Latest Post

Becuz: Epilog

Mendengarkan Becuz adalah pengalaman traumatik. Dan bagi saya, itu hal yang bagus. Band asal Malang ini terbentuk pada tahun 2004, dan mengalami bongkar pasang personil dan melepas beberapa EP secara sporadis, sebelum akhirnya merilis full album 'Epilog' pada tahun 2013 silam.

Memainkan noise rock bising dan sarat distorsi yang memekakkan telinga, para personil Becuz (Andina Putri, Rusli Hatta, Hanggara, Ajie Ramadhianto, dan Henry Setyawan) membawa pendengarnya ke alam gelap nan depresif yang mereka rancang dengan apik. Simak saja 'Sudut Diam' yang bisa jadi adalah lagu sing-along worthy paling gelap di muka bumi, 'Masif' yang naik secara perlahan dan diakhiri dengan pembacaan puisi, hingga 'Titik Terluar' yang terdengar lebih terang, meski sama sekali tidak menyentuh ranah optimisme. Musik mereka sedikit banyak mengingatkan saya pada Sonic Youth (suatu referensi yang obvious dari nama bandnya itu sendiri), atau antitesis noise rock dari Melt Banana. Apabila unit asal Jepang itu memainkan noise rock yang frantic, semburat, dan agresif, Becuz adalah musik yang lebih introvert, pemalu, dan tertutup.

Biografi mereka di media sosial berujar sederhana: Kebisingan adalah seni. Namun, musik yang tertuang di album ini tidak hanya merayakan kebisingan. Becuz juga sedang merayakan kesedihan dan kekosongan. Agaknya, para personil Becuz entah belum pernah mendengar atau sama sekali membantah deklamasi Kings of Convenience bahwa 'Quiet is the New Loud'. Bagi mereka, justru 'Loud is the New Quiet'.

Nampaknya, Becuz memiliki keinginan tersendiri untuk menjelajahi emosi-emosi yang lebih tabu di lagunya, dan mereka tak terburu-buru dalam menjabarkan interpretasi tersebut. Hasilnya adalah lagu-lagu noise rock dengan durasi ala post-rock, penuh dengan jamming diskordan yang sarat feedback dan efek gitar, serta dinamika 'pelan-kencang-pelan' yang ciamik. Karakteristik ini kadang berhasil membuat lagu-lagu mereka terdengar pas, namun ini pun bisa jadi bumerang. Kadang lagu mereka justru terdengar monoton, terlalu lamban, dan repetitif. Becuz, menurut saya, memang bukan makanan untuk pemula. Mendengarkan Becuz butuh kesabaran.

Patut diakui, saya sendiri tidak kuat mendengarkan keseluruhan album ini dalam sekali duduk. Selain durasi lagu-lagu mereka yang relatif panjang ('Masif', misalnya, berdurasi 9 menit 24 detik), kadang mengerikan (dan monoton) juga rasanya mengkonsumsi album yang sekelam ini dan mendengarkan rentetan lagu-lagu dengan atmosfir 'potong-leher-saya-gorok-pipi-saya' yang bertubi-tubi. Pun, ada beberapa momen di mana Becuz memang benar-benar membuat saya bingung. Untuk apa, misalnya, menutup album dengan nomor singkat 'Sound Experience' yang merusak atmosfir apokaliptik dari lagu yang seharusnya (dibiarkan) jadi penutup, 'Himne #1'? Lagu penutup sepanjang 3 menit yang direkam dengan kualitas rekaman ala demo ini malah mengganggu saya.

Tapi, jangan biarkan beberapa kekurangan itu membuat anda ogah mendengarkan Becuz. Mereka mungkin hanya perlu/bisa didengarkan sesekali, tapi mereka akan selalu membuat merinding.