Latest Post

Kelas Seni Urban Ala Jakarta 32 Derajat

Jakarta 32oC di tahun 2014 senyananya adalah sekolah seni urban dengan skala kecil. Setidaknya, itu yang saya yakini. Metode workshop yang mereka terapkan tahun ini adalah sebabnya. Jika di tahun-tahun sebelumnya Jakarta 32oC menggunakan sistem aplikasi karya untuk pameran, maka tahun ini mereka menggantinya dengan lokakarya untuk memperkuat proses kerja artistik. Selama dua bulan, peserta diajarkan cara untuk melakukan eksplorasi berbasis proyek dan memahami secara mendalam konteks produksi karya mulai dari pembuatan proposal, presentasi konsep metode riset, serta presentasi akhir. Tercatat 40 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Jakarta, dengan latar belakang jurusan yang berbeda, ikut terlibat disini. Selain mereka, terlibat juga mahasiswa dari Willem De Kooning Academie dari Belanda.

Dalam praktiknya, peserta dibagi ke dalam 10 kelas, yaitu Arsitektur bersama Farid Rakun dan Gita Hastarika, Komik bersama Komikazer dan Ardi Yunanto, Drawing bersama Saleh Husein dan Dwi “Ube” Wicaksono, Video bersama Mahardhika Yudha dan Dibyokusumo Hadipamenang, Object Art bersama Ade Darmawan, Seni Performans bersama Reza ‘Asung’ Afisina, Seni Ruang Publik bersama MG Pringgotono (SERRUM), Fotografi bersama Anton Ismael (Kelas Pagi Jakarta), Art Merchandise bersama Gardu House, dan Seni Digital bersama Jakarta Wasted Artist (JWA). Hasilnya: puluhan karya dipamerkan  di tiga tempat dalam area Kota Tua, yaitu Historia Food & Bar, Kedai Seni Djakarte, dan Gedoeng Jasindo pada 13-21 Desember lalu.

Kami memilih Kota Tua karena kami berharap sumber sejarah ini dapat mendorong daya imajinasi juga kreativitas mahasiswa tanpa harus terjebak nostalgia. Kami ingin mereka melihat Kota Tua sebagai refleksi atas apa yang terjadi di Jakarta saat ini,” kira-kira ujar Andang Kelana, Direktur Festival Jakarta 32oC saat jumpa pers. Lalu apa hasil refleksi mereka?

Hasilnya macam-macam, tapi ada tiga yang menarik perhatian saya. Alasannya personal. Konsep yang diangkat oleh ketiga karya itu mewakili ketertarikan saya akan anak-anak, ramalan, dan visual jalanan. Ketiga karya itu adalah Resonansi Permainan karya Indra Yanuar Pribadi hasil workshop Drawing, Peruntungan karya Revli Pradana hasil workshop Komik, dan Graphic Exchange hasil workshop Seni Digital. Berikut yang saya refleksikan dari karya mereka.

Resonansi Permainan karya Indra adalah gabungan antara teknologi seismograf dengan permainan tradisional anak-anak di sekitar Kota Tua. Teknologi seismograf, yang biasanya digunakan untuk mengukur dan mencatat gempa bumi, ia alih fungsikan menjadi alat ukur bunyi dari permainan tradisional anak-anak. Perangkatnya sederhana. Saya tak paham persis apa saja yang ia gunakan untuk merancang alat itu, tetapi idenya sangat lucu. Bedanya dengan seismograf, Indra menggunakan pulpen, alih-alih pensil. Selebihnya, konsepnya sama dengan seismograf: merespon bunyi, lalu merubahnya menjadi garis bergelombang.

Gara-gara alat Indra ini, secara teknis, keriaan permainan tradisional anak-anak jadi lebih mudah dibayangkan karena bisa dilihat dan dibaca kekuatan suaranya. Keceriaan anak-anak saat bermain permainan tradisional jadi terpisah dari bunyi-bunyi gaduh lain di Kota Tua karena Indra merubahnya menjadi sebuah karya seni, lengkap dengan bingkainya. Ini adalah pengistimewaan dari Indra atas permainan tradisional anak-anak di tengah maraknya permainan digital lewat Ipad dan sejenisnya dalam keluarga modern. Indra seakan mengingatkan bahwa keceriaan yang dihasilkan oleh permainan digital bisa jadi tak seseru permainan tradisional. Lihat saja bagaimana hasil tangkapan bunyi dari alat Indra: gelombangnya naik turun secara fluktuatif, seperti musik Metal. Untung saja ini gelombang bunyi permainan tradisional anak-anak. Kalau ini hasil seismograf gempa bumi, mungkin penduduk Jakarta sudah diminta mengungsi keluar.

Peruntungan karya Revli adalah keasikan yang lain di Jakarta 32oC. Sepertinya, Revli terinspirasi dari banyaknya peramal nasib jalanan di Kota Tua. Karyanya adalah puluhan kartu nasib dan tiga pembacaan garis tangan. Instruksinya jelas, “pilih 3 kartu untuk mengetahui nasibmu. Setelah itu, silahkan dikembalikan lagi.” Sebuah instruksi yang kalau dilakukan akan mengingatkan kita pada The Book of Answer karena sebelum mengambil kartu, tanpa sadar, kita akan berdoa meminta spesifikasi area ramalan. Karir atau asmara?

