Latest Post

Mengenang Miten

Waktu itu seragam sekolah saya masih celana pendek warna biru, sekitar tengah era 90'an. Dan patut di catat, energi anak-anak muda di sekitar saya waktu itu belum terpaku pada hal-hal menarik, seperti perlawanan atau hal-hal serius lainnya. Energi anak-anak muda di sekitar saya waktu itu adalah tentang bagaimana caranya mendapatkan pujaan hati dengan berbagai cara. Karena yang masih jomblo akan menjadi bahan bullying bagi mereka yang sudah mempunyai pasangan. Dan akhirnya, para anak muda masa itu tentu saja lebih menghabiskan energinya supaya tidak menjadi jomblo dan menjadi bahan bully. Yang beruntung adalah yang memang wajahnya sudah bisa terbilang tampan. Mereka tidak perlu mempunyai keahlian apa-apa untuk menarik para pujaan hati mendekat dengan sendirinya. Sementara bagi saya yang wajahnya pas-pasan, tentu saja harus mempunyai skill tertentu untuk bisa dipamerkan demi mengundang perhatian.

Dan iya, saya tertarik untuk mendapatkan perhatian lebih para perempuan pujaan hati dengan memulai proses pembelajaran untuk bermain gitar. Saya berpikir, dengan kemampuan bermain gitar dan kemudian berada di atas panggung, tentu akan menarik perhatian para pujaan hati. Dan kemudian sesuatu yang saya sadari, belajar main gitar saya kira adalah pembelajaran yang mudah, tetapi ternyata sangat susah. Salah satunya adalah rasa sakit pada ujung jari ketika menekan senar gitar yang memang harus ditekan dengan keras dan presisi supaya nada terdengar benar-benar tegas.

Saya ingat betul bagaimana gembiranya saya ketika bisa memainkan intro dari hits Nirvana yang sangat monumental waktu itu – Smells Like Teen Spirit. Dan Nirvana memang sukses mengacak-acak tren musik pada waktu itu yang notabene sebelumnya didominasi oleh rocker-rocker gondrong dengan lirik lagu cinta kacangan, yang dalam musiknya selalu menyertakan part solo gitar yang terkadang super njelimet.

Saya waktu itu belajar gitar pada seseorang tetangga depan rumah yang kebetulan memang seorang gitaris all round yang tidak terpaku pada satu genre musik. Sewaktu SD sekalipun, dia bahkan sudah mampu memainkan ketukan bossa ataupun jazz dengan fasih. Ia juga mampu memainkan part solo njelimet ala Vito Bratta-nya White Lion, Nuno Bettencourt dengan ketukan bolak-balik yang sangat 'matematika', atau bagaimana memainkan ketukan acid jazz pada lagu-lagu Ermi Kulit.

 


"Saya dan teman saya menemukan sebuah album lokal yang juga berhasil mengacak-acak tren musik negeri ini, yang sebelumnya didominasi penyanyi dengan lirik sendu cengeng.."


 

Kami memang tumbuh menjadi remaja bersama-sama, apalagi bertetangga dengan tempat tinggal berhadap-hadapan. Empat sampai lima jam sehari kami habiskan bersama untuk mengulik segala macam tentang bermain gitar. Dan saya bersyukur karena dia adalah mentor yang sabar. Terus terang, permainan gitar saya sekarang inipun sangat terpengaruh oleh dia, bukannya oleh oleh gitaris-gitaris kenamaan yang bertebaran di berbagai album-album band saat itu.

Kesamaan yang ada pada saya dan teman saya yang menjadi mentor gitar saya tersebut dalam sisi musikal adalah, Rock N' Roll dan Blues. Iya, kami sangat tergila-gila pada Rolling Stone, Led Zeppelin, Jimmy Hendrix, dan juga satu yang paling sering kami bahas adalah permainan Ian Antono di album Iwan Fals, 1910. Kami juga mengidolakan God Bless, tapi bagi kami, permainan dan aransemen Ian Antono yang paling sempurna malah di album 1910-nya Iwan Fals. Jika mungkin kalian mendengarkan detail semua lagu pada album tersebut, hampir tidak ada yang cacat secara musikal maupun lirik. Kombinasi permainan Ian Antono dan lincahnya jari tangan Yockie Soeryo Prayogo pada tuts keyboard-nya saya pikir adalah salah satu paduan terbaik yang pernah ada dalam sejarah musik Indonesia. Ingin bukti? Coba kalian simak bagaimana Ian Antono memperlakukan interlude bersahut-sahutan antara bunyi gitar dan keyboard pada lagu daur ulang ‘Berkacalah Jakarta’.

