”

 

 

Reaksi seperti ini, meski di atas kertas terasa berlebihan, sebenarnya termasuk umum untuk era itu. “Memang tidak ada undang-undang spesifik yang berkata bahwa orang tidak boleh memainkan musik punk, atau bahkan jenis musik apapun,” papar jurnalis dan sejarawan Vladimir Kozlov dalam sebuah wawancara. “Tapi band-band di luar sistem resmi Soviet memang tak bisa merilis album atau bermain di konser. Jadi, mereka bermain di apartemen orang dan kadang, jika peluangnya muncul, di tempat-tempat lebih besar. Tapi itu dianggap illegal. Banyak pengorganisir konser illegal yang masuk penjara. Dan ini tak hanya terjadi pada band-band punk, tapi pada band jenis manapun yang ada di ‘luar sistem.’”

Selain itu, faktor geografis juga berpengaruh pada sikap otoritas lokal. “Ketika menyangkut musik rock, daerah-daerah ‘pinggir’ bahkan lebih ketat dari Leningrad, di mana punk rock sebenarnya juga tak ditolerir.” Terang Yngvar Steinholt, akademisi dari Universitas Tromso yang telah lama meriset subkultur punk di Uni Soviet. “Di provinsi-provinsi Siberia, petugas-petugas KGB yang bosan kesulitan memenuhi target dan memberi hasil bagi pemerintah pusat. Akhirnya, mereka sering mengarang ancaman-ancaman yang sesungguhnya tak ada. Bagi mereka, adanya kemungkinan aktivitas anti-Soviet di sebuah studio musik rumahan adalah perkara serius.”

 

 

Fase ini mengubah Yegor Letov untuk selama-lamanya. “Saya diancam akan dicekcoki obat ‘pemberi kebenaran’. Saya tak pernah mencicipi obat-obatan sebelumnya. Saya tak pernah merasakan hal semacam itu. Dari situ, saya mulai berpikir bahwa tidak ada makna dalam perbuatan. Tidak ada arti.” Pemikiran ini lantas membawanya ke krisis yang begitu pelik, sehingga dia memutuskan bunuh diri. “Surat terakhir saya berkata, ‘Saya telah bunuh diri atas tekanan dari Mayor Vladimir Vladimirovich Meshkov...’ dan seterusnya. Entah bagaimana, saya ketahuan. Bahkan sampai sekarang saya tidak tahu bagaimana caranya. Saya dibawa ke bangsal orang gila dan berkas kriminal saya dihentikan.”

Dia disekap di rumah sakit jiwa selama 3 bulan. Ketika keluar, dia menemukan bahwa teman-teman lamanya telah menjauhinya. Ketika dia ingin memulai lagi proyek musiknya, orang-orang di sekitarnya terlalu takut untuk mengikutinya. “Mereka memaksa teman-teman saya menandatangani surat perjanjian untuk memutuskan hubungan apapun dengan saya.” Kata Letov. “Teman-teman saya diberi peringatan oleh departemen penuntut umum.” Sejatinya, hanya Kuzja yang masih punya cukup nyali untuk bermusik lagi dengan Letov. Setelah kembali dari dinas militer, dia lantas menjadi salah satu dari sekian banyak musisi cabutan yang menemani Letov melanjutkan Grazhdanskaya Oborona.

 

 

Namun, sebelum orang-orang pemberani itu bisa datang, Letov berjalan sendiri. Dia belajar cara memainkan drum dan instrumen-instrumen lain, lalu merekam album-albumnya sendiri di apartemennya, yang seterusnya disebut GroB Studios. Penggandaan dan distribusi kaset pun dia lakukan secara mandiri. Beberapa album pertama Grazhdanskaya Oborona (yang bila diterjemahkan berarti ‘Civil Defense’), seperti Totalitarizm (Totalitarianism), Myshelovska (The Mousetrap), dan Krasnyi Al’bom (Red Album) direkam di fase ini, menambah repertoar album yang sudah direkam sebelumnya seperti Pogania Molodezh (Disgusting Youth), Optimizm, dan Igra v Biser Pered Svin’iami (A Game of Marbles Before Swine).

