Latest Post

Joseph Heath & Andrew Potter: Radikal Itu Menjual

Belakangan kita santer melihat kelompok-kelompok “radikal” dan “militan” berkembang di kampus-kampus, yang membawakan di bawah panji-panji mereka slogan-slogan kemenangan rakyat dan buruh atas tirani penguasa kapital, pun isu-isu lain. Kelompok-kelompok ini, yang biasanya menamakan diri mereka seradikal mungkin dengan logo-logo yang sangat radikal, tumbuh pesat dan kerap mewadahi porsi diskusi-diskusi “radikal” di kampus yang lumayan besar. Anggota-anggotanya, yang seringkali mengenakan atribut-atribut tertentu, semisal kaos orang-orang yang dianggap sebagai pemimpin golongan kiri atau setidaknya radikal dalam caranya sendiri, misalnya Che Guevara atau Fidel Castro, merupakan bagian dari “kiri” masa kini.

Dapat dikatakan bahwa para mahasiswa itu, seperti diulas dalam buku Joseph Heath & Andrew Potter berjudul The Rebel Sell (2005), merupakan bagian dari golongan yang mereka sebut kontrakultur (counterculture). Mungkin Saudara pembaca dapat mengingat bagaimana kultur hippie di Amerika Serikat tahun ’60-an, atau punk yang kemudian muncul belakangan, berusaha “memacetkan” sistem. Para anti-kapitalis ini melawan segalanya yang disebut kultur konsumen, dan apapun yang mereka anggap menjejak di belakangnya — penyeragaman selera, kerusakan alam, hingga malpraktek dokter. Mereka adalah kaum radikal era baru yang menahbiskan diri mereka sendiri untuk menyadarkan masyarakat keluar dari tidur siangnya selama ini dan bergerak melawan pemerintah dan semua yang salah.

Menurut Joe & Andrew, sayangnya, meskipun mungkin perlawanan yang hendak mereka bawa bernilai di mata banyak orang, gerakan kontrakultur tak banyak artinya dalam merubuhkan sistem yang lama dan mendirikan sebuah sistem baru. Mereka menulis sejauh “kontrakultur hampir secara penuh menggantikan sosialisme sebagai basis pemikiran radikal”, namun ini hanyalah sebagian dari pernyataan, karena buku mereka berargumen bahwa kaum kontrakultur pun turut berpartisipasi dalam pemajuan sistem kultur konsumen. Subjudul buku mereka, “How The Counterculture Became Consumer Culture”, kurang lebih merupakan tesis intinya.

Di mata kedua penulis, para radikal baru tersebut justru memperparah masalah yang mereka sendiri coba selesaikan: dalam maksud menyelesaikan masalah kultur konsumen, misalnya, Joe & Andrew berpendapat bahwa kaum radikal justru memperparah masalah dengan membuka sebuah pasar baru bagi radikalisme nampang, misalnya kaos atau topi Mao Zedong, mug Che Guevara, atau gegayaan a la radikal di Twitter dan Instagram (yang secara tidak langsung menarik banyak pengguna baru Twitter, pembeli smartphone, dan konsumer laptop). Lakunya gadget-gadget dan paraphernalia radikal dapat dikatakan sebagai kemenangan kultur konsumen; yang nampaknya secara tidak disadari dikontribusikan oleh para radikal ini sendiri. Maka judulnya: The Rebel Sell, atau dalam terjemahan bahasa Indonesia, Radikal itu Menjual. Keadaan ini diperparah ketika kita mengingat bahwa isu-isu yang mereka bawa kerapkali merupakan isu-isu yang nilai-nilainya persis berlawanan dengan perilaku yang mereka sendiri lakukan.

Kapanpun ada sebuah pasar niche yang baru, bahkan jika nilai-nilai dari niche itu berlawanan dengan nilai ekonomi pasar, maka pasar akan menggamitnya dan menjadikannya jualan baru. Memang ironi yang sungguh mengagumkan, tapi menurut Joe & Andrew itulah yang sedang terjadi di masyarakat kita sekarang. Ketika membaca buku ini, saya membayangkan bagaimana Mao Zedong atau Lenin, kedua-duanya terkenal dalam sejarah dunia sebagai garda depan revolusi, akan berguling gelisah dan menangis di balik mausoleum mereka ketika tahu bahwa figur atau bahkan siluet mereka telah dijadikan bahan jual kaum kapitalis.

