Latest Post

Lucky Dube dan Afrika yang Resah

Tersangka tidak menunjukkan belas kasihan pada korban. Maka dari itu, sulit bagi Pengadilan untuk menunjukkan belas kasihan pada mereka.”

Palu diketuk, dan ketiga pria itu digiring polisi keluar dari ruang pengadilan. Teriakan setuju dan umpatan meluncur deras dari para hadirin. Di pojok ruangan, Thokozani Dube menangis. “Saya merasa puas,” ungkapnya pada kerumunan wartawan yang menunggu di luar. “Akhirnya semua selesai.” Sementara itu, Sifiso Mhlanga merunduk. Adalah jemarinya yang menarik pelatuk pistol, dan membunuh ayah Thokozani. Beserta komplotannya, ia menyergap sebuah mobil Chrysler di kawasan Rosettenville, kota Johannesburg, Afrika Selatan. Mereka hendak menjambret pengemudi mobil itu dan mencuri mobilnya. “Orang Nigeria itu tidak mau menyerahkan mobilnya.” Terang Mhlanga. “Artinya, ada uang di mobil itu.” Peluru ditembakkan, dan pengemudi mobil itu gugur.

Namun, dugaan Mhlanga salah. Pengemudi mobil itu bukan sekedar supir Nigeria yang tak beruntung. Pada 18 Oktober 2007, Sifiso Mhlanga dan komplotannya membunuh bintang reggae paling tenar di Afrika. Mereka telah membunuh Lucky Dube.

 

****

Sejarah Afrika Selatan adalah sejarah kelam pemisahan dan darah.

Pada tahun 1980’an, Afrika Selatan adalah negara yang terpecah belah sepenuhnya. Kolonialisme dan imigrasi besar-besaran ke ujung selatan benua hitam ini telah melahirkan masyarakat yang beragam. Di Afrika Selatan, penduduk kulit putih keturunan Eropa yang menyebut dirinya Afrikaner bertemu dengan imigran asal Asia – utamanya India dan Jepang – serta penduduk lokal yang berkulit hitam. Namun, pertemuan mereka tak berjalan mulus. Warisan rasisme dari pemerintahan kolonial serta perebutan kue kekuasaan politik berujung pada didirikannya pemerintahan Apartheid pada 1948. Apartheid, dalam bahasa Afrikaans, memiliki arti yang sederhana dan gamblang: “Keterpisahan.”

Berangkat dari ide rasisme ilmiah, – usaha absurd untuk mencari-cari dasar ilmiah bagi kebencian dan ide superioritas ras – prinsip Apartheid beranggapan bahwa pada hakikatnya, manusia dari ras berbeda semestinya pun di-‘bedakan’. Kuncinya di sini adalah pemilihan istilah Apartheid itu sendiri. Demi kesejahteraan masing-masing, ras-ras berbeda di Afrika Selatan harus dipisahkan dan didorong untuk berkembang secara terpisah.

Namun, pada penerapannya kebijakan ini berujung pada ketimpangan ekonomi, rasisme terbuka, kebencian antar kelas dan ras, serta perebutan lahan tempat tinggal dan ruang publik. Para Afrikaner kulit putih jadi kelas yang dominan di Afrika Selatan. Perkampungan yang tadinya dihuni penduduk lintas ras dipisah secara paksa. Kulit hitam hanya boleh tinggal di kampung kulit hitam, lebih tepatnya di Township dan “daerah hitam” yang tak nyaman, terpencil, dan miskin sumber daya alam serta infrastruktur.

Pergaulan dan perkawinan antar ras dilarang. Pantai, bangku taman, hingga taman dan toilet umum dipisah berdasarkan ras. Semua penduduk di atas usia 18 tahun diminta membawa kartu identitas yang mencatat rasnya. Komite-komite khusus dibentuk untuk menentukan klasifikasi ras masing-masing penduduk. Begitu banyak keluarga dari ras campuran terpisah saat anggota keluarga mereka sendiri dianggap beda ras, sehingga diwajibkan tinggal di daerah berbeda.

Di tengah riuh rendah Apartheid, muncul seseorang bernama Lucky Dube. Pada tahun 1986, musisi lokal ini merilis mini-album reggae berjudul Rastas Never Die. Dan album itu gagal total.

 


“Kami tidak mendapat pendidikan yang baik. Kami tidak boleh pergi ke daerah tertentu pada waktu tertentu, karena hanya orang kulit putih yang boleh ke sana.” 


