Latest Post

Memanusiakan Kartini: Obrolan dengan The Dusty Sneakers

The Dusty Sneakers adalah Teddy W. Kusuma (T) dan Maesy Ang (M), dua orang yang berkeliling dan menulis. Namun, blog mereka menyajikan lebih dari sekedar foto-foto cantik dan ulasan tempat. Mereka berbagi cerita yang jauh lebih pribadi, koleksi refleksi personal mereka di perjalanan. Mulai dari membuat bunga kertas, melongo di kelenteng tua, hingga mengunjungi penjara di Filipina, mereka lihai menghadirkan kisah perjalanan dari sudut pandang beda.

Baru-baru ini, mereka berkolaborasi dengan organisasi anak muda Pamflet dalam Tur Kartini, sebuah tur keliling kota untuk mencari tahu lebih dalam tentang sosok R.A Kartini. Rangkaian tulisan dari tur ini mereka publikasikan secara bertahap di blog mereka, dan juga di zine fisik yang dicetak terbatas.

Setelah mereka berbagi cerita soal tur itu di acara diskusi Festival Seperlima #2, Disorder mengobrol dengan mereka tentang sosok Kartini, mati muda, dan kenapa kita tidak perlu ‘mendewakan’ Kartini.

Silahkan memperkenalkan diri.

T: Saya Teddy, di Dusty Sneakers menggunakan nama Twosocks.

M: Saya Maesy, di Dusty Sneakers menggunakan nama Gypsytoes.

Siapa itu The Dusty Sneakers, dan apa saja yang kalian lakukan?

M: Sebenarnya, The Dusty Sneakers itu sebuah creative space dalam bentuk blog dari kami berdua. Sehari-harinya, kami pekerja pembangunan. Tapi kami merasa butuh sarana untuk menulis dan berpikir kreatif di luar pekerjaan. The Dusty Sneakers adalah sarana itu.

Kami menulis soal kisah-kisah perjalanan, tapi kami gak menulis review tempat – what to do and where to go. Kami cerita soal momen-momen yang ingin kami ingat, atau refleksi yang kami alami ketika melakukan perjalanan. Intinya sih, we just write what we want to remember. Dan kita gak pernah mau ingat soal rasa suatu makanan atau cara pergi ke sebuah tempat, karena sudah banyak blog lain yang lebih bagus melakukan itu. Tapi, kami selalu ingin ingat cerita – dan itu yang kami tulis.

Salah satu cerita terbaru kalian adalah Tur Kartini, yang ada di zine yang gue pegang sekarang. Ceritakan sedikit tentang Tur Kartini, dan kenapa kalian memutuskan untuk melakukan perjalanan itu.

M: Tur Kartini itu perjalanan sepanjang akhir pekan yang dilakukan lima orang kawan, kolaborasi dari The Dusty Sneakers dan Pamflet, organisasi anak muda yang berbasis di Jakarta, untuk mengunjungi kembali rumah masa kecil Kartini, tempat-tempat yang dekat di hatinya, serta rumahnya setelah menikah di Rembang. Kami memutuskan untuk membaca dulu sebanyak-banyaknya tentang Kartini, lalu pergi ke tempat-tempat yang penting baginya dalam upaya kami untuk mengenalnya lebih jauh.

T: Kartini itu sosok yang cukup dekat di kami sebagai anak Indonesia. Saat kita tumbuh, kita upacara dan menghormat pada Kartini setiap tanggal 21 April. Kita menerima itu apa adanya – bahwa Kartini seorang pahlawan. Bersamaan dengan era kebebasan bersuara ini, suara-suara yang mempertanyakan kepahlawanan Kartini cukup banyak. Pertama, bahwa Kartini itu tidak layak disebut pahlawan karena banyak tokoh perempuan yang lebih jagoan dari beliau. Lalu, bahwa Kartini itu hanya ‘bikinan’ Belanda saja sebagai ikon politik etis mereka. Dan yang ketiga, saat ada ujian atas kepahlawanan Kartini – misalnya, ketika dia tidak diizinkan sekolah, dia takluk. Saat dia dipaksa menikah, akhirnya dia mau walaupun dia anti-poligami.

