Latest Post

Hotel Seruni, Jalan Diponegoro

Tangan kanannya menggenggam koper berwarna hitam. Air mengalir dari kisi-kisinya, dan rintik-rintik hujan yang turun sedari siang belum berhenti juga. Jaketnya basah kuyup. Topinya sudah lembab dan berubah warna. Sepatunya tidak usah ditanyakan lagi nasibnya. Kakinya melangkahi genangan air yang memenuhi trotoar selagi berhitung satu, dua, tiga. Ia melompat. Hati-hati, pikirnya.

Ia baru tiba. Kereta api yang ia tumpangi berhenti di stasiun hanya untuk rehat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan ke kota lain. Jam yang bergantung dari atap stasiun menunjukkan angka setengah lima. Tapi, di luar sudah gelap seperti tengah malam.

Jemarinya mengacung menyambut taksi. Warna taksi itu kuning memudar. Taksi menyalakan lampu sein dan menerobos asal ke seberang jalan. Ia membuka pintu belakang dan bergelayut masuk. Di dalam, lagu dangdut sedang berdendang kencang, sang supir taksi mengecilkan suara sambil berkumur-kumur minta maaf.

“Ke mana, pak?” tanya supir taksi itu.

“Hotel Seruni. Jalan Diponegoro.”

Supir taksi itu tidak berbicara lagi sepanjang sisa perjalanan ke Diponegoro. Namun sekilas ia mengintip ke belakang, melihat perawakan penumpang barunya ini. Penumpang barunya tidak mengajak bicara, lebih banyak sibuk dengan telepon genggam.

“Halo.” Kata pesan singkat yang dikirimnya. “Aku sudah sampai.”

 

****

Malam itu ia terbangun tiba-tiba, dengan rasa sakit merobek dadanya. Peluh bercucuran di keningnya, dan pandangannya kabur. Ia telanjang dan jam menunjuk ke arah jam delapan. Sebotol pecah whiskey tergeletak di lantai. Sejenak ia tergoda untuk menjilati sisa-sisa alkohol yang sekarang meluruh dengan karpet. Ia ingin pulang. Ia benci tempat ini.

Ia benci para pelayan yang menyambutnya di lobi hotel. Ia benci para staff resepsionis dengan senyum palsu mereka yang duduk pasif selagi ia mengisi formulir brengsek dengan bolpoin murahan. Ia benci para tukang nasi goreng yang wara-wiri di jalanan bawah sana, sinar petromaks-nya silau terpantul di gorden sebelah tempat tidur. Ia benci para pengemis yang merongrongnya minta uang setiap kali ia keluar. Lama-lama ia tidak mau keluar juga. Toh di sini bukan untuk plesir.

Setengah jam ia duduk. Pandangan matanya berlari. Jantungnya remuk redam. Jemari menggerayangi telepon genggam. Ia rindu pada suara bising panggilan telepon. Sunyi ini tidak wajar untuknya. Sunyi ini bukan apa yang ia harapkan. Ia mengecek ponselnya lagi, cemas. Belum ada kabar.

Pria ini mengumpat, kencang. Mungkin penantiannya sia-sia.

Arloji itu dikalungkan dan jas itu dikenakan asal. Ia turun makan malam.

 

****

Di atas panggung sana, seorang wanita sedang bernyanyi. Gaun merah yang ia pakai bersinar dengan derai sejuta manik-manik. Wajahnya tertutup riasan, dan sesekali pria itu bisa melihat debu-debu dari bedak murahan terbang dari wajahnya, menetes ke lantai satu per satu. Tak peduli bagaimana lagunya, wanita ini terus tersenyum. Suaranya masih merdu, selaras dengan nada meskipun di sekeliling, para tamu terus makan tanpa peduli. Seolah-olah ia tidak ada. Ia terhenyak melihat penyanyi ini, sesekali bergumam bersama dengan alunan lagu. Seketika, ponselnya bergetar.

“Aku masih dalam perjalanan,” sebut kata-kata di situ. “Tunggu aku.”

Tangannya merogoh kantung untuk mencari sepuntung rokok. Seorang satpam menghampiri dan memintanya keluar dari ruang makan hotel tersebut. Dilarang merokok di dalam ruangan, katanya. Silahkan merokok di pekarangan. Gontai, ia berjalan keluar.

Mungkin lebih baik menunggu di sini saja, pikirnya. Di depan lobi hotel, tempat mobil-mobil mewah terus masuk dan mengantar para tamu yang terhormat masuk ke hotel. Di ujung jalan sana ia melihat siluet jalan tol. Sinar ribuan pasang bohlam berkelebat menantang gerimis. Satu persatu air mulai menggenang di aspal dan menyiprati. Tetes demi tetes merajai dedaunan dan bunga yang berjejer rapi di taman depan. Mobil-mobil yang masuk mulai banyak menyalakan wiper, sementara para porter sibuk mengembangkan payung agar tamu-tamu yang terhormat tidak kebasahan. Hari ini pernikahan anak Jenderal, rupanya.

Rekan-rekan sang Jenderal mulai berdatangan, dengan hiasan medali dan gelar lengkap. Istri-istri mereka ditenteng bangga, selagi mereka berjabat tangan dan melepas rindu dengan kawan-kawannya di lobi. Wajah mereka sumringah. Beberapa tentara memberikan salam hormat dan mempersilahkan mereka masuk satu per satu. Para serdadu itu berdiri kaku seperti patung di depan lobi. Menjaga, setia.

