Latest Post

Kemerdekaan Bawah Tanah #1: Poster Cafe dan Revolusi yang Tersembunyi


Harlan Boer adalah pria yang kurus dan jangkung. Perawakannya tampak rapuh, dan saat dia berdiri, punggungnya membungkuk tak yakin. Kacamata yang dia kenakan miring sedikit, dan tawanya terdengar aneh bagi orang yang belum terbiasa. Jawaban-jawabannya seperti ragu, namun setiap kata yang dia utarakan tenggelam dalam romantisme yang hanya dimengerti olehnya sendiri. Orang yang akrab dengannya memanggil dia Bin. Kami duduk di beranda kantornya, menunggui asap rokok yang mengudara. Sebentar lagi jam sembilan malam, dan kami sudah mengobrol dengannya selama nyaris satu jam. Bin memakai kaus biru yang tampak lusuh, bersandar santai sembari menyeruput Teh Botol. Zaka berdiri di sebelahnya, tersenyum lebar. Rigel masih menenteng kameranya, merekam dan memotret percakapan kami.

“Poster Cafe itu ajang melting pot.” Jelas Bin. “Itu pertemuan berbagai tongkrongan di Jakarta. Buat gue, Poster adalah venue pertama dengan ukuran sebesar itu yang membuat semua orang berkumpul di situ. Punk, hardcore, indie, elektronik. Segala macam musik ada di Poster. Masa itu memudahkan kita untuk mengenal berbagai tongkrongan.”

“Momen paling legendaris di situ bagi lo, apa?” tanya saya.

Bin menggaruk kepalanya, lalu tertawa. “Wah, susah. Gak bisa digituin juga sih.” Dia terdiam, seperti mencari kesimpulan. “Di situ, lo hidup. Lo benar-benar merayakan hidup setiap ke situ.”

“Susah banget untuk bilang ‘ini momen favorit gue’, karena semuanya menyenangkan.” Lanjut Bin, mengangguk. “Meski mungkin ada apa-apa, semuanya menyenangkan. Lo manggung, lo nonton band-band yang lo suka, dan lo sulit menonton band-band itu di tempat lain. Lo hanya bisa menonton mereka di situ.”

Kami terdiam.

“Gimana ya?” Bin menatap kami satu per satu, tertawa di tengah nostalgianya. “Semua malam di situ spesial.”

 

Subkultur Alternatif

1992 adalah waktu yang menarik untuk menjadi seorang scenester. Pergerakan musik rock Indonesia pada tahun 70’an yang melahirkan nama-nama legendaris macam Gank Pegangsaan dan God Bless berlanjut pada dekade 80’an dengan berkembangnya sebuah scene musik metal bawah tanah. Lokasi-lokasi seperti Apotik Retna di Cilandak hingga Pid’s Pub di Pondok Indah menjadi titik pusat pergerakan musik anyar di Jakarta yang melahirkan nama-nama legendaris macam Roxx, Jenazah, Mortus, Rotor, Alien Scream, hingga Sucker Head. Kebanyakan band ini terpengaruh oleh pahlawan-pahlawan trash metal seperti Metallica, Sepultura, Kreator, dan Anthrax, serta lebih banyak memainkan cover version daripada menciptakan lagu-lagu sendiri. Musik selalu distigmakan sebagai mimpi yang muluk-muluk. Dan dalam pergerakan bawah tanah era awal, kenyataan yang kejam ini tertuang secara telanjang.

Untuk bisa rekaman dan merilis lagu sendiri kepada publik luas terasa seperti mimpi yang jauh. Di antara semua band-band tersebut, hanya Roxx yang sempat merekam dan merilis lagu sendiri dengan judul ‘Rock Bergema’, setelah menjadi salah satu finalis festival musik. Sulit untuk membayangkan bahwa mereka akan ditemukan dan dikontrak oleh label-label terbesar di arus utama. Pintu baru terbuka bagi band-band ini setelah suksesnya konser Sepultura dan Metallica di Jakarta pada awal dekade 90’an. Roxx dan Rotor (yang menjadi band pembuka Metallica) berhasil merilis album. Bahkan, Rotor memutuskan hijrah ke Amerika Serikat bermodalkan honor menjadi band pembuka Metallica. Namun, mereka tak lantas menjadi megabintang yang digandrungi semua khalayak. Dunia musik bawah tanah Jakarta tetap terasa seperti novelty, keanehan dari arus pinggir yang menarik untuk disimak, namun tak banyak mengancam hegemoni arus utama. Subkultur-subkultur alternatif ini terus berkembang secara independen, seperti ada dalam semesta yang lain sama sekali.

“Sebelum era Poster Cafe, pergerakan scene di Jakarta lebih sporadis, underground, dan gak kelihatan.” Terang Eka Annash, yang kini lebih dikenal sebagai vokalis unit garage rock The Brandals. “Seingat gue, kalau ditarik sejarah hidup gue, gue sudah mendatangi tempat-tempat itu sejak SMA, bahkan SMP. Sudah ada scene di Pid’s Pub Pondok Indah, Stadion Lebak Bulus, dan Apotik Retno di Fatmawati. Itu studio latihan, sih, sebenarnya. Tapi tempat itu jadi medium berkumpul orang, utamanya dari scene metal.”

Beberapa stasiun radio pun mulai rutin memainkan musik-musik beraliran rock dan metal. Radio Metro Jaya, Radio SK, Radio Bahama, dan Radio Mustang yang legendaris bergerilya untuk memberi eksposur lebih luas pada musik-musik metal yang ekstrim. Acara Rock n Rhytm di Mustang, yang mengudara setiap Rabu malam, dikenal sebagai salah satu acara utama yang menjadi kiblat para pecinta metal. Dewa trash metal asal Brasil, Sepultura, bahkan sempat menjadi bintang tamu pada Rock n Rhytm di tahun 1992. “Dulu, Mustang itu termasuk salah satu radio yang mengakomodir.” Lanjut Eka. “Dia bikin acara Rock n Rhytm di Granada (Graha Purna Yudha), yang sekarang jadi Plaza Semanggi. Dulu itu sejenis hall. Gue ingat, itu tempat diadakannya event metal pertama yang diadakan di Jakarta.

“Gue datang ke situ tahun 1991, dan bisa dibilang itu ibarat pertemuan para ‘suku’ musik off-stream dan independen. Musik-musik yang gak pernah kelihatan. Dulu, mana ada acara metal seperti itu? Tapi di tempat itu, mereka semua berkumpul. Band-band yang tampil juga band yang gak pernah ada di radio. Alien Scream, Antiseptic, dan band-band lainnya. Pada waktu itu gue masih SMP, gue belum terlalu mendalami. Tapi boleh dibilang, itu eksposur pertama gue ke dunia musik underground Jakarta.”

Punk-punk pertama bermunculan dari generasi ini. Band seperti The Stupid dan figur-figur seperti Udet Young Offender, Feri Blok M, Dayan The Stupid, dan Acid Antiseptic tercatat sebagai para pelopor punk Jakarta. Fathun Karib, dalam tulisannya untuk Jakartabeat.net berjudul “Sejarah Komunitas Punk Jakarta”, menyebut Antiseptic sebagai band punk pertama di Jakarta. Bahkan, di tulisan terpisah, Karib (seorang akademisi dan frontman band hardcore punk kawakan Cryptical Death) menyebut Acid sebagai “proklamator punk Jakarta”.

Acid bertemu Beri, yang akan jadi vokalis pertama Antiseptic, di sebuah acara musik di Institut Kesenian Jakarta (IKJ). “Waktu itu, Acid (gitar/vokal) bersama Codot (bass) dan Gandung (drum) yang bergabung dalam band Dickhead tampil di situ.” Kenang Karib dalam tulisannya. “Dickhead membawakan lagu-lagu dari kelompok punk Barat yang legendaris, Misfits dan Exploited. Saat Dickhead membawakan lagu ”Fucking U.S.A” dari Exploited, Acid lupa lirik lagu yang dibawakannya itu. Akhirnya, Acid meminta penonton untuk membantu dia menyanyikan lagu itu. Beri yang berada diantara penonton naik keatas panggung, menyanyikan lagu ”Fucking U.S.A.” bersama dengan Dickhead. Selesai manggung, Acid menghampiri Beri, mengajaknya untuk membentuk band baru.”

“Berbeda dengan Dickhead atau The Stupid yang sifatnya seasonal, maka Antiseptic konsisten mengibarkan bendera punk.” Lanjut Karib. “Panggung pertama Antiseptic adalah di Gelanggang Remaja Bulungan Jakarta Selatan dalam acara MOTOR (Morbid Thrasher Organization). Di sana, penonton yang didominasi musik thrash metal mentertawakan mereka, karena musik yang mereka mainkan berbeda dengan trend. Selain itu, penampilan personil Antiseptic dengan potongan plontos amat kontras dengan mayoritas pecinta musik thrash. Aksi panggung Septic yang melompat-lompat dan melakukan stage diving juga menjadi bahan tertawaan. Aksi pertama Septic ini hanya didukung oleh sekitar 12 orang penonton yang ikut bernyanyi dan melakukan slam dancing di depan panggung.”