Sebenarnya, pertanyaan-pertanyaan ini cukup punya merit. Cuma, kadang kebebasan itu agak berlebihan. Sekarang orang mulai bilang Kartini itu cuma tukang curhat, cuma ngobrol sama None Belanda. Menurut saya, untuk seorang tokoh yang dekat dengan kita, sikap kita kritis tapi tidak benar-benar mengenalnya dan mengerti situasi yang dia hadapi. Kita gak ngomongin tahun 2000, tapi tahun 1800’an saat manusia masih tunduk pada manusia lain karena dari mana dia dilahirkan. Karena itu, kita perlu tahu lebih dalam soal Kartini.

Dia memang tokoh yang cukup unik – selain karena dia pejuang perempuan anti-poligami, tapi dia malah dipoligami. Dia menciptakan banyak pertanyaan. Karena itulah kita ingin tahu lebih dalam soal Kartini, karena kita sadar bahwa seperti banyak orang lain, kita cuma tahu Kartini sedikit-sedikit. Jadi kita baca buku, dan jalan-jalan ke tempat-tempat yang bersejarah baginya.

M: Alasan lainnya, selama ini kita lihat tulisan travel terlalu berorientasi pada surface industry. Biasanya kalau orang bikin kolaborasi, mereka me-review hotel atau tempat wisata. Kita tertarik mencari dimensi lain. Kalau mau kolaborasi dengan pihak lain dalam perjalanan, bisa dalam bentuk apa aja sih? Dan yang menarik minat kami adalah kalau kami bisa mengetengahkan isu sosial dalam bungkusan travelling.

T: Kadang, dimensi perjalanan adalah melihat sebuah tempat yang indah. Makanan yang enak di sana, bertemu kebudayaan yang berbeda. Itu satu hal. Tapi, perjalanan juga punya dimensi lain. Misalnya, sejarah itu sendiri – apa yang membentuk kebudayaan sebuah tempat, apa yang membentuk seseorang membuat keputusan tertentu di sebuah tempat. Dan ini jenis eksplorasi lain dalam sebuah perjalanan. Kita juga mau menikmati sisi ini.

Karena kalau kita berkunjung ke pantai yang cuma indah, ada getaran yang berbeda saat pantai itu tidak sekedar indah, dan kita tahu apa yang pernah terjadi di sana. Pantai itu pernah jadi saksi sebuah peristiwa. Mengetahui itu akan beda sekali rasanya.

 

 

Bicara soal sejarah, kapan kalian pertama kali mendengar soal Kartini, dan apa yang dikatakan orang tentang dia?

M: Waktu SD, pas harus nyanyi lagu ‘Ibu Kita Kartini’. Ya itu yang kita tahu: Putri Indonesia, harum namanya. Putri yang mulia, sungguh besar cita-citanya bagi Indonesia. Baru belakangan ketahuan cita-citanya soal pendidikan. Tapi itu sih memori pertama soal Kartini.

Memori berikutnya adalah lomba pakai baju daerah, lomba masak.

T: Ini satu hal yang sangat vivid di kita yang anak tahun 80’an. Di samping tiang bendera ada foto Kartini, warnanya abu-abu, pakai kebaya, dan kita menghormat ke beliau. Ini gambar yang sangat mengisi masa kecil. Ini se-vivid gambaran gue tentang film Pengkhianatan G:30S/PKI. Itu mengisi banget masa kecil gue.

M: Gue inget banget, waktu kelas 3 SD gue harus ikut lomba peragaan busana. Dan gue sebelnya setengah mati karena gue cuma jalan, semua orang jalan dengan baju yang disewa dari salon, terus kenapa ada yang menang dan kalah? Kenapa dia lebih bagus dari gue? Kartini itu apa sih? Kenapa dia diperingati dengan orang pakai baju, jalan, lalu ada yang menang dan kalah? Jadi sebenarnya, memori awal gue tentang Kartini adalah gue sebal, karena memperingati dia harus dengan cara seperti itu, walau gue belum tahu dia itu siapa.

