Latest Post

Fehlfarben: Monarchie und Alltag

// Wawancara dengan Thomas SCHWEBEL, Michael KEMNER, dan Peter HEIN. Yang disebut terakhir datang terlambat, namun tetap berpartisipasi dalam obrolan.

// Punk selalu menjadi pernyataan gaya, utamanya dengan dan dari gambaran pakaian yang mereka kenakan. Kadang, pengaturan wawancara jadi lebih penting daripada wawancaranya sendiri.

// “Akhirnya, Peter Hein berbalik. Kali ini dia memegang kursi. Hein mengenakan kemeja putih yang kusut dan aneh. Jelas, kemeja ini dirajut utuk pria yang bertubuh lebih bongsor. Kemeja itu tidak muat pada Hein, namun dia tetap merasa nyaman.”

 

****

Ketika Peter Hein melihat keluar jendela dari kantornya di Xerox, dia melihat butir-butir salju putih bergelimang.

Tulang pipinya yang dominan mulai larut di bawah lautan keriput kulit. Satu dua helai rambutnya yang panjang sudah memutih. Badannya tak selincah dulu, tak lagi ramping seperti masa jayanya. Sekian dekade lalu dia menyulut api revolusi bersama kawan-kawannya. Mereka menjadi bagian dari era baru seluruh scene musik Jerman Barat, dulu. Tapi, dasar manusia. Lagu-lagunya tadinya tidak dianggap oleh publik. Baru bertahun-tahun kemudian mereka mengerti.

Lucu: Hein meneriakkan amarah dari nyaris tiga dekade lalu, tapi baru sekarang mereka mengerti.

Aneh: Kok bisa ya, mereka masih mengerti?

Peter Hein adalah penyanyi dari Fehlfarben, sebuah ben post-punk asal Jerman yang terbentuk pada tahun 1979 di kota Düsseldorf, Jerman Barat, dari sisa-sisa ben punk tenar Mittagspause. Ketiga eks anggota Mittagspause; Peter Hein, Franz Bielmeier, dan Markus Oehlen, terus menjadi figur berpengaruh dalam scene musik pada waktu itu. Sementara Bielmeier menerbitkan fanzine pertama di Jerman Barat, The Ostrich, serta mendirikan label independen Rondo-Label, Hein dan Oehlen membentuk Fehlfarben bersama Thomas Schwebel, Michael Kemner, Frank Fenstermacher, dan Uwe Bauer.

Perjalanan ke London mengekspos mereka pada pergerakan 2-Tone Ska yang sedang tenar pada masa itu. Sekembalinya ke Jerman Barat, mereka mencoba menulari negaranya dengan musik post-punk yang bernafaskan ska. Bermula dari beberapa single 7 inch, mereka kemudian didekati oleh label rekaman EMI dan mulai merekam album yang akan mengubah mereka jadi fenomena: ‘Monarchie Und Alltag’.

Persetan, pikirnya. Hein beranjak berdiri dari tempat duduknya, dan mengecek telepon genggam yang dia selipkan di kantung celana. Nihil. Dia masih terjebak di ruangan ini. Selama 25 tahun lebih dia menjadi pegawai setia bagi Xerox. Beberapa lama setelah ‘Monarchie Und Alltag’ dilepas ke pasaran, stagnasi dan frustasi akibat kehidupan dalam sebuah ben membuatnya mengambil keputusan untuk mengundurkan diri sebagai vokalis, dan kembali ke pekerjaan lamanya. Semuanya cuma imaji yang terus berulang sampai muak. Rutinitas itu universal, bukan cuma penyakit kantoran saja. Bosan, monoton, tidak pasti. Hein tertawa. Dulu dia bilang bahwa kembali ke pekerjaan Xerox ini, setelah sempat jadi penyanyi jagoan, terasa seperti liburan. Wartawan yang mendengar kata-kata itu tampak kaget dan terkesima.

