Latest Post

Anarki di Dompet dan Rotimu

Sekarang, anda bisa punya kartu kredit dengan gambar Sex Pistols. Satu kalimat yang, sepertinya, sukses meruntuhkan semua pretensi tentang punk sebagai pemberontakan. Begitu kabar mengenai dirilisnya kartu kredit Sex Pistols oleh Virgin Money dilansir, media berbondong-bondong mencibir mereka. Huffington Post berujar, “Sid Vicious tak akan tenang di liang kuburnya.” The Guardian berseloroh bahwa mereka telah menjadi “Punk rock Brand.” Pitchfork mempertanyakan munculnya kartu kredit ini, sambil menuding Sex Pistols menyalahi liriknya sendiri: The future dream is a shopping scheme!

Namun, Sex Pistols sendiri santai-santai saja. Malah, Facebook resmi mereka mengekspresikan rasa “terima kasih” karena Virgin telah mengakui keberadaan Sex Pistols. Bagi punk masa kini, tindakan Sex Pistols jelas haram tingkat dewa. Namun, bila dipandang dari kacamata jaman mereka, sebenarnya membuat kartu kredit Sex Pistols adalah tindakan punk yang terang-terangan.

 

****

Pada mulanya adalah mentega, dan punk runtuh sudah. Di tahun 2008, ikon punk dan eks vokalis Sex Pistols, John Lydon, didapuk jadi bintang iklan produk mentega bernama Country Life Butter. Tampil dengan dandanan khas gentlemen kelas atas Inggris, aksen sok, dan rambut oranye berantakannya, Lydon mengoleskan sebongkah mentega ke roti panggang yang masih panas dan menggigitnya dengan ceria. Maka, dalam 30 detik, pria yang tadinya dianggap pahlawan berubah jadi pengkhianat.

 

 

John Lydon memegang anggapan berbeda. Honor yang ia terima dari iklan tersebut dihabiskan sepenuhnya untuk mendanai reuni Public Image Limited, proyek post-punknya yang inovatif. Dan dalam sembilan dari sepuluh kali skenario, argumen Lydon masuk akal. Jika kamu mendapat kesempatan untuk kerja sehari, makan roti panggang gratis, dan dibayar dengan nominal yang cukup untuk membangkitkan proyek kebanggaanmu yang sudah mati suri selama hampir dua dekade, memangnya apa yang akan kamu lakukan? Menolak?

Tapi ini punk, bung! Punk semestinya berbeda. Ketika Sex Pistols membawa punk, mereka seperti menyebar pesan yang sederhana: Bongkar. Ambil gitarmu, pelajari tiga chord, mainkan sekeras mungkin, bikin band. Rebut mic, teriaklah sekencang mungkin, bikin band. Mereka membongkar pretensi dan menjembatani jarak antara publik dengan para penampil yang melulu didewakan dan di-‘panggungkan.’ Punk sengaja memosisikan dirinya sebagai lawan, sebagai antitesis dari kuasa dan hegemoni. Dan pemahaman inilah yang kemudian dijadikan dasar untuk mempersoalkan turut sertanya Lydon dalam iklan mentega tersebut (dan kini, pembuatan kartu kredit Sex Pistols). “Jika kamu benar-benar melawan, untuk apa kamu ikut dengan ‘mereka’?”

Masalahnya, ini argumen lama. Rage Against the Machine, misalnya, sudah kenyang dituduh munafik gara-gara menyuarakan lirik-lirik anti kemapanan melalui album yang dirilis oleh label mayor. Dan mengulang argumen ini dalam kasus punk dan Sex Pistols adalah tindakan yang keblinger dan - dare I say it - ahistoris.

Ketika Malcolm McLaren menggagas Sex Pistols, ia menggagas pula sebuah eksperimen sosial yang masif, jenaka, dan sarat ironi. Di Inggris, punk muncul di tengah remuk redamnya pemerintah demokrasi sosial Britania Raya. Ekonomi terpuruk, pemerintah kehilangan kredibilitas, dan pengangguran semakin meningkat. Britania Raya menjadi negara yang stagnan, dengan populasi anak muda yang tak melihat jalan terang menunggu di depan.

 

 

Maka hadirlah Sex Pistols dengan gaya dandan yang berantakan, sikap dan tata krama yang berantakan juga, dan lagu yang lebih berantakan lagi. Ketika para elit berusaha menghibur diri dengan mengangkat kembali simbol-simbol kejayaan masa lalu, para anak muda hilang harapan ini menemukan musik sarat cibiran dari Sex Pistols dan mengadopsinya. Teriakan Lydon, “No future! No future for you!” menjadi cara anak muda Inggris merobek-robek sikap sok dari masyarakat elit yang terbukti gagal.