Namun, suara punk telah didengar. Setelah konser di Bulungan yang berlangsung pada tahun 1990 itu, Antiseptic diundang bermain di acara Rock and Rhytm, Granada. Salah satu dari 12 penonton yang berdansa telah menggantikan posisi salah satu personil Antiseptic yang mengundurkan diri. Nama penonton yang beruntung itu adalah Lukman Buluk, yang kemudian dikenal sebagai frontman band Superglad. Saat Antiseptic tampil dengan formasi barunya di Granada, mereka disambut oleh 100 penonton yang penasaran dan telah menunggu-nunggu mereka. Aksi riuh slam dancing dan moshing pun dimulai. “Acara pun berubah menjadi arena lempar bangku.” Terang Karib. “Panitia acara meminta Septic berhenti bermain. Namun mereka menolak, penonton pun meminta mereka meneruskan bermain satu lagu.” Metal tak lagi sendirian di Ibukota. Punk telah datang.

Kedua subkultur tersebut terus merebak di lokasi-lokasi seperti lantai 6 game center Blok M Plaza. Di kantung-kantung budaya pinggiran ini, para scenester Jakarta saling bertemu, bertukar kaset dan referensi musik, jual-beli aksesoris musik bawah tanah, hingga mengorganisir dan mengadakan konser. Memasuki tahun 1992 dan 1993, dua titik mulai dikenal sebagai tempat berkumpul para anak-anak pinggiran. Tempat itu adalah Cafe Manari di Museum Satria Mandala, Gatot Subroto, serta Voila Discotic di Gedung Patra Jasa dengan acaranya yang juga banyak dikenang, Black Hole.

 

Cikal Bakal Poster Cafe

“Manari itu cikal bakal Poster Cafe.” Jelas Eka. “Lokasinya sama. Bedanya, Poster ada di hall, sedangkan Manari ada cafe, pub, dan kolam ikan. Norak banget, deh, desainnya! Dari situ, banyak band punk rock mulai main. Netral main di situ. Ada band namanya Brawijaya, mereka mainnya di situ. Mereka juga sering mengundang band dari anak-anak Jakarta International School (JIS). Percaya atau tidak, Java Jive juga bermula dari situ sebagai home band. Mereka bawain The Doors, bawain Pearl Jam.”

Pasca Manari, scene Jakarta beralih ke Voila Discotic, sebuah klub di Gedung Patra Jasa. “Tempat ini sering didatangi oleh anak-anak metal Jakarta. Beri (Antiseptic, red) sendiri sering menghadiri acara-acara di klub tersebut.” Ujar Karib. “Musik-musik yang dimainkan di Black Hole terutama adalah Nirvana, Pearl Jam, dan Jane’s Addiction sampai dengan musik progresif. Di klub inilah untuk untuk pertama kalinya Beri bertemu dengan segerombolan anak punk dengan dandanan ala Sex Pistols dan The Exploited.” Kelompok yang ditemui oleh Beri ini adalah sekumpulan anak muda yang tergabung dalam komunitas punk pertama di Jakarta, Young Offender (YO).

“Ulang tahunnya sama dengan PKI – 30 September.” Ujar Ade “Taba” Yusuf, salah satu pendiri Young Offender, sambil tersenyum. “Gue gak ngerti kenapa, tapi dulu semua komunitas punk ada di daerah-daerah basis ABRI. Komunitas South Sex ada di sekitar daerah Kostrad Jakarta Selatan, contohnya. Dan komunitas gue di Slamet Riyadi.”

 

Punk di kursi belakang, 1994. (Dok: Young Offenders)

 

Young Offender sendiri dibentuk pada tahun 1992 oleh sekumpulan kawan-kawan, namun berada di sekitar Taba dan satu lagi nama penting, Ondy Rusdy. “Ondy ibarat godfather of punk.” Lanjut Taba. “Sebenarnya orang yang pertama bukan Ondy, ada yang namanya Udet. Dia tetanggaan dengan Ondy. Gue gak temenan dengan Udet, tapi gue temenan dengan Ondy.” Sementara Taba menjadi vokalis band bernama Pestolaer yang rutin membawakan Exploited dan Sex Pistols, Ondy menjadi garda depan sebuah band bernama Submission.

“Ondy kenal teman-teman lain, dan dia membentuk komunitas namanya Young Offender.” Kisah Taba. “Kita ikut acara di Black Hole. Di Black Hole, ada campuran antara anak-anak JIS dan satu batch lagi di atas kita. Mereka lebih senior, biasanya baru pulang dari sekolah di luar negeri. Sepulangnya, mereka bawa CD-CD aneh. Karena kangen, mereka buat konser di sana.”

Masuknya CD-CD ‘aneh’ dari luar negeri ini, yang didistribusikan melalui berbagai cara, menjadi salah satu faktor kunci penyebaran subkultur alternatif. Figur-figur seperti Ondy, Evi Punk Tat, dan Udet Young Offender berhubungan langsung dengan komunitas-komunitas punk di luar negeri (baik melalui korespondensi atau berkunjung secara pribadi ke luar negeri) dan mendapatkan akses ke literatur dan pengetahuan seputar ideologi dan musik punk. Feri Blok M menjadi salah satu nama yang menggunakan lokasi seperti Blok M Plaza sebagai tempat berkumpul tak resmi bagi subkultur-subkultur bawah tanah. Toko musik Duta Suara, Jalan Sabang, mulai membawa masuk majalah luar negeri dan kaset-kaset dari band underground dan alternatif luar negeri. Sontak, toko itu digandrungi para pecinta musik underground. Penyebaran subkultur ini terjadi secara perlahan namun pasti.

“Ondy punya CD-CD dan plat hitam yang bahkan sekarang jarang dipunyai orang.” Kata Taba. “Cassandra Complex yang album Cyberpunx, gue sudah dengerin di era itu. This Mortal Coil – dosen gue yang kuliah di Australia harus inden 3 bulan baru dapat rilisan mereka. Dia sudah punya. Jadi koleksi yang susah didapatkan sudah gue dengerin. Lalu ada CD kompilasi namanya Volume. Di depan itu gambar-gambar ikan, dan di dalamnya ada booklet. Semua artis yang ngetop di jaman sekarang ada di situ. Pulp, Oasis. Ada cerita tentang band itu dan foto kecil, lalu ada lagunya. Kompilasi pertama temanya punk, kompilasi kedua elektronik, dan seterusnya. Dulu itu jadi rebutan di Duta Suara.”

Selain musik, ideologi dan gaya berpakaian punk juga diterima oleh komunitas-komunitas Jakarta melalui kantung-kantung budaya ini. “Bagi Antiseptic, band-band punk Amerika seperti Dead Kennedys, Black Flag adalah sumber inspirasi.” Ungkap Karib. “Pengaruh band Amerika ini juga terlihat pada gaya fashion Antiseptic yang mengikuti band-band tersebut: kaos, sepatu Vans, kepala botak dan rambut cepak. Sedangkan Young Offender mengikuti band-band Inggris, seperti The Sex Pistols, Exploited, band-band yang berada di kompilasi Punk and Disorderly seperti The Blitz, Exploited, Abrasive Wheel, The Insane, The Mob, dan Chaos UK.”

 

Pestolaer, circa 1994. Ade “Taba” Yusuf berdiri di belakang, dengan baju Exploited. (dok: Pestolaer)

 

Salah satu dari sekumpulan pemuda misfits ini adalah Eka Annash, yang tergabung di Young Offender. “Gue sekolah di SMA 68 Salemba, dan di situ gue ketemu dengan sesama pendengar musik yang boleh di bilang off-stream.” Jelas Eka. “Di SMA dulu, orang yang suka musik ‘beda’ itu kelihatan dari dandanannya. Pasti ada semacam ‘simbol’ atau logo yang dicoret di kemeja atau celananya. Entah itu lambang anarki, tulisan Sex Pistols, atau simbol-simbol punk dan band lainnya. Mereka juga pakai sepatu skate, atau Converse. Kelihatan banget dulu. Jadi, ada identitas fisik yang bisa lo kenali. Dan saat gue masuk SMA 68, gue ketemu orang-orang seperti itu.” Perkenalan Ondy dan Taba sendiri dimulai dari “bahasa kaos” seperti ini. Ondy bertemu Taba di IKJ, di mana Taba menarik perhatian Ondy dengan bajunya yang bertuliskan “Fuck The Police” (band new wave yang dimotori Sting).

“Dulu, kalau lo punya informasi ini, rasanya eksklusif.” Lanjut Eka Annash. “Lo ada rasa bangga karena ‘Gue tahu band ini, sedangkan lo nggak. Gue tahu Fugazi, lo nggak!’” Sulitnya mencari informasi mengenai dunia musik alternatif, subkultur, dan perkembangannya membuat informasi apapun yang berhasil diterima menjadi berharga. Mulai dari rilisan fisik album-album terbaru dari Nirvana dan Sonic Youth, katalog band yang dinaungi oleh Dischord Records, hingga eksemplar majalah musik dan budaya luar negeri yang menyajikan perkembangan subkultur dari segi musik, gaya hidup, hingga penampilan. Semuanya adalah informasi yang tidak mudah didapat khalayak luas. Menemukan informasi langka tersebut, sebagai seorang anak muda yang mulai perlahan jatuh cinta kepada musik, terasa seperti menemukan harta karun.

