Latest Post

Babi dan Cerita yang Tidak Bisa Dipercaya

"Bagaimana, ya, mereka bisa yakin kalau babi itu babi ngepet?" ujar Ruke dengan suara setengah berbisik sambil menoleh ke arah lelaki itu.

Lelaki itu mengangkat bahunya. "Entah, kita lihat saja sampai selesai."

Sore di awal Februari yang mendung, keduanya tengah berdiri di beranda lantai dua rumah Ruke. Di bawah mereka, dekat sungai kecil tak jauh dari pagar, puluhan orang tengah mengerumuni seekor babi. Babi malang itu dikurung di dalam kurungan ayam yang terbuat dari bambu, sekujur tubuhnya dihiasi luka sayatan, barangkali dipecut dengan rotan, bambu, atau gagang sapu. Hidungnya berdarah, dan telinga kanannya sobek. Keadaan babi itu mirip maling ayam yang tertangkap mencuri di siang bolong.

Sebagian orang yang berkerumun menyumpahi si babi, sebagian lagi terus melafalkan doa, termasuk seorang lelaki berusia lima puluhan yang berada tepat di depan babi itu. Tangannya menengadah, dan mulutnya tak berhenti mengucap sesuatu. Rupanya lelaki itu pemuka agama di kampung Ruke, secara naluriah lelaki itu memimpin masyarakat yang berkerumun. Kelihatannya seluruh penduduk yang hadir sore itu menunggu aba-aba darinya.

"Bagaimana, ya, mereka yakin kalau babi itu babi ngepet." Ruke mengulang kalimatnya, kali ini tanpa tanda tanya. Lelaki di sisinya tahu bahwa ia tak perlu menanggapinya.

Kalimat Ruke tepat sekali. Dilihat dari sudut manapun, babi itu adalah babi biasa. Badannya gemuk, tak seimbang dengan ekornya yang kecil dan melingkar. Seolah seluruh badannya tumbuh, kecuali di bagian ekor. Dari penampilannya yang cenderung menggemaskan, mungkin babi itu hanya babi potong yang kabur dari peternakan.

Sambil melihat bagaimana orang-orang menyiksa babi yang dituduh siluman itu, Ruke bercerita. Sewaktu berusia enam tahun, Ruke pernah memelihara seekor babi betina kecil. Babi hutan. Babi itu diberi nama Ngoki.

"Ngoki itu ngegemesin banget!" ujar Ruke dengan menekankan kata 'ngegemesin' seakan itulah hal terpenting dan yang paling diingat Ruke tentang babi kecil miliknya. "Seperti gadis umur 2 tahun yang baru belajar mengenal kata-kata baru. Tiap kali aku berbicara kepadanya, ia seperti berpikir dan tak lama kemudian menampilkan ekspresi yang sangat menggemaskan. Seolah bilang, ‘Wah, ternyata di dunia ini ada kata seperti itu!'"

Ayah Ruke yang seorang pemburu menembak mati ibu Ngoki saat keduanya tengah menyantap umbi-umbian di hutan. Menurut cerita ayahnya, saat ia menghampiri mayat ibu Ngoki, Ngoki tengah memandangi mayat itu. Ngoki tidak tahu bahwa ibunya sudah mati. Melihat Ngoki, ayahnya jadi teringat Ruke. Maka, dibawa pulanglah Ngoki ke rumah.

"Jadi, saat ayahmu melihat Ngoki hal yang pertama melintas di benaknya adalah kamu?" tanya lelaki itu.

Ruke tersenyum ceria dan mengangguk. "Lucu, ya. Ibuku sempat marah karena Ayah terkesan menyamakanku dengan anak babi. Tapi kalau dipikir-pikir, apa salahnya? Toh, semua makhluk hidup sama saja."

"Iya, kalau dipikir seperti itu tak ada salahnya. Lagipula, barangkali di bumi ini cuma manusia yang merasa terhina jika disamakan dengan binatang atau makhluk lain yang dianggap lebih jelek dari dirinya sendiri."

Ruke mengangguk sekali lagi, kemudian meneruskan ceritanya.

"Awalnya, ibuku nggak setuju. Tapi setelah dijelaskan, Ibu jadi kasihan. Barangkali semacam naluri seorang ibu. Jadi dibiarkanlah Ngoki tinggal di rumah dengan satu syarat, Ngoki harus tinggal di luar."

Ayah Ruke tidak setuju, sebab, jika para tetangga tahu mereka memelihara seekor babi tentu akan menjadi masalah besar. Dengan berat hati, ibunya menyetujui Ngoki tinggal di dalam rumah tetapi menolak jika harus membersihkan kotoran Ngoki. Karena itu, Ruke menawarkan diri untuk membersihkannya. Biarpun begitu, tetap saja ibunyalah yang lebih sering membersihkan.

Hari-hari Ngoki di dalam rumah berjalan lancar. Ruke yang anak tunggal begitu menyayangi Ngoki, ia menganggap Ngoki seperti adiknya sendiri. Ngoki dijahitkan baju, dipakaikan pita merah di kepalanya, dan diberi susu bayi yang mahal. Tak jarang Ruke mendandani Ngoki dengan lipstik dan bedak milik ibunya. Tentu saja ibunya marah. Tetapi, karena kejadian itu terus berulang, akhirnya ibu Ruke mengalah dan menghibahkan lipstik dan bedak yang telah dipakai. Ia senang sekali. Ia pun mulai sering mendandani Ngoki.

"Hingga pada suatu malam..." Ruke menatap kosong ke arah babi yang tengah disiksa oleh penduduk kampung. "Suatu malam aku terbangun karena merasa kesulitan bernafas. Saat aku membuka mata, aku mendapati wajah Ngoki berada tepat di depan wajahku."

Ruke menelan ludah. "Ngoki berbicara kepadaku."

"Babi berbicara?" lelaki itu bertanya dengan nada heran.

"Iya..." Ruke menghapus keringat di hidungnya. "Berbicara bahasa manusia."

"Ngoki berbicara bahasa manusia?" ulang lelaki itu, seolah tak yakin dengan apa yang ia dengar. Atau tak yakin dengan kesehatan jiwa perempuan di sisinya.

"Betul. Aku nggak bohong. Aku tahu, pasti sulit untuk percaya, tapi aku nggak bohong. Terserah kamu mau percaya atau nggak."

"Aku percaya," jawab lelaki itu. Melihat ekspresi wajah Ruke yang penuh kengerian rasanya sulit untuk tidak percaya. "Ngoki bilang apa?"

"Ngoki bilang, 'Berhentilah mewarnai wajahku dengan sampah-sampah itu. Aku nggak nyaman.' Lalu aku yang ketakutan hanya bisa mengangguk. Aku ingin menarik selimut, menutupi wajahku, berusaha tidur lagi. Tapi Ngoki menahan selimutku, 'Berjanjilah,' begitu katanya. Aku pun berjanji, karena takut dan merasa nggak punya pilihan lain."

"Aku pikir kamu hanya mimpi buruk."

"Ya, tentu saja, aku pikir juga begitu. Aku menceritakannya pada Ayah dan Ibu, keduanya juga bilang begitu. Ibu bahkan menjelaskan bahwa aku hanya ketindihan. Tapi karena aku takut dan yakin bahwa itu bukan mimpi, sejak pagi itu aku berhenti mendandani Ngoki. Dan sedikit menjauhinya."

"Kamu yakin itu bukan mimpi?"

"Sangat yakin." Ruke menoleh ke arah lelaki itu, matanya mantap menatap lelaki di depannya. Lelaki itu balas menatap dan menemukan pantulan wajahnya di bola mata Ruke, semua benda yang ditangkap bola mata itu terlihat cembung, termasuk wajahnya. Karena merasa canggung, lelaki itu menggaruk kepala, kemudian mengalihkan pandangannya ke pemuka agama yang berdiri di dekat babi malang itu. Sang pemuka agama mulai berteriak menyuruh babi itu untuk berubah menjadi manusia, sembari sesekali menendang-nendang kandang ayam tempat babi itu dikurung. Babi itu mengeluarkan suara pilu. Ia pasti merasa terancam, tetapi tidak tahu harus berbuat apa.

