Latest Post

Cahaya yang Kian Kekal

Ada beberapa hal, seperti cahaya, yang bertahan untuk waktu yang lama, dan kemudian ada hal-hal lain, seperti cinta, yang bertahan selamanya.

Huygens memublikasikan The Treatise on Light pada tahun 1690, di mana ia menyatakan bahwa ketika sebuah benda bersinar membuat getaran-getaran pada ruang kosong nir bentuk – sebuah ether; maka kemudian cahaya tercipta. Kemudian, pada tahun 1704, Newton berteori bahwa mungkin cahaya tidaklah lebih dari sel-sel kecil yang tak kasat mata, sebab terlalu kecil atau terlalu lincah, atau mungkin mereka tembus dari pandangan kita. Ilmuwan dan para manusia lain tidak menyadari bahwa ether, tempat cahaya lahir ini, tidak lain adalah diri mereka sendiri, dan partikel yang merambah kulit mereka pada pagi hari adalah cinta. Namun cinta, seperti cahaya, ketika dirawat dengan tidak hati-hati, akan pergi, dan kepergian cinta adalah kesalahan terbesar seorang anak manusia.

Seakan mengerti kegelisahannya, lelaki itu menghampiri dan menggenggam tangan sang perempuan. Sentuhan itu tetap sama: kelembutan yang ia pancarkan ketika kedua tangan mereka bertemu kali pertama di peron kereta. Perempuan itu akan hadir tiap Selasa, menggenggam setangkai bunga kertas di dadanya, dan menyaksikan para penumpang menuruni kereta – menunggu. Terus menunggu, tanpa menemu yang ia rindu. Kala hinggap kereta terakhir, ia akan merogoh kantongnya, mengambil sebatang korek, dan api akan membakar bunga-bunga kertas itu. Bergantung pada emosinya, ia akan membeli sesuatu dari kios tempat kerja lelaki itu: rokok, teh honeybush panas, permen obat batuk, selembar sapu tangan, koran, kemudian pergi. Pada hari Kamis itu, mungkin karena hujan deras yang masih menjelma di ujung jubahnya, perempuan itu sulit menyalakan koreknya. Entah demi apa lelaki itu ingin melengkapi pagi sang perempuan. Ia mengulurkan sebuah korek perak meskipun pada saat itu ada lebih banyak benda yang sedang ia genggam. Perempuan itu mengambil korek perak sang lelaki dan menyalakan sepercik api. Cahaya kehangatan hidup dari ujung bunga dan ia membuangnya ke rel kereta.

"Terima kasih."

Mereka menciptakan cahaya pada sebuah Kamis pagi. Lelaki itu tiba di loteng. Wajahnya menabrak bunga kertas yang dilipat dan digantung sang perempuan setiap kali ia teringat ayahnya. Lelaki itu melepas bajunya perlahan dan penuh makna, selayaknya tiap garis benang yang ada adalah liturgi yang harus dilantunkan. Lantas ketika perempuan itu menunggu tanpa sehelai benang di depan jendela, lelaki itu masih merapikan sepatunya dan menggantung jubahnya kemudian membuka kancing kemejanya. Seakan membuka ikatan kemurnian yang sudah tidak ia miliki sejak lama, sang lelaki menarik pita di kepala perempuan itu, membiarkan gelombang rambutnya tumpah menutupi lututnya.

"Kini kamu selesai."

Ketika itu ia berdiri di depan jendela, menggamit gorden tanpa berkata-kata, sementara lelaki itu memerhatikan sarang laba-laba: saling terjalin di langit-langit seperti mimpi somatik. Cahaya dari luar menandai kulit mereka dengan pola, meski mereka mengerti cahaya-cahaya itu adalah cahaya yang hanya lewat, dan bukan cahaya yang terukir pada mereka selamanya. Ada begitu banyak hal yang membuat perempuan itu ingin mengucapkan terima kasih kepada sang lelaki. Rambutnya yang menjelma samudra tetap menutupi matanya yang menciptakan kematian-kematian kecil dalam sang perempuan. Ciumannya yang menjelma buih tertarik dari pantai tengkuk. Ujung jarinya memancarkan kehangatan yang menjelma cahaya dari sebuah jendela. Tetap, pikiran-pikiran mengenai sang lelaki nampak tak sempurna ketika dibandingkan dengan wujudnya. Kini perempuan itu mengerti apa rasanya pagi bersama sang lelaki. Ia kesulitan memahami apa rasanya pagi-pagi di mana lelaki itu tak ada di sampingnya, menyentuh jaring laba-laba sehalus sentuhan yang lelaki itu daratkan pada kulitnya.

"Kemana semua laba-laba?"

"Musim dingin kemarin mereka mati, tapi kubiarkan jaringnya, siapa tahu ada makhluk lain yang mencari tempat untuk tidur."

"Lalu, adakah?"

"Kamu yang pertama."

Lantas mereka menjelma ether. Lantas mereka mencipta cahaya. Lantas mereka berikat pada sesama, karena kini tanggung jawab mereka untuk menciptakan sesuatu di dunia yang tanpa mereka takkan bermakna ini. Itulah bagaimana cinta merupa. Cinta itu sopan dan pelan pada awalnya, meminta izin untuk melewati gorden di jendela. Ia menunggu. Ia menunggu dengan sabar. Tapi ketika cinta dibiarkan melewati marka perasaan, ia merangkuhmu dalam keseluruhanmu. Ia mengelus dan membuka bagian-bagian tubuh mereka yang nampak dan bagian-bagian tubuh mereka yang telah mereka tutupi dengan begitu baik, tapi cinta hanya bisa seutuh yang mereka izinkan dan mereka tak terlalu hati-hati merawatnya. 

Huygens benar ketika ia berpikir bahwa penciptaan cahaya terbentuk ketika manusia-manusia bercahaya menciptakan getaran-getaran yang, seperti diteorikan Newton: terlalu kecil, terlalu lincah, pun tembus pandang. Apa yang takkan pernah mereka sadari adalah bahwa ether, tempat cahaya lahir ini, tidak lain adalah diri mereka sendiri, dan partikel yang merambah kulit mereka pada pagi hari adalah cinta. Tapi kurasa, kini aku mengerti. Kesalahan terbesar manusia bukanlah ketidakhati-hatian dalam merawat cinta, tapi dalam pencariannya ketika cinta sesungguhnya telah pergi.  Jika mereka mencari cukup lama dan cukup teliti, mereka akan melihat: akan selalu ada sisa-sisa cinta pada apapun yang pernah disentuhnya. Kau bisa menemukannya pada retakan di langit-langit, di debu yang terkumpul di pojokan, terkumpul di gorden; bahkan pada diriku. Karena akulah ranjang tempat lahirnya cinta mereka, dan tidak seperti mereka, aku masih penuh dengan cahaya.

 

Disunting dan Diterjemahkan oleh Anantagita Sambhava & Dymussaga Miraviori