Minimnya akses ini secara tidak langsung juga berfungsi sebagai ‘penyaring’. Sulit sekali menjadi seorang poseur di masa itu, karena usaha untuk mengetahui semua seluk beluk subkultur alternatif tidaklah sedikit. Ibaratnya, hanya seorang fans sejati yang mau repot-repot menggali sejauh itu. Dan ketika anda telah terpapar kepada ‘virus’ subkultur alternatif, semua atribut dan penampilan dari subkultur tersebut segera anda adopsi sebagai identitas baru. Atribut tersebut juga digunakan untuk mengidentifikasi orang-orang lain dengan identitas serupa. “Itu radar yang dibaca oleh orang lain yang paham band-band yang lo tahu dan lo dengerin juga. ‘Wah, lo dengerin band A juga ya? Iya nih.’ Jadi ada semacam password, semacam kode.” Jelas Eka. “Intinya bukan untuk pamer. Tapi untuk memberi kode ke orang lain, ‘Bahasa lo sama gak sama gue?’” Aksioma bahwa style sebaiknya tak mengungguli substance tak terlalu berlaku di sini. Pada era Poster dan pra-Poster, style justru menunjukkan substance anda.

“Gak sembarang orang bisa ‘masuk’ kalau knowledge dan attitude-nya gak oke.” Jelas Ondy. “Mental so pasti jadi makin 'menjadi' karena kita harus nyeleneh. Cara bermusik kita ngelawan arus mainstream.” Sistim ‘kaderisasi’ ketat ini menjadi salah satu ciri khas Young Offender. “Gue pakai kode-kode seperti bros, coretan band yang obscure. Itu cuma bisa di-‘baca’ oleh orang-orang yang paham.” Ujar Eka. “Dan ketika ikatan itu sudah terbangun, susah lepasnya. Ada perasaan seperti, ‘Wah, cuma elu yang ngerti gue!’ Komunitasnya sedikit. Tapi mereka dekat, intim. Lebih intens.”

 

Young Offender

Komunitas yang saling bertemu lewat “bahasa kaos” ini semakin berkembang. “Kita kenalan, tukar-tukaran kaset. Saling fotokopi kaset. Semua dimulai dari situ. Mereka yang pertama bawa gue ke Voila. ‘Setiap Jum’at malam ada acara, ka.’ Gitu katanya. ‘Black Hole!’ Datanglah gue ke sana. Gue dibawa ke rumahnya Levi, sekarang dia bassis The Fly. Dulu dia gitaris di Submission, band-nya Ondy. Di situ, kita dandan dulu. Atur rambut, dan sebagainya. Dari situ gue terekspos dan tahu bahwa ternyata ada ciri identitas fisik yang lebih militan. Pakai jaket kulit, pakai spike.

“Seragam punk yang biasa gue lihat di majalah-majalah sekarang ada di depan mata gue. Rambutnya pun di-mohawk. Lo tahu gimana cara warnain rambutnya? Dulu gak ada pewarna rambut. Mereka pakai cat pilok, men! Semuanya pakai pilok. Gue ketawa-tawa aja tuh. Ya sudah, kita sudah kelihatan nge-punk, jalanlah ke Black Hole.

“Orang kantoran sudah libur di Jum’at malam. Tapi anak-anak SMA kayak kita masih harus sekolah di hari Sabtu. Jadi gue pergi, kabur dari rumah jam 10 malam. Nonton di situ sampai jam 2-3, baru pulang. Jam 7 sudah harus berangkat sekolah lagi. Pokoknya di SMA 68, orang-orang yang malamnya habis nonton di Black Hole sudah ketahuan. Rambutnya ada warna-warna sisa pilok dan matanya ngantuk. Band-band menarik banyak yang mulai juga di situ.”

 

Submission, 17 Agustus. Ondy: “Kami merayakan hari kemerdekaan dengan mengecat rambut warna merah-putih." (dok: Ondy Rusdy)

 

Namun sayang, Black Hole pun tidak bertahan lama. Black Hole hanya bertahan sepanjang tahun 1992. “Mungkin karena waktu itu anak-anak JIS pada lulus dan cabut.” Kata Taba. Pasca Black Hole berakhir, terang Karib, komunitas punk menemukan kantung baru di Hotspot Pub & Cafe. Salah satu komunitas punk yang cukup ‘muncul’ di era Hotspot Cafe adalah South Sex, dengan band-nya, The Idiots. Melalui penyebaran pamflet ke seluruh Jakarta dan promosi berbasis word-of-mouth, Hotspot perlahan-lahan mulai ramai disambangi punker seantero Jakarta. Namun pada akhir tahun 1993 atau awal tahun 1994, komunitas punk bertengkar dengan preman lokal di depan stadion mini Lebak Bulus. Kericuhan itu lantas berimbas pada berakhirnya posisi Hotspot Cafe sebagai salah satu marka utama pergerakan punk Jakarta.

Sementara Hotspot Cafe masih ramai sebagai pusat baru komunitas punk, Young Offender mulai mencari ruang alternatif bagi mereka. Rupanya, pencarian ini membawa mereka ke ‘kantung lama’ yang sempat habis nyawanya. Anak-anak Young Offender lantas membentuk Slamers Production, dan menemukan bahwa ruang lama mereka di Manari Cafe telah bereinkarnasi. “Rudy Slow dari Black Hole buat acara Jak Rock Festival 1993 di Manari Cafe, setelah itu mereka tutup. Berubah jadi Poster Cafe.” Kisah Ondy Rusdy. “Manari dan Poster Cafe beda konsep. Di Manari, konsepnya semi-outdoor dan ada panggung. Kalau Poster Cafe konsepnya indoor, DJ Set, vinyl, dan ada panggung juga.” Manari Open Air yang terbuka telah berubah menjadi Poster Cafe, sebuah cafe raksasa dengan kapasitas 2,000 penonton yang terletak di kompleks Museum Satria Mandala, Gatot Subroto.

“Tadinya, Poster Cafe itu tempat tripping. Tempat dugem.” Ujar Eka. “Kenapa disebut Poster Cafe? Karena di sekeliling tembok isinya poster-poster rock semua.” Namun, bisnis tak berjalan baik bagi kafe yang dimiliki rocker gaek Ahmad Albar ini. “Poster Cafe sepi, jadi anak-anak Slamers Production atau anak-anak YO masuk di tahun 1993 untuk bikin acara underground pertama di Poster, dan acara itu sukses.” Terang Ondy. “Mungkin untuk menambah keuntungan, mereka membuka acara untuk band anak-anak muda setiap akhir minggu siang.” Imbuh Eka. “Band-band semakin bermunculan, dan scene Poster Cafe mulai terbentuk.”

 

Beberapa punggawa Young Offenders berpose. YO adalah komunitas punk pertama di Jakarta. (dok: Young Offenders)

 

Antara tahun 1993 akhir hingga 1996, Young Offender menjadi komunitas pertama yang membuka ruang baru di Poster Cafe. “Bukan berarti semua acara di bawah YO, enggak.” Ujar Taba. “Tapi, panitia dan official di Poster menerima anak-anak underground. Jadi, kalau ada acara hardcore, acara apa, acara apa, mereka nampung.” Perlahan-lahan, publik underground di Jakarta mulai menyadari eksistensi Poster Cafe sebagai salah satu pusat terbaik untuk melihat band-band pinggiran Ibukota. Eka sendiri telah memulai band-nya, Waiting Room, yang memainkan musik post-hardcore dengan pengaruh ska kental.  “Dulu, saat masih SMA, salah satu band terpenting bagi gue adalah Fugazi, yang dirilis Dischord Records.” Jelas Eka. “Fugazi jadi titik referensi gue. Gue pengen banget punya band yang bisa mainin musik seperti Fugazi.”

Bermula dari obsesinya dengan Fugazi, Eka mengumpulkan kawan-kawannya dan membentuk Waiting Room. “Sebenarnya, pada awalnya kita gak punya nama. Cuma, kita kebetulan nemu satu studio baru di Kayumanis, namanya B Studio. Pemiliknya si Lukman Buluk, yang sekarang main di Superglad. Begitu gue masuk, sumpah, gue pikir Lukman itu tukang jaga studionya. Tampangnya kayak mas-mas, soalnya! Hahaha.. Gue bilang, ‘Mas, mau latihan nih kita.’