Di fase awal ini, musik Grazhdanskaya Oborona sendiri tidak berhenti di punk. Pengaruh musik tradisional Rusia bercampur dengan vokal bertenaga Letov dan suara gitar yang pecah karena kualitas rekaman buruk. “GroB sering mengkutip musik pop Soviet, folk, pseudo-folk, militer, dan lagu-lagu resmi.” Jelas Steinholt. “Lagu-lagu di fase awal ini memang terdengar lebih ceria dari album-album berikutnya yang lebih ekstrim, tapi efek kejut musik dan lirik mereka sudah ada: Distorsi, disonansi, vokal yang bertenaga, salakan dan teriakan, etos anti-Soviet, sumpah serapah, anarki, kematian, perang, bunuh diri, dan kehancuran.”

Dari segi lirik, Letov dan Grazhdanskaya Oborona juga dikenal karena gaya stream-of-consciousness-nya yang surrealis. “Puisinya yang innovatif seolah terpengaruh oleh para penyair absurdis tahun 1920’an seperti Alexander Vvedensky atau Daniil Harms,” komentar Mark Yoffe di The Guardian. “Dia meminjam pepatah dan istilah umum, lalu mengubahnya secara drastis dengan cara-cara mengejutkan.” Selain mengandung ironi dan sarkasme menusuk, Letov juga sering menggunakan lirik sebagai tempat baginya untuk menyalurkan pemikiran dan pandangannya mengenai berbagai isu filosofis dan sosial. Terkadang, lagu-lagunya bisa bersifat frontal dan sarat sumpah serapah, berseberangan dengan band-band anti-sistem di Leningrad yang menggunakan perumpamaan dan kiasan untuk menyampaikan kritik sosial secara halus. Kadang, liriknya malah sama sekali tidak masuk akal dan sulit diinterpretasi. “Saya ingin membuat lirik-lirik saya lebih sulit, agar lirik tersebut bisa bekerja di tingkat bawah sadar.” Kata Letov.

Sementara Letov masih berjuang di bawah tanah, sebuah revolusi tersendiri perlahan-lahan melanda Uni Soviet. Revolusi tersebut bersandar pada satu pria: Mikhail Gorbachev. Seorang reformis yang ingin membuat Uni Soviet lebih terbuka pada dunia, dia memulai kembali hubungan diplomatik dengan Amerika Serikat, dan perlahan tapi pasti menegosiasikan akhir Perang Dingin dengan Presiden AS, Ronald Reagan. Di dalam negeri, dia memperkenalkan prinsip glasnost dan perestroika, yang membuat pemerintah lebih transparan dan melonggarkan pengaturan ketat pemerintah pada kegiatan-kegiatan dan ekspresi masyarakat. Perestroika, utamanya, berdampak besar pada wajah musik Rusia. Band-band rock mulai berani menyuarakan protes kepada pemerintah. Represi pemerintah pada ekspresi musik masih ada, namun tidak sekentara dulu. Perlahan-lahan, rock mulai terkenal di kalangan masyarakat. Dan pada tahun 1987, tiba satu lagi titik penting dalam sejarah Grazhdanskaya Oborona.

 

 

Pada tahun itu, festival rock Novosibirsk pertama kali diadakan. Acara tersebut masih dipandang dengan penuh kecurigaan oleh otoritas. VLKSM, organisasi anak muda pemerintah, melarang beberapa band bermain secara dadakan. Salah satu band yang dilarang adalah Zvuki Mu, band post-punk asal Moskow. Letov dan bandnya pun didapuk sebagai pengganti. Sebuah keputusan yang kurang bijaksana. Kaget dengan pesan-pesan radikal dan sumpah serapah politis Grazhdanskaya Oborona, listrik di panggung dimatikan secara tiba-tiba setelah 20 menit. “Ada yang melapor ke departemen KGB di Omsk.” Cerita Letov. “Kami dicatat oleh KGB dan disebut ‘pendukung fasisme.’” Beberapa kabar simpang siur tersiar mengenai apa yang terjadi pada Letov setelah konser kontroversial itu. Salah satunya menyebut bahwa Letov disekap lagi di rumah sakit jiwa, sebelum dia kabur dan menjadi buronan. Bersama Yanka Dyagileva, pacarnya yang juga merupakan figur legendaris di scene musik Rusia, dia berkeliling Rusia dan bermain di konser-konser rahasia. “Saya bersembunyi sepanjang tahun.” Kata Letov. “Saya diburu oleh militer. Jadi saya berkeliling separuh negara dan bernyanyi, bermain gitar.”

