Latest Post

Elegi Atas Nafsu Yang Terus Memburu Karolina dan Parmin

Hening, sebelum fajar menyingsing. Seekor betina asik masyuk dalam peraduan bersama sang pujangganya. Kali ini mereka tidak bercinta di udara. Hanya mengasingkan penat dari semua kepura-puraan kota mereka. Adalah waktu, yang mengantarkan langit biru yang merengut pada senja tadi. Sepasang kekasih ini menanti, agar waktu menjemput mereka segera setelah petang menyambut senja yang merengut. Kepada sang surya mereka berdoa, sebab tak ada lagi tempat paling memilukan kecuali dunia yang mengasingkan mereka. Apa pula cinta, kata mereka. Sembari mengulum senja yang memuram oleh temaram surya yang tenggelam.

Si betina bernama Karolina. Sedangkan sang pujangga bernama Parmin. Parmin dan Karolina terbang di atas nasib yang tak kunjung mereka mengerti, setiap hari. Hanya saja mereka selalu bersikap bersahaja terhadap hidup, karena di rasa hanya syahwat lah yang mempunyai kekuatan mereka selain kehidupan. Bagai Smaradanha, prahara nestapa seakan tak kuasa membendung kisah asmara mereka. Namun, lantas bukan asmara yang menanamkan cinta di dalamnya, melainkan asmara yang mengandung syahwat nan nikmat juga menggebu. Kekuatan berahi yang mereka punya adalah magma yang menganga dalam detak senja yang membara. Karolina dan Parmin berjalan menyusuri waktu yang bergelora dalam buaian surga yang palsu bernama dunia. Dunia yang lantas labil akhir-akhir ini. Juli yang dipenuhi hujan mengiris premis.

Waktu hujan kemarin, mereka bertanya: apalah artinya berciuman tanpa naluri syahwat di dalamnya? Sekedar peredam rindu di tengah dinginnya musim kemarau Juli yang gila ini? Atau hanya sekedar bukti pendewasaan diri? Bahwa benar adanya, kala hati dimabuk asmara ketika semua kehangatan menyatu, seakan tak ada kata semanis madu. Karolina dan Parmin benar benar telah dibutakan oleh asmara yang menggebu. Mereka bercinta saban hari di pinggir laut yang khidmat dan merdu. Di bawah temaram surya kala senja, mengintai mereka yang asyik masyuk tanpa busana apalagi beludru. Telanjang. Bukan hanya tubuh mereka, melainkan mata, juga hati yang telah dikaburkan oleh nafsu pada senja itu.

Adegan mereka mirip film-film biru jadul. Padahal mereka pun bukan hidup di era post-kolonial. Mereka hidup di jaman yang serba mapan. Bahkan terkadang mereka merekam kisah syur itu ke dalam perangkat tablet mereka. Dalam rekaman yang utuh bak video porno profesional. Tak jarang, Karolina dan Parmin menonton berkali-kali rekaman itu. Bukan sebagai sajian penutup nafsu, melainkan sebagai pledoi atas salah eja yang terjadi dalam Kamasutra rekaan mereka. Variasi berahi yang mereka usung pun sungguh sakti mandraguna. Bayangkan saja, dalam satu jam sudah 10 gaya pun mampu mereka lakukan. Sebut saja gaya missionary dan Cakar Elang. Begitu menggebu bagi Parmin sang pujangga senja. Entah mengapa Parmin sungguh menggilai gaya itu. Mungkin karena dia senang mendominasi berahi jika memakai gaya tersebut.

Lain Parmin, lain pula Karolina. Karolina sungguh berdebar kala dibelai rambutnya yang hitam nan legam bagai malam. Menurutnya, itu adalah puncak intimasi paling sempurna yang mampu ia capai apabila Parmin-lah yang lembut membelainya. Sembari merayu telinga betina ini dengan rayuan paling memabukan seantero jagat, pada senja  yang terus berlalu menjadi malam. Parmin dan Karolina seolah melebur bersama deburan ombak yang menyapu bibir pantai. Hati mereka dipenuhi tawa, juga nafsu yang terus memburu setiap dengusnya. Hingga bulan pun muncul mengerutkan sinar dibawah temaram asmara mereka. Karolina dan Parmin terus melaju bagai kuda paling binal seantero jagat ini. Jagat yang mereka namai hidup. Hidup yang terisi penuh oleh nafsu paling memabukkan.

Mungkin dunia Karolina dan Parmin berbeda dari dunia kebanyakan kita. Hidup dua anak dari senja ini terlampau berkilau oleh kehangatan, kehangatan akan nafsu yang kian menghadang. Yang lalu mengalir bagai denyut nadi. Menggelinjang bersama nafas yang tergesa gesa dalam waktu menunggu datangnya senja. Karolina dan Parmin menjalani takdir paling memabukkan sepanjang sejarah manusia, serupa halnya Dyonisius dalam mitologi Yunani. Sedikit memiliki kesamaan antara Dyonisius, Karolina, dan juga Parmin. Mereka sama-sama melegitimasi nafsu atas waktu yang terus berputar. Berputar seperti roda gerobak bakso. Yang bundar memancarkan bentuk paling montok, yang paling sempurna.