“Kita masuk, main, dan ternyata Lukman itu bassisnya Antiseptic. Ngerti lah dia sama musik-musik kayak begini. ‘Anjing, ini band bawain Fugazi, nih! Langka banget!’ Dia masuk dan bilang, ‘Keren nih, kalian! Bawain Fugazi, ya?’ Kita bilang iya, mau main di Cafe Margonda soalnya.” Beberapa waktu kemudian, band Eka berbagi panggung dengan band Buluk di MG Cafe. Saat Waiting Room mulai memainkan lagu-lagu Fugazi, Buluk naik ke atas panggung dan sontak berduet dengan Eka. Penonton menyambut dengan meriah, dan sejak saat itu Waiting Room memiliki dua vokalis.

 

Waiting Room, sekitar tahun 1998. Eka Annash duduk ketiga dari kanan. (dok: Eka Annash/The Brandals)

 

Band Taba, Pestolaer, juga mengalami perubahan drastis dalam gaya musiknya. Band yang tadinya dikenal sebagai Sex Pistols versi Indonesia dan rajin berdandan gaya punk ini mulai terekspos pada subkultur baru yang tengah bergema di Britania Raya – Madchester dan Britpop. “Gue sudah dengerin Stone Roses di jaman itu.” Seloroh Taba. “Gue ajak anak-anak Pestolaer bawain ini. ‘Wah, serius lo?’ Ini gak bakalan ringan, karena fans yang dulu melihat gue rusuh dan sekarang jadi mendayu-dayu itu pasti ngamuk! Ya gue jalanin. Gue sudah bisa di punk rock, masa di musik indie gak bisa?”

“Jadi kita bawain Stone Roses karena kita rasa komunitas punk pada waktu itu sudah luar biasa, sudah cukup banyak.” Lanjutnya. “Dan akhirnya kita bergerak ke indie, karena gue punya pengertian bahwa yang pertama itu terbaik dari yang terbaik. The pioneer is the best, menurut gue. Mungkin menurut orang we are not the best, yang terbaik ada setelah kita. Tapi kita yang merintis jalan. Dan orang akan capture itu sebagai bagian dari apa yang terjadi di sejarah musik kita.”

Reaksi penonton pada transisi ini – dari Sex Pistols ke Stone Roses, dari Exploited ke Oasis – terbilang beragam. Taba bercerita pada saya tentang pengalamannya tak sengaja berbelok ke sebuah gang tempat sekumpulan anak-anak punk yang sebal karena “pengkhianatan musik”-nya tengah mengadakan konser. Kehadirannya lantas membuat gegar para punker itu. Tanpa berusaha panik, dia keluar dari mobil dan melenggang masuk ke dalam konser dengan santai. “Begitu gue keluar, mobil gue sudah dibaret.” Kisah Taba sambil tertawa. “Tapi gapapa. Gue gak bersikap seolah gue takut. Kalau gue nunduk, takut, mereka udah hajar gue.”

Pada saat bersamaan, bergantinya gaya musik Pestolaer ini memperluas jejaring mereka dan menjadi katalis munculnya band-band serupa yang membawakan musik Britpop. Band-band seperti Chapter 69, Room V, Wondergel, Parklife, Brown Sugar, dan Rumah Sakit yang muncul dengan vokalisnya yang kharismatik, Andri ‘Lemes’ Ashari, mulai meracuni Jakarta dengan meng-cover lagu-lagu dari para pahlawan Madchester dan Britpop – dari Suede, Menswear, The Charlatans, The Stone Roses, hingga The Cure, Oasis, dan Blur. Ondy pun mulai bereksperimen dengan Submission. Musik-musik industrial ala Nine Inch Nails hingga noise pop/alternative macam The Jesus and Mary Chain mulai dia masukkan dalam repertoarnya.

 

Di depan Poster Cafe. (dok: Ondy Rusdy)

 

Namun, Karib sendiri berhipotesa bahwa pergeseran genre yang dilakukan band-band utama Young Offender ini malah menjadi salah satu faktor meredupnya Young Offender. ‘Dominasi’ punk sebagai genre mulai memudar, dan ini semakin mewujud akibat banyaknya punggawa Young Offender yang tumbang akibat narkoba, serta sistim kaderisasi ketat yang malah menjadi senjata makan tuan. Muak dengan apa yang mereka anggap sebagai eksklusivitas Young Offender, komunitas-komunitas punk lain mulai bermunculan di Jakarta. ‘Desentralisasi kekuatan’ ini kemudian mendorong dibentuknya komunitas-komunitas punk baru seperti komunitas Subnormal, dengan band-nya Army Style dan 142 Chaos, serta Sid Gank yang digawangi band macam RGB dan Pinokio.

 

Konser Terakhir dan Pertama

Pada tahun 1996, Young Offender mengadakan konser terakhir mereka di Poster Cafe. “Udah rame, dan udah pada tahu kalau di situ venue yang enak.” Jawab Ondy, saat saya tanya kenapa Young Offender memutuskan angkat kaki dari Poster Cafe. “Anak-anak YO emang gitu. Cari venue, bikin itu jadi tempat buat scene, lalu cabut. Cari tempat lagi yang baru.” Terlepas dari perdebatan mengenai surut tidaknya pengaruh Young Offender di Jakarta, malam terakhir itu berujung manis. “Seru, pecah. Tiket sold out, crowd sampai mau ngejebol pintu saking pengen ada di scene dan nonton acara YO.” Kenang Ondy. “Anak-anak nyetelin video VHS di big screen, film Sid n Nancy dan Marilyn Manson. Band yang main Pestolaer, Wondergel, Chapter 69, Parklife, Generosity, Explosion, Pitstop. Tapi saat itu sayangnya gue gak ada, karena harus ngelanjutin kuliah di luar negeri. Gue hanya nganter anak-anak sampai di persiapan acara, di hari H-nya gue sudah pergi.” Young Offender telah pergi, namun Poster Cafe belum habis.

29 September 1996 menjadi titik tolak periode kedua dalam sejarah Poster Cafe. Sebuah acara dua mingguan bernama “Underground Session” dimulai, dan tak hanya diramaikan oleh band-band punk. Berbagai tongkrongan dan komunitas lintas genre di Jakarta telah menyadari posisi Poster Cafe sebagai ‘ruang bersama’ tempat mereka bisa bertemu. Poster Cafe dilirik oleh berbagai komunitas dan organizer lintas genre yang mengadakan konser-konser tematik (konser punk, konser Britpop, dsb) secara rutin.

Peran Poster Cafe sebagai tempat pertemuan ini menjadi salah satu faktor kunci kenapa Poster Cafe menjadi sangat penting. “Ada venue yang bisa jadi melting pot. Itu yang menurut gue hari ini susah.” Terang Bin, yang dulu ‘kenyang’ bermain di Poster Cafe bersama band-nya, Room V. “Venue yang reguler, seminggu sekali, bahkan dua kali, dan orang-orang yang datang kesana punya gairah sangat besar untuk merayakan apa yang mereka suka dan mereka punya. Mungkin hari ini, itu gak ada. Misalnya, hari Minggu besok lo mau kemana? Lo gak tahu. Di era Poster, hari Minggu pasti ke Poster.”

“Sebenarnya, dulu scene kita juga sporadis, tapi ada tempat kita bertemu. Ga ada sistem yang membangun, tapi seolah-olah ada.” Lanjut Bin. “Misalnya ada studio tempat nongkrong band Waiting Room. Gue gak nongkrong di situ. Jarang. Tapi kalau hari Minggu, gue ketemu anak-anak Waiting Room di Poster.” Selain itu, waktu penyelenggaraan konser menjadikan Poster Cafe sangat strategis. “Acara Poster mulai dari Minggu siang, atau Minggu sore. Jadi, anak SMA dan SMP bisa datang.” Terang Bin. “Beda dengan acara-acara sekarang. Mulainya malam, jam 8, itupun bisa ngaret.” Poster Cafe bukan satu-satunya venue yang terbuka bagi musik underground, memang. Namun dia adalah tempat yang bertahan paling lama.

Adanya percampuran antara ruang yang mengakomodir dan waktu yang strategis ini membuat interaksi di dalam scene semakin kencang. “Sebenarnya gak ada band yang gue tunggu-tunggu.” Ujar Edo Wallad, yang tampil di Poster Cafe bersama band-nya, Brown Sugar. “Yang gue tunggu adalah saat-saat ngumpul. Lo interaksi, ngobrol, bertukar pikiran, ngomongin musik, ngomongin gaya. Akhirnya semuanya jadi satu. Gak ada yang signifikan, menurut gue. Sama semuanya. Justru karena semuanya sama, gak ada yang istimewa dari scene itu. Maksud gue, gak ada yang di-istimewakan. Dari pertama datang sudah senang. Walau cuma main jadi band pembuka, itu gapapa. Udah rame dari awal.”

 

Poster salah satu acara di Poster Cafe, 1997. (dok: Istimewa)

 

Berbagai band mulai diasosiasikan sebagai ‘langganan’ tampil di Poster Cafe. Diantaranya adalah Getah, Brain The Machine, Dead Pits, Bloody Gore, Straight Answer, Frontside, RU Sucks, Fudge, Jun Fan Gung Foo, Chapter 69, Be Quiet, Bandempo, Kindergarten, RGB, Burning Inside, Sixtols, Looserz, HIV, Planet Bumi, Rumah Sakit, Fable, Jepit Rambut, Naif, Waiting Room, Toilet Sounds, Agus Sasongko & FSOP, Glue, Parklife, Pestolaer, dan masih banyak lagi.

