Latest Post

Apakah Zine Harus Digratiskan?

Untuk pertama kalinya, pada pagelaran Sajama Club bulan lalu, kami memutuskan untuk menjual Disorder Zine. Ini bukan langkah mudah – saya, Zaka, dan Adit sudah lama melupakan pretensi dapat ‘menguangkan’ Disorder dan menjadikannya kegiatan yang memang memberi keuntungan finansial. Ia memang dimaksudkan sebagai proyek senang-senang; tanpa ambisi, tanpa rencana, tanpa arah, hanya didorong oleh kehendak menulis dan (karena tidak ada istilah lain yang pas) berkarya.

Ketika satu per satu zine Sajama Cult terjual, Rain yang duduk di pojok kami menyunggingkan senyum puas. Ia ngotot mengikis keraguan saya, bersikukuh bahwa Disorder harus lebih ambisius. Setiap kata-katanya seolah berujar pada saya: Kamu tidak bisa menghidupi Disorder selamanya. Pada akhirnya, ia harus berdiri di atas kakinya sendiri. Kalau bisa ia berkembang, berkibar, bercuan. Pada akhir konser tersebut, mata saya, Zaka dan Adit terbelalak tak percaya: zine kami laku!

Konser itu mengiyakan semua yang selama ini telah saya takuti: bahwa orang yang memang bisa militan menerbitkan zine secara rutin – betul-betul rutin, bukan katanya satu bulan sekali tapi malah tidak beraturan – dan gratis pula itu hanya satu banding sejuta. Dan saya, Zaka, serta Adit yang jumawa ini masuk ke dalam sembilan ratus sembilan puluh sembilan ribu sembilan ratus sembilan puluh sembilan orang lain yang harus berhadapan dengan hantu yang sama: pekerjaan, kuliah, tuntutan hidup, dan pasar. Buktinya, seiring makin moncernya pekerjaan kami bertiga, Disorder justru terbengkalai. Waktu dan isi dompet sibuk kejar-kejaran – dan mereka tak pernah bermuara pada titik yang sama.

Lantas pertanyaan yang setua langit itu terulang kembali: “Apakah zine ini akan digratiskan?

Memang ini pertanyaan lama, namun hingga kini masih belum ketemu juga jawaban yang berkenan bagi nurani dan rekening. Sekilas, saya teringat polemik yang sempat muncul setelah Andaru Pramudito dan Aga Rasyidi menulis kritik terhadap mandeknya perkembangan netlabel di Indonesia, pada esai berapi-api yang mereka terbitkan di zine Indonesian Netaudio Festival #2. Netlabel di Indonesia, menurut mereka, terlalu sibuk memberhalakan kebebasannya dari kungkungan pasar. Mereka giat merayakan eksistensinya sebagai amatir, di tengah realita yang tak memungkinkan gerakan amatir benar-benar berkembang dan menjadi tandingan yang viable bagi arus utama.

Alih-alih terus berharap pada kemurahan hati penikmat musik independen Indonesia (yang tak kunjung tiba) atau berpaling pada donor-donor yang hanya akan menyetir arah estetis dan ideologi gerakan, mau tidak mau netlabel harus memikirkan model bisnis alternatif. Beberapa toko musik online, yang memungkinkan musisi menjual langsung karyanya ke fans tanpa perantara label, juga situs-situs yang menyediakan musik open source untuk dijadikan sampling bagi produser label, sebagai musik latar legal di ruang publik dan bisnis, hingga untuk scoring film, diangkat sebagai beberapa contoh solusi. Jika para netlabel ingin mengembangkan dirinya serta menyebarkan musik berkualitas yang ia usung ke publik lebih luas, tulis Andaru dan Aga, mau tidak mau mereka harus bereksperimen dengan model-model bisnis yang beda. Inovasi dan lompatan pemikiran justru akan lahir dari sini, bukan dari pengkultusan terhadap Creative Commons dan perayaan identitas amatir yang semu.

 

 

Esai tersebut melahirkan respon beragam. Salah satu tanggapannya, sebuah esai panjang lebar yang ditulis oleh punggawa salah satu netlabel kawakan, menggarisbawahi bahaya dari pendekatan Andaru dan Aga yang dianggap membunuh “semangat bersenang-senang dan berbagi” dari netlabel. Hakikat netlabel adalah free culture, sebuah utopia di mana ide dan karya memang bisa disebarluaskan serta dikembangkan dengan bebas. Namun, sayangnya argumen ini tidak membereskan inti persoalan yang dikemukakan oleh Andaru dan Aga: Netlabel mau hidup dari apa? Alih-alih mendebat dan membedah mungkin tidaknya contoh model bisnis yang dikemukakan oleh Andaru dan Aga diterapkan di Indonesia, penanggap dari netlabel kawakan ini nampaknya keburu tersinggung dengan ide bahwa netlabel butuh model bisnis.

Dalam skala lebih kecil, perdebatan yang sama sempat menimpa kawan saya, Alfian Putra, yang membuat zine ciamik bernama Another Space Zine pada 2013 lalu di kotanya, Depok. Zine tersebut dicetak fisik dengan kualitas yang tidak sembarangan. Kertasnya bukan kertas bekas coret-coretan anak SD. Tata letaknya nyaman dipandang – sama sekali tidak terlihat seperti hasil kerjaan seekor simpanse yang menggunakan aplikasi Paint di Windows 95. Artikel dan wawancara yang diangkat pun mendalam, beragam, dan ditulis dengan baik. Namun beberapa penanggap Alfian riuh rendah di kolom komentar media sosial karena zine tersebut dijual seharga Rp 5,000.