Selain itu, kelompok mereka sendiri pun kini kehilangan legitimasi politik sebagai sebuah interest group politik yang benar dan bisa dianggap. Belum lagi mengobrol tentang pencitraan publik, yang di masa media sosial seperti sekarang telah menjadi semakin penting. Masuklah kita kepada maktub kedua dari argumen Joe & Andrew: bahwa kontrakultur justru kontraproduktif terhadap visi yang diusung kaum radikal untuk membawa sebuah perubahan positif bagi banyak orang. Ketimbang membantu sesama, mereka justru membawa masalah bagi semua orang.

Permasalahan dasarnya, menurut Joe & Andrew, adalah karena para radikal ini sejak awal sudah anti duluan terhadap institusi. Negara, demokrasi, dan enterprise dianggap sebagai sebuah pembentuk kesadaran massa, cetakan yang membuat rakyat banyak berpikir dengan jalan yang seragam, dan karenanya harus dilawan dengan aksi-aksi yang individualistik dan anti-institusional seperti mengenakan pakaian yang berbeda, melakukan hal-hal dengan cara yang berbeda dari masyarakat, hingga (terkadang) aksi-aksi vandal untuk mempromosikan kausa. Adalah poin ini yang membuat kaum radikal justru merugikan diri dan isu mereka sendiri dan orang lain.

Solusi yang diberikan Joe & Andrew? Berpolitiklah secara nyata, dalam lajur sistem yang benar, dan kemudian jadikanlah perubahan dari dalam.

Kebangkitan Jokowi dari Solo, dan Ahok dari Bangka Belitung, merupakan salah satu penanda bahwa kontrakultur kalah dibandingkan aksi berpolitik riil. Tanpa banyak ba-bi-bu, Jokowi melesat, dengan sistem demokrasi yang begitu dilawan oleh para radikal kontrakultur, ke status sebagai Gubernur Jakarta dan membuat perubahan-perubahan berarti yang cepat, yang takkan dapat diharapkan dengan aksi simbolis bakar foto. Terkadang memang perubahan tidak dapat dilaksanakan kecuali bersifat top-down, atau secara institusional dari atas. Toh, apalagi di Indonesia di mana para caleg maju untuk kepentingan diri dan bukan kepentingan orang banyak (membawa slogan-slogan yang secara umum kini sudah kita anggap tidak penting apalagi kredibel macam jujur, bermartabat, militan), vox populi tak selamanya vox dei. Kesadaran rakyat tak dapat selalu diterjemahkan sebagai perubahan sosial yang dibantu institusi. Negara ada di situ untuk memenuhi kepentingan rakyat, memang, namun di situasi seperti Indonesia, di mana negara eksis seperti sebuah entitas yang hampir sepenuhnya terpisah dari masyarakat, perubahan sepertinya hanya bisa dijadikan secara top-down — sabotase (sebenarnya menyedihkan saya harus memilih kata ini) dari dalam dan buatlah negara kembali terhubung dengan rakyat.

Berdasarkan preferensi kepada aksi-aksi individualistik dan anti-institusional, Joe & Andrew berargumen bahwa ini semua terjadi karena memang menjadi radikal secara terlihat, lewat kaos dan pernyataan-pernyataan eksternal lainnya (yang akhirnya harus dibeli juga, karena bahkan kaleng pylox untuk menuliskan “BE STUPID GO SHOPPING” di dinding orang pun harus dibeli), jauh lebih menyenangkan dibandingkan kerja politik nyata, yang biasanya melibatkan berjam-jam di balik meja, menyortir kertas, menjadi politisi, publikasi yang tak diinginkan, dan seabrek lainnya pekerjaan politik yang kurang lebih tak ingin diterjuni anak muda.

Buku Joe & Andrew ini memperjelas bahwa kini yang dimaksud dengan kata sosialis atau radikal agaknya terasa sudah jauh berbeda. Perbedaan ini pun membawa banyak efek negatif bagi kaum progresif kiri sendiri, yaitu dengan nampang, mereka kini harus terlibat masuk juga ke dalam ekonomi pasar yang ingin mereka bubarkan. Sementara, kampanye secara vandal dan non-demokratis justru membawa efek negatif bagi semua orang, dan tidak memajukan banyak hal bagi kepentingan kaum kiri itu sendiri. Karenanya, bagi anak-anak muda yang merasa dirinya radikal dan kiri, harus diadakan introspeksi besar-besaran: apakah aksi yang dilakukan selama ini benar-benar membantu kemajuan kausa, atau justru turut berpartisipasi di dalam sistem — ironisnya, secara tidak sadar?