Latest Post

Ayorek! Surabaya Movement

Berawal dari berdirinya C2O Library and Collabtive di kota Surabaya, masyarakat yang saat itu tengah ‘tidur’ dan mencari sarana publikasi seakan mendapat angin segar sejak berdirinya tempat ini. C2O adalah perpustakaan dan ruang kolaboratif terbuka untuk belajar, berinteraksi dan berkarya. Didirikan pada pertengahan 2008 di Surabaya, awalnya C2O bekerjasama dengan beberapa anggotanya dalam mengumpulkan koleksi buku, film, dan berbagai media lainnya. Selain itu, C2O mengembangkan penelitian dan kolaborasi aktif lintas-disiplin antara anggota dengan individu  ataupun organisasi dari beragam latar belakang, demi pembentukan pikiran yang lebih terbuka, kritis dan berdaya. Bermula dari sinilah, para komunitas, kelompok, pemerhati, musisi, dan seluruh masyarakat Surabaya dari berbagai elemen turut menyambut hangat setiap kegiatan yang diadakan oleh C2O. Anitha Silvia “Tinta” dan Katleen Azali, yang pada saat itu menjadi penggagas berdirinya C2O, kemudian memiliki sebuah ide untuk membentuk wadah dan tempat berbagi bagi para komunitas, kelompok, pemerhati, musisi, dan seluruh rakyat Surabaya dari berbagai elemen. Mereka diajak untuk turut tergabung dalam membangun sebuah proyek bernama Ayorek.

Sebenarnya, Ayorek yang terbentuk sekitar tahun 2012 ini adalah sebuah wadah yang berfungsi sebagai tempat berbagi, membuat gagasan, dan seluruh hal yang bersangkutan mengenai kota Surabaya. Di dalam Ayorek juga terdapat informasi mengenai acara, kegiatan, dan tempat yang ada di Surabaya. Yang menjadi hal menarik adalah ketertarikan kawan-kawan Ayorek yang tidak hanya membahas headline baru yang sedang terjadi di kota Surabaya. Namun, segala macam aspek lama, bahkan beberapa situs, dan pengetahuan yang berasal dari Surabaya tak luput jadi bahan diskusi. Mulai dari analisa diskusi media foto, teks, ilustrasi, audio, dan video yang pada nantinya dapat dieksplorasi oleh masyarakat dan dapat bermanfaat bagi khalayak, sehingga pada nantinya masyarakat juga merasakan dampaknya, dan menjadi lebih dinamis, berpengetahuan, dan variatif. Pertemuan demi pertemuan telah kawan Ayorek lakukan, ada ide ‘nyeleneh’ yang timbul dari pikiran Katleen Azali dan kawan kawan untuk membuat sebuah ‘rak besar’ yaitu website bagi Ayorek untuk melebarkan sayapnya dalam berbagi informasi dengan warga Surabaya.

Pada 2 Februari 2013 lalu, Ayorek bersama kawan-kawan komunitas, pemerhati, dan musisi melakukan sebuah rapat kecil untuk mengumpulkan beberapa ide, dan membuat sebuah kenyataan dari ‘rak besar’ yang pernah digagaskan Katleen Azali. Program rapat ini diberi nama SUBSIDE, yang didalamnya terdapat 4 fondasi yang akan menjadi dasar dari pembuatan SUBSIDE. Apakah SUBSIDE itu? SUBSIDE adalah proyek dari para penggiat dan pecinta musik di Surabaya yang berawal dari tidak adanya wadah bagi warga untuk menampung informasi lengkap mengenai Kota Pahlawan.

“Dari dulu, yang dikenal oleh wisatawan akan Surabaya adalah rujak cingur dan lontong balap, lalu selebihnya? Masih kurang partisipatorisnya.” Ujar Kathleen Azali dari Ayorek. “SUBSIDE dibentuk dengan tujuan agar pengetahuan di kota terjadi seperti adanya Tri Dharma, yaitu 3 perputaran. Ada produksi, distribusi, dan memanfaatkan. Jadi, pada nantinya diharapkan masyarakat akan lebih mengenal Surabaya, dan masyarakat Surabaya dapat pula memberikan sumbangsih sebuah pengetahuan baru untuk masyarakat, pada proses informasi tentang sebuah tempat, lokasi, dan info terbaru akan dilibatkan pula peneliti amatir untuk ikut serta memberikan informasi”, ujar Andrew Budiman dari Ayorek.

SUBSIDE akan dibuat dalam bentuk rak digital yaitu sebuah website, dan akan dibuat dalam versi fisik, yaitu newsletter yang dibuat secara berkala agar ada upaya terhubung untuk menyampaikan informasi. Kemudian untuk newsletter, target ditujukan kepada kampus, ruang-ruang alternatif, dan khususnya pemerintah agar akses info ini semakin dapat ditemukan oleh masyarakat luas.

Anitha Silvia bergabung untuk mempresentasikan latar belakang dan konsep dari SUBSIDE dalam sisi musik dan artwork bersama Eri Rukmana (Hi Mom) dan Yudhistira (Mooikite) . Eri Rukmana selaku kurator kontributor, proses, dan teknis produksi telah memilih beberapa band di Surabaya yang memiliki intensitas tinggi dalam bermusik. Ada Ska Banton, The Traffod, Porn Ikebana, Hi Mom, Mooikite, Pathetic Experience, Taman Nada, Fraud, Moskimos, Rainy Days, TerbujurKaku, dan DopestDope. Eri Rukmana akan membuat line di website pada nantinya dengan metode yang lebih inovatif dan bahasa yang mudah di mengerti oleh masyarakat.

Tinta menjelaskan bahwa website ini akan menggunakan lisensi Creative Commons agar proses distribusi akan lebih mudah dan legal. “Masyarakat menjadi termudahkan untuk ‘mengkonsumsi’ banyak info dari website ini.” Ujar Tinta. Giliran Yudhistira dari sisi artwork mempresentasikan hasil artwork untuk desain packaging dari CD kompilasi yang pada nantinya akan disertakan ke dalam bentuk fisik yaitu newsletter. Yudhistira menggunakan gambar kucing dengan kepala kucing yang berbentuk gedung Balai Pemuda. Balai Pemuda sendiri adalah salah satu gedung tua yang berada di jantung Kota Surabaya.

Wellstain Records yang berbasis di Surabaya juga turut mempresentasikan pembahasan di SUBSIDE ini, diwakili Denish (Zorv). Denish mengatakan bahwa Wellstain Records akan mendukung band-band yang siap untuk maju, baik secara side stream, nasional. ataupun internasional. Disamping itu, Denish mengharapkan agar pada nantinya Surabaya memiliki acuan musik yang baik, karena sebelumnya Surabaya tidak memilki wadah bagi penggiat musik untuk mengapresiasikan musiknya.

Fondasi terakhir dari SUBSIDE kali ini adalah webzine yang digagas oleh Darmien “Zaki” Soedjatmiko, Emirul Fahmi, dan Ninit Renita, Praoto Zine. Mengapa Praoto? “Praoto kan kalian sudah tau kalau itu Bahasa Jawa dari truk, arek-arek Bonek Suroboyo iku senengane nggandol praoto”, ujar Ninit Renita dengan geguyonan.

Filosofi nama Praoto diberikan untuk webzine musik ini  karena bagi mereka nama Praoto – yang dalam Bahasa Jawa berarti truk – seakan menunjukkan bahwa semua musik akan diangkut ke dalam “Praoto” dan siap diarsipkan, lalu distribusikan ke masyarakat luas. Fokus dari Praoto Webzine adalah aspirasi terhadap wadah untuk musik di Surabaya. Tidak dipungkiri, webzine ini dapat membahas hal-hal yang menunjang tentang Kota Surabaya. Zaki menjelaskan, webzine ini akan dibuat dalam format blog menggunakan Wordpress, karena dapat memudahkan akses by smartphone atau gadget mobile yang digunakan masyarakat umum. Konten yang akan disajikan dalam Praoto Webzine adalah berita, artikel, ulasan, dan galeri. Rencana untuk ke depannya, setelah 2 bulan webzine berjalan, akan dibuat sebuah newsletter berbentuk print atau cetak untuk segi fisik.