Greil Marcus dengan cerdik menyimpulkan mentalitas ini dengan berujar bahwa “jika tidak ada yang benar, maka tidak ada yang mustahil.” Punk menjadi oase bagi generasi yang muak dicekoki harapan semu akan masa depan yang tidak jelas, dan mencari identitas baru yang dapat mereka adopsi untuk membedakan dirinya dari simbol-simbol lama yang telah kehilangan relevansi. “Punk berjanji membangun scene yang tidak bisa direbut,” tulis akademisi Dylan Clark. “Kemarahan, kesenangan, dan kejelekannya hendak melampaui batas pemahaman masyarakat kapitalis dan borjuis. Punk takkan tersentuh, takkan diinginkan, dan takkan bisa diatur.”

Namun, impian Malcolm McLaren bukanlah untuk menciptakan sebuah eksistensi dan scene yang sepenuhnya liyan – terpisah dari kuasa, media massa, dan arus utama. Justru sebaliknya. McLaren – dan banyak musisi punk era awal – sadar betul akan kekuatan dari arus utama, dan mereka tidak tertarik memisahkan diri dari peluang tersebut. “Dalam strategi perlawanan Sex Pistols dan Malcolm McLaren,” tulis akademisi Ryan Moore. “Institusi media massa dan ikon budaya konsumen hendak disetir untuk melawan dirinya sendiri. Semua simbol dan spektakel yang mereka miliki diputarbalikkan untuk menelanjangi palsunya sistem sosial yang seolah-olah kokoh.”

 

 

Singkat kata, mereka tidak berusaha melawan dari luar sistem. Sex Pistols menjadi sensasi lewat penampilan yang ricuh di layar televisi, pemberitaan media yang sensasional, distribusi musik oleh label mayor, dan aksi PR Stunt yang kacau balau. Menariknya, semua ini terjadi di luar kendali mereka. Semua aksi yang direncanakan McLaren gagal, dan semua aksi yang terjadi spontan justru berhasil menuai perhatian publik.

Ketika God Save the Queen merajai tangga lagu Inggris, judul lagu dan nama band tersebut disensor karena dianggap menghina keluarga kerajaan. Bahkan ada rumor bahwa single tersebut - yang mentok di posisi 2 tangga lagu - sebenarnya adalah lagu paling tenar di Britania Raya kala itu. Tapi lagu itu ‘diturunkan’ dari posisi 1 karena dianggap mengganggu ketertiban umum. Maka Sex Pistols pun membalas dengan merayakan 25 tahun berkuasanya Ratu Elizabeth II dengan menyewa kapal dan membuat konser Silver Jubilee di sungai Thames sambil memainkan lagu kontroversial itu keras-keras – dua hari sebelum kapal sang Ratu dijadwalkan melalui jalur yang sama. Moore menyebutnya  “penghancuran semiotik.” Lawrence Grossberg tanpa tedeng aling-aling menjulukinya “rock and roll against itself.

Fenomena serupa juga muncul di Amerika Serikat. The New York Dolls, misalnya, dijuluki grup “mock rock” dan kerap naik panggung dengan make up lengkap dan pakaian perempuan. Mereka bahkan sempat tampil mengenakan kostum kulit warna merah dengan latar panggung bendera palu arit. Siapa manajer mereka kala itu? Malcolm McLaren.

Pun, The Ramones mengadopsi kostum jaket kulit, celana jeans, dan kacamata hitam yang tampak persis dengan stereotip tokoh anak muda nakal di film-film murahan dekade 50-60’an untuk mengejek asumsi ngawur masyarakat. Terang saja semua ini didorong oleh rasa marah dan keterasingan terhadap budaya dan masyarakat arus utama. Namun yang jarang disorot adalah betapa kentalnya unsur ironi dan sarkasme yang mendasari cara pikir punk di era ini. Simbol-simbol itu mereka kemas ulang dengan maksud menertawakan maknanya yang tak lagi relevan. Mereka boleh saja memosisikan diri sebagai lawan dari arus utama, namun kesadaran mereka akan simbol-simbol dan jalur-jalur yang disediakan oleh arus utama sangat kuat.

 

 

Maksud dari semua ini, tentunya, adalah untuk mengagetkan publik. Sex Pistols, misalnya, menjadi bulan-bulanan media (arus utama) dan didapuk sebagai simbol kebobrokan moral generasi muda. Headline penuh sensasi macam “The Filth and the Fury” membuat mereka semakin dikenal oleh masyarakat luas. Menariknya, skandal media seperti inilah yang justru mengekspos mereka ke anak muda yang tadinya tidak tahu sama sekali soal punk, dan membuat ‘komunitas’ punk semakin luas. Mereka mengadopsi kemarahan, ironi, dan sarkasme yang dibawa Sex Pistols, dan menjelma jadi mimpi terburuk masyarakat arus utama.

