Latest Post

Alter Ego #2

Apa yang kalian temukan ketika kami berlari ketakutan? Ketika kami menyendiri dalam hutan, dan mendapati kami sedang menangis dan bersenggama? Jawabannya adalah, jatuh dan menganga.

 

Seperti malam yang rentan membawa bau klitoris para perawan

Mereka dengan sigap melahap kami yang bersandang dan menangis di bawah guncangan

 

Menyendiri

Mati

Mengurungkan niat kami untuk melihat mentari

 

Menyendiri

Membuat kami ingin menjejal kelamin ini dengan jarum penghangat tanpa efek kebiri

Menyendiri

Seketika kami pulih kembali

 

Setiap episode kami bawa mati

Setiap episode tak pernah berakhir

Pembunuhan dan pembantaian sadis dari setiap birahi

 

Semesta bahkan melupakan keberadaan kami

Seperti sebuah langkah tanpa kaki langit yang bertumpu pada sebuah kenangan

Lautan air mani dan tangis pernah kami minum di kala kami tertidur dan sedang berteduh dalam birahi

Kami berlari, bertelanjang ria menikmati pagi hari

Bapa, lindungi kami di dalam surgawi

 

Di sisi kami, warna gelap dan putih bertandang melawan rindu di kala gerogotan rindu pagi, jamaknya siang hari, dan rimbunnya hutan malam

 

Setubuhi hingga aura lengket badanmu menyeruak di atas sintalnya payudaraku

Kemudian, aku menuju potretmu untuk kesekian kalinya

Menuju dewa rajungan yang telanjang dan merah

Ayah, mari menggambar dan menarilah di atas pualam, agar aku dapat melihat tilasmu diatas senja

 

Sialnya ayah, aku terhimpit di paha para remaja, di sesak jejalnya penis para pemilik kelamin kota

Perlahan mereka menjilatku dengan renyah, menjilat lekuk tubuhku yang penuh sintal

Kemudian mereka menjejali selangkanganku dengan buah busuk perusak masa depan

Mereka akan menetap, berisi belatung hidup yang berkawan, menggerogoti Esaku dengan nikmat.. aku marah! Episodeku akan datang!

 

Ayah, aku kesepian! Bawa mati seluruh nadiku dan kunyahlah seluruh helainya

Hidupkan kembali rohku, ambil beberapa rambut kelaminku, bawa pergi bersama hati dan isi otak ku

Jangan pernah kembali

Karena aku sudah mati

“apapun namanya ayah, mereka adalah momok terbesar yang hidup di dalam birahi, dan tubuhku yang Esa ini. Mereka menetap, dan mereka bersaudari dengan adinda. Mereka akan pergi, ketika aku juga pergi, ayah”