Album fenomenal itu dilepas pada Oktober 1980. Baru pada Mei 1981 dia bisa menembus tangga album Jerman dan berpuncak di peringkat 37. Baru pada tahun 2000 album tersebut mencapai status Gold. ‘Monarchie Und Alltag’, yang berarti ‘Monarki dan Kehidupan Sehari-Hari’, bukan album yang langsung menggemparkan dunia. Namun pengaruhnya masih terasa sampai kini. “Titik balik musik rock modern Jerman.” “Monumen yang revolusioner.” “Album punk Jerman yang paling penting.” Semua kata-kata itu digunakan untuk menggambarkan ‘Monarchie Und Alltag’, kini. Dulu, mereka tidak terlalu peduli. Hanya satu lagu yang mencapai kesuksesan: ‘Ein Jahr (Es Geht Voran)’, sebuah lagu semi-disko yang mereka rekam sebagai lelucon sarkas. Itupun cuma mencapai angka 27 di tangga lagu. Itupun baru terjadi 2 tahun setelah ‘Monarchie Und Alltag’ rilis.

Patti Smith pernah berujar bahwa seniman adalah seseorang yang berkompetisi dengan Tuhan. Dan mungkin, dulu, itu yang hendak mereka lakukan. Tapi Tuhan macam apa? Perang macam apa?

Setiap lagu di album ini terdengar seperti usaha mencari jawaban tersebut. Gabungan antara riff gitar bertenaga, vokal yang berdeklamasi dan beretorika, bass yang sangar, serta dentuman dram yang menghentak telinga. Semuanya sangat tipikal musik jenis post-punk era 80’an. Sesekali, ada hiasan dari alat tiup seperti terompet dan saksofon, contohnya di ‘Das Sind Geschichten’ dan lagu penutup, ‘Paul Ist Tot’. Sebuah bukti dari pengaruh ska yang mereka bawa. Lagu-lagu mereka terdengar gelap, terdengar melankolis, kontemplatif. Dalam keadaan pikiran tertentu, terdengar enak diajak berdansa pula. Namun, bila boleh jujur, mendengarkan ‘Monarchie Und Alltag’ terasa hampa tanpa liriknya.

Hier Und Jetzt’, lagu pembuka mereka, bercerita tentang sebuah generasi yang berada pada posisi terjepit. Antara masa lalu yang masih menghantui, masa kini yang menyebalkan, dan masa depan yang semakin suram. “Masa depan takkan berhasil melawan, kepala lebih besar dari topinya. Aku tak tahu ke mana arah angin bertiup, tak peduli apa kata ramalan cuaca.” Berikutnya datang ‘Grauschleier’, yang berujar sarkas: “Aku sudah pernah melihat semuanya seribu kali. Aku tahu hidup itu seperti apa, aku sudah pernah menonton film.

Tema kebingungan dan keterasingan ini mereka selami di Monarchie Und Alltag. Sekilas teringat film dokumentar tentang dekade 80’an, yang sempat tayang di salah satu stasiun televisi kabel. Dekade 80’an digambarkan sebagai sebuah dekade penuh ekses, di mana komersialisme dan kapitalisme akhirnya menang. Aksioma Andy Warhol bahwa semua orang akan tenar selama 15 menit nampaknya benar.

Teknologi mewabah. Telekomunikasi mendunia. Generasi baru yuppies dan Material Girls mengejar dan menghabiskan uang seperti gila. Sementara itu, masyarakat dan dunia mengalami perubahan drastis. Perang Dingin mencapai titik puncak, sebelum berakhir dengan kalahnya Blok Komunis dan runtuhnya Tirai Besi. Mikhail Gorbachev berkompromi, merespon masa lalu otoriter Uni Soviet dengan reformasi glasnost dan perestroika. Di akhir dekade, rata-rata negara Komunis sudah memerdekakan diri. Cekoslovakia dengan Velvet Revolution-nya. Lech Walesa dan Solidarnosc menggeliat di Polandia. Ceausescu ditembak mati di Rumania. Dinding Berlin runtuh, Honecker panik, tentara melongo, dan Jerman Timur bubar. Natal tahun 1991, Uni Soviet pun ikut menghilang. Amerika Serikat dan kapitalisme menang. Uang terus mengalir, perubahan terus melanda. Dirilis tahun 1980, ‘Monarchie Und Alltag’ bisa saja berfungsi sebagai ramalan untuk dekade penuh pergolakan yang menunggu di depan.

Nomor ‘Das Sind Geschichten’ terdengar seperti sindiran melankolis, berkisah tentang bagaimana konsep hidup normal mulai terasa asing (“Ini kisah yang kami baca di buku. Kisah tentang hidup sehari-hari. Ini kisah yang tak dipercaya lagi. Ini kisah yang terampas.”). Meski ‘All That Heaven Allows’ nyaris terdengar seperti lagu cinta, Fehlfarben kembali ke mood awal dengan ‘Gottseidank Nichts in England’, yang menyimpulkan hilangnya harapan mereka. “Kala realita melewatimu,” nyanyi Hein. “Engkau takkan punya kawan, tak termasuk alkohol. Berdirilah sebagai orang asing, dan duniamu runtuh. Itulah akhir, dan engkau tetap sendiri.”

Perubahan sosial juga tak luput dari perhatian mereka. Imigrasi besar-besaran dari penduduk Turki ke Jerman, bahkan hingga kini, menjadi isu sosial dan politik yang genting di Jerman. Paranoia dan kecurigaan pada masuknya orang asing ini mereka parodikan dengan lirik-lirik politis nyeleneh ‘Militurk’. “Mimpi kebab di kota ber-Tembok.” Tentu, kota bertembok yang mereka maksud adalah Berlin, yang kala itu masih dipisah Tembok Berlin. “Izmir baru di dalam DDR.” Izmir adalah nama kota di Turki, dan DDR adalah nama resmi Jerman Timur. Seolah menyebut bahwa kota Turki itu ‘pindah’ ke Jerman. “Ada mata-mata di setiap warung. Ada agen Turki di Komite Pusat. Jerman, Jerman, habislah sudah!” Lirik paranoid ini mereka padukan dengan dinding saksofon yang diskordan, vokal liar, gitar yang ribut, dan bassline repetitif.

Sarkasme soal politik dan kondisi dunia ini berlanjut di “Apokalypse” yang menggedor dengan beat dram, not piano asal-asalan, teriakan vokal, riak bass, dan gemuruh elektronika. Sementara “Ein Jahr (Es Geht Voran)” adalah lelucon. Mereka mendadak meninggalkan post-punk liar dan memainkan musik semi disko yang melekat seperti permen karet bekas di telinga. Lengkap dengan lirik yang berujar sinis: “Ada gunung meletus, salahkan sang Presiden, maju terus! Para bintang film-B abu-abu akan segera menguasai dunia, maju terus!

Mereka mengakhiri dengan pesimisme. ‘Angst’ berbicara tentang rasa takut untuk keluar ke jalanan, karena kriminalitas yang memuncak. Di ‘Das war vor Jahren’, Fehlfarben mencoba membayangkan bagaimana mereka akan melihat dekade 80’an di masa depan. “Mentari Coca-Cola kembali menyinari indahnya Republik ini. Ada yang bilang itu keren,” sebut Fehlfarben. “Kami berdansa sampai akhir, berdetak dengan jantung musik terbaik. Setiap malam, setiap hari, kami mengira inilah kejayaan. Itu dulu.

Lagu penutup, ‘Paul Ist Tot’, pernah disebut sebagai lagu ikon bagi generasi nihilis Jerman. Sepanjang 7 menit, lagu ini bermula dari suara ketukan gitar repetitif, sebelum ditingkahi keyboard, nada bass yang dalam, dan beat dram yang konstan. Sepanjang album, mungkin inilah lagu yang paling telanjang, meski makna liriknya hilang saat diterjemahkan. Namun, deklamasi sederhana dari lagu tersebut menyimpulkan segala-galanya: “Yang kumau tak bisa kudapatkan. Yang kudapatkan tak kumau.” Kedua gitar beradu distorsi, melakukan jamming panjang menemani lirik yang menyatir komersialisme itu. Di latar belakang, dram dan bass masih bermain tenang, seolah tak mendengar. Hein berteriak: “Televisi mati, bodoh. Aku menanti pertanyaan: Ke mana engkau akan pergi?

Dan ya, ke mana dari sini? Karier Fehlfarben berlanjut, meski tanpa Hein. Namun album-album mereka berikutnya tak pernah membuat pengaruh serupa dengan ‘Monarchie und Alltag’. Mungkin Fehlfarben bingung. Mungkin Fehlfarben sudah menghabiskan semua ramalan dan observasi mereka untuk ‘Monarchie Und Alltag’, sehingga yang tersisa cuma ampas. Entahlah.

“Fehlfarben telah jauh dari mitos para pemberontak muda nan nakal. Kontribusi mereka untuk musik berbahasa Jerman tak diragukan lagi.” Komentar Die Zeit, koran asal Jerman. Namun, kini Fehlfarben hanyalah “...sekumpulan pria beruban yang berkumpul untuk melatih kembali pemberontakan mereka, dan mengangkat kembali pedang kritik sosial yang paling mendasar.”

Genderang perang itu masih ditabuhkan, namun mungkin gaungnya sudah tidak selancang dulu. “Terlalu muda untuk mati, dan terlalu tua untuk punk rock.” Lanjut Die Zeit. “Inilah nasib semua bayi prematur yang menjadi pahlawan.”

Begitulah. Seperti kata Fehlfarben di lirik ‘Ein Jahr’: “Es geht voran. It goes on. Hein mencoba untuk menatap bayangan dirinya di cermin, namun tidak bisa. Sejenak saja dan dia sudah ingin mengalihkan pandangannya. Tak perlu juga, sekilas itu telah menceritakan segalanya. Rambutnya mungkin sudah mulai abu-abu, tapi masih ada api di dalam dirinya yang belum padam. Dia tahu itu. Setiap kali dia bangun dia masih merasakan jilatan nyala-nya. Membakar, jauh di dalam.

Hein merapikan dasinya dan tersenyum lebar.

Dia baru kembali ke Fehlfarben pada tahun 2000. Setan, dia mengundurkan diri dari ben saat tur untuk mempromosikan ‘Monarchie Und Alltag’ baru akan dimulai! Frank Fenstermacher juga hengkang tak lama kemudian, dan siklus ini berlanjut. Fehlfarben menjadi band yang penuh personil anyar, tak asing mengucap selamat tinggal pada personil yang bolak balik angkat kaki. Thomas Schwebel tetap setia. Sembari menenteng gitar, dia pun beralih merangkap vokalis pasca kepergian Hein.

Tapi toh Fehlfarben redup juga. Tahun 1984, materi hasil rekaman mereka tak jadi dirilis karena hubungan yang memburuk dengan label. Materi tersebut baru dilepas ke publik tahun 1995. Fehlfarben sendiri menghilang, sebelum bereuni di tahun 1991 dengan album ‘Die Platte des Himmlischen Frieden’ yang ditanggapi dengan dingin oleh para kritikus. Album live, kompilasi materi yang belum dirilis, serta kompilasi lagu terbaik datang setelahnya.

Andai post-punk revival di awal milenium baru tak pernah terjadi, mungkin Fehlfarben akan terkubur selamanya. Dengan hadir dan suksesnya ben seperti The Strokes dan Interpol di awal dekade 2000, musik post-punk seperti Fehlfarben menjadi trendi lagi. Musik seperti ini akhirnya mendapatkan penghargaan yang sepantasnya. ‘Monarchie Und Alltag’ lantas laku, bahkan mendapat status Gold. Hein kembali ke Fehlfarben, mereka bangkit kembali, dan di 2002 mereka merilis album ‘Knietief im Dispo’. Karier mereka berlanjut hingga kini. Es geht voran. Hidup berlanjut.

Ada suara ketukan di pintu. Akhirnya mereka datang juga, pikirnya.

Reporter itu tampak gugup saat memasuki ruangan, sementara sisa-sisa asap rokok masih sedikit berkelebat di perawakan sang fotografer. Dia menenteng kameranya dengan kehati-hatian yang menjurus paranoid, sementara tangan kanan sang reporter masih tampak bergetar sedikit sambil memegang buku catatannya. Wawancara ini adalah liputan pertamanya. Gumam mulutnya tak membantu saat dia mencoba mengenalkan diri pada Hein.

“Kecepatan penuh, tempo empat-per-empat, punk rock? Ada apa di sana?” tanya Die Zeit.

Hein tertawa. Mungkin sampai mampus sekalipun dia tidak akan pernah bisa menjawab pertanyaan tersebut. Memangnya dia harus peduli? Belum tentu. Tidak perlu. Dan ya, tidak akan pernah perlu. Es geht voran, gumamnya. Hidup berlanjut terus.