Latest Post

Banda Neira: Mawar

September, bagi saya, adalah bulan paling mengerikan dalam sebuah tahun. Pasalnya, September adalah bulan di mana pencapaian saya sepanjang tahun itu benar-benar terlihat. Resolusi-resolusi yang gagal, rencana jalan-jalan yang tertunda, hingga janji pada diri sendiri yang tak kunjung ditepati. Semuanya menggedor pintu saya lagi setiap bulan September.

Kelamnya September juga dirasakan oleh Indonesia. Tragedi menyusul tragedi terjadi pada bulan September. Mulai dari pembunuhan aktivis HAM Munir Said Thalib pada awal September, penembakan mahasiswa di Tragedi Semanggi II, hingga kejadian 30 September 1965 yang memulai Pembantaian 1965-66. Semuanya menjadi catatan hitam dalam sejarah Indonesia. Dan seperti resolusi, janji, dan rencana pribadi yang tak kunjung terpenuhi dan terselesaikan, semua tragedi itu hingga kini masih belum terselesaikan secara hukum. Banyak pekerjaan rumah yang membusuk di sela-sela sejarah Indonesia. Pekerjaan rumah yang, sayangnya, sudah begitu lama kita abaikan.

'Mawar' adalah bonus track dari album 'Berjalan Lebih Jauh', karya band Nelangsa Pop asal Jakarta-Bali, Banda Neira. Mengambil judul lagu dari nama tim Mawar, tim kesatuan Kopassus yang dituduh menculik aktivis pro-demokrasi di tengah riuh rendah Reformasi, lagu ini terdengar seperti anomali di tengah album mereka yang, meski terdengar sendu, lebih berupa perayaan yang rada self-deprecating terhadap rasa nelangsa. Nuansa perayaan itu absen dari 'Mawar'. Dimulai dengan denting gitar dari Ananda Badudu dan sahut-sahutan vokal Rara Sekar, lagu ini menampilkan Banda Neira yang mengesampingkan optimisme dan kesenduan mereka. Jelang akhir lagu, falsetto Rara mengiringi pembacaan puisi 'Sajak Suara' karya sastrawan dan aktivis Wiji Thukul, salah satu korban penghilangan paksa pada tahun 1998. "Malam mawar tiba, membungkam asa. Seperti pencuri, tanpa suara, tapi terasa," nyanyi mereka. "Malam mawar tiba, lalu kita lupa."

September mungkin sudah lewat, namun tidak berarti gaung pekerjaan rumah masa lalu itu bisa (di)hilang(kan) begitu saja. Teman saya sempat bertanya, kenapa saya peduli dengan isu HAM yang memusingkan seperti ini. Jawaban saya sederhana: Saya tidak bisa pura-pura tidak tahu.

Usai mengobrol langsung dengan Ibu yang anaknya dibunuh di kerusuhan Reformasi, teman sebaya yang bapaknya dihilangkan di 1998, dan kakek tua yang dipenjara paksa dan dicerai beraikan keluarganya karena dia dianggap subversif pada era 1965-66, saya tidak bisa lagi bilang ini hal yang remeh temeh. Bahwa tragedi itu cuma satu kejadian saja, bahwa hidup berjalan terus, bahwa mereka harusnya sudah 'memaafkan' dan 'move on'. Tragedi ini mengubah mereka, mendefinisikan hidup mereka, dan menentukan siapa mereka. Tak ada ambang batas usia – baik Ibu tua yang anaknya dibunuh saat Reformasi, atau anak yang masih bayi saat bapaknya dihilangkan sama-sama menanggung beban kejadian itu sepanjang sisa hidupnya. "Lalu Kita Lupa." Potongan lirik Banda Neira itu terdengar sederhana. Namun, memang tak butuh kata-kata lain untuk mengungkapkannya. Entah kenapa, kita mudah melupakan dan menganggap semua itu lumrah.

'Mawar' adalah lagu pertama dari Banda Neira yang benar-benar membuat saya tersentak dan tak tahan ingin memutarnya lagi dan lagi. Dan seperti lagu 'They Dance Alone' yang dinyanyikan ulang oleh Endah Widiastuti, lagu ini memikat karena rasa kesepian, urgensi, dan keputusasaan yang ia bawa. There is, it seems, no silver lining on this particular horizon. Dan untuk lagu-lagu seperti ini, kadang memang lebih baik begitu.

 

Seluruh keuntungan yang didapat dari penjualan lagu 'Mawar' karya Banda Neira akan didonasikan 100 persen untuk kegiatan-kegiatan kampanye penuntasan kasus-kasus pelanggaran HAM. Uang yang terkumpul akan dikelola dan disalurkan oleh Sorge Records.

Beli lagunya di sini.

 

Foto diambil dari laman Facebook Banda Neira