Bagaimana eksposur pertama itu mempengaruhi pandangan kalian tentang figur Kartini?

T: Sama seperti hal-hal lain yang terjadi di masa Orde Baru, kita take something for granted. Bahwa ia seorang pahlawan, kita terima begitu saja tanpa kita tahu apa yang dia lakukan. Kita tahu apa yang dia perjuangkan, tapi kita tidak tahu bagaimana dia memperjuangkannya, dan apa struggle yang dia alami. Jadi, itulah yang menjadi kesan gue terhadap Kartini.

Kita tidak terlalu peduli soal bagaimana dia berjuang, dan apa hal lain yang dia perjuangkan selain pendidikan. Bahkan, kita gak terlalu tahu apapun selain bahwa dia punya sekolah. Dan semua itu kita terima aja.

 


"Kartini gampang di-tailor menjadi simbol dari apapun yang kita mau."


 

Gue tertarik dengan tulisan di zine kalian, ‘Ia yang Disayang Setiap Generasi.’ Setelah dibaca isinya, apa tidak lebih baik kalau judulnya ‘Ia yang Dimanfaatkan Setiap Generasi’?

M: Benar. Disayang itu cuma untuk dimaniskan saja, kan?

T: Disayang itu dimaniskan. Karena sebenarnya, dia dimanfaatkan untuk sebuah tujuan tertentu. Tetap untuk pencitraan yang ingin dibuat Belanda, atau nilai yang ingin diperjuangkan pemerintah di Orde Lama dan Orde Baru. Dan memang yang tampil di permukaan adalah bahwa dia disayang. Padahal, wacananya dimanfaatkan.

Tapi, itu not necessarily salah. Pada era perjuangan golongan Komunis saat itu, Kartini dilihat sebagai tokoh perempuan yang sadar politik, anti-feodalisme dan memajukan perempuan melalui pendidikan. Bahkan Pramoedya dalam bukunya menulis “Panggil Aku Kartini Saja” – ini judul yang jenius banget, menurut gue. Ini gambaran Kartini yang cukup baik, menurut gue sebagai orang yang cukup concern terhadap isu gender inequality. Jadi, ‘dimanfaatkan’ itu tidak selalu buruk. Ada suatu masa di mana ‘pemanfaatan’ figur Kartini itu berguna.

Ada kontras besar dari kepentingan masing-masing era yang ‘memanfaatkan’ Kartini itu. Mulai dari era Kolonial, era Orde Lama dan Baru, hingga sekarang. Apa yang jadi universal appeal dari Kartini, hingga dia tetap menarik untuk dijadikan simbol oleh pihak-pihak berbeda itu?

M: Kalau gue pakai kacamata orang yang mau ‘memanfaatkan’ sosok Kartini, dia itu gampang di-tailor menjadi simbol apapun yang kita mau. Karena dia ngomong tentang begitu banyak hal. Dia tidak membatasi diri di satu isu. Jadi lo mau ngomong soal apapun, kemungkinan besar Kartini yang kritis ini pernah membicarakan itu.

Pada saat yang sama dia progresif, tapi tetap setia pada adat yang ada di waktu itu. Dia tetap tunduk pada permintaan orangtuanya untuk menikah, dia mau dipoligami, dia gak jadi pergi sekolah. Jadi dari kacamata Orde Baru, ini emansipasi yang bisa didukung karena ini emansipasi yang hanya sampai pada suatu titik.

Apalagi, Kartini mati muda. Jadi, kita gampang meng-contain narasi tentang Kartini. Sedangkan orang yang hidupnya panjang pasti akan mengalami perubahan pola pikir dan perubahan standpoint yang membuat figur ini jadi susah ‘dipelintir’.