 

Penggemar setianya bingung. Labelnya marah. Dube sendiri tidak keberatan. Ia adalah musisi yang relatif sukses, dan dikenal sebagai musisi mbaqanga – aliran musik lokal yang terpengaruh musik tradisional Afrika. Labelnya ingin ia bertahan dengan gaya mbaqanga tersebut, yang telah menelurkan 5 album populer. Namun, Dube melihat jalan lain. Bersama rekan barunya, sang sound engineer handal Dave Segal, ia nekat ingin memainkan musik reggae yang sebelumnya tak pernah benar-benar diperhitungkan di kancah musik Afrika Selatan.

Lucky Dube lahir dari keluarga miskin pada 1964 di peternakan Ermelo, Afrika Selatan. Ketika masih muda, alih-alih bersekolah, ia bekerja di taman-taman milik penduduk kulit putih untuk menyambung hidup. Bertekad ingin mendapat pekerjaan yang lebih layak, Dube muda memilih bersekolah. Di sanalah kecintaannya pada musik berkembang. Ia jadi pemimpin koor sekolah, dan mulai bermain band bersama teman-temannya. Pada 1982, sepupunya yang bekerja di label musik terbesar Afrika Selatan, Richard Siluma, mengajak Dube bergabung di band-nya, The Love Brothers. Memainkan musik tradisional mbaqanga dengan Dube sebagai penyanyi, band ini perlahan-lahan melejit.

Namun, hidup Dube tidak semulus itu. Sebagai orang kulit hitam, Dube ikut jadi korban penindasan Apartheid. “Tumbuh besar di era Apartheid itu menyedihkan,” kenang Dube. “Kami tidak mendapat pendidikan yang baik. Kami tidak boleh pergi ke daerah tertentu pada waktu tertentu, karena hanya orang kulit putih yang boleh ke sana.” Dube mencari ajang untuk menyuarakan ketidakpuasannya terhadap sistem Apartheid. Dan ia menemukannya dalam musik reggae.

“(Musik) apapun yang bicara soal opresi tidak disukai pemerintah,” ucap Dube. “Jika anda bicara soal opresi di musik anda, pemerintah akan membungkam anda.” Reggae, yang dikenal dengan pesan politik di lagu-lagu Bob Marley dan Peter Tosh, masuk dalam kategori ini. “Karena pesan yang ia bawa, reggae dianggap ancaman.” Lanjut Dube. Album reggae pertama-nya, Rastas Never Die, akhirnya disensor oleh pemerintah dan hanya terjual 4,000 kopi, angka yang termasuk kecil bagi selebritis macam Dube.

“Musik reggae yang boleh masuk ke Afrika Selatan cuma lagu-lagu cinta dari Jimmy Cliff.” Jelas Dube. “Ia tidak se-militan artis reggae lain seperti Marley atau Tosh. Mungkin karena itulah pemerintah masih menolerir Cliff.” Sementara itu, Dube yang masih muda hanya bisa mendengar musik Bob Marley dan Peter Tosh melalui piringan hitam selundupan dari negeri tetangga, Rhodesia dan Swaziland.

 


The policeman said to me, ‘Son, they won’t build no schools anymore. All they’ll build will be prison, prison.”


 

Usai gagalnya mini-album Rastas Never Die, Dube perlahan-lahan menambahkan lagu-lagu reggae di konsernya. Penonton pun mulai terbiasa dengan musik gaya baru ini. Pada tahun 1985, Dube merilis album reggae kedua-nya, Think About The Children. Di luar dugaan, album ini sukses besar. Dua tahun kemudian, album Slave terjual 500,000 keping di seluruh dunia, angka yang fantastis bagi sang selebritis lokal. Mendadak, semua orang di Afrika Selatan tahu siapa itu Lucky Dube.

Sejatinya, musik Dube tidak banyak mendobrak ambang batas artistik. Ia memainkan reggae yang sederhana, rancak, dan tak banyak basa-basi. Liriknya tak banyak bermain-main dengan kiasan dan permainan kata yang membingungkan. Kata-kata Dube sangat sederhana, langsung, dan berakar dari pengalaman dan observasinya sehari-hari. Mulai dari kritik Dube pada budaya alkoholisme dan pemujaan ganja di subkultur reggae (Dube dikenal tidak mau menyentuh alkohol dan narkoba sepanjang hidupnya), hingga sindiran pada pemerintah dan polisi, lirik lagunya mengena pada kebencian publik yang semakin mengkristal pada pemerintahan Apartheid.