Perlahan-lahan awan menyingkir di angkasa. Sisa jejak abu-abu menipis sebelum akhirnya hilang. Rembulan masih melotot pada bangunan-bangunan yang berkerlap-kerlip di sesar kota. Tempat ini begitu basah dengan uang namun begitu jauh dari peradaban. Perumahan dan gedung kecil berarsitektur kuno saling desak di kiri dan kanan. Catnya mengelupas, sinarnya memudar. Pintunya sudah lama ditutup, digembok dan kuncinya hilang entah ke mana. Juru kuncinya pun begitu. Mungkin sudah mampus sejak sekian dekade lalu.

Bapaknya pernah tinggal di kota ini. Berangkat ke kantor setiap pagi sebelum ia bangun, pulang tengah malam setelah ia terlelap. Kata orang, Ibunya mati saat melahirkannya. Pembantu tidak digubris. Pulang sekolah rasanya seperti seisi rumah diteluh, disihir. Lantai sudah kinclong disapu dan dipel oleh figur-figur misterius, sementara di meja lauk-pauk dan nasi tersaji hangat. Ada sepiring lauk dan nasi yang disisihkan, disembunyikan tudung saji. Piring itu milik ayahnya. Setiap pagi ia bangun dan melihat piring itu sudah pindah rumah. Berkumpul di antara saudara-saudaranya yang kotor di pencucian.

Umur delapan belas tahun ia keluar dari rumah. Masuk ke kampus, belajar apa tidak penting. Pokoknya bisa lulus, dapat ijazah, syukur-syukur ketemu pujaan hati. Sekeluarnya, bisa mendapat pekerjaan tetap dengan gaji lumayan. Lantas kawin. Punya anak. Beli mobil. Dan seterusnya. Sial, setelah setahun di kampus ia dikeluarkan. Katanya bebal, tidak menurut. Hobinya mencanangkan diskusi subversif. Ia dianggap pembuat onar, tukang cari gara-gara. Habis sudah ia disikat senat mahasiswa.

Setelah dikeluarkan, ia kembali ke rumah ayahnya. Kembali sebagai orang gagal. Ia kira ia akan jadi bulan-bulanan kompleks, diejek karena dianggap gagal membanggakan dan menjaga martabat keluarga. Anehnya, malah orang-orang sekompleks tak mengenalinya. Seperti ada orang asing masuk kampung, sekedar tamu yang berkunjung. Sesampainya di rumah sang ayah, ditemukannya rumah itu kosong melompong. Pria itu lantas bergegas ke rumah pembantunya di kampung sebelah. Ditemukannya acara tahlilan. Foto yang terpampang di buku Yasin itu adalah foto pembantunya.

Ditanya olehnya keberadaan ayahnya. Pada tukang sate langganan ayahnya. Pada warung kopi tempat, kabarnya, ayahnya sering nongkrong jika ingin begadang. Pada tetangga sekitar rumah yang biasa bangun pagi, menyapu pekarangan, mencabuti rumput, dan menyingkirkan dedaunan yang jatuh dari pepohonan. Jawaban semua orang seragam: “Kami tidak kenal ayah anda, dan setahu kami anda tinggal sendirian di rumah itu bersama si Mbok.”

Bagaimana mungkin? Ia sudah tinggal di kompleks itu sejak balita. Masa satu dekade lebih berlalu dan mereka tidak mengenali ayahnya? Ia curiga, jangan-jangan ia sendiri pun tidak mengenali ayahnya sendiri. Toh, sepanjang ingatannya, ayah berangkat kerja sebelum ia bangun dan pulang setelah ia tidur. Siapa tahu ayah memang tidak benar-benar ada. Siapa tahu ia memang cuma ilusi.

Pertanyaan ini menakutkannya. Ia panik, gelagapan. Dirasakannya suatu kebingungan yang teramat sangat. Kebingungan yang bahkan, meracuni kemampuannya untuk berpikir jernih. Disadari olehnya, bahwa ia tak sekalipun mengenali wajah ayahnya. Karena kalaupun  sempat terekam oleh pikirannya yang masih belia, maka wujudnya hanya bayangan samar saja!

Ia merasa benci. Muak! Muak kepada dirinya, yang tak mampu mengenali figur samar orangtuanya sendiri. Muak kepada para warga kompleks, yang tak mengenali ayahnya, tetangga mereka sendiri! Rasa benci ini ia rasakan setiap kali melangkah di kompleks ini. Dan kesimpulannya satu: Sudah sepantasnya benci ini ia pepatkan dalam satu semesta abstrak, ia tutup rapat-rapat, lalu ditinggalkannya. Di sini. Di kompleks perumahan ini.

Lantas, ia lari lintang pukang ke terminal, mencari bis pertama ke luar kota. Tak peduli ke mana, tak peduli harga. Pokoknya pergi. Ia ingin pergi dari sini, dari trotoar dan aspal dan bau anyir angin malam. Ia ingin melupakan bulan yang malam itu berbentuk sabit berujung tajam, berujung gerigi. Tengah malam ia naik bis dan tertidur di kursi. Paginya ia menemukan cermin dan tampangnya sudah seperti gelandangan. Sebelumnya wajahnya klimis. Kini brewoknya sudah tumbuh liar. Sekilas ia bergidik; Sudah berapa lama ia berlari?

Baru ia sadari bahwa benci itu masih mengikutinya. Menguntit sampai sekarang. Tinggal menunggu waktu saja untuk menerkam. Pria itu lantas memecahkan cermin, berteriak kencang, dan lari entah ke mana.

 

****

Kamu belum pernah tahu bahwa kakekku adalah satu-satunya orang yang ingin kuperkenalkan padamu. Simbah, kupanggil ia begitu. Simbah orang yang selalu tampak kesepian tetapi bukankah semua orang tua tampak seperti itu? Dulu, bertahun-tahun yang lalu, tak pernah kupahami betul kalimat-kalimat yang ia gumamkan setiap kali ia menjagaiku sementara ibu dan bapakku pergi berladang. Aku hanya ingat yang paling mengesankan bagiku adalah kedua bola matanya yang memutih, hingga pada suatu hari kutanyakan bagaimana rasanya perlahan-lahan tak bisa lagi melihat. Ketika mendengar pertanyaanku, Simbah hanya menutup kedua matanya dan kemudian tersenyum. Ia terdiam lama sekali sampai-sampai kupikir pertanyaanku melukai hatinya. Tapi ia kemudian menjawab lirih, Tak pernah aku percaya kepada mataku.

Aku tak tahu kenapa jawaban Simbah selalu terngiang di dalam kepalaku. Barangkali itu adalah pelajaran tentang hidup yang pertama-tama kuterima: ragukan segala sesuatu. Kadang kurasa, dengan begitu tak ada lagi yang terasa berat untuk kujalani. Kutelan segala macam falsafah dan omong kosong lainnya yang tampil di depan wajahku karena aku yakin tidak ada yang benar ataupun salah di dunia ini. Betul kata Simbah, aku serba terbatas sedangkan dunia ini terlalu luas… Tapi kamu ingat perjumpaan kita saat gulita malam meradang dan kita sebatas dua orang asing yang menumpang di atas bus yang melaju kencang?

Aku mengangkat wajahku untuk mengalihkan rambut dari pandanganku dan mata kita beradu. Detik itu aku memandangmu lekat-lekat dan wajah Simbah melintas di depan kedua mataku. Simbah yang pernah berkata tak percaya pada matanya.

Simbah, maafkan aku. Aku tak lagi tak percaya pada mataku. Telah kusaksikan kesepian yang brutal dalam kedua matamu di malam itu. Detik itu juga, aku percaya, ada sesuatu yang nyata dan benar adanya: keterasingan manusia.

Semoga kamu baik-baik saja dimana pun kamu berada.

 

Surat ini diselipkan di bawah meja makan malam.

 

****

Sepasang tentara yang renta bergandengan tangan, menaiki tangga masuk ke dalam hotel. Jalan mereka sudah tertatih-tatih, mati-matian sekedar untuk mengangkat kaki dan bergerak. Tatapan mereka tajam, lurus ke depan. Bibir mereka tertutup tegar, namun tetap saja bergetar. Seragam mereka sudah memudar dan compang-camping dimakan waktu, namun medali yang mereka bawa masih terang berkilau.

Sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam sampai di lobi. Supirnya tampak khidmat dengan seragam dinas yang lengkap. Kepalanya selalu menunduk patuh, jalannya luwes namun pasti. Ia membukakan pintu persis di depan sang penyanyi, yang tersenyum lebar.

“Kelihatannya untuk malam ini, kamu harus menunggu sendirian.” Kata sang penyanyi. “Mari.”

Merah itu segera masuk ke mobil, bersandar nyaman di kursi yang empuk. Sang penyanyi terkikik nakal, sedikit mendesah. Di dalam mobil seorang figur gelap tak terlihat mulai menggerayanginya. Jemari itu menyisip di antara gaunnya, dan lantas pintu mobil ditutup.

Di lantai pelataran lobi, rokok sang penyanyi masih terbakar. Pria itu melihat nyala api saling menelan sebelum akhirnya padam menjadi abu. Ditendang olehnya rokok itu ke jalan yang basah dengan aliran air hujan. Rokok itu hanyut dan menghilang ke dalam gorong-gorong.

Sedangkan ponselnya bisu. Belum ada kabar.

 

****

Tidurnya nyenyak, nyenyak sekali.

Ia bangkit dari ranjang. Kamarnya tampak berantakan. Seprai sudah kusut, dua gelas dan sebotol wine kosong ada di sebelah ponselnya, teronggok di meja. Gorden ditutup rapat, dan bajunya berserakan di lantai. Baju seorang perempuan juga tersebar dan bercampur. Samar-samar didengarnya suara air berdebur di kamar mandi. Sesosok wajah yang pernah ia kenal berjalan keluar dari kamar mandi. Tubuhnya hanya tertutup handuk.

Sosok itu tersenyum. “Pagi.”

Pria itu hanya bisa terdiam, berdiri membelakangi kaca rias.

“Kamu sudah pesan sarapan?” tanya sosok itu lagi.

Pria itu melihat gerak-gerik sang sosok. Handuk itu sudah ditanggalkan olehnya sekarang, dan tubuhnya telanjang sepenuhnya. Ia membuka gorden sedikit, sejenak, lalu menutupnya kembali, tak tertarik. Sosok itu lantas berkacak pinggang di depan televisi, mengambil remote control dan berkelana di antara channel-channel televisi. Semuanya sama saja. Semuanya biasa saja. Pagi ini pagi yang biasa saja, bau udara biasa saja, suara dari jalanan biasa saja, bentuk awannya biasa saja. Sosok itu menyibakkan rambutnya yang mulai mengering, lalu mematikan televisi. Ia berbaring di tempat tidur dan mengajak pria itu bergabung dengannya.

Ia mendengar suara tawa pelan, namun tawa itu bergaung di seluruh penjuru ruangan. Pandangannya berkerjap, dan yang terlihat cuma bayangan. Tangannya menjamahi tubuh sosok itu. Menggerayangi wajahnya, lehernya. Mereka saling berbisik, tertawa. Kemudian sosok itu mengecup keningnya dan memintanya menutup mata. Mereka tertidur sambil telanjang.

Pria itu membuka mata. Sekarang malam. Sosok itu menghilang. Yang ada cuma kabut tipis membubung. Nyala lampu pinggir meja itu menjadi noktah benderang. Bintiknya menghias dinding bagaikan rembulan.

 

****

"Kata tetangga dan Mbok-ku, Ibuku meninggal di ranjang rumah sakit. Ia koma beberapa saat setelah melahirkanku, lalu meninggal tak lama kemudian. Tapi sejak kecil, aku sudah tahu mereka semua bohong. Karena aku masih ingat Ibuku.

Satu-satunya kenangan akan Ibuku yang tersisa adalah saat kami jalan berdua di pasar malam. Kurasa, saat itu aku masih balita. Kami naik komidi putar, bercengkrama dengan badut berkostum meriah, dan membeli balon aneka warna. Kami berdua tertawa-tawa, merunduk menghindari cipratan air dari salah satu wahana dan berdansa berdua, menikmati confetti yang bergelimang di angkasa. Tangannya terus menggenggam erat tanganku.

Di akhir malam itu, aku tidak mau pulang. Tapi Ibu bilang, sudah terlalu malam. Ibuku percaya bahwa jika kami pulang terlalu malam di tempat yang tidak kami kenali, kami akan kehilangan jalan pulang. Malah, kami akan berkelana. Kami akan terantuk memasuki kota-kota terang, desa-desa sepi, dan hutan-hutan lebat. Kami akan mendaki pegunungan tinggi dan menjelajahi gua-gua tersembunyi. Namun tak pernah pulang. Terus pergi, terus melaju, terus tersesat. Aku masih ingat suara lirih Ibuku. Bagaimana ia membujukku. Bagaimana ia memohon. Ibu bilang ia hanya ingin pulang. Ibu bilang ia hanya ingin melihat rumah. Aku tidak paham kenapa Ibu menangis. Aku hanya tak tega melihatnya.

Tapi aku bebal. Aku bilang, aku hanya ingin pulang setelah melihat pesta kembang api. Dengan enggan, Ibu mengiyakan.

Di momen itu, saat langit benderang dengan sejuta cahaya dan warna, aku bahagia. Entah kenapa, aku bahagia. Aku merasakan kedamaian yang tak pernah kurasakan sebelumnya, dan tak pernah kurasakan lagi setelahnya. Orang-orang di sekitarku berdecak kagum, bertepuk tangan, mengecup dan mendekap kekasihnya erat-erat. Tapi Ibuku tertegun. Saat aku berpaling untuk menatapnya, matanya terpaku pada kembang api itu. Perlahan-lahan genggaman tangannya mengendur, mengendur, mengendur.

Kembang api terakhir diledakkan, dan kaleidoskop warna itu seperti membutakan mataku. Aku berteriak dan menangis, menutup mata. Ketika aku membuka mata, Ibu sudah tidak ada lagi. Pasar malam sudah tutup. Lapangan kecil itu lengang. Aku ingat sesosok bayangan menepuk pundakku, dan aku langsung memeluk bayangan itu tanpa berpikir dua kali. Rasanya hangat. Aku mengubur wajahku di sosok bayang itu. Ketika aku mendongak, aku sudah di rumah. Terduduk di depan televisi. Mbok tersenyum di ujung ruangan, menyapu lantai sambil mengucapkan selamat pagi. 'Kamu telat bangun, dek.' Katanya. 'Ayahmu baru saja berangkat kerja.'

Sejak saat itu, aku tidak pernah melihat Ayah atau Ibuku lagi. Perlahan-lahan mereka berubah jadi fragmen. Lantas menjadi narasi. Akhirnya, mereka hanya jadi aksioma. Padahal aku tahu, narasi itu hanya fiksi belaka dan aksioma itu dibangun di atas kebohongan. Mungkin aku bodoh. Makanya aku tidak pernah mempertanyakannya sebelum terlambat.

Aku rasa, saat kita berjumpa di atas bis itu, kita sedang sama-sama berlari. Dari rumah dan segala ilusinya. Dari cinta dan segala omong kosongnya. Namun entah kenapa, di atas bis itu aku merasa seperti menemukan rumah yang sebenar-benarnya. Ironis, bahwa rumah kutemukan di atas onggokan besi yang tak kunjung jemu berpindah tempat.

Sejak kembali ke kota ini lagi, aku dilanda perasaan muak yang luar biasa. Aku digerogoti perasaan benci, takut, dan kebingungan. Tidak ada yang nyata bagiku di kota ini, apalagi di Hotel Seruni. Tapi memang, Tuhan punya selera humor yang tinggi. Justru di tempat inilah aku bertemu denganmu lagi. Setelah begitu lama. Terlalu lama.