“Dulu di Poster, ada band namanya Toilet. Cewek semua personilnya.” Kenang Eka. “Nama vokalisnya Bintang. Mereka bawain hardcore. Lalu ada band namanya Stepforward, band-nya Ricky Siahaan (sekarang gitaris Seringai). Mereka keren banget. Sangar, men! Dulu, di scene hardcore luar di New York atau Boston, gak ada vokalis cewek yang nyanyi growl sangar kayak gitu. Dan di Jakarta sudah ada duluan.” Edo sendiri mengaku bahwa dia malah tak terlalu terkesan dengan Pestolaer. “Lebih seru nonton Jellyfish, dan Submission, band-nya si Ondy. Mereka jarang main, tapi sekalinya main, berantakan banget. Gue sendiri gak mikir bahwa mereka mainnya berantakan. Tapi mereka dapet banget gaya hidupnya. Mereka bisa urakan banget.” Salah satu band lain yang ditunggu-tunggu olehnya adalah Glue, yang kini bereinkarnasi menjadi band pop. “Mereka gue tunggu-tunggu karena vokalisnya dulu, almarhum Ghany, karismatik banget. Mereka bawain Blur.”

Lucunya, satu karakteristik yang menarik dari era Poster Cafe – yang sebenarnya juga berlaku di kebanyakan scene sebelum mereka – adalah kecenderungan band-band di situ untuk lebih banyak memainkan lagu band idolanya, alias fokus pada cover version. “Pestolaer jadi Stone Roses, rebutan sama Rumah Sakit.” Ujar Edo. “Rumah Sakit kadang-kadang ngalah dan mainin Charlatans. Glue sama Parklife – yang akan jadi Club 80’s nantinya – rebutan mainin Blur. Band gue – Brown Sugar – bawain lagu-lagu Menswear sama Suede. Wondergel mainin Suede saja. Jellyfish bawainnya Lightning Seeds. Kalau Ondy sama Submission dulu bawainnya Jesus and Mary Chain. Dia advanced banget memang! Semua orang mainin pop, dia udah mainin Jesus and Mary Chain. Jadi masing-masing band sudah punya ‘jatah’-nya.”

 

Pamflet untuk beberapa acara, 1998. (dok: Istimewa)

 

Namun, ‘fase’ cover band itu bisa dianggap sebagai bagian dari perjalanan kreatif band itu saja. “Di era gue, lo bawain lagu orang dulu. Saat lo comfort, baru lo bikin lagu sendiri.” Jelas Taba. “Sekarang beda. Ada band-band baru yang sudah keluar dengan lagunya sendiri.”

 

Lagu Cover vs Lagu Sendiri

“Format dari ‘kompetisi’ kita adalah siapa yang bisa bikin lagu sendiri duluan.” Kata Eka. “Dulu kan semua band masih mainin lagu-lagu cover. Tapi kalau lo sudah bisa bikin lagu sendiri dan lo mainkan di atas panggung, ‘strata’ lo sudah lebih tinggi. ‘Kasta’ lo naik di antara band-band ini. Jadi kita berlomba-lomba bikin lagu sendiri, walau hasil akhirnya masih jiplak. Dari situ, natural progression-nya adalah kita tulis lebih banyak lagu dan bikin album. Karena saat kita lihat rute dari band-band idola kita, setelah bikin lagu sendiri mereka bikin album.” Band-band yang memiliki keberanian itu membangun identitas kreatif mereka secara perlahan-lahan. Berkaca pada tindakan dan perkembangan band-band idolanya di luar negeri, mereka menginterpretasikan metode itu dan menyesuaikannya dengan kondisi di sekitar.

Meskipun begitu, Edo menyangkal bahwa ada ‘kompetisi tak tertulis’ untuk menciptakan lagu sendiri. “Gak ada kompetisi sih, menurut gue. Cuma kalau lo berani sampai situ, artinya pikiran lo lebih maju dari yang lain. Kalau yang lainnya, niru aja sih, jadi cover band.” Terangnya. “Siapa yang berani bawain lagu sendiri di situ, mereka yang akhirnya jadi ngetop duluan. Naif udah bawain lagu sendiri. Rumah Sakit juga, dengan lagu 2000 Miles dan Hilang.”

Pestolaer sendiri menjadi salah satu band pertama dari scene Poster Cafe yang mengeluarkan album sendiri. Pada tahun 1994, Pestolaer merilis album self-titled, sebelum merilis album kedua, Jang Doeloe, pada tahun 1997. Band-band lain juga mulai berani memainkan lagu sendiri dan bereksperimen dengan menciptakan album sendiri. Namun, selain Pestolaer dan pengaruh band-band idolanya di luar negeri, terobosan dari band-band asal Bandung-lah yang justru jadi ‘pelecut’ bagi scene Poster Cafe.

PAS Band merilis EP Four Through The Sap pada 1994 melalui majalah Hai, dan scene Jakarta seperti terguncang. “Mereka jadi reference point.” Sebut Eka. “’Wah, PAS aja bisa rilis album sendiri.’ Akhirnya kita ikuti jalur mereka. Four Through The Sap itu album bersejarah, menurut gue, karena dari situ kita dapat contoh tentang cara membuat album.” Band indie pop asal Bandung, Pure Saturday, lantas menyebarkan albumnya melalui majalah Hai dan merilis video klip untuk single berjudul ‘Kosong’, sesuatu yang tak pernah terpikirkan oleh band-band underground era itu.

Ketika band hardcore Puppen ikut merilis EP berjudul Not a Pup, Eka berkorespondensi dengan Arian Arifin dan Robin Malau, dua personil Puppen, dan bertanya tentang cara-cara merilis album. “Gue tanya ke mereka. ‘Lo gandain kasetnya di mana?’ Kata mereka, ‘Di Tropic Records, di Bandung.’ Akhirnya kita cari studio rekaman yang budget friendly, dan kita nemu di RG Studio di Jalan Minangkabau, Manggarai. Itu studio pertama yang kita datangin. Studio dangdut, men! Mereka masih rekam pakai reel (pita). Jadi kita beli pita, harganya 300 ribu. Master penyanyi Dangdut mana, gue gak tahu, ditiban sama kita. Dari situ kita transfer ke DAT, dari situ ke kaset, sudah. Kita gandain di Tropic, di Bandung. Cover-nya yang ngerjain si Arian. Dari situ kita mulai rilis album.”

 

Rupa album dari Toilet Sounds (atas) dan Waiting Room (bawah) (dok: Hamni Susilo)

 

Eksposur dalam skala kecil dari arus utama mulai datang. “Kita rilis album di 1996, laku hampir 5.000 kopi menurut laporan, dan diliput media seperti Hai.” Kenang Eka. “Walaupun bego banget sih tulisannya, ngaco banget lah. Mereka gak ngerti. Tapi buat gue, kita sudah berhasil. Media mainstream mau nyamperin gue, beradaptasi dengan gue, untuk meliput scene gue. Dan kita punya pengaruh pada yang mendengarkan. Kita punya massa sendiri. Kode yang kita keluarin bisa direspon orang banyak. Setiap kali kita main, pasti ramai. ‘Keluarga gue sudah gede.’ Gitu rasanya.” Pestolaer dan Rumah Sakit pun menjadi dua nama yang terbilang cult pada masanya – tak pernah menjadi idola seluruh negeri, namun tetap dihormati. Sementara Rumah Sakit merilis album self-titled pada tahun 1997 yang kental dengan aroma Madchester dan Dream Pop, Pestolaer mulai didapuk sebagai band pembuka di konser beberapa band arus utama dan memainkan salah satu lagunya, ‘Colours’, dalam kameo singkat di film Kuldesak (1998) arahan sutradara Riri Riza.

Namun, terlepas dari eksposur-eksposur singkat itu, sebenarnya seluruh scene underground masih tak lepas dari namanya – dia ada di bawah tanah, tak terlihat apalagi dimengerti oleh arus utama. Sejak awal, berkibarnya scene bawah tanah – termasuk di Poster Cafe – didorong oleh rasa heran dan kemuakan kolektif para anak muda yang ada dalam scene tersebut. “Kualitas musik yang ada saat itu membuat kita makin kusut. Sedangkan, musik-musik underground dan indie yang mempunyai kualitas lebih baik secara musikalitas dan knowledge dipandang sebelah mata.” Ujar Ondy.

“Akhirnya YO pun menyatakan: "Let's start a war with mainstream." Fuck the system. Do it yourself. Inilah musik yang kami dengar dan kami mainkan. Ini musik yang baik dan benar, musik yang bukan hanya karbitan, bertahan 3-5 tahun. Tapi akan terus berkibar dan bertransformasi. Kami mendengarkan Nine Inch Nails dari single pertama mereka, jauh sebelum mereka punya full album. Tapi kami tahu, band Nine Inch Nails ini akan besar. Begitu juga dengan band-band lain yang kami dengar.”