T: Kartini itu punya banyak angle, dan tergantung gimana lo twist, figurnya bisa serve every purpose. Golongan Komunis di satu sisi dan golongan Islamis di sisi lain sama-sama bisa ambil angle dari perbuatan Kartini. Komunis bilang dia anti-feodal – seperti yang gue sudah bilang tadi – sementara golongan Islamis bilang dia begitu cinta pada Islam, sampai-sampai dia mau dipoligami. Itu juga sebuah wacana yang muncul, karena dia memang sosok yang ‘aman’ dan punya banyak sisi yang bisa di-twist untuk sebuah angle.

M: Universal appeal-nya adalah, dia terkenal. Chances are, everybody knows her. So it’s easier to mold her and turn her into something you want.

T: Karena memang di jaman Belanda, dia digembar-gemborkan kemana-mana. Wacana soal Kartini sudah muncul di 1928 saat Kongres Perempuan Indonesia. Mereka berpidato dan mengutip Kartini. Waktu kemerdekaan di 1945, kata-kata Kartini juga banyak dikutip. Jadi, memang dia sudah terkenal dan dia mudah untuk di-twist untuk sebuah kepentingan. Walhasil, semua orang mencintai dan memanfaatkannya.

 

 

Tapi, bagaimana dengan sekarang? Bagaimana masyarakat dan pemerintah yang berkepentingan memandang dan memperlakukan sosok Kartini?

T: Ini kembali ke apa yang menjadi aspirasi kita. Terlepas dari perdebatan tentang dia pahlawan atau bukan, kita perlu melihat bahwa dia anak muda di kondisi yang impossible, dan dia berpikir begitu jauh. Dia begitu aware dengan isu-isu di sekitarnya, dia membaca begitu banyak, dan dia menulis. Ini sosok manusia yang punya kesadaran kemanusiaan yang begitu tinggi. Ini sesuatu yang ada di diri Kartini dan bisa jadi teladan untuk yang lain.

Pemerintah pun dalam melihat Kartini harus aware bahwa wacana yang melawan Kartini – misalnya bahwa dia hanya simbol Jawa, padahal ada bukti bahwa dia tidak serve Jawa doang karena nilai-nilai yang dia perjuangkan sangat universal. Anti-kolonialisme itu bukan cuma isu Jawa saja. Pemerintah bisa menggunakan itu untuk ngebungkus nilai-nilai yang diperjuangkan Kartini menjadi sesuatu yang universal, dan meningkatkan wacana tentang tokoh-tokoh perempuan lain. Kalau misalnya orang di Sumatera kurang attached pada Kartini karena dia orang Jawa, ya sudah – angkat saja Rohana Kudus, misalnya, yang belum banyak diketahui juga ceritanya.

Kita gak usah ngomong pemerintah pusat. Di daerah, mereka punya kesempatan untuk merayakan pahlawan-pahlawannya yang inspiratif. Bukan untuk mengerdilkan Kartini, tapi menempatkan Kartini di posisi yang inspiratif dan, at the same time, mengangkat pahlawan-pahlawan perempuan yang lain. Hanya karena yang lain itu pahlawan, bukan berarti Kartini bukan pahlawan.

M: Waktu Tur Kartini, kami bertanya ke staff di kantor bupati Jepara dan di museum Rembang: Kalau Hari Kartini rencananya mau ngapain? Dan gak jauh beda dengan di jaman Orde Baru. Ada lomba bikin kue, lomba peragaan busana, diskusi dan bincang-bincang. Tapi, ranahnya selalu domestik. Jadi, walaupun sekarang Indonesia sudah punya kemajuan dari segi kesetaraan gender, mereka tidak maju dalam memperlakukan Kartini. Mereka masih terjebak dalam bagaimana Orde Baru memperlakukan Kartini.

 


"Mereka memanfaatkan momen Hari Kartini untuk bicara soal emansipasi perempuan. Itu semacam reminder setiap tahun untuk bicara soal emansipasi. It’s better than nothing at all, tapi gak banyak majunya dibanding dulu. Wacananya gak berkembang."


 

Lo membahas itu juga di ‘Suatu Sore di Makam Kartini’, di mana lo bercerita tentang bagaimana di era OrBa, Kartini dan partisipasi perempuan ‘dirumahkan’.

T: Iya. Dapur, kasur, sumur.

Seberapa besar pengaruh dari ‘perumahan’ itu pada cara pandang masyarakat sekarang tentang Kartini? Masih bersisa?

M: Menurut gue masih membekas, dan cara pandangnya sama saja. Gue baru mulai melihat perbedaan beberapa tahun terakhir, saat beberapa aktivis dan anak muda membuat inisiatif untuk mempopulerkan kembali surat-suratnya Kartini dan menekankan bahwa dia gak cuma ngomong soal pendidikan aja. Tapi, upaya ini datangnya dari masyarakat sipil dan jumlahnya kecil. Kalau dari pemerintah, jujur aja gue gak melihat perubahan berarti dari jaman Orde Baru tentang bagaimana mereka memosisikan Kartini sebagai figur.

Yang gue amati, mereka memanfaatkan momen Hari Kartini untuk bicara soal emansipasi perempuan. Itu semacam reminder setiap tahun untuk bicara soal emansipasi. It’s better than nothing at all, tapi gak banyak majunya dibanding dulu. Cuma simbol sebagai reminder untuk ngomong soal emansipasi perempuan, tapi wacananya sama sekali gak berkembang.

Ini dari segi pemerintah, ya. Ada perkembangan dari segi masyarakat sipil, dan gue senang melihat itu.

T: Tapi itu masih terbatas sekali.

M: Dan terus terang, gue baru melihat itu ada di Jakarta doang.

Memangnya apa miskonsepsi paling fatal soal Kartini?

M: Bahwa dia nulis doang. Kartini tidak hanya menulis, tidak hanya bersurat. Suratnya bukan hanya soal pendidikan, bukan hanya soal penderitaannya saat di-pingit, tapi jauh dari itu. Kartini juga menulis soal ritual pernikahan suku Koja saat dia masih di-pingit, dan itu tulisan antropologi pertama di Indonesia – walau terbit di jurnal Belanda atas nama bapaknya.

Dia juga nulis tentang batik, dia juga turun langsung ke masyarakat dan pergi ke kampung-kampung pengrajin untuk melihat bagaimana industri ukir bisa dikembangkan, karena dia melihat bahwa itu cara untuk meningkatkan martabat masyarakat dan mengeluarkan mereka dari kemiskinan. Dia juga mendokumentasikan banyak sekali mainan dan nyanyian tradisional untuk mengangkat martabat rakyat yang ditindas kaum feodal Jawa dan kolonialis Belanda. Jadi, Kartini tidak hanya menulis. Dia berbuat banyak.

T: Dan satu lagi miskonsepsi dari kritik kalau dia ‘hanya’ menulis, bahkan jika dia hanya menulis pun, itu tidak menjadikannya manusia yang kecil. Karena, dampak tulisan diingat dan menjadi inspirasi yang begitu panjang dan jauh melebihi masa hidupnya. Orang membandingkan dengan Dewi Sartika, misalnya, yang membuat sekolah yang jauh lebih besar dan banyak dari Kartini. Memang muridnya Dewi Sartika lebih banyak, tapi dampak Kartini melebihi masa hidupnya. Jadi, tulisan terbang jauh melampaui masanya. Dan itu sesuatu yang perlu dilihat. Tidak hanya apa yang dia lakukan, tapi dampaknya.

M: Ini satu hal yang menarik, tapi tidak bisa kami lakukan di koridor Tur Kartini. Sebenarnya, Kartini itu menarik kalau kita mau memetakan bagaimana sebuah ide berkembang dan diejawantahkan. Karena, kita baca sedikit-sedikit tentang bagaimana idenya tentang sekolah untuk perempuan pribumi diadopsi politik etis, jadi ada sekolah Kartini buatan Belanda. Tapi pada saat bersamaan, salah satu adiknya mendirikan sekolah Kartini dengan Karesidenan lokal. Jadi, ada juga sekolah Kartini buatan pribumi.