Sekitar Desember 1987, status buron pada dirinya dicabut, dan dia bisa pulang ke Omsk dengan aman. Di tahun 1988, dia merekam album Tak Zakalialas’ Stal’ (Thus The Steel Was Tempered) dan Vse Idet Po Planu (Everything’s Going According to Plan). Di album Vse Idet Po Planu, dia melahirkan lagu berjudul sama yang kemudian menahbiskan namanya sebagai legenda musik bawah tanah Rusia. Liriknya yang surrealis dan luar biasa sarkas berpadu dengan distorsi gitar berantakan, meneriakkan kata-kata ikonik mengejek komunisme dan membusuknya mayat Lenin, “The key to our borders has been broken in two, and Our Father Lenin has withered away. He's decayed into mold and wild honey. And the Perestroika is still going and going according to plan.” Dia kemudian berujar sinis, “Well, when we get communism it'll all be fucking great. It will come soon, we just have to wait. Everything will be free there, everything will be an upper. We'll probably not even have to die. I woke up in the middle of the night and realized, that everything is going according to plan.

Lagu tersebut menjadi semacam anthem anti-Soviet. Keputusasaan dan kemarahan Letov dia nyanyikan dengan lantang, menjadikannya pahlawan bawah tanah. Di tahun 1989 hingga 1990, dia merekam serangkaian album secara beruntun di fase yang, menurut kebanyakan pendengarnya, adalah era emas Grazhdanskaya Oborona. Salah satu album yang direkam di fase ini adalah Russkoe Pole Ehksperimentov (Russian Field Experiments) yang legendaris. “Di album-album ini, seluruh energi mereka tersalurkan dalam distorsi kencang.” Komentar Yngvar Steinholt. “Melodi-melodinya kadang terpengaruh musik folk, namun selalu disampaikan dengan gaya punk. Bahkan di lagu-lagu yang bergaya hardcore dan trash punk sekalipun, harmoni khas GroB dan kemampuannya mengutip jenis-jenis musik non-punk sangat terasa.” Lirik-liriknya semakin berkembang, berbentuk “slogan-slogan, kutipan dari lagu dan puisi, sumpah serapah, pepatah, headline koran, dan teriakan” yang digabung dengan “kata-kata puitis minimalis” Letov. Produktivitas Letov seolah tak terbendung. Bahkan selain di GroB, dia juga membuat proyek Kommunizm, band avant-garde yang menyatir simbol-simbol komunis, bersama temannya, komposer tersohor Sergei Kuryekhin. Namun, fase emas ini tidak bertahan lama.

 

 

Rock semakin populer. Punk semakin populer. Terlalu populer, bahkan. Band-band rock seperti Akvarium dan Kino mulai perlahan-lahan diterima oleh arus utama. Lagu-lagunya mulai sering dimainkan di radio, dan bahkan tampil di televisi. Saking terkenalnya, Melodiya (satu-satunya label resmi dan distibutor musik di Uni Soviet) mulai melirik band-band rock dan punk untuk dirilis. Entah gejala pembebasan yang mulai merebak atau semakin masuknya rock ke arus utama, ASSA, sebuah album kompilasi dan soundtrack film yang sarat protes pada pemerintah dan kritik sosial, juga dirilis oleh Melodiya (walau hanya setelah permintaan pasar yang sangat tinggi). Kekuatan kapitalisme perlahan-lahan meruntuhkan sistem Uni Soviet yang sudah berkarat itu.

Hal yang sama terjadi pada Grazhdanskaya Oborona. “Mereka memainkan lagu-lagu kami di radio, kadang tanpa sepengetahuan dan izin kami. Ini karena mereka ingin menjadikan kami bagian dari bisnis pertunjukan.” Tukas Letov dalam sebuah pernyataan di tahun 1990. “Karena situasi di sekeliling kami, Grazhdanskaya Oborona mungkin akan berhenti tampil di konser dan mendistribusikan rekaman lagu-lagu baru kami.”

