Latest Post

Koma Luna

Berawal biasa. Dari sisa-sisa menuju curam penuh curang. Dan tidak pernah ingin melihat ke bawah. Sosok lain ini selalu melihat ke atas pada satu titik besar melingkar. Penuh bintik seperti nenek sihir. Semenjak itu tidak berani kembali berdurja melalui kata.

Penuh bicara sembari bersila. Tidak mau mendekati satu-satu atau dua-dua di antara nyata dan makna. Pembodohan dalam sudut 45. Semakin kecil, semakin sempit. Semakin pula dalam ke-semakin-an. Di sini hanya banyak ranting dan akar saja. Bahkan sebentar lagi akan ada banyak warna merah. Mungkin.

Maka, diharuskan pulang karena tak akan setara lagi. Evolusi kebedebahan ini meski tanpa mantra tidak lagi mampu menjamin untuk kembali menjadi seekor orang. Terus saja koma ini menghelakan nafas. Nafas-nafas haus akan warna merah murni di bawah terang.

Mata-mata itu, selalu ada pengulangan. Pengulangan di balik batangan coklat rapuh menerawang di belakang punggung. Kelam, muram dan tentu curam seperti curang yang pernah mata-mata lakukan. Pernah, ratusan warna aluminium menembus setiap bagian elastisitas diri. Sebut saja pemutilasian massal.

Lalu, pura-puranya membangkai. Saat sepi, kembali berkeliling ke batang satu hingga ribuan batang lain. Tetap saja yang menyapa hanya redup beserta degup bergetar gugup. Hingga koma kembali menghampiri di bawah lantunan desah malam.

Beberapa abad lamanya batang-batang bergema. Berbisik agar bangun mencari titik di antara seru alam yang cemburu. Lelah terus diburu jadi kamuflase bersama etalase dibentuk nisan dan selalu dihadiahi mantra setiap malam. Seolah harus tetap bertahan sendiri(an).

Bulan menjiwai jiwa-jiwa berirama durga

Di batu curam bermuram lebam

Menuliskan nama Luna sebagai tokoh drama

Di kiri menara dunia 

Masuk surga pun penyisaan sia-sia 

Di akar, ranting, dan batang sudah neraka

Kapan ada yang akan turun segera dari angkasa?

Akhiri kepemilikan raga non makna (masih koma)