Gagasan Kartini diteruskan oleh adik-adiknya, dan mereka pun berdebat. Ada surat yang menunjukkan bahwa mereka berdebat soal cara mana yang benar. Akhirnya mereka sepakat untuk pisah jalan, dan berangkat sendiri-sendiri meski awalnya dari satu ide. Hal-hal seperti ini banyak terjadi setelah Kartini meninggal. Ide-idenya terus berjalan, bergulir, dan bercabang. Kemarin kita gak punya resource cukup untuk meriset itu, tapi kalau ada yang mau, bakal keren banget.

T: Dampak tulisan bisa sangat besar. Misalnya, tulisan Kartini menginspirasi orang-orang di Kongres Nasional pertama. Banyak juga tokoh lain yang kepahlawanannya kuat karena tulisannya. Indonesia dulu punya Soe Hok Gie. Dia cuma nulis, dan diterbitkan di berbagai media. Tapi buku ‘Catatan Seorang Demonstran’ itu semacam buku wajib-nya mahasiswa yang protes di tahun 1998.

M: Dan Soe Hok Gie mati muda.

T: Tulisan itu bisa jadi pemantik yang menciptakan dampak yang begitu massif. Dan itu nilai yang dimiliki Kartini.

M: Mungkin orang yang sudah mati sangat menarik dijadikan ikon karena dia sudah tidak bisa mengkhianati apa yang dia katakan sebelumnya. Ceritanya sudah final. Soe Hok Gie mendukung Soeharto dan membenci Soekarno, tapi menurut gue dia itu intinya cuma benci penguasa. Kalau masih hidup, nantinya dia pasti akan jadi salah satu kritikus terberatnya Soeharto. Seperti Budiman Soedjatmiko.

T: Kalau Budiman Soedjatmiko meninggal di tahun 1999 atau 2000, dia bisa jadi tokoh yang sangat romantis dan heroik.

M: Tapi saat sebuah tokoh hidup terus lewat dari masa dia berapi-api, mungkin dia harus berkompromi seperti Budiman Soedjatmiko dan masuk ke dalam sistem. Mungkin itu kenapa tokoh yang sudah meninggal begitu menarik. Sudah final ceritanya. Mereka gak bisa mengkhianati apa yang sudah mereka bilang dan berkompromi.

Misalnya, kita tidak bisa membayangkan Munir atau Wiji Thukul nyaleg.

M: Iya, benar.

Dan seperti kata lo tadi, dia mati muda. Dia gak sempat mengkontradiksi dirinya sendiri.

T: Mungkin bukan soal mati muda, tapi dia sudah meninggal.

M: Tapi, cara melihatnya beda.

T: Belum tentu. Misalnya, Gus Dur sekarang dilihat begitu heroik. Sedangkan dulu? Kalau dia meninggal sebelum diturunkan sebagai Presiden, dia bakal jadi pahlawan. Kasus Bulog Gate itu gak akan kemana-mana. Tapi, karena dia masih lanjut jadi Presiden, dia sempat tidak disukai. Tapi setelah dia meninggal, banyak legacy dia yang kita romantisir sampai sekarang.

M: Setuju sama argumen dasar itu. But there’s something particular about people who die young. Gus Dur juga banyak didebat, ada yang bilang dia pengkhianat Islam, misalnya. Dia pasti akan mendukung Ahmadiyah, dsb. Sementara orang yang mati muda belum berbuat begitu banyak, sehingga bisa jadi divisive.

Mungkin ada lebih banyak ruang berimajinasi.

M: Iya.

 

 

Kita main fiksi sejarah, kalau begitu. Kalau Kartini hidup sampai tua, apa dia bakal memecahbelah opini?

M: Bakal. Pasti, yakin. Karena dia gak bakal tahan, menurut gue. Kalau dia sampai tua berjuang terus, akan ada suatu masa di mana dia akan bentrok sama Belanda. Jadi dia bakal divisive. Sekarang ini kan ceritanya dia disayang semua pihak. Kalau dia hidup terus, dia bakal divisive. Bisa aja kalangan pribumi pro-Kartini banget, tapi kalangan Belanda berusaha membenamkan suaranya karena dia gak bisa lagi jadi ikon politik etis.

T: Dan di Belanda, dia beraliansi dengan golongan-golongan oposisi yang kritis dengan cara Belanda memperlakukan daerah jajahannya. Itu sendiri sudah jadi pertentangan.

M: On the flipside, kalau apinya diam-diam mengecil, akhirnya dia jadi divisive. Karena dia bakal dianggap tokoh yang bercita-cita besar, tapi gak melakukannya. Menurut gue, kalau dia hidup, apapun yang dia lakukan bakal memecah opini.

T: Sekarang aja dia udah memecah opini.

Tapi, dia tidak hidup lama. Ujung-ujungnya, dia semacam api potensial.

M: Iya.

Dan kita berpegang terus pada api potensial itu karena kita bisa ngebayangin macam-macam.

T: Dia jadi inspirasi.

M: Cinta yang paling susah dilupakan adalah cinta yang belum kejadian. Karena masih jadi potensi terus, belum tahu ada ending seperti apa. Begini juga sama.

 


"Kartini meninggal tahun 1904. Itu sudah lebih dari 100 tahun. Secara pribadi, harusnya sudah ada perubahan yang berarti."


 

Banyak pemikiran Kartini tentang agama, anti-feodalisme, dan perempuan masih begitu relevan sampai sekarang. Apa itu tanda bahwa Kartini begitu maju, atau masyarakat saja yang belum bergerak?

M: Kita berbicara juga tentang relativisme waktu. Gue pernah ngobrol sama dosen gue yang akademisi, dia sejarawan. Dan dia bilang, “Kamu ini sekarang memandang waktu dari perspektif kamu. Dari sudut pandang kamu yang menjalani, harusnya 10 tahun sudah ada revolusi besar-besaran. Tapi dari segi sejarah, kalau kamu mau melihat perubahan berarti, perlu waktu ratusan tahun.”

Menurut gue, kita bisa lebih maju, tapi kita memang belum sampai. Maka pemikiran Kartini masih relevan. Tapi begitu ingat perkataan dosen gue itu, gue jadi merasa bahwa Kartini menanam benih, dan benih ini sedang tumbuh. Namun, dia belum jadi pohon yang bisa dilihat orang. Masih butuh waktu yang lama.

Kartini meninggal tahun 1904. Itu sudah lebih dari 100 tahun. Secara pribadi, harusnya sudah ada perubahan yang berarti.

T: Mungkin sudah ada perubahan. Tapi dalam span 110 tahun, perubahannya segitu doang, apa wajar? Itu mungkin terjadi perdebatan.

M: Akar dari banyak argumen Kartini banyak ada di isu kelas, tatanan masyarakat. These things don’t change, even in 100 years.

Itu masalah yang sudah sangat berakar. Bahkan tradisi membasuh kaki mempelai laki-laki di upacara pernikahan Jawa, yang ditentang Kartini, masih ada sampai sekarang.

M: Iya.

 


"Kartini justru jadi inspiratif saat dia tak lagi menjadi deitas."


 

Apa final thoughts kalian setelah Tur Kartini? Bagaimana cara kalian memandang Kartini sekarang?

T: Setelah Tur itu usai, pertanyaan soal apa dia pahlawan atau tidak jadi tidak penting, paling tidak bagi gue pribadi. Dia orang muda yang sangat dekat dan inspiratif.

M: Yang gue ingat adalah bahwa dia manusia juga. Sama seperti perempuan muda lain, dia punya momen-momen galau juga. Tapi dia membuat pilihan-pilihan yang mengedepankan cita-citanya di hidupnya yang penuh kungkungan.

Setelah Tur ini gue merasa lebih bisa melihat Kartini sebagai manusia. Dan itu membuat dia lebih inspiratif karena gue bertanya, “If I put myself in her shoes, would I do what she did?And so, I feel like I appreciate her choices better.

T: Sebelum orang menilai Kartini, selalu ingat konteksnya. Kita perlu melihat saat itu budaya feodal seperti apa, penjajahan seperti apa.

M: Setelah Tur itu, kami yakin bahwa dia pasti bete kalau tahu dia dijadikan pahlawan.