Pemikiran seperti ini sangat relevan bagi banyak anak muda di era itu. Mereka muak dengan hiburan yang ada, namun apa alternatif yang ada? “Jaman itu juga belum ada musik indie yang muncul ke permukaan.” Jelas Edo. “Jadi, ada rasa persatuan juga di situ untuk ‘melawan’ mayoritas musik komersil. Eneg juga kan waktu itu setiap lo ke pensi SMA, semua orang bawain Toto, Dewa, Bon Jovi. Ada yang bawain Weezer saja sudah seneng banget. Pas ada tempat yang mengkhususkan untuk musik yang ‘beda’, pasti lebih senang lagi. Motivasi kita datang kesitu adalah mendapatkan hiburan yang kita mau. Kan gak mungkin Stone Roses datang ke Indonesia pada waktu itu. Gila, Stone Roses baru datang ke sini taun 2012. Blur juga. Ya sudah, kita nonton KW-nya aja! Hahaha.”

Experience-nya beda, lo dengar musik secara live dengan lo dengar di CD atau kaset.” Lanjutnya. “Gue datang ke situ karena gue mau menikmati musik. Menikmatinya dengan cara dia seharusnya dinikmati.”

“Band indie yang paling terlihat (dulu) adalah Pure Saturday, yang sempat masuk majalah Hai.” Jelas Bin. “Tapi tidak ada gelombang besar yang bisa lo jadikan percontohan. Karena memang kita tidak punya contoh. Kita sangat di pinggir. Contohnya sangat bawah sadar, tapi bukan referensi yang mencolok. Kita gak menemukan sesuatu di luar sana yang bisa kita jadikan pattern. Ga ada orang yang membuat lo merasa, ‘Gue mau mencontoh dia. Gue mau jadi seperti ini.’ Itu gak ada.

“Kita tidak punya konsep kesuksesan yang ingin diikuti. Kalaupun ada, kesuksesan yang tidak besar juga. Misalnya Pure Saturday tadi, dan Puppen yang kasetnya bisa dijual di toko kaset. Kesuksesan yang segitu-segitu saja. Kadang ada yang diminta jadi narasumber di majalah. Tapi kita bukan sesuatu yang bisa lo tonton setiap hari di TV.” Bagi Taba, keinginan untuk menjadi beda ini adalah kunci bagi generasinya – bahkan, generasi mana saja. “Dari revolusi punk rock, dari new wave, semuanya sama. Setannya sama. Anak muda ingin jadi berbeda.” Tukasnya. “Makanya lo pelajari psikologi antar generasi, dan lo akan paham. Anak muda itu pasti merasa harus berbeda, gak mau disamain. Dan berbeda itu bagus karena lo mudah dikenali. Tapi, akhirnya banyak yang jadi idealis hidup. Termasuk gue dan temen-temen gue. Kita mencoba hidup dengan idealisme kita masing-masing, dan itu gak gampang.”

Idealisme ini membuat mereka berseberangan dengan industri musik pada masa itu. Kebanyakan nama-nama di era Poster Cafe bersikap skeptis, bahkan benci terhadap musik arus utama dan industri musik secara umum. “Industri musik pada umumnya business generated. Tujuan mereka adalah menciptakan profit, duit.” Ujar Eka. “Kalau lo bikin musik lo, dengan selera lo, itu gak mungkin dijual. Lo harus bikin komoditas yang disukai pasar. Ya lo bikinlah musik seperti itu. Ada formulanya juga; harus pop, chorus-nya berapa kali, liriknya diulang berapa kali. Mood-nya harus sweet, harus ada melodinya. Memang begitu kalau lo mau ada di dalam arena-nya.”

 

Melawan Pasar

Bagi banyak generasi Poster Cafe, mengorbankan idealisme ini bukanlah hal yang bisa diterima. “Gue beberapa kali berhadapan dengan produser, dan gue lebih suka sendiri.” Ungkap Taba. “Gue bilang, ‘Lo gak kenal gue, lebih baik gak usah!’”

I’m not into that.” Lanjutnya. “Once gue jabat tangan dengan produser, gue punya beban moral dan target-target untuk menjadi profitable. Dan gue gak percaya diri dengan itu. I’ve been here for quite long, dan gue lihat dari kesiapan artis dan market-nya, gak akan gampang. Lo lihat sekarang; Berapa banyak band dari kita yang coba masuk ke major label dan gagal? Gue gak usah sebut nama, tapi lo sudah ‘denger’ cerita-ceritanya. Sampai sekarang belum ada yang sukses. Kecuali lo memang atur dari awal untuk besar – kayak Nidji. Atau Wali dengan kesederhanaannya. Itu kan setting. Sementara, anak-anak underground keras kepala semua!”

“Kita enjoy saja.” Ujar Bin. “Mungkin itu berdampak. Rasanya berbeda dengan kalau lo menonton band yang lo anggap sukses di televisi, pensi, atau semacamnya. Band yang sukses, ada penghasilan, atau apapun itu. Gairahnya jadi beda. Motivasi band-band arus utama itu berbeda. Mereka ingin dikenal, bukan ingin mengekspresikan diri. Secara manusiawi, motivasi mereka jadi berbeda.

“Saat itu, kalaupun ada motivasi ingin dikenal, idola kita bukan band-band seperti itu. Idola kita band-band luar.” Lanjutnya. “Misalnya lo melihat sebuah band yang tampil di TV, era-era Poster ke atas. Lo ga mau jadi dia! Ngerti gak maksudnya? Kalau gue nonton TV, gue bisa suka musiknya, tapi gue gak mau jadi dia. Misalnya gue nonton Kla Project main di TV. Gue merasa, ‘Tapi gue gak mau jadi Kla Project! Gue underground!’ Pemikiran itu ada. Akhirnya, perasaan masa bodoh kita gede. Jawaban gue mungkin tidak bisa digeneralisasikan dengan anak-anak yang lain, tapi gue rasa itu dominan. ‘Cita-cita tertinggi lo apa, sih?’ Pemikiran itu membuat orang-orang jadi lebih lepas, menurut gue.”

Perasaan bahwa mereka sama-sama berada ‘di pinggir’ ini membuat scene tersebut lebih dekat. “Tanpa diomongin, solidaritas itu ada. Tidak diekspresikan secara verbal, cuma terasa.” Kenang Bin. “Menurut gue, walaupun waktu itu band-nya cuma band cover, tapi secara gaya hidup, mereka melakukan apa yang benar-benar filosofi dari band itu.” Terang Edo. “Kalau sekarang, filosofinya gak dijalankan. Main musik, oke. Bikin lagu sendiri, oke. Tapi filosofinya dijalanin, gak?”

“Waktu itu, kelakuan semua orang sudah pol. Legendaris!” sebut Edo. “Gue gak tahu kenapa mereka bisa berani. Mungkin karena masih sedikit yang kayak gitu. Jadi pengen stand out aja. Gue juga pernah juga melakukan tindakan-tindakan yang tidak senonoh. Sebenarnya sama saja sih sampai sekarang. Cuma, mungkin sekarang bisa melakukannya dengan lebih subtle dan gak kelihatan. Kalau dulu, lo malah pengen nunjukkin ke orang.”

Meski mereka ada di ‘pinggiran’ dan tak banyak diacuhkan – bahkan diolok-olok – oleh arus utama, mereka tak peduli. “Menurut gue, setiap panggung itu momen penting.” Ujar Eka, berapi-api. “Kalau di Voila, di Blackhole, setiap kali gue lihat Submission dan Pestolaer main, gue kebakar. Anjing, mereka bisa begini. Ekstrim! Dandanannya juga ekstrim. Rambutnya mohawk, manggung liar, dan mereka gak peduli lo suka atau gak, yang penting ekspresinya keluar. Dan gue merasa seperti gue ingin sekali ada di tempat dia. Lo bisa membawa emosi lo ke tingkatan ekstrim dan diapresiasi teman-teman lo. Gak perlu di tempat yang gede, yang penting teman-teman lo bisa relate dengan lo. Itu keren banget.

“Di Poster, gue ada di level itu dengan Waiting Room. Gue agak lupa nama acaranya apa. Waktu itu gue bawain lagu-lagu kesukaan kita. Dan Poster itu gede, men. Segede dua kali lapangan basket. Dan bentuknya simpel, cuma kotak. Ada poster di pinggir, tempat duduk, dan di depan ada panggung. Bentuknya memang hall, sebesar dua kali lapangan voli atau lapangan basket. Dan dari panggung gue melihat dari depan sampai ujung belakang, semua orang joget. Buat gue, ‘Anjing, keren nih!’ Gue merasa sudah membuat mark yang besar di generasi gue.”

“Gue ingat sekali gue manggung pakai baju tidur. Dan gue tidur langsung pakai baju itu!” kenang Taba. “Itu di era Poster. Jadi, pas gue sedang mengenalkan musik indie, kebetulan hardcore juga sedang dikenalin oleh Waiting Room dkk. Gue ngebawa indie. Gue bawa fashion – album kedua gue indie pop, album pertama gue indie rock. Semua ada konsepnya.

