Latest Post

Garna Ra: Benua yang Sunyi

Beberapa waktu yang lalu saya terlibat chat lumayan panjang mengenai masalah musik dan gitar dengan seseorang yang pernah saya interview untuk Nobody Zine edisi pertama. Dan kemudian saya mendapat kepercayaan untuk ikut mendistribusikan rilisan album solo perdananya yang bertajuk Benua yang Sunyi. Pria ini bernama Garna Raditya. Salah satu orang yang terlibat dalam sebuah unit musik grindcore lokal yang lumayan saya gandrungi selain Extreme Decay, AK//47.

Garna Raditya juga salah satu figur yang bertanggung jawab dalam penyebaran kultur zine di Semarang. Sempat pula ia bercerita bagaimana curahan darah dan air mata yang mewarnai perjalanan awal ketika memulai segala sesuatu di kota tersebut. Pria ini terbilang misterius, jarang menyiarkan karyanya sendiri. Mungkin itu sebab ia lebih tersita waktunya untuk menulis tentang band/individu lain dibandingkan band-bandnya sendiri serta aktivitas jurnalistik lainnya. Sepanjang yang saya tahu berdasarkan obrolan dalam chat tersebut, dia sekarang memutuskan tidak lagi menjadi jurnalis purna waktu dan lebih meluangkan waktu untuk kegiatan bermusiknya.

Dirilis dalam format kaset, Benua yang Sunyi mungkin terdengar semisterius debut album instrumental self-titled Garna. Ada 10 lagu instrumental rock yang barangkali lebih layak untuk scoring sebuah adegan film. Saat saya tanyai dalam chat tersebut, pria ini mengamininya. "Memang saat menulis lagu, yang saya bayangkan sebuah adegan film yang seolah saya sendiri sutradara, pemain dan penulis naskahnya." Katanya. Ia sendiri merasa terbuka kepada para sineas kalau mau memakai komposisinya secara sukarela.

Rasa penasaran saya tertuju pada bagaimana menulis lagu yang semua instrumen dan artwork dikerjakan Garna sendiri. "Mengalir saja, spontan.” Jelasnya. “Ini main-main kok." Dan saya langsung lumayan setuju bahwa karya ketika spontan tapi tanpa melupakan konsep, biasanya eksekusi finalnya akan maksimal.

Dalam perbincangan kami, saya mencoba menguak bagaimana proses penulisan lagunya. Garna melanjutkan bahwa dirinya bermain-main dengan tuning gitar seenaknya. Bahkan ia mengaku, kalau dimainkan lagi sudah lupa. Sebab, ada beberapa lagu yang tuning-nya tidak ia catat. Album ini diproduseri oleh Gitareza dalam naungan Girez Records. "Saya tidak tahu maunya Garna seperti apa, dia hanya menjelaskan dari penulisan lagunya yang spontan tersebut.” Ujar Gitareza. “Itu membuat saya kewalahan. Tetapi saat proses rekaman tiap lagu berlangsung, saya mulai memahami tiap nuansa yang dia hasilkan,"

Album solo yang dirilis pertengahan 2014 ini cukup beralasan, salah satunya adalah saat pembuatan proses album ini juga dalam proses produksi album OK Karaoke - Sinusoid, yang juga dirilis tahun ini.

"Saat itu proses produksinya lambat, saya frustrasi album OK Karaoke tidak kunjung rilis akibat suatu hal.” Terang Garna. “Akhirnya saya sendiri yang urus semua manufacturing-nya, di bawah naungan record label sendiri, Vitus. Itu awal saya memulai proyek solo ini. Band dengan beberapa personil itu ribet, harus menyatukan keinginan satu dengan lain. Belum lagi personil yang tidak antusias. Dan itu membuat saya frustrasi."

Ditilik dari perjalanan musiknya, Garna sendiri bukanlah gitaris. Ia benar-benar memulai memegang gitar saat dia mendirikan band indie rock, OK Karaoke pada tahun 2005, yang kini sudah menghasilkan dua album. Dia justru dikenal sebagai drummer AK//47, unit grindcore veteran yang terbentuk sejak tahun 1999 dari Semarang dan hingga saat ini masih bertahan. Lalu, Edword, band chaotic hardcore yang hanya menghasilkan satu EP saja.

Praktis, tahun ini Garna melepas tiga rilisan yang berbeda yang digenapi dengan proyeknya Antaralain, duo yang memainkan indie-folk dengan istrinya, Megan Hewitt. Rilisannya yang bertajuk Among Others itu telah dirilis di Amerika Serikat, saat Garna berkunjung di sana dan menggelar tur kecil. Sedangkan versi Indonesia akan dirilis di akhir tahun ini. Belum puas juga, Garna saat ini mengerjakan proyek musik ambient-poetry bersama penyair Aristya Kusuma Verdana melalui Belantara yang justru banyak menjajaki panggung-panggung puisi maupun pameran seni. Saya akui, pria satu ini memang super produktif, kalau tidak mau dibilang gila berkarya.

Lantas, saya terusik dengan komposisi-komposisi dalam album ini yang berkesan mathrock, progresif, post rock hingga fusion. Album ini diawali dengan ‘Tenggelam di Samudera Pasifik’, track yang paling menjadi favorit saya yang kentara dengan pengaruh post rock ala Jepang yang lebih chill. Bahkan saya merasakan nuansa Earth dari petikan ala Dylan Carlson pada ‘Guruh Akhir Jaman pt 1 dan 2’ yang total durasi dua tersebut cukup panjang.

Beberapa diantaranya ada sedikit pengaruh band lebih moderen seperti Ghost and Vodka,  You Slut! hingga  klasik seperti Fleetwood Mac. ‘Makhluk Dini Hari’, misalnya, terdengar lebih lunak dibandingkan yang lain dengan tanpa mengumbar melodi gitar. Selebihnya, saya hanya merasa misterius namun bisa menikmatinya pada saat-saat tertentu saja. Dan makna tentang sebuah lagu memang hak personal dari sang pencipta. Tapi interpretasi adalah hak penuh kalian sebagai pendengar.

Setidaknya, untuk scene musik Semarang ada yang berani merilis album instrumental rock tanpa harus seperti Lee Ritenour atau John McLauglin. Karena album ini dihasilkan dari rasa frustrasi. Tapi saya jamin pengalaman mendengarkan album ini malah akan memberi rasa tenang bagi kalian yang riuh di dalam badai informasi masa sekarang, dan jatuhnya malah bingung harus melakukan apa. Dan saya pikir rasa tenang itu penting. Rasa tenang, akan membuat eksekusi sebuah karya menjadi maksimal. Apapun, album ini sangat saya rekomendasikan bagi kalian yang bisa menangkap makna melalui bebunyian instrumental tanpa lirik yang tersampaikan oleh mulut manusia. Silahkan mendengarkan, silahkan mendapatkan rasa tenang.

 

------

Garna Raditya

------------------

W: www.garnaraditya.com

T: @GarnaRaditya

IG: garnaraditya

FB: Garna Raditya