T: Iya. Dia orang yang gak suka gelar-gelaran.

Gue cukup tertampar dengan omongan JJ Rizal (di Festival Seperlima tadi) bahwa kita memandang Kartini nyaris seperti Yesus. Kita menjadikan dia semacam Dewi.

M: Menurut gue begitu. Dan dia justru jadi inspiratif saat semua itu hilang, dan dia tidak lagi menjadi deity.

T: Karena banyak sekali argumen yang menentang kalau dia dideifikasi seperti Yesus. Tapi kalau dia tidak ditempatkan seperti itu dan dilihat sebagai anak muda yang inspiratif, dia akan jadi tokoh pemicu kesadaran akan perbedaan akses pendidikan untuk perempuan, kesetaraan gender, dan sebagainya.

Apa jangan-jangan, dia didewikan agar sosoknya jadi lebih ‘jauh’ dan tidak memicu kesadaran seperti yang lo bilang?

M: Menurut gue tergantung lo nanya ke era mana. Kalau lo tanya ke Orde Baru, gue rasa jawabannya iya. Tapi ketika kita lihat ke gerakan Kiri, nama majalah Gerwani itu Api Kartini. Mereka justru mau Kartini jadi simbol yang membakar. Kalau analogi Hunger Games, mereka itu District Thirteen. Mereka ingin Katniss Everdeen memulai revolusi. Sedangkan si Panem mau Katniss jadi simbol penenang, untuk nunjukkin bahwa semuanya baik-baik saja. Tergantung siapa yang memanfaatkan.

 

 

Setelah Tur Kartini, apa yang ingin kalian lakukan?

M: We have our first book coming out in the middle of this year. Judulnya ‘Kisah Kawan di Ujung Sana’. Ceritanya tentang masa ketika kita pertama bikin The Dusty Sneakers, yaitu ketika gue dapat beasiswa ke Belanda dan ceritanya, kita berpisah. Jadi ada dua sahabat yang punya dua petualangan paralel. Kita pergi ke tempat-tempat yang berbeda, dan apa saja refleksi yang kita temukan di tempat-tempat itu.

Kebanyakan kita bicara soal isu sosial dan kebangsaan juga. Misalnya, bab pertama yang ditulis Teddy judulnya ‘Salam dari Timur’. Itu tentang ketimpangan pembangunan yang dia temukan saat pergi ke Merauke. Tapi, kita berusaha membungkusnya dalam ranah refleksi personal, jadi semoga lebih mengena ke masyarakat lebih luas.

T: Di zine ini, kami juga mencoba membungkusnya dalam konteks obrolan yang terjadi dalam perjalanan. Itu juga salah satu misi dari buku kami. Bahwa perjalanan juga bisa mengangkat nilai-nilai sosial di sekitarnya, dan itu bisa disampaikan dengan cara yang cukup ringan.

M: I really hate being dictated. I really hate being told what to think. Tapi, kalau kita menulis dalam buku perjalanan pribadi, rasanya gak nguliahin. Karena itu refleksi pribadi. You might benefit from it, you might not. Tapi itu refleksi kita.

Selain itu, kalau udah ada energi lagi, kami ingin bikin publikasi berkala. Jurnal tentang Jakarta. Semacam zine juga. Selama ini publikasi yang beredar ditujukan ke ekspatriat dan tentang hot new tables, restoran baru buka, dan lain-lain. Kami ingin menulis tentang tempat-tempat di Jakarta yang berkesan bagi orang yang tinggal dan mencintai kota ini. Yang pertama kayaknya tentang pasar-pasar di Jakarta.

Dan kalau punya energi lagi, habis ini Tur Rohana Kudus. Mungkin tahun depan.

Any final thoughts to share with our readers?

M: Be critical, read Kartini, and make your own conclusions. Gitu aja sih.

T: Seperti majalah ini juga, it’s good to be indie! Hahaha...

Terima kasih!

 

Kunjungi The Dusty Sneakers di akun Twitter mereka dan blog mereka. Baca zine Tur Kartini di sini.