Di album kedua, gue sengaja mengusung baju, dresscode, rambut, segala macam. Waktu itu gue bingung – gue suka pakai kulit tapi gue mau pakai piyama. Gue beli piyama satu set warna merah. Gue pakai sepatu Vans, gue pakai jaket bulu-bulu – walaupun panas di Jakarta, yang penting gaya. Manggung, pulang, tidur, asli gue pakai baju itu! Cuma itu gue pakai di acara underground saja. Itu yang menurut gue termasuk fenomenal.”

Komitmen tinggi pada cara menikmati dan mendalami sebuah musik ini sangat berkesan bagi Edo. “Ketika lo main di scene itu lo benar-benar dress up. Saat datang ke acara, ada terminologi ‘anak acara’. Karena saat lo datang ke acara itu, lo benar-benar dress up.” Kata Edo. “Kalau lo anak indie, lo pakai rambut poni lempar, pakai kaus ringer, pakai Adidas. Anak ska nih, celana kotak-kotak, bawa koper. Tapi itu memang ditunjukkan sebagai identitas. Ketika lo datang ke acara live mereka, lo joget keramas. Gak cuma diem, ngangguk-ngangguk doang.

“Kalau anak ska, nari pogo sampai habis! Kalau anak punk; rusuh! Kayak gitu nikmatinya. Benar-benar pol. Kalau ada satu band yang manggung, dan lo suka, lo tinggal rangkul orang yang di samping lo, entah siapa. Dia langsung angkat. Langsung crowdsurfing! Udah, lo jatuh deh ke belakang. Di belakang lo bengong, ngapain gue ke sini? Hahahaha. Kalau yang di depan, didorong-dorong sama penjaganya.

“Dan cewek-ceweknya kece-kece!” bisik Edo sambil tertawa-tawa. “Ya mau ngapain lagi? Teenage angst kan lagi cari-cari bahan coli.”

 

“Letupan Energi Remaja”

Teenage angst. Istilah yang menjadi poros tempat seluruh narasi mengenai Poster Cafe berkeliling. Taba sendiri lebih setuju saat saya menyebutnya sebagai ‘letupan energi remaja’. “Bisa dibilang, Poster Cafe itu Ka’bah-nya kenakalan remaja.” Ujar Edo. “Lo baru 19 tahun, dan lo bisa melakukan apa saja di situ.” Bagi para anak-anak pinggiran ini, Poster Cafe tak hanya menjadi tempat di mana mereka bisa menemukan hiburan musik alternatif. Sisi-sisi lain dari subkultur bawah tanah dan kenakalan remaja juga marak di Poster Cafe. “Transaksi-transaksi haram yang berkaitan dengan aksesoris underground ada di sana.” Ujar Taba. “Narkotika, perempuan, suka sama suka. Di jaman gue – dan bahkan sampai sekarang – musik dan drugs itu lingkaran setan.” Dari perempuan, narkoba, miras, rokok, hingga baku hantam, Poster Cafe jadi saksi bisu riuh rendahnya dunia bawah tanah Jakarta.

 

Still dari Trainspotting (1996). Film ikonik karya Danny Boyle ini dikenal karena soundtrack-nya yang eklektik, dan plot-nya yang mengekspos subkultur narkoba Britania Raya. "Setelah Trainspotting, banyak yang ingin mengikuti. 'Wah, keren ya mabok gitu!'" ujar Edo. (dok: Istimewa)

 

“Mungkin karena tahun 90’an itu identik dengan drugs, akhirnya dijalani semuanya.” Kenang Edo. “Banyak juga yang meninggal karena narkoba pada waktu itu. Jadi benar-benar dijalanin semua. Dari fashion, main cewek, semuanya dijalanin. Jaman itu benar-benar sex, drugs, and rock and roll. Lo mungkin bisa lihat orang ngewe di dalam WC. Di dalam WC lo bisa lihat orang transaksi, beli drugs. Itu biasa saja. Kalau sekarang mungkin takut kali, ya?”

“Karena masih muda dan gak mikir dua kali, mungkin ya.” Lanjutnya. “Cuma ngeri-nya Poster adalah... seperti gue bilang tadi, lo menikmati musik dengan cara bagaimana musik seharusnya dinikmati. Akhirnya, banyak yang tersesat. Karena lo saking look up to your idol, kalau misalnya lo mengidolakan Suede, lo jadi mikir, ‘Suede kan pakai drugs, ya kita pakai juga. Nikmatinnya harus gini nih!’ Menurut gue itu adalah salah satu sisi jelek dan – di sisi lainnya – memang kayak gitu dulu.” Dalam Poster Cafe, nyaris tidak ada peraturan. Tergantung cara anda melihatnya, tempat itu bisa disebut surga dunia atau sentra dekadensi masa muda. Bagi banyak anak muda masa itu yang frustasi dengan minimnya pilihan musik dan memiliki keinginan besar untuk memberontak melawan sistem, Poster Cafe menjadi oase.

Pada akhirnya, justru kecenderungan-kecenderungan di dalam scene itulah yang menghentikan mereka. “Yang mematikan scene adalah para scenester itu sendiri.” Keluh Edo, menggelengkan kepalanya. Polanya, menurut Edo, sama di semua venue-venue independen, baik dulu maupun sekarang, baik di Indonesia maupun di luar negeri. Penonton datang mengharapkan event murah, dan tak membeli minuman di dalam venue. Poster Cafe mulai mengalami kesulitan finansial, dan lama kelamaan tak mampu menopang konser-konser underground lagi. Narkoba yang dianggap ‘sepaket’ sebagai bagian dari subkultur dan gaya hidup alternatif juga terus memakan korban.

Edo mengaku bahwa dia ‘melewatkan’ satu tahun terakhir Poster Cafe. Satu per satu personil Brown Sugar, bandnya, dikirim ke panti rehabilitasi atau pesantren setelah kecanduan narkoba mereka lepas kendali. Eka Annash keluar dari Waiting Room setelah dia diterima kuliah jurusan Seni Murni di Australia. Pestolaer memutuskan berhenti pada 1999 karena kesibukan akademis dan tuntutan hidup masing-masing personil. Band-band beraliran Ska, yang juga meramaikan Poster Cafe, mulai dilirik arus utama dan menghasilkan musik-musik Ska yang sukses di pasaran namun, bagi Eka, terbilang “lacur” dan “diadaptasi secara ngaco.” Seperti idola-idola mereka di scene Madchester dan Britpop di luar negeri, generasi Poster Cafe mulai ditumbangkan oleh kombinasi uang, narkoba, realita kehidupan, dan keliaran mereka sendiri.

Titik puncaknya datang pada 10 Maret 1999. Sebuah konser punk bernama “Subnormal Revolution” berakhir dengan kericuhan. Para scenester Poster Cafe bentrok dengan warga sekitar. Beberapa mobil terbakar, dan aparat terpaksa turun dan mengintervensi. Namun, Taba menolak untuk menyebut bahwa kerusuhan ini adalah satu-satunya faktor yang membubarkan scene Poster Cafe. “Poster itu ketutup karena mungkin dari segi bisnis sudah gak bagus.” Tukasnya. “Lebih baik lo mengangkat itu, menurut gue. Kebanyakan orang giting di luar, gak beli makanan dan minuman di dalam, masuk tiketnya gratis. Sesimpel itu.”

Teori bahwa Poster Cafe ditutup hanya karena satu kerusuhan tak terlalu masuk akal baginya. “Sebelumnya, kerusuhan sudah sering.” Sanggahnya. “Anak hardcore dari Bandung dan Jakarta ribut di situ, pernah. Coba lo teliti lagi, Poster ketutup karena itu tempat narkotik bukan? Baru tahu fakta ini? Cari tahu lah. Kamar mandi itu tempat buat apa? Karena semakin jorok, teman-teman gue gak tinggal diam.”

“Gue miris.” Lanjut Taba. “Bukannya gue sok bersih. Lo mau ngapain aja di luar terserah, tapi ini tempat yang gue buka. Dan sori aja, tempat ini sudah gak kondusif. Kalau dulu, kita main di situ dan kita juga ngejaga. Karena teman-teman gue percaya sama gue, akhirnya kita jaga. Walaupun kita rusuh, kita kembalikan kepercayaan. Sedangkan ada pihak-pihak lain yang gak bisa kembalikan kepercayaan itu. Paham gak maksud gue?”

Terlepas dari alasan di balik bubarnya scene Poster Cafe, era tersebut tetap berkesan bagi orang-orang yang mendatanginya. “Kalau gue disuruh inget Poster, gue rada-rada samar.” Kata Edo. “Gue ngerasa, ‘Itu beneran ada gak sih? Gue beneran datang gak sih?’ Kayak mimpi yang gak mau lo lupain. Karena, menurut gue yang kita inget cuma ‘Itu asik!’ Lo gak ingat secara detil.” Apakah tempat ini jadi mengasyikkan karena ruang pinggiran ini begitu beda dari dunia di luar? “Orang-orang dari generasi gue gak mikir sejauh itu juga.” Jawab Edo sambil tertawa. “Karena bego aja waktu itu. Memang gak ada pikirannya juga.”