Grazhdanskaya Oborona pun vakum selama 3 setengah tahun. Selama itu, Letov fokus pada proyek sampingannya, Egor i Opizdenevshie yang memainkan musik psikedelia. Bahkan setelah Grazhdanskaya Oborona reuni di tahun 1993, mereka hanya merilis segelintir album. Lebih tepatnya, 4 album antara tahun 1991-1997. Sama sekali tidak seproduktif masa jayanya. Di era ini, Letov tak lagi dikenal karena musiknya. Melainkan karena aktivitas politiknya yang kontroversial.

Kebijakan glasnost dan perestroika yang diperkenalkan pemerintah berbalik menyerang. Pergerakan separatis dan nasionalis terbit satu per satu. Belum lagi dengan jatuhnya rezim-rezim komunis lain di Eropa Timur pada penghujung dekade 1980’an. Blok Komunis goncang. Pada bulan Natal 1991, Mikhail Gorbachev berdiri di depan kamera televisi dan mengumumkan bubarnya negara Uni Soviet untuk selama-lamanya. Musuh besar yang dilawan mati-matian oleh Letov dengan penuh benci akhirnya tumbang juga. Boris Yeltsin menjadi Presiden dari Federasi Rusia yang berdiri dari abu Uni Soviet, dan Rusia semakin terasuki oleh uang dan kapitalisme. Orang-orang kaya baru berbondong-bondong menghabiskan pundi-pundi uang untuk belanja dan memakan hidangan cepat saji McDonalds. Perubahan datang nyaris secara mendadak. Walau luka-luka lama masih ternganga, wajah Rusia sudah berubah.

 

 

“Sentimen publik berubah.” Terang Kozlov. “Jelang akhir rezim komunis, banyak orang membenci sistem yang ada dan mau menerima ideologi perlawanan apapun, termasuk punk. Tapi setelah komunisme runtuh, kebanyakan orang sibuk berusaha bertahan hidup di keadaan ekonomi baru, dan tak peduli soal punk.” Selain itu, faktor ekonomi juga berpengaruh. “Dengan datangnya kapitalisme, banyak band punk ada dalam posisi sulit.” Lanjutnya. “Mereka tak cukup ‘menjual’ untuk masuk arus utama, tapi tak punya sistem tur, distribusi, dan rekaman alternatif. Jadi, sepanjang dekade 1990’an dan awal 2000’an, scene punk di Rusia terbilang kecil dan bawah tanah. Akhirnya, ada beberapa band yang bisa menembus arus utama. Tapi, mereka hanya punk dari segi musik. Lirik dan ideologi mereka sama sekali tidak berhubungan dengan pemikiran-pemikiran punk.”

Yegor Letov kehilangan musuh lamanya. Namun, dia menemukan musuh baru yang harus diruntuhkan. Sistem kapitalis ala Barat ini dipandangnya dengan penuh rasa benci. Benci ini lantas termanifestasi dalam bentuk nostalgia kepada komunisme dan politik ultra-nasionalis. Sejak runtuhnya Uni Soviet dan sistem satu partai-nya di tahun 1991, berbagai partai dan organisasi politik dari berbagai haluan mulai bermunculan. Salah satunya adalah partai ultra-nasionalis, National Bolshevik Party atau NBP yang didirikan oleh Eduard Limonov, seorang penulis avant-garde, dan Aleksander Dugin, yang menyebut dirinya pemikir “fasis sayap kiri”. Partai ini mencampuradukkan simbol-simbol komunis dan fasis, dengan ideologi ultranasionalis yang ekstrim dan sensibilitas shock culture berbau avant-garde.

Letov membentuk organisasi budaya revolusioner bernama Russkii Proryv (Russian Breakthrough) bersama Sergei Kuryekhin, sebuah aliansi komunis radikal dan ultranasionalis. Russkii Proryv kemudian bergabung dengan National Bolshevik Party sebagai cabang budaya partai, menyebarkan propaganda dan pesan-pesan partai melalui musik dan seni. Ironisnya, para eks petinggi partai Komunis dan elit budaya era Soviet menjadi musuh mereka. Pasca Uni Soviet runtuh, mereka menjadi kaum elit anyar yang tak ingin kekayaan barunya diganggu gugat oleh agitasi-agitasi para komunis muda nan radikal di NBP.

