Latest Post

Distorsi Format Fisik (Catatan dari Record Store Day)

Record Store Day, sebuah perhelatan massal di seluruh dunia yang dimulai di Amerika Serikat (San Francisco lebih tepatnya) di tahun 2008 dan dibuka dengan kehadiran Metallica di Rasputin Music, sebuah toko rilisan fisik independen disana. Ajang Record Store Day ini lalu diperingati di seluruh dunia, dan tentu saja sekarang hadir juga di Indonesia. Semangat Record Store Day untuk merayakan rilisan-rilisan album fisik mancanegara dan lokal baru saja dihelat 2 hari kemarin pada tanggal 18 dan 19 April di beberapa kota di Indonesia. Semangat band-band baru, rilisan-rilisan terbaru, record label baru, band lama, rilisan lama, record label lama dan lain-lain, semua turut meramaikan Record Store Day untuk menciptakan “awareness” dan selebrasi rilisan musik dalam bentuk fisik.

Tetapi tunggu dulu, sebetulnya apa sih rilisan fisik itu?

Untuk generasi yang lahir di tahun 2000’an ke atas (millenial konon istilahnya), rilisan musik berbentuk fisik ini mungkin hanya diketahui melalui orang tua, Oom, tante dan generasi kakak-kakaknya. Untuk mereka, iPod, iPhone, iPad dan gadget-gadget lain adalah bentuk rilisan musik dalam bentuk fisik yang mereka ketahui. Inilah salah satu alasan diadakannya Record Store Day, agar generasi sekarang ini bisa turut meramaikan, mengumpulkan dan melakukan pengarsipan untuk rilisan-rilisan musik dalam bentuk fisik yang bisa dipegang, bukan berbentuk data digital.

Sebagai musisi, rilisan berbentuk fisik adalah statement, adalah suatu karya seni tersendiri dimana rangkaian komposisi suara berbentuk musik di dokumentasikan lalu, mengutip teman saya Jimi Multhazam, “Terekam tak pernah mati”. Ada nilai karya ketika musisi memperlihatkan rilisan berbentuk fisik ke khalayak ramai, setidaknya lebih bergengsi ketimbang memperlihatkannya melalui iPod dan kode Ringback Tone.

Konsep “terekam tak pernah mati” melalui bentuk fisik ini mulai dilakukan ketika Thomas Edison pada tanggal 18 Juli 1877 menemukan alat perekam dan pemutar suara yang dinamakan Phonograph. Hasil penemuan ini dikembangkan di Lab Volta oleh Alexander Graham Bell, Charles Sumner Tainter dan Chichester Bell yang kemudian tercipta alat rekam yang dinamakan Graphophone tahun 1887. Teknologi ini kemudian berkembang menjadi berbagai macam alat rekam suara sesuai dengan perkembangan jaman, dan tentunya, perkembangan format rekam ini terkait erat dengan transisi teknologi dari organik, ke analog lalu digital.

Fast forward ke tahun 60an, di Amerika dan Eropa sedang terjadi gejala “counter-culture” oleh anak-anak muda di sana dan musik turut hadir di situ sebagai bentuk perlawanan. Selain melalui TV dan radio, penyebaran semangat yang biasa disebut Flower Generation ini lewat musik sampai ke seluruh dunia melalui media rekam yang bernama Vinyl (piringan hitam). Format inilah yang sekarang banyak dielu-elukan dan dirayakan sebagai format media rekam “terbaik” oleh banyak orang. Para pecinta Vinyl berpendapat bahwa suara Vinyl berkarakter “hangat” (warm) dengan khas “crackles” dan “pops” yang hanya ada di medium tersebut.

Secara teknis mungkin bisa dijelaskan begini, frekuensi pendengaran telinga manusia berkisar antara 20 Hz sampai 20 KHz (20.000 Hz). Frekuensi di atas dan di bawah ini tidak terdengar oleh manusia. Media rekam Vinyl berkarakter “midrange” berkisar sampai 20Khz+/-3 dB dan tidak ada pemotongan frekuensi (frequency cut-off) di atas 20 Khz di mana dalam format digital, frekuensi di atas dan di bawah ini harus di “cut-off”. Frekuensi “midrange” ini membuat telinga manusia nyaman karena suara terdengar pada balance yang tepat, tidak terlalu rendah, atau tinggi. Faktor ini yang membuat karakter Vinyl terdengar “warm” (lihat gambar.)

Kembali ke Record Store Day, event ini memang cenderung lebih mengagungkan rilisan Vinyl dibanding rilisan format lain. Hal ini karena format Vinyl mengalami kebangkitan kembali dalam beberapa tahun terakhir. Tetapi menariknya, selain merayakan format Vinyl, banyak juga yang merilis musik dalam format lain yaitu Kaset (Compact Cassette). Format kaset inilah format yang sebetulnya lebih familiar untuk generasi saya dan mungkin sebagian besar penggiat Record Store Day karena mereka masih mengalami era kaset. Format yang dikembangkan dari Reel to reel tape recorder di Jerman tahun 1935 oleh Fritz Pfleumer ini menjadi bentuk kaset yang kita kenal sekarang melalui teknologi dari perusahaan elektronik Philips. Format kaset adalah format yang sangat umum sebagai medium rekam dan pemutar musik sekitar tahun 1980’an hingga awal 2000’an.

Secara kualitas suara, format kaset kalah jauh dengan Vinyl. Hal ini karena ukuran pita kaset yang kecil dan gesekan antara pita dengan “playback head” lama kelamaan akan membuat pita menjadi aus dan bersuara mendem kalau sering diputar. Tahun 1974, TDK memperkenalkan format kaset dengan bahan yang menggunakan Cobalt-absorbed iron oxide (Avilyn) dengan tujuan melebihi kualitas suara Vinyl.

Tetapi harus dicatat bahwa kualitas suara Vinyl, kaset serta format analog lainnya tidak akan berarti bila kita tidak “go analog all the way”. Maksud saya, kualitas suara Vinyl menjadi percuma ketika kita tidak memiliki alat pemutar (turntable) yang bagus, jarum yang bagus, preamp yang bagus, kabel yang bagus, speaker yang bagus dan tentu saja, ruangan dengan akustik yang mendukung. Apabila ada satu elemen yang tidak mendukung, maka akan terjadi “distorsi” yang mengakibatkan penurunan kualitas suara Vinyl. Begitu juga dengan medium lainnya, apapun kelebihan medium suara yang kita pilih, tidak akan ada artinya tanpa didukung oleh elemen-elemen yang saya sebut di atas.

Dan ketika musisi era sekarang akan merilis format analog (Vinyl/kaset), apakah musisi tersebut menggunakan media analog ketika rekaman? Microphone? Kabel? Amplifier? Mixer? Alat rekam? Lalu bagaimana dengan mixing-nya? Apakah mereka melakukan Mastering lagi untuk format analog?

Berbagai macam distorsi sudah terjadi dari karya musik itu dibuat, dimainkan, direkam sampai ke telinga pendengar. Media rekam adalah medium komunikasi sebuah karya komposisi suara. Tapi yang terpenting bukan medianya, melainkan esensinya.

Sumber:
http://en.wikipedia.org/wiki/Graphophone
http://www.global.tdk.com/about_tdk/our_history/