Saat ini, beberapa aspek telah berjalan. Salah satunya adalah ‘rak besar’ dari Ayorek sendiri yaitu website www.ayorek.org, dan berjalannya Praoto sebagai webzine. Namun, seiring berjalannya waktu, tak disangka Ayorek meluncurkan sebuah netlabel, yaitu SUB/SIDE Music. Netlabel ini fokus pada musik di Surabaya, dan rilisannya dapat diunduh secara gratis. Di dalam SUB/SIDE Music, telah terdapat susunan lagu dari Hi Mom, Costwolds, Taman Nada, dan serangkain acara Piknik Akustik #2 yang terdiri dari Deasy Esterina & Christian, Redo Nomadore ft. Vidy, Humi Dumi, Alepak, Branandi Wardhana Madya Karunia, dan Kharis Junandharu (ex. Silampukau). “Sebenarnya, banyak fenomena netlabel yang rupanya tidak memiliki lisensi yang sah. Tapi tenang saja, untuk SUB/SIDE Music ini telah masuk ke dalam sebuah lisensi yang sah. Jadi kalian yang mengunduh secara gratis dapat dikatakan tidak ilegal dalam menikmati karya para kawan-kawan musisi.” Terang Anitha Silvia.

Namun, dari berbagai divisi yang telah dipresentasikan, saat ini yang belum berjalan adalah divisi artwork yang digagas oleh Yudhistira (Mooikite). “Saat ini Ayorek terhitung masih muda, dan harus banyak bereksplorasi lagi. Banyak keinginan kita, kawan-kawan Ayorek, dan keinginan masyarakat yang telah merespon keberadaan Ayorek untuk lebih mengembangkan kembali. Namun kembali lagi, kendala utama adalah kekurangan SDM untuk menyebarluaskan informasi tersebut. Salah satunya adalah SDM yang memiliki dasar-dasar jurnalistik.” Papar Katleen Azali. “Tapi so far, kita berterima kasih sekali dengan warga Surabaya yang telah merespon baik berbagai program dari Ayorek ini.”

Dan inilah Ayorek! saat ini. Mereka berhasil mewujudkan cita-cita kecil mereka yang telah direncanakan dan dibangun selama 1 tahun terakhir. Pada tanggal 15 Desember 2013 lalu, Ayorek berhasil membuat movement yang dikemas menjadi sebuah acara bertajuk SUB Festive. Acara ini adalah festival kota yang mengajak warga Surabaya, khususnya anak muda, untuk sama-sama merayakan kotanya dengan cara ikut berkontribusi menjadi masyarakat yang aktif membangun Surabaya.

 

 

Pada SUB Festive kali ini, Ayorek! menampilkan pemutaran animasi pendek yang dibawakan oleh Surabaya AnimNation. Cak Ikin adalah penggagas komunitas Surabaya AnimNation. Siapa tak kenal beliau yang memang sudah terkenal sebagai pencipta animator Culoboyo Junior. Beliau juga berhasil menggerakkan anak muda Surabaya dengan cara mengadakan program pemutaran film animasi pendek (tidak lebih dari 8 menit) yang secara rutin digelar untuk memberi ruang apresiasi kreatifitas animasi arek Suroboyo. Misi Cak Ikin dkk tak main-main, salah satunya terlihat dari berhasilnya animasi karya Cak Waw yang tembus hingga FFI 2013. Sangar!

Kemudian pada segi perfilman, mayoritas sineas yang biasa kita temui selalu berasal dari Yogyakarta, ataupun Jakarta. Image Surabaya yang selalu dikata “underdog” tak selamanya harus melekat. Saat ini, Surabaya telah memiliki penggiat screening video. Salah satunya adalah Kinetik, yang bekerjasama dengan Akumassa Surabaya. Takjub, haru, yang pasti Kinetik berhasil merekam seluruh sudut Kota Surabaya yang sebelumnya tidak kita kenal menjadi sebuah bentuk pengetahuan yang epik. Kompilasi video yang mereka tampilkan dalam SUB Festive adalah mengenai ludruk Wonokromo dan THR, suasana pasar sentolop yang hanya buka di pagi buta dan gelap sehingga kita sebagai pembeli harus membawa sentolop/senter untuk penerangan. Kinetik juga berhasil merekam wayang Poo Tay Hie yang berasal dari etnis Cina. Mereka bertahan di Surabaya dengan membawakan kesenian Cina, dan berakulturasi dengan budaya Jawa & Indonesia.

Salah satu yang membuat saya tertarik adalah ‘bangkitnya’ Orange House Studio yang sempat vakum beberapa waktu lalu. Kini bersama Ayorek, Orange House Studio yang berdiri sejak tahun 2010 dan terdiri dari 1 seniman dari Jepang dan 3 profesional lokal dari bidang desain yang berbeda, melakukan sebuah proyek yang dinamakan “Sketchwar”. Proyek ini merekam jejak migrasi masyarakat yang ada di Surabaya, baik mengenai penduduk, kegiatan, maupun bangunan yang kemudian dituangkan ke dalam sebuah sketsa.

Rangkaian panjang acara SUB Festive ini memiliki inti acara, yaitu peluncuran website, buku, dan jurnal Ayorek!, kemudian pengenalan SUB/SIDE netlabel yang di prakarsai oleh Ayorek!. Website Ayorek! memuat berbagai cerita, tulisan, foto, dan video mengenai Surabaya. Mereka sebenarnya tak sendirian. Ayorek! saat ini dikembangkan sebagai bagian dari program Urban Knowledge Dynamics yang digagas oleh Rujak Center for Urban Studies (Jakarta), yang berjaring dengan berbagai kota lainnya di Indonesia. Fokus tema mereka adalah kota (pastinya), budaya, kerja, desain, dan kehidupan. Buku dan jurnal Ayorek! merupakan inovasi dalam menyampaikan cerita hasil lokakarya yang berasal dari berbagai pengetahuan kota di Surabaya.

 

 

Kemudian, berbicara mengenai SUB/SIDE Netlabel yang baru didirikan tahun 2013 ini, membuat saya bisa berbangga hati sebagai masyarakat Surabaya karena pada akhirnya kota ini memiliki sebuah wadah untuk merespon karya musik di atau dari Kota Pahlawan. Lagi-lagi, Ayorek! berhasil membuktikan bahwa pergerakannya untuk memajukan scene musik di Surabaya tak main-main. Dengan berbasis pengarsipan dan penyebarluaskan karya musik dalam bentuk audio digital yang dapat diunduh melalui internet, Ayorek! berhasil membuat kompilasi pertama dengan musisi yang terdiri dari :

  1. Pathetic Experience
  2. Hi Mom!
  3. Dopest Dope
  4. Moskimos
  5. Fraud
  6. Mooikite
  7. Rainy Days
  8. Porn Ikebana
  9. The Trafford
  10. The Ska Banton
  11. Terbujurkaku

Dan perlu diketahui lagi, tak hanya rilisan album dengan bentuk online maupun fisik, SUB/SIDE juga membentuk sebuah sajian pentas & interaksi musik secara live dengan program SUB/SIDE Live. Musisi yang hadir dalam SUB/SIDE akan terus beregenerasi. Semua tergantung pada bagaimana konsistensi dan kesiapan materi yang berasal dari band/musisi tersebut. Jika konsisten, dan materinya sudah ada, tak ada salahnya bergabung dengan platform Ayorek!.

Kompilasi semacam ini juga di luncurkan oleh webzine belia dari Surabaya yang terbentuk pada tahun 2012 lalu, Ronascent. Dalam kompilasi Vol:1 ini, Ronascent berusaha membuat sebuah kaleidoskop band-band lokal lintas genre yang berasal dari Surabaya. Band-band yang show up dan berani menunjukkan taringnya. Punggawa kompilasi tersebut adalah :

  1. Berlin Night Club
  2. Blingsatan
  3. The Wise
  4. Give Me Mona
  5. Taman Nada
  6. The Flinstone
  7. Mooikite
  8. Headcrusher
  9. Morganostic
  10. Cotswolds

“Yang pasti, kita sebagai masyarakat yang saat ini bergesekan langsung dengan dunia digital dan era internet, sewajarnya kita harus bisa memanfaatkan hal tersebut. Agar band-band lokal Surabaya dapat diperdengarkan dan dikonsumsi langsung oleh seluruh warga di seluruh dunia, tidak menutup kemungkinan juga kompilasi ini akan kami jadikan referensi bagi label, organizer, bahkan media yang ingin mengulas mengenai band-band lokal di Surabaya”, ujar Rona Cendera selaku editor Ronascent Webzine.

Satu hal yang pasti, saya berani menyorot pergerakan Ayorek! Bisa berjalan karena keberanian Ayorek! yang mendukung, memuat, dan menyebarluaskan sebuah direktori komunitas, peta ruang publik, dan beberapa kegiatan yang ada di Surabaya, yang mungkin beberapa warga Surabaya belum ketahui. Memang, mereka baru seumur jagung, tapi bukti pergerakan yang telah bermunculan saat ini sudah cukup membuat kami sebagai warga yang hanya awam dicekoki militan pemerintah, kini cukup sadar (setidaknya) bahwa kotanya yang Pahlawan ini sedang membara.

 

Datangi dan Nikmati:

http://ayorek.org/

http://praotozine.wordpress.com/

http://www.ronascent.biz/