"Kalau hanya satu kali mengalami kejadian itu, aku mungkin nggak akan seyakin ini," lirih Ruke.

"Maksudmu kejadian itu berulang?"

"Setidaknya tiga kali."

"Tiga kali?"

Terdengar hembusan nafas Ruke. "Satu minggu setelah kejadian itu, aku terbangun lagi tengah malam karena kebelet pipis. Sewaktu melewati ruang televisi, Ngoki menegurku, 'Ruke sini temani aku nonton.' Begitu katanya."

Lelaki itu menggaruk kepala sekali lagi.

"Keesokan harinya saat kedua orangtuaku pergi, aku melihatnya tengah duduk di perpustakaan pribadi Ayah. Ngoki membaca buku, dan di atas meja terdapat setidaknya empat sampai lima tumpukkan buku."

"Buat apa Ngoki baca buku?"

"Aku nggak tahu, aku hanya mengintipnya dari celah pintu yang sedikit terbuka. Tapi nampaknya dia serius sekali membaca sampai nggak menyadari kedatanganku, memakai kaca mata Ayah pula."

"Lalu, yang ketiga kalinya?"

Ruke terdiam memikirkan sesuatu, ia pasti tidak sedang mengingat kejadian tentang Ngoki. Ingatan melihat babi yang bertingkah seperti manusia bukanlah ingatan yang mudah dilupakan. Ruke sepertinya tengah menyusun kesimpulan, sambil membayangkan kejadian ketiga ia berusaha menyimpulkan apa tujuan Ngoki sebenarnya.

"Ngoki membaca buku telepon sambil melihat peta Jakarta. Menandai beberapa daerah dengan spidol merah, dan beberapa foto tokoh penting."

Lelaki itu mengerutkan dahinya. "Tokoh penting?"

"Ya, ada beberapa foto yang dicorat-coret dengan spidol merah. Aku tak kenal semuanya, hanya satu tokoh yang kukenal. Tokoh itu sering muncul di televisi."

"Siapa?"

Ruke seperti tak mengindahkan pertanyaanku, ia mengetuk-ngetuk dagunya dengan telunjuk. "Ngoki seperti sedang merencanakan sesuatu. Hingga kini, aku nggak tahu apa itu, tapi sepertinya rencana besar dan membahayakan dirinya sendiri."

"Bagaimana kamu tahu?"

"Tahu saja. Ngoki sangat baik, setelah kupikir-pikir, akulah yang merasa terancam karena keanehannya. Ia nggak pernah melakukan hal buruk terhadapku. Ia membaca buku barangkali untuk mengumpulkan informasi yang berhubungan dengan rencananya."

"Informasi apa?"

Ruke lagi-lagi tak menjawab, ia khusyuk melihat ke arah kerumunan.

Dua orang pemuda datang ke tengah kerumunan dengan membawa bambu runcing. Panjangnya kurang dari dua meter. Bambu itu dibaringkan di atas tanah, tepat di bawah kaki sang pemuka agama.

Entah apa yang dibacakan tetua kampung itu, sambil berjongkok di depan bambu, ia menengadahkan tangan dan meracaukan kalimat-kalimat tak jelas. Para penduduk yang berkerumun terdiam, sebagian besar ikut menengadahkan tangan. Suasana khidmat tercipta seketika. Bahkan babi itu terdiam, barangkali babi itu merasa kesunyian seperti ini adalah ancaman baginya.

"Apa yang akan mereka lakukan dengan bambu itu?" Ruke bertanya sambil memiringkan kepalanya.

Lelaki di sisinya mengangkat bahu. "Yang pasti bukan untuk bermain enggrang."