Masalahnya, perlawanan seperti ini akan selalu kalah gesit dengan kemampuan industri dan arus utama untuk beradaptasi. “Sex Pistols adalah spektakel yang bergantung pada kontroversi media,” tukas Moore. “Dan seperti spektakel manapun yang tak punya substansi, mereka segera hancur begitu mendapat perhatian berlebih.” Ketergantungan punk era awal ini pada memutarbalikkan simbol-simbol dan mengagetkan publik akhirnya menjatuhkan mereka. Ketika spektakel dan taktik kejut yang lama tak berhasil, pilihannya dua: Antara mereka menambah dan menumpuk spektakel tambahan sampai gerakan tersebut menjadi berlebihan, atau mereka menerima bahwa gerakan mereka telah ‘dijinakkan’ oleh industri, dan menyerah secara spektakuler. “Masalahnya, punk mengulang kesalahan yang sama dengan subkultur-subkultur sebelumnya.” Terang Dylan Clark. “Bentuk ekspresi mereka terlalu bergantung pada musik dan fesyen – dua hal yang sangat mudah dikooptasi oleh industri.”

“Sebagian dari punk era awal adalah ‘anarki’ buatan; sebuah penampilan dari kerumunan yang lepas kendali.” Lanjutnya. “Selama penampilan itu bisa meyakinkan atau membuat khawatir masyarakat yang ‘baik-baik’, maka tujuannya tercapai. Agar permainannya berhasil, punk butuh masyarakat ‘arus utama’ yang bisa dikejutkan dan ditakut-takuti. Namun saat arus utama membuktikan bahwa masyarakat bisa membutuhkan punk, perhitungan mereka dibalik. Sikap perlawanan dari punk menjadi sikap yang komersil.”

Masyarakat mungkin syok melihat dandanan punk dan gaya musiknya, namun industri hanya melihat satu lagi peluang bisnis dan terciptanya pasar baru. “Saat gaya arus utama menjadi lebih beragam, dan saat gaya-gaya yang aneh mulai dianggap normal, punk kehilangan lawan. Punk bergantung sepenuhnya pada kemarahan masyarakat luas. Saat ia sudah tak bisa lagi mengejutkan publik, tamat sudah riwayatnya.”

 

****

Maka satu per satu, punk dipreteli. Sex Pistols bubar secara spektakuler setelah tur Amerika Serikat yang kacau balau. Sid Vicious, bassisnya yang ikonik, meninggal karena overdosis sembari menanti pengadilan atas tuduhan pembunuhan pacarnya, Nancy Spungen. Pemerintah konservatif Margaret Thatcher berkuasa di Britania Raya, sementara di Amerika Serikat, bekas aktor Ronald Reagan terpilih sebagai Presiden baru. Keduanya membawa janji serupa – untuk mengembalikan kedua negara adidaya itu sebagaimana semestinya.

Thatcher menjelma jadi musuh bebuyutan gerakan buruh dan kaum kiri. Reagan yang tak kalah konservatif berkuasa dengan kebijakan pro-bisnis dan retorika yang gencar menebar nostalgia akan ide Amerika Tempo Doeloe – sebelum flower power dan dekade 60’an merusak segalanya. Ikonnya mati, dan pemerintah dipegang oleh figur yang terang-terangan menjadi lawan. Lantas bagaimana nasib punk?

Punk pun menciptakan tempurung. Ia seperti jera berinteraksi dan menantang secara langsung simbol-simbol arus utama, karena sudah ada kesadaran bahwa mereka tak mungkin menang. Aksi gila-gilaan dan impian merajai dunia ala Sex Pistols dipinggirkan. Punk berubah menjadi gerakan yang hendak menciptakan dunia yang benar-benar liyan – di luar arus utama – alih-alih berusaha menantang dan mengejek arus utama. Meminjam istilah Moore; budaya dekonstruksi yang diwakili punk era awal berevolusi menjadi budaya keaslian. “Bagi punk saat ini,” tulis Clark. “Keanggotaan dalam subkultur, keaslian, dan prestise menjadi tindakan yang terjadi di dalam subkultur itu sendiri.”

 

 

Van Dorston menangkap perubahan sikap ini dengan baik saat ia menyindir pemujaan kritikus Greil Marcus terhadap spektakel Sex Pistols. “Menurut Greil Marcus, kehebatan punk terkuak saat Sex Pistols berani bilang ‘fuck off’ ke Bill Grundy di acara televisi. Namun, kehebatan sesungguhnya dari punk adalah kemampuan punk menciptakan sebuah subkultur yang berani bilang ‘fuck off’ ke Bill Grundy dan budaya televisi yang aman dan biasa. Punk mampu menciptakan kenyataan sosial yang berbeda dari konsumerisme yang membosankan.” Singkat kata, punk dulu dianggap hebat saat mereka bisa mengejek arus utama. Sekarang, mereka dianggap hebat karena mereka bisa menciptakan arus sendiri.