“Lo datang ke daerah sini, dan lo tahu bagaimana keadaannya. Lo ke situ 5 kali, lo lebih menguasai tempat ini dan sudah merasa terbiasa. Lo akan merasa, ‘I know this place.’” Ujar Taba, mengumpamakan. “Kalau lo gue kasih 100 ribu, lo berangkat ke daerah sekitar rumah lo, lo bakal merasa itu dunia lo. Tapi kalau gue kasih lo 100 ribu dan gue suruh lo ke Bogor, dan itu pertama kalinya lo ke sana, lo bakal bingung walaupun sebenarnya dengan 100 ribu, lo sudah bisa sampai ke situ dan lo sudah aman. Kali pertama tempat itu menyentuh hidup lo gak akan lo lupakan. Paham? Masuk di akal kan?

“Bagi teman-teman waktu itu, banyak anak-anak yang ‘ternodai’ di Poster. Lo gak tahu karena lo gak ada di situ. Buat anak-anak Bandung, semua sejarah dan template yang mereka buat itu something. Buat gue, biasa aja! Mungkin karena mereka ‘ternodai’ di sana.” Perasaan ‘syok’ dan novelty saat memasuki ruang yang jauh berbeda dari keseharian menjadi kunci.

“Kita yang bangun di Poster. So, bagi gue itu biasa saja.” Terang Taba. “Tapi bagi orang yang pertama kali datang, masih SMA dan diajak ke Poster. Dia lihat di situ orang ngerokok bebas, itu seperti melihat surga. Dua bulan, akhirnya K.O. Banyak itu! Dan lo bisa bilang mereka akan lupa? Gak akan pernah. Seumur hidupnya, gak akan pernah lupa.”

Bin Harlan jelas tak akan pernah lupa. Selama di Poster Cafe, bandnya – Room V – dikenal sebagai jagoan mereka ulang lagu-lagu The Cure. “Ketika kita bertemu band lain yang berbeda arah dengan kita, kerasa sekali kalau mereka beda ‘planet’, dan itu menarik.” Terang Bin.

“Satu hal yang spesial dari Poster Cafe adalah, tempat itu gak cuma lintas genre.” Ujar Karib dalam sebuah perbincangan. “Orang dari strata sosial dan kelas berbeda-beda campur jadi satu di situ.” Penilaian Bin senada. “Poster Cafe itu gak eksklusif. Semua orang Jakarta, semua genre ada di situ.

“Bukan berarti acara cuma ada di Poster.” Ujar Bin, memberi klarifikasi. “Bisa saja hari itu ada acara di Poster dan di Jayabaya, di Harley Davidson Cafe, di pensi. Jadi hidup banget, festive. Gue gak bisa bilang semuanya gak ada yang berambisi jadi rockstar, tapi mereka semua ekspresif. Itu pasti. Kalau lo gak suka sekali dengan musik, lo gak akan ada di situ. Jadi semua orang yang ada di situ gila musik. Setidaknya, gila musik jenis itu. Hidup, dong, kalau semua orang seperti itu? Kalau semua orang yang datang tujuannya sama? Mungkin mereka tidak sama persis, tapi mereka serupa.”

Pasca bubarnya Poster Cafe, scene musik di Jakarta kembali mengalami desentralisasi. Lokasi-lokasi baru bermunculan di seantero Jakarta. Diantaranya adalah Cafe Kupu-Kupu di Bulungan yang banyak disambangi scene Ska, Pondok Indah Waterpark, GM 2000 Cafe dan Cafe Gueni di Cikini yang disukai anak-anak Britpop dan Indie Pop, serta Parkit De Javu Club di Menteng yang sering mengadakan konser punk/hardcore dan indie pop. Salah satu venue yang paling banyak dikenang di era transisi ini adalah Nirvana Cafe, di mana grup hardcore legendaris Puppen mengadakan konser perpisahan pada 2002.

Namun, semuanya tak memiliki dampak serupa dengan Poster Cafe. “Memang susah, karena musik-musik seperti ini sangat segmented. Gak setiap acara bakal penuh.” Jelas Eka. “Kalau lo di tempat dugem, ada alkohol, lo disediakan inex, ya bakal rame terus. Cuma acara band-band seperti ini gak konstan. Jadi saat tempatnya tutup, susah untuk lanjut lagi. Scene-nya sudah pecah lagi. Ruang interaksi itu sudah gak ada lagi.” Jakarta seperti ‘mati suri’ sejenak. Ruang interaksi itu baru terbangun lagi di BB’s Bar, lebih dari 3 tahun kemudian.

Lantas, apa yang diwariskan oleh Poster Cafe? “Poster itu ajang melting pot.” Kata Bin. “Poster itu pertemuan berbagai tongkrongan di Jakarta. Buat gue, Poster adalah venue pertama sebesar itu yang membuat semua orang berkumpul di situ. Punk, hardcore, indie, elektronik, dan segala macam (musik) ada di Poster. Masa itu memudahkan kita untuk mengenal berbagai tongkrongan.” Eka setuju dengan pernyataan ini. “Kalau dibilang melting pot, memang iya. Dan itu yang kita cari. Tempat untuk tampil, tempat untuk kumpul-kumpul, untuk nunjukkin kalau gue punya band. Kita memang mengejar tempat di mana ada komunikasi dan apresiasi itu.”

“Boleh juga disebut melting pot.” Balas Edo. “Tapi gue lebih setuju kalau Poster disebut sebagai semacam ‘kawah candradimuka’ untuk band-band indie. Karena dari situ banyak yang akhirnya jadi band-band penting di dunia indie kayak Naif, Rumahsakit, Parklife yang jadi Club 80’s, Wondergel, dan Pestolaer. Sama dulu ada band namanya Jepit Rambut. Mereka lumayan ditunggu karena personilnya kece-kece. Gue lebih setuju Poster disebut sebagai cikal bakalnya orang-orang yang sekarang jadi penting di scene musik indie.” Pertemanan, koneksi, dan pengalaman bersama yang terjadi di Poster Cafe akan berperan penting dalam perkembangan scene independen di Jakarta di masa depan.

“Lo lihat anak-anak muda di sekeliling lo sekarang ini. Anak muda yang ada di luar sana.” Tukas Ondy. “Lihat musik, scene, dan style mereka sekarang. Khususnya anak-anak indie underground. Itu warisan dari Poster Cafe.” Ibaratnya, Poster Cafe adalah titik di mana ‘jalur’ untuk musik indie pertama kali dipetakan.

“Sempat gue ditanya, kenapa gue pindah dari punk jadi indie. Gue bilang, ‘Lo mau tahu anarki? Gak perlu ada tato. Itu adanya di sini.’” Kata Taba, sambil menunjuk ke dadanya. “Dia ngelihatin gue aja, akhirnya dia setuju dan jalan sama gue.

“Ini susah dijelaskan karena mereka gak tahu apa yang ada di pikiran gue. Komunitas ini sudah cukup matang, sudah berkembang. Indie belum ada di Jakarta. Jadi kenapa gak gue aja yang mulai? Walaupun waktu turun, kita ribut. Tapi saat itu akhirnya terbentuk juga komunitas indie, di IKJ terutama. Karena setiap ada acara di IKJ, gue pasti ada di situ. Bakar-bakaran, berapa tahun kita jadi pengunjung dan pengisi tetap di sana.

“Dan itu dulu, sekarang kita sudah gak penting. Karena sekarang beda lagi momennya. Ada Jimi Multhazam, ada Eka. Mereka yang mengukir prestasi sekarang. Gue sudah past. Gue cuma mau buat something to remember saja. Simple as that.”

 

Setelah Poster Cafe

“Mungkin dulu kayak gini ya di Poster Cafe,” komentar Zaka.

Saya hanya mengangguk. Kami tengah menghadiri konser kecil-kecilan yang diadakan oleh Young Offender di salah satu kafe di Jakarta Selatan. Saya sempat mengobrol dengan Ondy sebelum acara dimulai. “Gak capek bikin acara, bang?” Dia hanya tertawa. “Gue masih pengen muda,” jawabnya. “Kita belum habis.”

Lantas lagu dimulai. Kami kenal hentakan drum itu. Kami kenal kebisingan itu. Band itu mulai bergaya menyambut desau gitar dan bass, dan riuh rendah tepuk tangan penonton. Penyanyi itu berdiri dan berjingkat-jingkat di bibir panggung. Para penonton mulai bernyanyi mengiringinya. Bau alkohol bercampur rokok dan bau badan menyeruak ke mana-mana. Saya mulai melompat, dan Zaka menyenggol saya, seperti ingin menciptakan moshpit pribadi. Kami tertawa-tawa di depan meja soundman yang khusyuk memainkan kenop dan tombol-tombol. Ketika reff lagu itu datang, kami tak bisa menahan diri dan ikut bernyanyi.

I... want to be.. anarchy!!!

 

Tags: