Latest Post

Bersayap Anomali: rumahsakit dari Berbagai Mata

Generasi musik 90’an adalah generasi yang beruntung. Mengapa beruntung? Karena mereka adalah generasi yang melihat tahap akhir dari pemberontakan Rock N’ Roll. Setelah generasi ini habis, kita tidak lagi melihat para bintang rock bertelanjang dada atau merokok ganja di atas panggung. Tidak pula lagi kita bisa melihat melihat para fans yang berduyun-duyun ke toko rekaman untuk mencari rilisan resmi idolanya. Era 90’an adalah transisi dari era manual menuju digital. Era di mana musik menuju transisi demi kehilangan kesederhanaannya.

Era 90’an juga di mana kita bisa mengapresiasi rocker-rocker berambut gondrong dengan lirik-lirik cinta kacangan, digilas dengan musik sederhana tapi menawarkan sesuatu yang sebenarnya bukanlah hal yang baru: pemberontakan. Sesuatu yang sebenarnya terus berulang dalam setiap dekade. Mulai dari 60’an, 70’an, 80’an dan akhirnya berakhir di era 90’an. Sesuatu yang akhirnya tidak pernah kita lihat lagi ketika kita memasuki era millennium. Era di mana semuanya yang serba instan dengan mudah didapatkan. Sesuatu yang instan pasti mengaburkan niat untuk sebuah pemahaman. Karena, musik adalah sesuatu yang memang sederhana, tapi juga butuh pemahaman. Ketika kita tidak paham, kita akan berakhir hanya menjadi sirkus di atas panggung sebagai sebuah tontonan ketika memainkan musik itu sendiri. Dan ironisnya, itulah yang kebanyakan terjadi sekarang ini. Musik kehilangan kesederhanaannya dan kehilangan juga pemberontakannya. Semuanya menjadi  “pop”,  bukan lagi “rock.”

Di negeri ini, yang menjadi pengadaptasi setia dari segala subkultur yang berasal dari negeri luar, juga mengalami perjalanan yang sama. Dan setiap masa memang mempunyai ikon-nya. Kita pernah memiliki Koes Plus yang masuk penjara di masa Soekarno. Kita pernah mempunyai God Bless yang tetap bertahan dengan musik keras di tengah badai lagu cengeng ala Ratih Purwasih atau Betharia Sonata, dan jangan sekali-kali melupakan Iwan Fals, yang berhasil memanfaatkan genre grass country, folk, dan hingga rock demi sebuah perlawanan. Iwan Fals selalu bertelanjang dada dan merokok ganja ketika di atas panggung pada masa mudanya. Meludah pun adalah hal yang biasa di lantai panggung. Mereka pada masanya pernah mempercayai, bahwa musik adalah pemberontakan yang sederhana.

Di era penghujung 90’an di mana Iwan Fals seperti kehabisan bahan bakar pemberontakannya, anak muda negeri ini mulai akrab dengan musik yang disebut independen. Suatu konsep bermusik yang sebenarnya juga tidak baru, tapi di negeri ini, memang terlambat lebih baik daripada tidak sama sekali. Salah satunya di ranah pop, tidak luput juga menjadi independen. Banyak waktu itu yang mengatakan latah, tapi sesuatu memang kadang bisa juga diawali dengan ‘ikut-ikutan’. Legenda tentang The Stone Roses, dibantu dengan serangan hits dari album-album Oasis dan Blur membawa negeri ini mulai berkenalan dengan musik-musik yang mungkin menjadi pilihan lain selain mengapresiasi Green Day atau Nirvana. Dan mulailah terangkat ke permukaan sebuah istilah yang sebenarnya juga tidak baru, Indie Pop.

Saya memang jarang menikmati pop selain untuk momen-momen tertentu. Tapi secara khusus, saya memang penikmat Stone Roses semenjak mendapatkan album kedua mereka, Second Coming. Awalnya adalah ketika Pure Saturday muncul dan memberikan penerjemahan baru terhadap pop di negeri ini. Album debut mereka yang unik dengan sound mentah tapi tetap menarik hati, segera menghiasi seluruh hari-hari saya dimasa itu, sebuah album yang di masa berikutnya menjadi legenda. Ketertarikan yang kemudian membawa untuk lebih mengapresiasi band-band yang mereka jadikan sebagai pengaruh. Dan akhirnya saya nyangkut ke album Stone Roses yang saya sebutkan tadi.

Dan MTV membantu saya berkenalan dengan video clip sebuah band lokal, yaitu rumahsakit dengan lagunya berjudul Hilang. Band dan lagunya yang mengingatkan saya dengan Stone Roses dengan jangly sound-nya dan segala keterbatasan tata suara berkualitas yang tak maksimal. But hey, di jaman itu band independen yang mampu rekaman di studio bagus bisa dihitung jari. Rambut poni lempar yang di kemudian jaman menjadi identitas anak emo dan baju kerah lengan panjang. Yang menarik adalah penggunaan lirik berbahasa Indonesia yang menurut saya tak terlalu puitis namun terasa dekat dan jujur, penuh simbol aneh dan cerita-cerita tersembunyi seputar gaya hidup anak muda yang tumbuh di era 90'an lalu, jangan lupakan juga pekat aroma narkotik di jaman itu. Mengapa mereka memakai nama "rumahsakit", selain sebagai representasi rumah bagi para pecandu yang kreatif?

Mungkin hanya Slank yang tak terlalu jauh dari musik yang akrab di kuping kita yang kemudian memiliki semangat independen dan pemberontakan yang sama. Namun dalam Rock N Roll, tidaklah aneh jika musisinya bertingkah liar dan provokatif. Rumahsakit bagi saya tampil lebih "cuek". Nyaris tak ada pesan sosial atau kritik apapun pada lagu lagunya. Murni bercerita tentang diri sendiri, kegelisahan diri sendiri, asyik dengan diri sendiri, hal-hal yang sifatnya personal. Lagi-lagi, dalam pandangan saya, ini merupakan bentuk cantik pengaruh narkotik yang membuat mereka lepas dari urusan sosial dan asyik dengan pesta pora di dalam tubuh dan kepala.

Untuk beberapa saat, itulah rock n roll yang saya yakini; bebas dan lepas dari apapun selain diri sendiri. Dan mereka membawakan musik pop! Tentu tidaklah macho jika dibandingkan dengan Slank yang maskulin. Lalu, mereka pun bubar, tenggelam dalam arus musik baru di Indonesia yang silih berganti. Rumahsakit sendiri banyak mempengaruhi kehidupan saya, terutama ketika beberapa teman sepermainan yang sama-sama mendengarkan band ini mati konyol (bukan dengan nada yang kasar) bersama narkotika akibat interpretasi berlebihan akan musik mereka. Sebab memang, lagu-lagu rumahsakit sendiri menjadi semacam anthem bagi junkies 90’an. Mereka mempengaruhi selera musikalitas saya di kemudian hari, dan seringkali lagu mereka menjadi cover yang wajib dibawakan bersama band saya – sekedar nostalgia, ataupun menjaga agar jejak mereka tak hilang dimakan jaman yang makin chaotic ini.

Di akhir tahun 2012, terdengar kabar mereka akan mengadakan reuni lengkap dan merilis album baru. Berita tersebut seketika menjadi kabar yang sangat membahagiakan, selain kabar The Stone Roses yang juga melakukan reuni. Dan single "Bernyanyi Menunggu" pun keluar. Percaya atau tidak, mata saya dan gitaris saya berkaca-kaca ketika lagu ini diputar. Ada rasa haru yang tak bisa dijelaskan saat mengetahui bahwa mereka punya kekuatan untuk muncul lagi, dan mengembalikan kenangan manis dan buruk di masa lalu. Memberi warna lagi pada musik Indonesia hari ini, dengan musik yang tidak berubah setelah sekian lama, sehingga membuat kami bersemangat untuk terus bermusik.

 

Post-Script; Harlan Boer:

“Tanpa disadari, gue ternyata fans rumahsakit. Ketika mereka bubar, gue sedih. Dan gue tergerak membuat acara Tribute to rumahsakit. Ketika mereka reform, gue tergerak untuk mengajak Andri kolaborasi di EP Sentuhan Minimal.

Gue sebenarnya gak inget kapan pertama kali nonton mereka. Tapi yang paling keinget itu waktu mereka sudah rekaman. Album Rumah Sakit (1997) dirilis oleh Pop Records, sublabel Aquarius. Dan karena dia dirilis Aquarius, promosinya bisa dibilang lumayan gede. Jadi, gue bisa menonton video klip single-nya rumahsakit di TV. Gue lupa lagunya yang mana – ‘Datang’ atau ‘Hilang’ – tapi yang jelas, gue dan anak-anak di band gue nonton. Menariknya, musik rumahsakit membuat orang ingin ngomong, ‘Gue juga bisa bikin kayak begini.’ Musik kayak gini doang, gue juga bisa bikin! Nyanyi-nya kayak begini aja, liriknya begini aja. Beberapa teman gue yang merasa seperti itu. Gue bales, “Ya elu bikin lah!” Dan itu problem.

Dulu, indie gak bisa disamakan dengan sekarang. Band indie yang dikenal sedikit banget, dan rumahsakit adalah salah satunya. Kasetnya dijual di toko kaset. Teman gue dari lingkungan ‘lain’ pun tahu rumahsakit itu siapa. Dan kalau lo dengerin, mereka istimewa. Musiknya, liriknya, sound-nya. Memang gak ada yang bisa nyamain rumahsakit. Mereka terlalu khas.

Menurut gue, sebelum album itu, rumahsakit gak terlalu banyak beda strata-nya dengan band-band lain di Poster Cafe. Mereka sama saja. Bukan band yang punya follower besar. Beda sama Pestolaer yang sudah dikenal, misalnya. Rumahsakit itu biasa-biasa saja. Album itu yang bikin mereka dikenal.

Gue pernah dengar rumahsakit diwawancarai di sebuah radio. Gue lupa radio apa. Dan penyiar radionya bilang, “Gue belum pernah denger soal band ini.” Jawaban Andri Lemes humble dan bener banget: “Kami memang band yang main di acara-acara kecil,” katanya. Dia ngomong itu bukan karena pura-pura merendah atau semacamnya. Tapi karena memang semangatnya begitu aja! Gak ambisius atau gimana. Rumahsakit memang begitu saja. Main di acara kecil. Dan menurut gue, itu sedikit dari attitude indie yang bisa muncul di media saat itu. Orang-orangnya juga khas. Kalau lo beli majalah dan ada rumahsakit, orangnya kayak begitu semua, gayanya kayak begitu. Mereka gak pernah jadi orang lain.

Salah satu momen berkesan adalah saat rumahsakit rilis album keduanya, Nol Derajat, di tahun 2000. Waktu itu, Indra Ameng (manajer mereka) mengundang teman-teman semua ke release party. Dan gue diundang. Padahal, hubungan gue dengan anak-anak rumahsakit pada waktu itu gak akrab. Mungkin karena band gue juga pernah main di Poster, dan karena band gue pernah ikut di kompilasi yang dirilis label mereka. Tapi gue gak terlalu kenal mereka secara pribadi. Tetap saja, semua orang diundang. Saat gue datang, semua orang ada. Bahkan anak-anak Pure Saturday dari Bandung pun ada.

Acara itu dibikin di hanggar. Yang buka band-band IKJ. Secara kualitas produksi, bisa dibilang amatir. Suaranya gaung, dan sebagainya. Tapi secara suasana dapet banget. Itu salah satu acara yang sangat berkesan buat gue. Padahal kondisinya seburuk itu! Tapi, ada sesuatu yang beda dengan rumahsakit. Karakter mereka, attitude mereka. Kebetulan waktu itu mereka juga menyetel video klip Mati Suri. Dan itu karya visual yang mengagetkan juga. Videonya buram, rumahsakit-nya gak kelihatan.

Lalu mereka main dengan gaya khas mereka. Entah sebelum lagu keberapa, Andri Lemes bilang, ‘Udah ya, lagu berikutnya aja. Biar cepet.’ Jadi, rasanya seperti itu acara biasa aja. Mereka gak berlebihan. Pernah di satu acara di Nirvana Cafe, kalau gak salah, ada penonton naik ke atas panggung dan meluk Andri. ‘Anjing, gue nonton ginian cuma di videonya Morrissey doang. Ternyata di sini ada juga!’ Gila.

Mereka bubar di acara 24 Hour Party People – gara-gara ada film 24 Hour Party People, dibikin acara bernama sama. Setiap band nge-cover band-band Madchester dari film itu. Rumahsakit main, membawakan Stone Roses kalau gak salah. Ternyata itu penampilan terakhir mereka. Suasananya khas rumahsakit, padahal itu bukan acara mereka. Sederhana, tapi kena.

Di lagu terakhir mereka bawain ‘Sakit Sendiri’. Ameng naik ke atas panggung dan bilang bahwa setelah ini, rumahsakit udahan. Sederhana saja. Itu membuat gue merasa rumahsakit itu spesial. Dari liriknya, attitude-nya. Spesial. Dan di momen itu, gue sadar bahwa gue sedih banget melihat mereka bubar. Saat mereka nyanyi lagu terakhir, buat gue emosinya berbeda. Anjing, mereka bubar!

Mereka beberapa kali buat konser reuni. Salah satu reuni mereka ada di PL Fair, dan gue nonton juga. Segitu dirindukannya mereka. Gue masih ingat Andri naik panggung bawa bunga, dan nyanyi. Rumahsakit gak pernah jadi band besar, tapi mereka mengena. Itu intinya, menurut gue.

Yang paling spesial dari mereka adalah suara Andri, dan lirik mereka. Dari segi lirik yang dia tulis, Andri tidak sesuai stereotype musik indie pop. Dia punya hal-hal personal dalam dirinya yang dia keluarkan dalam liriknya. Di lagu “Pop Kinetik”, misalnya. Buat gue itu personal dan eksklusif banget – khas dan hanya bisa dibuat oleh orang ini. Ketertarikan Andri pada mainan, pada superhero, misalnya, bisa masuk dalam musik pop.

Masa itu memang memungkinkan orang untuk menjadi naif. Menjadi berbeda, tanpa harus dicari-cari apa yang membuat dia berbeda. Karena ada hal-hal yang umum dan dikonsumsi semua orang yang sama, serta ada juga hal-hal eksklusif yang hanya dikonsumsi kalangan tertentu. Dan itu gabung saja dalam ekspresi musik di situ. Ketika kita ingin mengeluarkannya, kita keluarkan saja. Gak ada rasa takut salah. Tidak ada keinginan untuk menjadi beda, tapi ujung-ujungnya kita beda. Secara kulturalnya begitu. Masih membawa kebebasan tertentu yang susah gue jelaskan.

Waktu rumahsakit comeback, mereka merilis lagunya di Internet. Gue men-download, dan gue ingat ada satu tweet yang sama dengan perasaan gue – dia mengutip kata-kata orang lain: ‘Andri Lemes is back!’ Dan itu yang gue rasakan. Gila, gue dengerin suara ini lagi! Menurut gue, lagu baru rumahsakit (‘Bernyanyi Menunggu’) gak seperti gue dulu mengenal mereka – tapi suara itu tetap sama. Gue gak bisa bohong – bahwa akhirnya gue bisa mendengarkan suara Andri Lemes lagi! Mungkin sebelum dia, gak ada yang percaya bahwa ada suara seperti itu di musik Indonesia. Suaranya cocok banget dengan karakter band-nya.

Ketika gue bikin lagu untuk EP Sentuhan Minimal, gue merasa Andri Lemes kalau nyanyiin kayaknya cocok. Tapi, ide itu mungkin gak pernah ada kalau mereka tidak comeback. Karena mereka comeback, gue jadi teringat bahwa ada suara ini. Andri malah gak tahu lirik lagunya. Gue suruh aja datang ke studio, langsung rekaman. Biasa saja.

Gue gak terlalu berharap mereka rekaman lagi. Gue gak terlalu berharap apa-apa. Gue hanya berpikir bahwa karena mereka balik lagi, ada generasi lain yang bisa menonton mereka, terhubung dengan mereka, menggali lagi lagu-lagu mereka, menikmati musik mereka.

Dan gue yakin, itu akan berpengaruh.”

 

rumahsakit adalah:

Andri Lemes (vokal), Marky (gitar/vokal latar), Sadam (bass/vokal latar), Mickey (keyboard/vokal latar), Fadli (drum/vokal latar)

 

Wajib Dengar:

“Hilang”, “Pop Kinetik”, “Dewi Mimpi”, “Datang”, “Kuning”, “Anomali”, “Mati Suri”

Tags: