Latest Post

Mencari Raga Ramayana Soul

“Gue dulu main di band yang ingin sempurna banget mainin lagu orang.” Kenang Angga. “Saat itu gue main drum. Tapi, gitaris band gue waktu itu mainnya gak pernah bisa bener. Akhirnya gue main gitar. Pas main gitar, gue rasa kok vokalisnya begini-begini melulu ya? Akhirnya gue mencoba nyanyi. Semuanya dorongan lingkungan, kok. Bukan dari hati gue.”

Erlangga Ishanders sempat menjadi pria yang memburu kesempurnaan. Gitaris yang akrab disapa Angga ini terus tersenyum, gerak gerik tubuhnya yang jangkung membuatnya tampak lebih ringan dari udara. Ia tumbuh dewasa di tengah huru-hara masuknya Britpop dan Punk ke Indonesia. Setelah bertahun-tahun mencoba jadi peniru yang terbaik, kini ia menemukan kebahagiaan dalam ketidaksempurnaan. “Bahkan band dan penyanyi paling legendaris sekalipun punya lagu yang menurut mereka cacat, yang mau mereka ulang lagi.” Seloroh Angga. “Cacat itu sempurna. Sempurna itu cacat. Semuanya satu paket, jadi diambil aja.”

Band-nya, Ramayana Soul, jelas jauh dari kata ‘sempurna’. Mereka memainkan psychedelic rock mabuk dan bising yang dipertajam oleh bebunyian ala India. Dalam penampilan live mereka yang enerjik, Angga dan rekan-rekannya di Ramayana Soul bergantian memainkan keyboard, sitar, tabla, dan gitar. “Mereka psychedelic rock dengan nuansa Timur, tapi dengan semangat punk rock.” Terang Dede, co-founder Wasted Rockers Recordings yang kini menaungi Ramayana Soul. “Mereka berani mencampur semuanya jadi satu. Angga punya latar belakang di musik indie dan punk rock, jadi musiknya bukan hanya raga-rock dan psychedelic standar. Ada screaming. Ada banting gitar. Ada feedback. Ada noise. Mereka gak ngikutin pakem.” Musik mereka yang eklektik dibanding-bandingkan dengan The Brian Jonestown Massacre, Kula Shaker, hingga Rhoma Irama.

 

 

Sejak tahun 2006, Angga mulai bermain-main dan menciptakan lagu-lagu sendiri. Ramayana Soul menjadi tempatnya menuangkan ide-ide yang tak tertampung di band-nya kala itu, unit Britpop/Alternative legendaris Pestolaer. “Gue gak se-rock and roll itu ternyata.” Canda Angga. “Gue masih tidur pakai AC, ke sini panas-panas aja tadi marah-marah gue, takut badan gue item. Gue gak se-punk itu. Jadi gue ngecari warna musik yang lebih ngepas dengan keseharian gue. Ketemulah gue dengan satu pencerahan. Ngebahas spiritualisme, agama, budaya Timur dan animisme. Itu hal-hal yang gak lepas dari gue, sejak bangun tidur sampai tidur lagi.”

“Entah kenapa, gue terpikir cita-cita gue dulu.” Lanjutnya. “Gue sempat mau main sitar, main tabla. Tapi, di Jakarta materialnya susah. Gue gak ngerti cari di mana instrumennya. Tapi suatu saat, gue jalan-jalan sama cewek gue ke Blok M, dan mau gak mau ngelewatin ruko-ruko toko olahraga. Gue nemu sitar di situ.” Penasaran dengan makna spiritual di balik sitar, Angga mencari tahu dan menyadari betapa personalnya sitar bagi kepercayaan beberapa diaspora India yang ia temui. “Di depan rumah gue dulu banyak toko olahraga yang dimiliki orang India, dan mereka gak mau kasih lihat ke gue saat mereka main sitar, saat mereka berdoa. Nyanyian dan doa-doa itu sangat pribadi buat mereka. Akhirnya gue cari sendiri di YouTube.”

Yang ia temukan sempat membuatnya ragu menggali lebih jauh. “Iman gue dan budaya mereka lumayan berbeda, jadi itu mencegah gue untuk masuk terlalu jauh ke dalam.” Terangnya. “Tapi ternyata, itu gak perlu terlalu dipikirin karena dalam sejarah mereka, banyak kejadian di mana instrumen itu digabungkan dengan keperluan syi’ar. Itu budaya Islam yang disangkutpautkan dengan musik dan budaya India. Di Bangladesh dan Bombay, juga ada kaum Sufi dan kepercayaan yang lintas ras. Jadi, gue gak ada halangan lagi untuk masuk ke dalam dunia spiritual itu.”

Ia mulai mempelajari cara bermain sitar secara otodidak, dan menemukan teman-teman untuk menarik proyek Ramayana Soul keluar dari kamar dan ke panggung-panggung. Bimo Kamil bergabung pada 2009 dan menjadi pemain drum dan tabla. Sementara, Adhe ‘Wawan’ Kurniawan mengaku belum terlalu kenal Angga saat mendadak diajak Angga mengisi part gitar, “Dia SMS gue minta tolong isiin gitar,” Ungkap Wawan saat diwawancarai Wasted Rockers. “Gue cuma tahu kalau dia gitaris dari band ‘itu’ (Pestolaer) doang.” Irfan Tirtamurti, seorang bassis yang menghabiskan masa SMP dan SMA sebagai anak punk dan ska kawakan, dikenalkan oleh seorang teman kuliah pada Britpop dan mulai bergaul dengan lingkar pertemanan Angga. “Kira-kira dia nanya ke gue begini,” kenang Angga sambil tertawa. “‘Ga, gue kan Cina, pantes gak ya mainin Britpop?’” Tak lama kemudian ia dihubungi oleh Wawan, dan diminta mengisi bass. Ivon Destian lantas berkenalan dengan Wawan saat mewawancarai band Wawan yang lain untuk acara radio di kampusnya. Ia pun diminta menjadi vokalis kedua, dan bergabung pada akhir 2013.

 

 

Ramayana Soul mulai tampil, dan menjadi salah satu harta karun tersembunyi di scene musik Jakarta. Ketertarikan mereka pada topik-topik berbau spiritual dan budaya India menjadi salah satu ciri khas yang muncul di lagu-lagu dan penampilan mereka. Saya pertama kali menemukan mereka di acara Psychedelic Storm yang diadakan akhir November 2013 lalu di Basement Cafe, Kemang. Acara yang diselenggarakan komunitas punk kawakan Young Offenders itu menampilkan band-band seperti Crayola Eyes, Jimmy the Bandit, serta DJ Ex Nihilo, dan ditutup oleh Ramayana Soul. Jelang naik ke panggung, kru mereka terlihat sibuk berlalu-lalang di antara penonton, membagikan dupa ke penonton dan meminjamkan korek untuk menyalakannya. Segera, aroma alkohol digantikan oleh parfum memabukkan dari asap dupa. Para personil Ramayana Soul naik ke atas panggung, membuka dengan lagu yang jadi salah satu single mereka, ‘Aluminium Foil’. Dimulai dengan chanting dan doa dari Ivon, dentum drum dari Bimo, bassline santai Irfan, dan lick gitar dari Wawan, crescendo tenang yang dibangun oleh lagu itu mendadak dipecahkan oleh teriakan Angga yang merenggut mic secara kasar dan berteriak tanpa ampun sambil melompat dari panggung. Lantas, lagu itu bertransformasi menjadi jam session ala psych rock 60’an yang liar dan sarat substansi terlarang. Saya langsung terkesima.

Ketika Wasted Rockers menemukan Ramayana Soul, mereka ikut terkesan. “Awalnya gue tertarik karena nama mereka yang terkesan psikedelik dan spiritual,” ujar Dede. “Tapi, gue sempat gak yakin. Begitu dengar materi mereka di Soundcloud, gue langsung kaget. Band sekeren mereka wajib kita sign. Rugi kalau dilepas.” Ia lantas mengenalkan band itu pada Gembira Putra Agam alias Gembi, co-founder Wasted Rockers. “Lebih ke sisi nostalgia aja buat gue.” Terang Gembi. “Karena ada masanya gue pernah rada fokus mendengar musik-musik India. Waktu kecil gue akrab sama Bhangra Pop ala soundtrack Bollywood era 80'an dan 90'an awal. Baru pas kuliah, gue masuk ke fase ‘mencari dan mendalami’ yang sudah pernah ditemukan dulu. Dari yang tadinya sekedar melihat pop India, gue jadi menelusuri hal-hal yang lebih kontemplatif dan dalam. Ramayana Soul mewakili titik itu. Di situ nostalgianya. Apalagi basis musik mereka juga indie rock, arahnya ke UK Indie. Lick-nya, melodi, attitude, cara nyanyi mereka. Jadi ketemu di dua titik. Fase nostalgia musik India dan kecintaan sama indie rock.”

“Ramayana Soul ini personal banget. Angga banget.” Lanjutnya. “Sementara di Pestolaer, ada banyak kepala. Jadi kalaupun mungkin dia mau integrasiin (ide-ide dia) di Pestolaer, belum tentu maksimal. Sementara di Ramayana Soul, dari sudut pandang gue dia kayak kapten kapal. Kasih tahu tujuannya, mimpin. Elemen lain bahu membahu bawa kapal itu sebagai tim. Tapi, bukan berarti personil lain bukan siapa-siapa atau gak penting. Karena gue gak yakin musik RS kebentuk properly tanpa personil lainnya. Ini kali yang ngebuat mereka jadi Ramayana Soul, bukan Angga and Friends.”

Bagi Gembi, obsesi Angga dan Ramayana Soul untuk mendalami musik India dan melepaskan diri dari ‘cangkang’ Britpop terlihat jelas. “Dia (Angga) kayaknya bisa menelusuri setiap subgenre-nya lebih jauh, sementara gue masih di wilayah yang ngedeskripsiin-nya aja cuma kontemplatif dan deep. paling sebatas raga sama Ghazal. Dia sudah bisa sampai beyond itu.”

 

 

Menariknya, eksposur Gembi terhadap kultur India jelas bukan kasus terisolir. Popularitas lagu-lagu dan film Bollywood di Indonesia tak terbantahkan lagi, namun lucunya belum banyak band di scene musik pinggiran yang mengeksplorasi keterikatan ini. “Kenapa, misalnya, saat dua orang duduk dan bertemu yang mereka lakukan bukan mengobrol, tapi melihat ponsel masing-masing?” ucap Angga. “Ada gajah yang jelas di depan mata, tapi yang dicari malah semut.”

“Gue ambil contoh, ada kultur musik di Amerika Serikat yang menggabungkan musik gospel dari gereja-gereja dengan blues atau R & B.” Terangnya. “Itu lagu yang mereka gali dari akar mereka dan apa yang ada di sekitar mereka. Kenapa kita tidak lakukan di sini? Gereja dan masjid sama jaraknya dari rumah, kok. Semua itu berasal dari budaya yang lekat dengan kita.”

Namun, meski ia mencoba menggali musik dan budaya India, bagi Angga sendiri ada beberapa garis batas yang memang tak bisa ia lewati. “Sampai sekarang gue gak merasa paham dengan ‘rasa’-nya.” Ucapnya. “Teorinya iya, ‘rasa’-nya enggak. Karena pasti ada satu titik di mana gue ngerasa, ‘Gak, gue gak di sini.’ Kepercayaan mereka mendeskripsikan sesuatu yang semestinya tidak dapat dideskripsikan. Itu bertolak belakang dengan iman gue. Cuma, gue menikmati itu. Misalnya, kepercayaan mereka tentang Dewa-Dewa, itu berbeda dengan gue. Tapi gapapa, sangat tidak apa-apa. Itu indah kok. Kalau jelek, kenapa dibiarkan ada oleh Tuhan?”

Tema iman dan Ketuhanan ini adalah topik yang kami gali habis-habisan saat saya bertemu dengan Angga, yang datang lebih awal, serta Wawan dan Irfan di Sarinah, akhir Januari 2014. Nampaknya, obrolan apapun dengan Angga akan, dengan satu atau lain cara, berujung pada tema-tema sejenis. Ucapan Angga di salah satu wawancara dengan media online asal Bandung menggelitik saya: ‘Manusia tak berhak mencipta, hanya bisa mereka cipta.’

“Kita gak menciptakan apa-apa, kok, kita cuma menemukan ulang apa yang sudah diciptakan oleh Tuhan.” Ucap Angga, mempertegas pernyataan itu. “Menciptakan sesuatu dari nol itu mustahil, dan bukan hak manusia. Karena kalau ngomongin penciptaan, lo ngomong ke Atas. Ke Maha dari segala Maha. Gue pun gak setuju dengan konsep Mahakarya. Gak mungkin manusia bikin sesuatu yang Maha. Gak mampu, dan bukan haknya. Maha adalah haknya Tuhan. Dan itu saklek.

“Dari sisi sentimentil, tentu gue ada ambisi untuk bikin sesuatu yang luar biasa. Tapi kalau bicara sesuatu yang murni, itu gak bakal ada.” Lanjutnya. “’Ya Tuhan, gerakanku yang sempurna ini aku serahkan pada-Mu.’ Mana mungkin manusia bikin sesuatu yang sempurna?”

Pertanyaan menarik. “Kita kembali ke band lo yang dulu mencoba jadi cover band sempurna. Kapan lo berhenti mencoba sempurna?”

“Semenjak gue tahu artinya i’tidal.” Balasnya. “Pengertian dari i’tidal adalah ‘Kesempurnaan kita, kesempurnaan doa kita, kesempurnaan bacaan kita hanya untuk-Mu.’ Kalau dari logika, berarti Tuhan konyol. Sudah tahu manusia gak bisa sempurna, kok disuruh sempurna? Maha Konyol kalau begini. Tapi memang begitulah Tuhan. Ia Maha dari segalanya. Maha Konyol, Maha Lucu, Maha Gila. Dan semua itu turun dan tercermin dalam sifat-sifat manusia.” Menjadi dewasa, konklusinya, adalah menerima kekonyolan dan absurditas itu sebagai kenyataan yang ada.

 

***

Jelang sembilan malam. Roti bakar sudah tandas dimakan, rokok terakhir dimatikan, dan kopi yang tersaji telah ditenggak habis. Kami beranjak pulang.

Satu jam terakhir rekaman percakapan kami tak banyak mengungkapkan insight baru. Jujur, saya datang tanpa daftar pertanyaan jelas, hanya berbekal ketertarikan luar biasa pada band ini. Akhirnya, setelah satu jam yang rada koheren dengan Angga, saya lebih banyak bercanda dengan Wawan dan Irfan, sembari berkumur-kumur mengucapkan terima kasih karena rela membagi roti bakar mereka dengan saya. Semangat jurnalistik saya runtuh seketika.

Kami berdiri di beranda lantai dua Sarinah, bersandar dan mengamati jalanan yang macet di bawah. Wawan sibuk dengan teleponnya, ia telah menyalakan sebatang rokok lagi. Angga dan Fisty, manajer Ramayana Soul yang mengikuti obrolan ngalor-ngidul kami sejak awal dengan sabar, tengah berbincang di depan kafe yang sebentar lagi tutup. Irfan, sang bassis yang bertubuh tegap dan tampak paling rapi di antara personil lainnya, menghampiri saya untuk mengucapkan selamat jalan.

Mendadak saya teringat sepotong obrolan kami tadi. “Musik itu pelarian buat gue,” ucap Irfan. “Ketika gue penat karena Jakarta, karena pekerjaan, gue dengerin musik. Itu bagian dari hidup gue. Dan gak bisa terpisahkan.”

Angga kemudian ikut beropini. “Musik adalah mendekati diri sendiri.” Selorohnya. “Musik adalah sebuah statement, pertanyaan di bawah pertanyaan: ‘Aku ini apa?’”

“Jadi, lo (si)apa?”

“Gak tahu.” Balas Angga sambil terkekeh. “Kalau gue sudah tahu, artinya gue sudah mati.”

 

****

 

 

Ramayana Soul adalah salah satu penampil di RRREC Fest in the Valley, yang akan diselenggarakan pada tanggal 31 Oktober – 2 November 2014 di Tanakita Camping Ground, Sukabumi. Tonton mereka dan beli tiket RRREC Fest di sini.

Album debut mereka, Sabdatanmantra, akan dirilis oleh Wasted Rockers Recordings akhir tahun ini.