Pada 1988, Dube merilis salah satu lagunya yang paling penting, Together As One. “Pesan di lagu itu kuat,” ujar Dube. “Untuk pertama kalinya, saya benar-benar bicara terus terang (tentang Apartheid). Resikonya, album itu bisa disensor. Bahkan, saya bisa ditangkap atau dibunuh pemerintah.”

Lagu itu dirilis pada saat yang tepat. Perlawanan terhadap Apartheid, baik perlawanan informal dari publik maupun gerakan bawah tanah dari grup politik oposisi African National Congress (ANC), semakin mendesak pemerintah Afrika Selatan untuk berkompromi. Pada 1985, Presiden P.W Botha setuju untuk melepas Nelson Mandela, ikon pergerakan anti-Apartheid yang telah dipenjara selama 2 dekade lebih, bila Mandela setuju untuk bergabung dan mengkritik kekerasan anti pemerintah dan pergerakan anti-Apartheid.

Balasan Mandela mengguncang dunia: Kekerasan ini sepenuhnya salah pemerintah Apartheid, bukan publik, dan kedamaian hanya akan hadir melalui demokrasi. Tekanan publik dan komunitas internasional semakin tinggi. Di bawah tekanan ini, Presiden Botha melonggarkan beberapa peraturan Apartheid. Berbicara pada konstituen kulit putihnya yang marah, Botha melontarkan pernyataan sederhana: “Adapt or die.”

Together As One adalah lagu pertama dari saya yang dimainkan di stasiun radio kulit putih.” Tutur Dube. “Sebelumnya, mereka tak akan mau memasang lagu yang menyebut Apartheid, apalagi mengkritiknya.” Untuk pertama kalinya, radio kulit putih di Afrika Selatan berani memainkan musik yang secara terbuka dan lantang mengkritik Apartheid. “Lagu itu mendobrak banyak batas bagi saya (sebagai orang kulit hitam) dan reggae di Afrika Selatan.”

Pesan lagu itu sederhana. “Too many people hate Apartheid, why do you like it? Hey you Rasta man, Hey European, Indan Man, we gotta come together as one!” Memang mencengangkan bahwa lagu selancang ini bisa dimainkan di radio kulit putih, bahkan sukses di Afrika Selatan. “The cats and the dogs have forgiven each other, what is wrong with us?” lanjut Dube. “All these years fighting each other, but no solution.” Lagu itu tidak hanya jadi satu lagi lagu sukses dalam repertoar Dube. Together As One mengukuhkan posisi Lucky Dube sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap Apartheid dan persatuan ras di Afrika Selatan.

Sejak Together As One, pesan politik Dube semakin kuat. Album dan lagu Prisoner (1989) ikut mengkritik secara gamblang penindasan pemerintah. “I looked all around me but to see nothing but four grey walls staring at me.” Kisah Dube. “The policeman said to me, ‘Son, they won’t build no schools anymore. All they’ll build will be prison, prison.” Lagu House of Exile (1991), bercerita tentang Pulau Robben, tempat Nelson Mandela dipenjara oleh pemerintah Apartheid. Album-albumnya semakin sukses. Ia diundang tur ke Amerika Serikat dan Eropa. Penjualan albumnya mencapai ratusan ribu, bahkan jutaan kopi. Lucky Dube, tanpa ragu lagi, telah menjadi raja reggae Afrika.

 

****

Maka ironis, bahwa akhirnya ia tumbang di ujung pistol sekelompok penjambret. Kriminalitas adalah produk sampingan dari bertahun-tahun ketidakstabilan dan ketimpangan sosial yang mengakar di Afrika Selatan. Ketidakstabilan yang, mirip dengan kasus kegalauan pasca Reformasi di Indonesia, dituding terjadi setelah runtuhnya pengaruh kuat pemerintahan Apartheid di Afrika Selatan, walaupun sejatinya persoalan ini justru terjadi karena Apartheid itu sendiri.

20 tahun setelah Apartheid akhirnya tumbang di awal dekade 90’an, demokrasi ditegakkan, dan Nelson Mandela bersama partai oposisi ANC berkuasa, Afrika Selatan diguncang dengan terbunuhnya Lucky Dube. Ketiga penjambret keji yang mencabut nyawa ikon reggae ini begitu terbutakan oleh kelaparan dan rasa rakus, hingga mereka tak mengenali Dube di kursi pengemudi sedan naas itu. Mereka kira, ia hanya satu lagi imigran Nigeria yang kebanyakan duit.