 

 

“Grazhdanskaya Oborona bahkan tak perlu mengganti repertoar lagunya,” tulis Sergey Chernov untuk majalah RUSSIA! “Letov masih menyanyikan ‘Everything Goes According To Plan’, tapi liriknya yang tadinya bermaksud sinis, berubah jadi harafiah. Bernyanyi tentang ‘Kakek Lenin’ dengan latar belakang bendera merah, dia mengangkat tangan kanannya dan memberi salam yang tulus.” Penggemar-penggemar lama Letov berbondong-bondong meninggalkannya, jijik karena pengkhianatannya pada ideologi anti-Komunis lama yang dulu dia nyanyikan. Namun, generasi anak muda baru yang juga muak pada pemerintah dan sistem kapitalistik yang menggantikan sistem Soviet datang sebagai legiun baru pemujanya.

Konser-konser Grazhdanskaya Oborona tetap penuh sesak, kali ini dengan anak-anak muda resah yang bernyanyi riuh bersama idolanya. Tapi ada yang berbeda. Bendera NBP pertama kali dikibarkan di konser Grazhdanskaya Oborona. “Dulu mereka mengejek organisasi anti-Semit, Pamyat Society, di lagu berjudul sama.” Lanjut Chernov. “Tidak ada yang bisa menebak – bahkan mungkin Letov sendiri – bahwa beberapa tahun setelah lagu itu, kumpulan neo-Nazi berseragam akan datang ke konsernya dan menyebarkan pamflet anti-Semit.”

Yegor Letov seolah berubah total. Dalam sebuah pidato atas nama Russkii Proryv, diapit figur-figur ultranasionalis lain, dia berdeklamasi. “Sebuah perang berkecamuk sepanjang sejarah kemanusiaan. Perang antara kekuatan keteraturan yang berapi-api, kreatif, dan konstruktif, melawan kekuatan kekacauan, anarki, kehancuran, stasis, dan kematian. Kehadiran saya di sini menunjukkan bahwa saya telah mengambil pilihan. Semua pergerakan kita berdiri membela kekuatan keteraturan itu, kekuatan konstruktif dan kreatif dari mentari. Revolusi proletariat baru akan datang, revolusi terakhir yang benar. Saya percaya bahwa jika kita – kaum ekstremis, nasionalis radikal, dan komunis radikal – bersatu, maka kita akan menang!” Chernov menambahkan bahwa di sebuah konferensi pers di tahun 1997, Letov berujar bahwa dia adalah seorang “nasionalis Soviet”, dan mau menggalang tentara mendukung diktator Belarusia, Aleksandr Lukashenko, jika Belarusia menginvasi Rusia.

Namun, sebenarnya masa jaya Letov telah lama lewat. Kualitas musiknya semakin menurun, dan dia dianggap telah kehilangan ketajaman lirik yang menjadi ciri khasnya. Kritikus musik Andrei Burlaka, contohnya, menyebut bahwa musik GroB “stagnan” sejak Letov memasuki dunia politik secara serius, dan menuduh Letov hanya menghabiskan uangnya untuk merilis ulang album-album lama Kommunizm dan rekaman konser live yang usang. Konser-konser GroB mulai dibatalkan aparat karena keterlibatan Letov di NBP, dan aktivitas musik mereka semakin dibatasi. Aksi-aksi media stunt yang dilakukan Letov perlahan-lahan mengurangi ruang gerak mereka. “Saya tidak bisa diwawancarai media, karena saya selalu ingin mengungkapkan pikiran saya,” kisah Letov. “Dan kalau saya mengungkapkan pikiran saya, konser akan dibatalkan.” Pada tahun 1996, Sergey Kuryekhin meninggal dunia, dan Letov mundur dari partai tersebut.

Walau masih terlibat dan vokal menyuarakan dukungan bagi pergerakan komunis, dia mundur teratur dari dunia politik. Pada akhirnya, dia menolak terlibat sama sekali dengan politik. “Saya telah terlibat di fraksi-fraksi politik paling ekstrim, jadi saya tahu cara kerja semuanya.” Ujar Letov. “Dan saya bisa melaporkan bahwa semuanya menjijikkan dan bodoh. Semuanya. Ini harus dialami agar kalian tak pernah terlibat secara sadar dalam politik, seperti yang saya lakukan.”

Yegor Letov kembali pada dunia yang membesarkan namanya – musik. Dan meskipun dia telah kehilangan banyak penggemar dan rekan karena kegiatan politiknya yang kontroversial, dia tetap dianggap sebagai ikon dalam dunia punk. Dia tetap terkenal, tetap dipuja-puja oleh legiun penggemar generasi baru. Namun, dia tetap diterpa tuduhan bahwa, karena keterlibatannya di NBP yang radikal, dia adalah seorang fasis. Beberapa kali, konser-konsernya di luar negeri dibatalkan karena ideologi fasis yang, menurut kabar burung, dianut oleh GroB. Namun mereka berjalan terus. Pada tahun 2002, GroB merilis Zvezdopad (Starfall), album yang sepenuhnya berisi cover lagu-lagu lama era Uni Soviet. Berikutnya mereka merilis Reanimatsiia (Reanimation) di 2004. Pasca merilis Zachem Sniatsia Sny (Why Are Dreams Dreamt) di tahun 2007, Letov mengucap bahwa pembuatan album tersebut membuatnya “lelah”, dan bahwa album itu bisa jadi adalah rilisan terakhir GroB. Instingnya terbukti benar. Tak sampai setahun kemudian, dia meninggal dunia.

Lantas, apa yang dia tinggalkan? Mencari tahu apa warisan yang ditinggalkan oleh Letov adalah sebuah pekerjaan rumah yang tak mudah dipikul oleh siapapun juga. Ada yang berkomentar, senada dengan pendapat Chernov, bahwa sesungguhnya ideologi dasar Letov tak pernah berubah – baik dari era Uni Soviet sampai keterlibatannya di NBP. Ideologi tersebut adalah ide sederhana perlawanan konstan yang diabadikan dalam slogan ikonik Letov, “I will always be against...

Namun, ide tersebut tak sesederhana itu. ‘Melawan’ bukan berarti harus mengundang konfrontasi langsung. “Menurut saya, agar bisa hidup dan menjadi kreatif – dua hal yang sebenarnya sama – seseorang haruslah bebas.” Kata Letov. “Dalam pengertian saya, ‘bebas’ berarti menolak semua jebakan dunia ini. Mungkin bahasa saya rada berlebihan, tapi saya rasa peradaban manusia adalah semacam orde dunia yang diberi makan oleh energi-energi tertentu. Rasa takut, sakit, iri, kehancuran, daftarnya panjang. Jika semua orang normal mau keluar dari semua itu, seperti keluar dari kebun binatang, dan hidup dengan prinsip mencukupi diri sendiri, membebaskan diri sendiri – tanpa perlu melawan atau berhubungan dengan dunia itu, dan menciptakan ruang, sistem, label, musik, serta semua karya kita sendiri dengan prinsip ‘lakukan sendiri’ – maka seluruh sisa dunia akan mati dengan sendirinya. Dan dunia itu sedang sekarat.” Pungkas Letov. “Saya cukup beruntung bisa melihat evolusi terjadi di depan mata saya sendiri.”

Kutipan tersebut selalu muncul dalam diskusi apapun mengenai Letov. Diskusi yang niscaya akan berujung perdebatan sengit mengenai apakah Letov munafik atau tidak. Pergunjingan mengenai ide-ide Letov yang tampaknya begitu kontradiktif, sehingga nyaris tak pantas dianggap sebagai ‘pemikiran’. Namun, sulit untuk memutuskan apakah perdebatan ini pantas dilakukan atau tidak. Yngvar Steinholt mengenang satu kejadian di 2002 di mana seorang penggemar asal Norwegia mendekati Letov di belakang panggung pasca konser dan bertanya, “Apakah anda fasis?” Respon Letov? Dia tertawa terbahak-bahak, dan berkata “Tidak.” Penggemar itu belum puas. “Lantas, kenapa anda sempat berurusan dengan Limonov?” Letov menjawab sederhana, “Itu urusan yang sama sekali lain.”

Sedangkan saya? Terus terang, saya sendiri kesulitan menemukan kesimpulan yang pas untuk kehidupan Letov, sebelum saya teringat kata-kata lama dari Albert Camus: “Live so free, that your very existence is an act of rebellion.”

Mungkin Letov akan tertawa mendengarnya.