Karya ini lucu. Apa yang lucu adalah isi kartunya dan hasil pembacaannya atas garis tangan. Saya mencoba mengambil tiga kartu lalu membukanya. Kalau saya tidak salah ingat, saya mendapat “banyak usaha”, “banyak uang”, dan “banyak pikiran”. Saya tertawa lepas ketika membuka kartu terakhir. Sayangnya, saya tak mencek isi kartu yang lain. Bisa jadi isinya serupa. Sedangkan, hasil pembacaannya atas garis tangan sungguh tak terduga. Ia menuliskan “sering disakiti lawan jenis”, “sering difitnah”, dan “hobi kawin”. Macam-macam kegalauan yang kini sedang tren di kalangan manusia urban.

Lewat karya ini, Revli mengajak pengunjung untuk menertawakan nasib. Bahwa, nasib yang tak menentu ini, tak usah dibuat pusing dan ribet. Ia pun meminta pengunjung untuk menanggapi santai saja ramalan nasib lewat caranya merekonstruksi jasa penjual ramalan. Dengan begini, Revli telah menjadi peramal yang paling menghibur meski isi kartunya tak semuanya berujung bahagia. Sayangnya, ia sama sekali tak menyentuh ramalan zodiak. Padahal, jenis ramalan satu ini masih digemari oleh kalangan muda, meski beberapa malu untuk mengakuinya. Mungkin Revli tak ingin menyinggung beberapa penganut zodiak ekstrem. Mungkin saja.

Karya terakhir yang menarik bagi saya adalah Graphic Exchange hasil workshop Seni Digital asuhan Jakarta Wasted Artist (JWA). Mulanya, karya ini menarik karena tata letaknya yang paling menonjol dari semuanya: puluhan plang nama usaha ditempelkan ke tembok bata. Tapi, jika diperhatikan lebih dekat, plang-plang nama usaha ini bukanlah hasil karya peserta lokakarya. Plang-plang nama ini adalah hasil karya masyarakat Jakarta yang membuka usaha-usaha kecil di pinggir jalan. Lalu kemana hasil karya peserta?

Hasil karya mereka menggantikan plang-plang usang itu di tempat usaha aslinya. Ya, mereka melakukan pertukaran dengan pemilik usaha. Sebuah pertukaran yang sebenarnya. Mereka membuat kesepakatan real dengan pemilik usaha, yang menurut mereka, sudah harus mengganti plang usahanya dengan yang baru. Jadilah, mereka menawarkan diri untuk mereproduksi plang-plang usang itu. Menurut rekaman audio yang turut dipamerkan, beberapa kesepakatan terdengar agak rumit. Tapi, kerumitan yang normal saja. Misalnya, seorang pemilik usaha yang menanyakan dengan detil maksud peserta lokakarya mengganti plangnya sebelum menyetujui maksud si peserta. Namun, di luar kerumitan itu, ada cerita lucu. Kabarnya, ada seorang pemilik usaha yang membayar hasil kerja seorang peserta karena sangat suka dengan plang barunya.

Dalam buku program Jakarta 32oC, disebutkan bahwa “fasilitator memberikan arena tantangan dan penuh kejutan ketika peserta menemukan hal-hal tak terduga seputar pertukaran grafis tersebut, seperti adanya unsur klenik, pengertian desain, komunikasi, proses negosiasi dengan para pekerja, dll.” Dari sini dapat dilihat bahwa proyek ini memberikan banyak ilmu bagi peserta juga ide peluang bisnis. Sayangnya, secara artistik, karya ini mengandung ironi: plang-plang usang itu jauh lebih urban daripada plang hasil redesain peserta. Bagi saya, beberapa plang baru dari peserta terlalu rapi dan tulisannya terlalu kecil untuk ukuran usaha pinggir jalan. Dengan begini, saya setuju dengan keputusan mereka untuk memamerkan plang-plang usang itu, alih-alih plang hasil redesain mereka. Karena memang plang-plang usang itu lah karya seninya.

Tapi, proses berkeseniannya patut diapresiasi. Saya setuju dengan perkataan Leonhard Bartholomeus, seorang kurator muda, tentang hal ini.

Menariknya, disini fasilitator memposisikan dirinya sederajat dengan peserta lokakarya. Jadi tidak ada yang lebih tahu dari yang lainnya. Semua saling berbagi ilmu,” ungkapnya. Ya, mereka benar-benar bekerja selayaknya kelas seni kecil urban yang menyenangkan.

...

Sebenarnya, selain pameran, Jakarta 32oC pun memiliki program lain. Mereka menamainya dengan “Program Publik”. Isinya macam-macam. Ada presentasi khusus dari seniman dan anak muda, presentasi lokakarya oleh peserta, diskusi tentang aktivisme anak muda, lokakarya sablon kolase, lokakarya komik, performance art, live mural, dan pemutaran film-film Warkop DKI. Kedepannya, Jakarta 32oC rencananya akan berkembang. Kelas seni urban ini akan berubah menjadi kelas besar dengan ruang interaksi yang lebih luas. Mereka bahkan berencana lepas dari ruangrupa dan berdiri sendiri.

Kedepannya, kami akan berdiri sendiri dan meneruskan model workshop seperti ini. Bahkan, kami berencana melakukan pertukaran peserta workshop ke luar negeri, seperti Belanda. Untuk kriterianya, mungkin peserta yang memiliki karya paling bagus. Kita lihat saja nanti,” lanjut Andang.

Jadi, siapa yang dua tahun lagi berencana ikut Jakarta 32oC?