Penekanan terhadap spektakel dan taktik kejut yang menjadi karakter gerakan punk awal diganti filosofi DIY (Do-it-yourself), pembentukan jejaring bawah tanah dan komunitas yang kuat, merebaknya record store, distributor, dan label independen, serta munculnya berbagai fanzine yang mengulas musik punk dari seluruh dunia secara mendalam dan kritis. Alih-alih menggunakan taktik dan cara pikir arus utama untuk menantang arus utama secara terang-terangan, mereka mengadopsi beberapa strategi tersebut, mengembangkannya, dan menciptakan ranah baru yang tak tersentuh. “Dengan melakukan semuanya sendiri,” tulis Moore. “Mereka mengubah dunia konsumsi yang singkat menjadi lahan bagi identitas yang bertahan lebih lama dan komunitas yang lebih partisipatif.”

Namun, logika baru punk ini pada hakikatnya lahir dari kesadaran bahwa kalau mereka berinteraksi dengan arus utama, mereka pasti kalah. Fokus utama mereka bergeser ke menjaga keaslian dan kemurnian punk. Obsesi inilah yang dikritik habis-habisan oleh Moore. “(Jon) Savage memang menulis bahwa sejarah ditentukan oleh mereka yang berkata ‘tidak’, namun punk dewasa ini tidak mampu membayangkan jawaban selain ‘tidak.’” Ujarnya.

Usai eksperimen dengan spektakel yang gagal secara gilang gemilang itu, punk tak lagi punya imajinasi ataupun ambisi untuk mengembangkan filosofi DIY saat ini jadi gerakan yang lebih besar. Punk berubah layaknya katak dalam tempurung yang terlalu sibuk menjaga kemurnian scene secara paranoid. Harusnya, menurut Moore, semangat perlawanan DIY digabungkan dengan keberanian dan impian punk era awal dalam berinteraksi dan melawan arus utama.

 

****

Lantas, apa hubungannya dengan iklan mentega dan kartu kredit?

Persoalannya ada pada definisi kita tentang punk itu sendiri. Ironis, mengingat punk adalah gerakan yang susah payah menghindari pendefinisian saklek. Pada akhirnya kita harus memahami adanya bias dari cara pandang kita. Bisa jadi, kita berbicara dari kacamata punk saat ini dan menafikan fakta bahwa Lydon berkarier di era di mana bentuk pemberontakan punk sama sekali berbeda. Menurut cara pikir punk saat ini yang sengaja memisahkan diri dari segala pengaruh arus utama, yang dilakukan Lydon dan Sex Pistols jelas terlarang. Tapi bagaimana kalau kita memandangnya dengan cara pikir punk era awal?

Penulis Mike Azerrad mengungkapkan pengalamannya mencoba mewawancarai Fugazi, salah satu grup post-hardcore paling kawakan dari scene Washington D.C yang terkenal. “Sekitar tahun 1991, saya mencoba mewawancarai mereka untuk majalah Rolling Stone, yang menurut mereka mewakili semua yang mereka benci tentang menyusupnya pengaruh korporat dalam musik.” Kenang Azerrad. “Mereka bilang, ‘Kami mau diwawancarai jika kamu memberi uang tunai satu juta dollar dalam koper.’ Itu cara mereka menolak.”

Akankah John Lydon dan Sex Pistols melakukan hal yang sama? Saya ragu. Tebakan saya, mereka akan menerima tawaran wawancara dengan senang hati. Lalu mereka akan tiba di kantor Rolling Stone dalam keadaan mabuk, dan menggunakan wawancara tersebut untuk mengkritik anggota keluarga kerajaan, politisi, musisi lain, dan bahkan Rolling Stone itu sendiri. Mereka akan bikin ribut, karena memang begitulah punk versi mereka.

Akankah Ian McKaye dan Fugazi mau jadi bintang iklan mentega? Akankah kita melihat kartu kredit bergambar Marjinal? Saya rasa tidak. Dan itu tidak apa-apa. Karena, bersikukuh dengan pemahaman saklek soal apa itu punk sama saja menyalahi sejarah. Bahasa sok kerennya begini: Pemberontakan itu kontinuum, bukan dikotomi.

Punk tidak pernah mati. Dia cuma berganti bentuk.

 

Referensi:

1. Clark, Dylan. 2003. “The Death and Life of Punk, The Last Subculture,” pp. 223-36, in David Muggleton and Rupert Weinzierl (eds.), The Post-Subcultures Reader.

2. Moore, Ryan. 2004. “Postmodernism and Punk Subculture: Cultures of Authenticity and Deconstruction,” pp. 305-327, in The Communication Review, Copyright © Taylor & Francis Inc.