“Zine kok dijual?”, “Zine kok mahal?” Begitu nada pertanyaan yang sempat diutarakan. Kala itu, saya belum begitu memahami substansi dan signifikansi dari argumentasi mereka. Saya hanya bisa menawarkan simpati dan pembelaan separuh hati pada keputusan kawan saya. Tapi, belakangan saya menyadari bahwa jangankan balik modal, apalagi untung. Alfian justru merugi. Lima ribu rupiah hanya cukup untuk melunasi biaya fotokopi zine tersebut – itu jelas belum termasuk biaya mencetak master-nya. Dan jelas belum memperhitungkan biaya bensin yang digunakan Alfian untuk wara-wiri mewawancarai narasumber, belum termasuk uang yang dikeluarkan untuk sekedar membeli kopi dan nyamikan di tengah rapat redaksi. Belum memperhitungkan biaya yang keluar untuk distribusi. Apalagi untuk membayar kontributor, fotografer, dan penata letak. Untuk sekedar merilis satu edisi, mereka rugi berat.

Ini keluhan sama yang bisa berlaku untuk hampir semua aspek musik. Berapa band yang harus pontang-panting bekerja untuk menutupi biaya produksi saat konser, karena panitia hanya bisa membayar dengan jabatan tangan? Berapa netlabel yang terbengkalai karena memang sudah tidak ada waktu lagi untuk mengkurasi rilisan, sudah tidak ada biaya lagi untuk menyewa hosting? Berapa pula zine dan webzine yang gulung tikar?

Tapi, sekian ratus kata yang telah anda baca di atas tentu akan gugur jika anda masih berpegang teguh pada anggapan bahwa gerakan di budaya alternatif/independen memang semestinya merugi. Toh ini hanya senang-senang, hanya haha-hihi sekilas yang mewarnai fase kecil dalam masa muda anda. Untuk apa pula berpikir soal keberlanjutan, soal model bisnis, soal pendanaan, jika hakikatnya adalah bersenang-senang?

 

 

Maka pertanyaannya berevolusi. Bukan sekedar “apakah zine pantas digratiskan”, namun juga “untuk apa kamu membuat scene itu sendiri?” Apabila budaya independen memang ingin menjadi alternatif yang masuk akal terhadap budaya arus utama, mau tidak mau ia harus sedikit banyak mencomot strategi arus utama. Arus utama tidak mungkin bisa dilawan dengan rentetan pergerakan sporadis yang kreatif dan memberikan banyak terobosan estetis, namun langsung memble setelah pelaku-pelakunya lulus kuliah dan naik pangkat di pekerjaan. Argumen musisi berhenti berkarya, zinemaker berhenti berkreasi, dan netlabel jadi pemborosan server hanya karena pelakunya sudah “sibuk bekerja” tidak bisa selamanya diterima sebagai argumen yang wajar.

Karena, musik tidak hidup di dalam vakum. Segigih apapun kita mencoba menempatkan musik dalam dunia impian yang liyan dari kenyataan, keberadaannya tidak lepas dari faktor-faktor riil yang, seringkali, tidak ada sangkut pautnya dengan musik. Persoalan sesederhana ruang publik untuk berkarya – kamu mau bikin konser di mana? – misalnya. Di Bandung, ruang publik bagi budaya secara sistematis diregulasi dan dikendalikan secara ketat. Di Palu, ruang ini terbengkalai sebelum inisiatif-inisiatif lokal merebutnya dari kendali pemerintahan. Di Magelang, anak muda lokal harus bernegosiasi dengan aparat militer dan menavigasi birokrasi ketat kota tentara hanya untuk membuat diskusi dalam skala komunitas. Bahkan Jakarta menemui hambatan ketika ruang yang tersedia mulai tak terjangkau bagi kebanyakan orang, sehingga hanya kolektif itu-itu saja yang bisa membuat konser – kecuali menggandeng sponsor tertentu. Penyelesaian masalah semendasar ini butuh solusi dan wacana yang lebih bernas dari sekedar merayakan hura-hura dan keamatiran. Kalau kamu benar-benar mau keluar dari cangkang dan mengembangkan scene kamu dari bawah, mau tidak mau etos amatir harus – paling tidak – dimaknai ulang.

Sekali lagi, saya tidak bilang bahwa scene independen harus membeo pada arus utama dan mereproduksi model yang sepenuhnya menghamba pada keuntungan. Justru di sini letak peluang scene untuk memikirkan model pendanaan, pengelolaan pengetahuan dan sumber daya, serta pemanfaatan ruang yang dapat menyiasati keadaan tanpa sepenuhnya mengikis etos DIY dan independensinya.

Karena, kita tidak bisa selamanya merindukan kedatangan militan sejati yang akan terus berkarya di bawah keterbatasan. Justru, menjadi masalah besar jika keterbatasan itu ada dan kita malah tidak melakukan apa-apa untuk meretasnya. Setiap orang yang berhenti angkat gitar, angkat pena, dan angkat gunting demi pekerjaan dan keluarga harusnya tidak lagi dipandang sebagai bagian dari fenomena yang lumrah, apalagi tak terhindarkan. Mereka adalah tanda dari kegagalan scene untuk menanggapi kenyataan yang ada di sekitarnya.