Faktanya, Afrika Selatan adalah negara yang bermasalah. Diskriminasi Apartheid – yang sejatinya masih mengakar di masyarakat – juga berujung pada timpangnya akses pada pendidikan yang layak, utamanya bagi penduduk kulit hitam. Implikasinya, begitu banyak penduduk kulit hitam tak memiliki kualifikasi layak untuk bekerja. Pasca sistem pemisahan paksa Apartheid dipreteli satu per satu, banyak penduduk kulit hitam yang miskin ini pindah dari pemukiman khusus kulit hitam dan kembali ke kota. Namun, mereka menemukan relasi sosial yang tegang dan ekonomi yang keropos. Mereka pun hanya jadi pekerja kasar, atau malah menganggur sama sekali.

Daerah-daerah di kota yang tadinya khusus kulit putih perlahan disusupi penduduk kulit hitam, banyak di antaranya pengangguran dan migran miskin yang tinggal di sana secara illegal. Terpuruknya kondisi ekonomi mereka menggiring mereka menuju dunia kriminal. Perlahan-lahan, penduduk kulit putih yang jijik pindah, dan daerah-daerah eks kulit putih itu direbut sepenuhnya oleh penduduk kulit hitam. Usai pemerintahan Nelson Mandela yang relatif stabil, penerusnya di ANC – yang kini mendominasi kancah politik Afrika Selatan – gagal melanjutkan reformasi Mandela. Isu klasik korupsi, kolusi, dan nepotisme tak jadi barang baru di pemerintahan Afrika Selatan. Kini, ANC rutin menghadapi kritik yang nyaris sama tajamnya dengan kritik publik pada Apartheid dulu.

Meski pesan-pesan yang ia sampaikan lewat lagu-lagunya terdengar optimis dan sederhana, sejatinya Dube sendiri selalu waspada dengan pemerintah manapun. “Persatuan dan perdamaian ini, satu cinta yang selalu kita sebut-sebut ini, tampaknya hanya ada di pikiran kita. Tidak benar-benar ada di kehidupan nyata.” Seloroh Dube. “Karena para politisi akan selalu memecah belah kita. Dan ini akan selalu terjadi selama publik tidak sadar kalau para politisi itu hanya berkuasa selama 4 atau 5 tahun.”

How can five years of power destroy a lifetime of togetherness?” tanya Dube di lagunya, Guns and Roses (1997). Dan ia benar. Afrika Selatan terus menjadi negara yang dibagi-bagi oleh penguasa. Jutaan rakyat – kebanyakan dari mereka kulit hitam – masih berjuang menghadapi kemiskinan. Angka pengangguran dan HIV/AIDS masih tinggi. Dan kriminalitas yang mengakar terus menjadi duri dalam daging bagi Afrika Selatan yang baru.

Duri ini telah memakan satu lagi korban. Kali ini, ia membunuh Lucky Dube. Namun, masa depan tak sepenuhnya suram bagi Afrika Selatan. Generasi anak muda baru – yang dijuluki generasi ‘Born Free’ – kini telah berhak berpartisipasi dalam pemilihan umum. Mereka adalah anak-anak muda yang lahir di tahun-tahun pasca Apartheid runtuh. Generasi ini tumbuh menghirup udara kebebasan dan demokrasi, dan asing dengan ide keterpisahan dalam Apartheid, ataupun euforia dan sikap partisan berlebihan pada ANC. Harapan dan masa depan Afrika Selatan bersandar pada pundak mereka.

Namun, bagi generasi sebelumnya, kenangan akan diskriminasi dan kebencian dalam Apartheid masih segar dalam ingatan. Dan bukan hanya nama harum Nelson Mandela atau F.W de Klerk yang terkenang. Pun, tidak hanya kenangan buruk tentang pemberontakan Soweto atau sosok kelam pembunuh massal Eugene “Prime Evil” de Kock yang akan terbersit di kepala. Satu lagi nama akan selalu teringat. Mereka akan mengingat pria yang menyuarakan perubahan dengan vokalnya yang emosional, dan penampilan live-nya yang ramai dan enerjik. Mereka akan mengingat sang legenda.

Mereka akan mengingat Lucky Dube.

 


When I see a black man, I see the image of God.

When I see a white man, I see the image of God.

And that’s the way it should be. We belong together.