Pertanyaan Ruke dijawab lantang oleh si tetua kampung.

"Jika kita tusuk babi ini dengan bambu yang sudah didoakan, dan kita ceburkan ke sungai kemudian ia berubah jadi manusia, maka babi ini adalah babi ngepet!"

Kerumunan hening.

"Sebab sungai, atas izin yang Maha Kuasa, akan meluruhkan segala ilmu sihir," lanjut pemuka agama itu.

Penduduk bersorak, meneriakkan nama Tuhan.

Si pemuka agama lupa menyebutkan kemungkinan jika babi malang itu tak berubah jadi manusia. Ia kelihatan yakin sekali bahwa babi itu akan menjelma menjadi manusia sehingga kemungkinan bahwa babi itu tidak berubah bukan lagi hal penting baginya, juga bagi yang lain. Jika itu terjadi, mungkin, mereka hanya akan berkomentar, "Oh, ternyata bukan babi ngepet..." Dan bangkai babi itu akan dihanyutkan, lalu mereka akan pulang dengan perasaan kecewa. Bagaimana pun kelihatannya mereka amat menantikan proses berubahnya babi menjadi manusia.

Pemuka agama itu mengambil bambu, mendirikannya di atas tanah. Kaki kanannya menghentak bumi tiga kali. Kerumunan merapat.

Ruke berbalik, menyandarkan punggungnya pada besi pagar beranda. "Hey, kamu mau es krim? Sepertinya, aku punya es krim stroberi di lemari pendingin."

Lelaki di sisinya ikut berbalik, ia tersenyum kecil dan mengangguk. "Boleh. Kalau nggak merepotkan."

"Tentu saja nggak repot, cuma es krim."

Saat Ruke berjalan ke arah pintu, lelaki itu memandangi bagian tubuh belakangnya. Rambut yang digelung menampakkan lehernya yang jenjang dan sepasang daun telinga kecilnya. Ruke menggumamkan sebuah lagu anak yang amat familiar di telinga lelaki itu, namun ia gagal mengingatnya. Anak kunci ditangan kanannya bergemericing seiring ayunan tangan, mengiringi gumamannya, dan derap kakinya di lantai seolah menjadi metronom yang setia mengatur tempo. Mata dan telinga lelaki itu mengantar Ruke hingga menghilang di balik pintu. Sementara itu, tepat di belakang punggungnya, sebuah peristiwa tengah terjadi. Peristiwa yang amat bertolak belakang dengan keindahan di depan matanya.

Kurang dari lima belas menit kemudian, Ruke kembali dengan membawa dua mangkuk berisi es krim stroberi. Ia memberikan mangkuk di tangan kanannya kepada lelaki itu.

"Terima kasih. Aku suka sekali es krim stroberi," ujar lelaki itu.

"Benarkah?"

Lelaki itu mengangguk kecil.

"Ngoki juga suka es krim stroberi." Ruke tersenyum, sinar matahari sore mengarsir lekuk hidungnya. "Sangat suka."

Lelaki itu membalas senyum Ruke, lalu ia menyandarkan tubuhnya ke besi pagar beranda. "Ada di mana Ngoki sekarang?"

"Pagi di bulan Januari tahun 1998, Ngoki menghilang. Kata Ayah, pukul satu dini hari ia mendengar derap langkah sepatu dan suara beberapa orang tengah berbisik di ruang tamu. Ayah keluar kamar membawa senapan, namun nggak ada siapapun di ruang tamu. Seolah penyusup itu lenyap begitu saja, seperti hantu. Ayahku nggak percaya hantu, ia memutuskan untuk berjaga di sofa ruang tamu hingga pagi. Dan ia benar-benar terjaga. Hingga pukul enam pagi aku terbangun dan menjerit karena Ngoki nggak ada di kandangnya.

"Ayah berusaha menenangkanku, ia bilang Ngoki babi yang baik dan nggak menyusahkan. Dia pasti akan sehat-sehat saja. Meski begitu, setiap sore aku selalu duduk di depan jendela menunggu Ngoki pulang. Aku merasa harus meminta maaf karena pernah memiliki prasangka buruk terhadapnya," ujar Ruke, murung. "Setahun kemudian, kami sekeluarga pindah ke sini. Aku sedih, aku yakin Ngoki pasti pulang. Kini, walaupun Ngoki pulang, aku nggak bisa bertemu dengannya. Dia kan nggak tahu kami sudah pindah. Pelan-pelan aku mulai melupakan Ngoki. Hingga aku melihat babi ngepet tadi."

"Syukurlah kamu pindah." Lelaki itu berkata sambil menyuap sesendok es krim.

Ruke mengerutkan dahi. "Syukurlah?"

"Iya. Kalau kamu nggak pindah, kita nggak akan bertemu," jawab lelaki itu sambil tersenyum lebar.

Bahu Ruke menyenggol pelan bahu lelaki itu.

"Oh iya, bagaimana nasib babi tadi?" Ruke berbalik cepat, melihat ke arah sungai.

Tepi sungai itu kini sepi, kerumunan telah bubar. Di tepi sungai hanya ada dua bocah lelaki berseragam SD tengah dijewer perempuan paruh baya yang mengenakan daster cokelat, ketiganya berjalan menjauhi sungai. Celana kedua anak itu basah, nampaknya mereka baru saja turun ke sungai.

"Apa Ngoki sempat mengucapkan selamat tinggal?" tanya lelaki itu.

Perempuan di sisinya menggeleng perlahan.

"Kalau begitu, Ngoki akan kembali lagi meski kamu nggak menyadari."

"Ngarang!"

"Sungguh. Nabi Isa dalam Islam diceritakan hilang juga. Tapi nabi Isa nggak benar-benar hilang, kan? Beliau kembali lagi, dan malah semakin banyak. Banyak penerusnya yang taat, yang mengikuti perilakunya. Menjadi Isa Al-Masih baru. Usaha pelenyapannya jadi sia-sia."

"Menurutmu seperti itu?"

Lelaki itu mengangguk. "Tuhan mungkin sengaja bikin ingatan itu nggak mudah hilang, karena Ia sudah bikin tubuh manusia dari tanah yang mudah lenyap. Mungkin yang disebut ruh adalah ingatan itu sendiri. Ruh nabi Isa masuk ke dalam pengikutnya melalui ingatan, sama seperti ruh Ngoki yang masuk ke dalam tubuhmu. Mewariskan sesuatu. Buktinya, kamu jadi suka membaca."

"Membaca awalnya bikin aku jadi ingin memberontak. Ada sesuatu yang mendorongku untuk menganggap orang lain bodoh. Tapi semakin lama aku merasa bahwa akulah yang bodoh, akhirnya membaca jadi sia-sia. Dan aku kepalang senang melakukannya." Perempuan itu terbatuk kecil, "Tunggu. Apa orang yang melenyapkan Ngoki itu menganggap babi yang banyak membaca adalah ancaman?"

"Entahlah," jawab lelaki itu. "Untuk menaklukan ketakutan, orang bisa melakukan apa saja. Nggak sempat lagi berpikir bahwa yang ia lakukan justru melahirkan ketakutan baru."

Perempuan itu menghela nafas panjang. "Ganti topik, yuk? Lama-lama kamu seperti motivator saja."

Keduanya tertawa.

Di permukaan sungai, sebuah bambu runcing tersangkut rerumputan. Arus yang tenang gagal menyeretnya. Jika kita melihat bambu itu lebih dekat, kita akan melihat dengan jelas. Pada bagian yang runcing, darah sedang melarut sebisanya.

Entah ke mana mayat babi yang dituduh siluman tadi. Barangkali kerumunan pulang dengan perasaan kecewa karena babi itu tak berubah menjadi manusia, tentu saja. Dan, mungkin, bangkai babi itu akan hidup di dalam ingatan mereka, untuk selamanya.