Aku di sini mencari jawaban. Belum lama ini, aku berkelana ke pulau seberang. Entah apa namanya - aku lupa. Yang jelas, di bawah pohon rindang di pinggir pantai itu aku tak sengaja bertemu seorang perempuan yang mengaku kenal denganku. Ia bilang kita keluarga. Dan ia ingin aku pulang. Ia ingin aku ikut ke kota ini. Aku menolak, tapi ia tetap membelikanku ponsel. Sekedar untuk menjalin silaturahmi, katanya. Entah setan apa yang merasukiku hingga aku nekat pulang ke kota sialan ini. Ia bilang ia akan menerangkan semuanya. Ia bilang ia akan menjawab semuanya. Bahkan sampai sekarang pun, aku tidak yakin aku bisa mempercayainya.

Sebelum kembang api terakhir itu meletus, aku tak sengaja melepaskan balon-balonku. Aku sempat menarik tangan Ibuku, memaksanya menemaniku mengejar balon-balon itu. Namun, Ibu menahanku. Ia menggendong dan memelukku. Lantas ia pun berbisik, 'Sudahlah, sayang. Mereka pasti rindu dengan kawan-kawannya di angkasa. Biarkan ia pulang.'

Ibu tak pernah bicara lagi. Balon-balon itu terus membubung tinggi, berbaur dengan siluet warna lain yang berkelebat di langit malam. Aku masih ingat sorot matanya. Bagaimana irisnya mewujud cermin, memancarkan sisa-sisa warna dari malam itu. Aku masih ingat senyumnya. Aku masih ingat dekapnya.

Rumah. Sayang, aku masih ingat akan rumah."

 

Surat ini dititipkan melalui kurir dan dibaca di beranda.

 

****

Malam sesudahnya sepi. Penyanyi itu tak datang lagi, digantikan seorang crooner yang merajuk ala Sinatra. Para penonton sama saja. Terlampau sibuk dengan makanan mereka. Begitu shift-nya usai dan seluruh ben turun panggung, hanya segelintir penonton yang bertepuk tangan sopan. Sisanya masih ramai di meja makan. Beberapa bahkan tertidur di meja dengan cerutu terbakar di tangan kanan. Perut mereka yang buncit mulai luber dari kemeja mahal dan jas modis yang mereka kenakan.

Pria itu menatap makanan yang tersaji di depannya tanpa nafsu. Potongan daging yang mulai dingin itu dibiarkan begitu saja. Sup sayur yang cair tidak disentuh. Belum lagi sekerat roti yang kerasnya minta ampun itu. Pria itu melihat sekeliling, berharap matanya akan menemukan biduanita dari kemarin malam. Mungkin tidak sedang bersiap menyanyi, melainkan duduk anggun di salah satu meja. Menemani sosok misterius tak terlihat dari mobil. Menggenggam tangannya, menyuapinya nakal. Membayangkannya saja hampir membuatnya muak.

Ia tidak tahu kenapa sepanjang malam ia memikirkan penyanyi itu. Percakapan singkat mereka. Tentang gunung dan malam dingin bulan Desember. Tentang penantian dan perjalanan. Tentang rokok yang ia hisap dan gaun merah menyala yang ia kenakan. Tidak ada yang nyata baginya di Hotel Seruni, jalan Diponegoro. Semuanya terlihat seperti ilusi, seperti fragmen temporer yang dipamerkan sejenak saja, tapi akan meleleh dan hilang begitu ia membalikkan badan.

Semua yang ia temui di sini tampak seperti tipuan otak. Mulai dari dinding yang tinggi menjulang hingga rentetan kandelabra yang teronggok megah di atas meja-meja. Lift yang dingin dan bersalut kayu, para porter yang bergerak cepat seperti humanoid, dan makanan yang dipotong terlalu sempurna, dimasak terlalu sempurna, disajikan terlalu sempurna. Mendalami dunia yang terlampau sempurna seperti ini, ia takut.

Segalanya tentang hotel tampaknya dibangun untuk menipu panca indera. Penciuman di-istirahatkan dari bebauan menusuk got-got kota dengan berbagai resimen parfum dan pewangi ruangan. Pendengaran dilindungi dari suara kemacetan jalan raya dengan musik menenangkan dan jendela tebal. Pengelihatan dialihkan dari sengkarut tumpukan sampah dan pengemis di kota, dan dimanjakan dengan lukisan-lukisan terindah dan kamar nyaman nan mewah. Indera peraba melupakan sensasi kasar aspal dan hanya mengenal bantal empuk hotel bintang lima. Pencecap tak lagi perlu mencicipi makanan murahan dan separuh masak dari rumah dan warung-warung. Semuanya diganti racikan paling mumpuni dari para chef tersohor. Sementara para manusia dikerangkeng dalam ruangan tersekat, dipisah oleh dinding tebal kedap suara. Masing-masing hewan punya kandangnya sendiri. Masuk akal. Di tengah semua tipuan ini, penyanyi itu nyaris terasa seperti oase. Seperti pelarian sesungguhnya. Seperti tujuan.

 

****

Seorang penulis bernama Tolstoy berkata bahwa semua kebahagiaan tampak serupa, sementara kesedihan berbeda-beda. Aku pikir kalimat tersebut juga bisa bekerja sebaliknya. Kebahagian itu beraneka ragam, sementara semua kesedihan sama saja, sulit untuk ditakar dan diperbandingkan.

Kamu pernah bertanya bagaimana aku bisa sampai di sini. Jika orang lain yang menanyakan hal tersebut padaku, hanya sebuah cerita sedih tentang mimpi dan kegagalan yang kuizinkan keluar dari bibirku. Kesedihan yang itu-itu saja. Mimpi dan harapan yang kodian dan itu-itu saja. Lama-lama terlatih juga aku menampilkan kesedihan itu dalam seribu satu lagak, sekadar untuk membuatnya istimewa bagi telinga para laki-laki yang, entah kenapa, sering berhasrat menjadi pahlawan kesiangan bagi perempuan seperti aku.

Kuberitahu kamu, mimpiku sederhana dan sangat linear. Aku suka bernyanyi, dan pada fakta ini kupertaruhkan semua yang aku punya. Kata bapakku dulu, siapa yang mau bekerja keras dan bersungguh-sungguh pasti akan maju. Bapakku yang lugu, kau habiskan bertahun-tahun pergi berladang dari pagi hingga petang, dan sampai matimu kita tetap terkukung dalam kemiskinan yang tragis… Tapi dengan doamu, Bapakku, berangkat juga aku dari desaku, membopong tas kain usang dan mimpi yang sama usangnya.

Aku beruntung bapakku tak pernah harus menyaksikan aku seperti ini. Pak, kerja keras dan kesungguhan ternyata tak cukup karena ini bukan dunia yang sempurna, tuturku pahit di atas makamnya yang basah oleh hujan pada hari ketika ia dikuburkan, lima tahun yang lalu. Aku beruntung bapakku bukan golongan laki-laki hidung belang berpangkat dan berseragam yang memandang perempuan dengan kerakusan di matanya. Bukan, bapakku bukan golongan laki-laki yang menguasai tubuhku, menghancurkan mimpi-mimpiku dan memporakporandakan akal sehatku. Jika Bapak masih ada, aku ingin sekali bertanya (juga padamu): adakah tempat untuk kita, diri-diri yang sederhana, di dunia yang nyata?

Kesedihan itu di mana-mana sama saja. Tidak ada yang istimewa. Dan hanya denganmu aku ingin bicara tentang kesedihan dengan wajah yang biasa-biasa saja, tanpa lagak dan air mata.

Aku tahu kamu pasti akan mengerti.

 

Surat ini diletakkan di depan pintu kamar hotel.

 

****

Seorang pria berpakaian dinas datang menyambangi meja mereka. Ia tampak masih muda, hijau. Potongan rambutnya cepak dan seragamnya tampak sedikit longgar. Gerak geriknya masih kaku dan canggung.

“Nona, atasan saya sudah menunggu di lobi.” Katanya.

Ekspresi wajah sang penyanyi tak berubah. Tetap datar seperti tadi. Ia berdiri dan merogoh ke dalam tas genggamnya. Lantas sang penyanyi mengeluarkan secarik kartu pos dan selembar amplop, menyerahkannya pada pria itu.

“Ini,” katanya. “Mungkin suatu hari nanti, kamu akan paham.”

“Kamu mau ke mana lagi?”

“Pergi,” ujar penyanyi itu sambil tersenyum.

Pria itu berdiri. “Namamu siapa?”

Sang penyanyi berbalik, mengecup pipi pria itu, dan berbisik di telinganya. “Bahkan aku sendiri sudah lupa.”

Kemudian ia beranjak pergi, dan mata pria itu mulai menjelajahi kartu pos yang diberikan padanya. Kartu pos tersebut bergambar pegunungan. Gambarnya sepia, ujungnya telah kusut dimakan waktu. Tulisan di kartu pos tersebut berbunyi, “Sampai jumpa.”

Pria itu tertegun. Lantas, tertawa terbahak-bahak!

 

****

[dering]

“Maaf, nomor yang anda tuju sedang tidak aktif. Cobalah beberapa saat lagi.”

 

****

Pagi ini cerah. Ada sedikit kabut yang turun dari langit, seperti biasa. Secercah matahari masih ada dan menerangi pegunungan yang mengelilingi kota.

Tadi pagi satu orang menghilang dari hotel Seruni. Reservasi hotelnya akan habis hari ini, namun ia tak kunjung turun untuk melakukan check out. Pihak keamanan, diwakili oleh dua orang pria bongsor yang menenteng pentungan, naik ke atas untuk memperingatkan tamu yang bersangkutan. Setelah sekian lama tidak ada jawaban, mereka memanggil pihak staff dan memaksa masuk ke dalam ruangan. Gantungan kecil di dahan pintu yang berujar sederhana, “Jangan Ganggu”, mereka abaikan begitu saja.

Ruangan itu berantakan. Baju, baik baju yang biasa dikenakan pria maupun wanita, berserakan di lantai dan mulai menguning karena noda minuman keras dan kopi. Lusinan botol wiski dan bir kosong menghiasi meja. Beberapa diantaranya bahkan jatuh ke lantai dan pecah berkeping-keping. Asbak sudah penuh dengan bekas puntung rokok dan abu yang bertebaran kemana-mana. Televisi masih menyala, namun hanya menunjukkan statik. Koloni semut dan ulat bulu, semuanya monokrom. Ranjang berantakan, dan gorden dikunci dengan peniti. Beberapa karet gelang berceceran di lantai dan di dalam gelas. Sepiring ayam goreng mulai membusuk di meja, dan kaca rias tampak dikotori bekas lipstik warna merah.

Kontan, pihak keamanan yang syok lari tunggang langgang dari ruangan tersebut, buru-buru meraih telepon dan menghubungi polisi. Polisi datang, dan segelintir anggota militer yang kebetulan masih menginap di hotel pasca acara kawinan beberapa waktu lalu bersukarela membantu mengamankan TKP. Para penyidik dan detektif paling ulung seantero kota diundang untuk datang dan memecahkan misteri hilangnya tamu hotel ini. Mereka berbondong-bondong mewawancarai staff hotel. Resepsionis, pihak keamanan, porter yang berlalu-lalang. Anehnya, tidak satupun dari mereka yang ingat wajah tamu ini. Begitu rekaman video keamanan diperiksa, hasilnya pun sama saja. Nihil. Wajahnya selalu buram, tidak fokus, atau bahkan tak terlihat sama sekali. Yang dilihat para penyidik cuma sosoknya. Tinggi, tegap. Namun jalannya ringkih dan tertatih-tatih.

Walhasil, setelah seminggu penuh tanpa sedikitpun hasil maupun konklusi, para pihak-pihak yang terkait memutuskan untuk melakukan rapat darurat di lobi hotel.

“Jadi bagaimana?” tuntut Bapak Kepala Keamanan. “Sudah ada petunjuk?”

“Sama sekali belum ada!” keluh Penyidik Ahli Kepolisian. “Tim forensik sudah melakukan sweeping sepanjang minggu. Tidak ada rambut atau bahkan bekas sidik jari. Padahal semua botol bir, gelas wiski, asbak dan sekalian puntung-puntungnya sudah kami periksa.”

“Sial,” umpat seorang Tentara, yang berdiri tegap. “Memangnya kemana orang itu pergi? Atau jangan-jangan, ia sekedar lari karena tidak kuat bayar kamar hotel?”

“Mana mungkin!” sanggah seorang Resepsionis, yang kebetulan nimbrung. “Hari pertama semua biaya sewa kamar dia bayar kontan. Lagipula, kalau dia kabur karena tidak kuat bayar kamar hotel, kenapa tidak ada bekas rambut atau sidik jari bekas dia tinggal di situ? Masa dia hantu?”

“Memang benar-benar kasus yang aneh,” tukas Manajer Hotel, yang mengangguk-angguk semangat. “Seolah dia tak pernah ada.”

“Beberapa saksi menyebut pernah melihat dia bercengkrama dengan seorang wanita,” kata Penyidik Ahli Kepolisian. “Kabarnya nona yang bersangkutan adalah penyanyi di Hotel Seruni.”

“Dia? Tak mungkin!” salak Bapak Kepala Keamanan.

“Tapi mungkin saja,” ujar Manajer Hotel. “Toh, wanita itu pun sudah tidak masuk kerja belakangan ini. Satu malam, kata ben-nya dia sakit. Malam berikutnya pun begitu, katanya tenggorokannya perih. Sudah hampir dua minggu dan belum ada kabar darinya.”

“Jangan-jangan mereka kawin lari?” seloroh Bapak Kepala Keamanan.

“Bisa jadi.”

“Atau dia membunuh wanita itu dan kabur karena merasa bersalah?” saran Penyidik Ahli Kepolisian.

“Mungkin saja.”

“Atau dia ternyata saudara jauh wanita itu yang datang kemari untuk membawa dia pulang kampung?” tebak sang Tentara.

“Masuk akal.”

“Atau dia manajer hotel lain yang ingin mencuri penyanyi jagoan saya?” raung Manajer Hotel.

“Siapa tahu.”

“Atau dia cuma hilang.” Ujar Resepsionis, berkesimpulan.

“Cuma hilang?”

“Cuma hilang.”

“Begitu saja?”

“Begitu.”

Mereka semua terdiam. Hening. Mereka kaget; betapa bijaknya kata-kata sang Resepsionis itu!

Awalnya Bapak Kepala Keamanan yang permisi. Ia dipanggil untuk menyelesaikan pertikaian antara dua orang staff dapur yang sudah sama-sama menenteng pisau. Selanjutnya sang Resepsionis yang pergi. Tidak baik meninggalkan tempat kerja dan tanggung jawab saya terlalu lama untuk bergosip, katanya. Lantas sang Tentara yang minta diri. Reservasinya akan habis sore ini, dan ia ingin mulai berkemas sebelum check out. Kopral muda itu sempat bercanda, “Semoga saya tidak ikut-ikut hilang...” Kemudian Manajer Hotel pamit undur diri. Katanya hotel ini akan segera mengadakan pesta Hari Natal, dan ia perlu hadir di rapat panitia. Pun katanya, ia ingin mewawancarai seorang calon penyanyi baru. “Sudah waktunya wanita itu diganti,” gerungnya.

Akhirnya tersisa Penyidik Ahli Kepolisian. Ia berdiri sendirian di lobi, sibuk menggaruk-garuk kepala, bingung.

 

****

Seorang pria duduk, bergidik.

Bis itu akan berangkat sebentar lagi. Penumpang sudah mulai mengisi bangku kulit yang pengap satu per satu, dan pak supir telah berbaik hati memainkan musik Dangdut Daerah kencang-kencang di stereo. Sebuah televisi kuno digantung dari atap. Penyanyi lagu tersebut meliukkan tubuhnya mendayu-dayu, menggoda. Ketika mulutnya terbuka untuk bernyanyi, ada teks lengkap menemani. Satu dua penumpang ikut bernyanyi dan tertawa-tawa.

Dulu ia bertemu dengannya di bis seperti ini. Pada malam seperti ini. Malam, kala ia tengah lari. Pergi, emigrasi. Seingatnya, ia duduk di kursi seberang. Kala itu bis antar provinsi yang ia tumpangi terbilang kosong. Ia sedang menulis di sebuah buku catatan kecil. Tampaknya ia tidak mengacuhkan gelapnya tengah malam dan jalanan yang bergelombang. Bis itu terombang ambing seperti kapal di tengah badai, namun ia tidak peduli. Mereka berdua sama-sama tidak peduli. Ia masih menulis, dan pria itu masih berkelana di alam bawah sadarnya sendiri. Mencari permata, mencari emas, mendaki pelangi dan bebukitan tinggi. Bermasyuk di bawah pepohonan rindang dan tenggelam di telaga yang dingin menghanyutkan. Pria itu melihat ke seberang dan ia sudah berhenti menulis. Kini matanya tertuju sepenuhnya pada ia. Bis itu terantuk dan mereka sama-sama tersenyum.

Ponselnya bergetar dan jantungnya berhenti berlari. Ia tersentak. Bis itu sudah berangkat sejak tadi, dan kini tengah mendaki jalan terjal menuju pegunungan. Musik dangdut masih mengalun kencang, namun kini tak banyak yang peduli. Rata-rata penumpang sudah tidur.

Aku sudah sampai.” Bunyi pesan singkat itu. “Kamu di mana?

Pria itu bergumul sejenak dengan pikirannya sendiri. Bis itu bergetar karena lubang di jalan, dan bergoyang sedikit ke kiri dan kanan. Pria itu melongok keluar, dan melihat abu-abu aspal pinggir jurang. Digenggamnya ponsel itu erat-erat, lantas dilemparnya keluar. Jatuh ke jurang, pecah berkeping-keping. Hilang di dalam gelap.

Lantas ia menutup mata dan menghela nafas. Kecurigaan kecil mulai bergejolak serupa api di sanubarinya. Bahwa ia tidak akan pernah tiba. Bahwa untuk selamanya ia akan berlari. Selamanya bertukar kursi bis, bertukar jurusan, berkelana entah ke mana, entah sampai kapan. Terus menunggu, terus mencari, terus menuju. Tapi pikiran ini ia simpan baik-baik. Ia akan tidur, pikirnya, dan saat bangun nanti, bis ini akan tiba. Tiba entah di mana, tidak peduli. Pokoknya tiba. Pria itu mengintip ke dalam tas kecil yang dia bawa. Kartu Pos itu sudah mulai kusut. Sebaiknya kukirim saat bis ini berhenti, pikirnya.

Di luar sana, sedikit kabut turun. Malam Desember ini dingin. Biasa.

 

****

“Omah. Dalam bahasa Indonesia kita mengartikan kata sederhana itu menjadi rumah.’ Sebagai sebuah kata benda, bukan kata sifat. Karenanya, ketika konsep rumah adalah sesuatu yang asing hingga tak ada yang dapat disebut rumah kecuali sepetak bumi yang kau injak, senantiasa bergerak, maka nyaris tak ada yang namanya perasaan yang disebut rindu rumah. Apakah ini yang namanya terbebas? Apakah ini yang sekaligus kutukan?

Apa itu rumah? Seseorang pernah berkata padaku bahwa rumah adalah suatu konsep yang mesianistik: yang diharapkan untuk datang pada akhirnya, meski entah kapan, sehingga upayamu menanti kedatangannya menjadi ritual yang jauh lebih kau hayati dibanding kedatangan itu sendiri.

Terlalu lama kuhayati kutukan ini. Dan setiap kali, kutenangkan diri dengan menyadari bahwa obsesi manusia atas konsep rumah inilah yang akan menghancurkan diri mereka sendiri. Kesudian untuk melekatkan diri mereka dengan sesuatu yang fisikal dan begitu fana. Aku sering berdiri begitu lama di hadapan sebuah rumah, memandangi setiap siku jendelanya, ukiran pada pegangan pintunya, atau daun-daun yang menjuntai dari atap hingga ke terasnya, dan bertanya-tanya apakah manusia-manusia di dalamnya telah tertipu oleh ilusi atas rasa aman dan nyaman yang semu. Tetapi siapa aku? Pantaskah aku menghakimi manusia karena mudah percaya?

Dengan mengutuk diriku, telah pula kubebaskan diriku dari rindu. Jangan lekatkan dirimu dengan segala sesuatu, sayangku, dan kamu akan tahu bahwa keseluruhan dirimu adalah satu-satunya rumah yang kamu butuhkan. Diriku adalah satu-satunya rumah yang kutahu, dan di situlah kau akan disambut.

Datanglah, meski tak bisa kujanjikan apa-apa padamu.

 

Surat ini ditemukan dalam keadaan terbuka di bawah tempat tidur di kamar 622, Hotel Seruni.

Nama pengirim maupun penerima tidak tercantum.