Ian Antono bagi saya adalah gitaris Indonesia pertama yang mampu meracik irama Blues dan Rock N' roll menjadi kesatuan yang renyah untuk dinikmati. Ia kadang tidak perlu bermain njelimet dalam melakukan solo. Ia hanya berpikir bagaimana caranya lagu di mana ia berkontribusi bisa mendapat kekuatan dan nyawa dari permainan gitar-nya. Dan akhirnya, saya dan teman saya menemukan sebuah album lokal yang juga berhasil mengacak-acak tren musik negeri ini, yang sebelumnya didominasi penyanyi dengan lirik sendu cengeng ala Ratih Purwasih, Betharia Sonata, Jayantie Mandrasari, Tommy J. Pisa, Rinto Harahap, dan lain sebagainya.

Bosan adalah bosan. Kami ingin sesuatu yang baru dan beda, sesuatu yang bisa membuat kami terlihat gagah sebagai gitaris ketika beraksi di atas panggung nanti. Dan jawabannya tentu saja musik rock yang tidak kacangan. Album yang saya maksud tersebut adalah album pertama dari sebuah band yang mendeklarasikan diri sebagai band punk rock: Netral (pada waktu itu kebanyakan menyebutnya sebagai musik alternatif). Album yang dirilis tahun 1995 oleh Bulletin Records ini benar-benar mengagetkan kalangan mainstream industri musik Indonesia pada saat itu. Sepanjang yang saya tahu, video klip hits mereka yang berjudul ‘Wa..lahh!’ bahkan sempet dilarang di beberapa stasiun televisi lokal karena musiknya dianggap terlalu keras untuk televisi negeri ini.

 


"Jika saja Miten tidak tergabung dalam Netral, pasti album perdana Netral tersebut akan terdengar monoton dan membosankan."


 

Band ini beranggotakan tiga orang. Dan album ini dibikin ketika semua teknis rekaman belum serba digital (sangat terdengar dari sound yang tidak terlalu lebar). Sang vokalis bernama Bagus, dengan model vokal melolongnya. Ia pun mumpuni ketika harus memberi layer dengan suara dua pada setiap lirik absurd penuh analogi yang dinyanyikannya. Bimo sang drummer, yang bermain dengan teknik drumming sederhana tapi membuat lagu Netral sangat mempunyai nyawa di album pertama mereka. Dan terakhir adalah Miten, sang gitaris yang sukses membuat saya dan teman saya terbengong-bengong ketika menyadari bahwa ada gitaris lain yang juga sangat berhasil memadukan Blues dan Rock N' Roll menjadi lebih renyah untuk dinikmati.

Miten adalah gitaris yang tidak asal dalam melakukan picking. Ia tidak asal genjreng seperti gitaris-gitaris punk rock lainnya. Dia adalah gitaris yang benar-benar paham akan tangga nada dan bagaimana memilih nada untuk lagu-lagu Netral. Seperti saat ada orang yang berkata bahwa semua lagu Nirvana pada album Nevermind bisa langsung dikenali dengan ketukan drum Dave Grohl, begitu juga semua lagu-lagu di album pertama Netral tersebut langsung bisa dikenali begitu part gitar dari Miten dimainkan. Hal tersebut menunjukkan, jika saja Miten tidak tergabung dalam Netral, pasti album perdana Netral tersebut akan terdengar monoton dan membosankan walaupun kemampuan Bagus membuat lirik absurd, analogis, metaforis yang menarik tetaplah hebat (dan memang terbukti selepas Miten meninggalkan Netral paska album keempat mereka yang berjudul ‘Paten’)

Permainan Miten sungguh penuh warna di album tersebut (sekaligus saya yakin bahwa dia memang sangat terpengaruh dengan Ian Antono dalam hal memadukan gaya permainan Blues dan Rock N' Roll). Simak harmoni yang dia lakukan dengan brilian di 'Lagu Tidak Rindu' (Di sleeve kovernya kata 'Tidak' di coret dengan tanda silang ). Di lagu itu, dia berhasil mencampur blues, rock, dan bahkan jazz dalam satu lagu. Dia tahu benar kapan dia harus memakai distorsi pada sound gitarnya supaya lagu cinta yang liriknya tidak kacangan ini terdengar menarik dan tidak terkesan cengeng. Pemilihan riff dan part solo yang Miten lakukan di lagu ini hampir setingkat dengan apa yang dilakukan Slash di November Rain, menyayat sekaligus merintih. Dan gitar memang bisa menghasilkan suara yang semacam itu ketika gitarisnya tahu benar bagaimana memperlakukan gitarnya.

Dan jangan lupakan part solo sepanjang 1 menit yang dia lakukan pada lagu berjudul 'Sampah' (Kalau tidak salah ini adalah lagu ketiga pada side A kaset album ini ). Selain lirik Bagus yang epik dan penuh frase-frase inspiratif, kemampuan Miten dalam solo gitar di lagu ini sungguh mecengangkan. Pada part itu dia melakukan dua kali overtone, dan memamerkan teknik picking alternate yang sedemikian njelimet dan kecepatan yang sangat presisi sebanyak 3 kali. Saya dan kawan saya sampai benar-benar dibikin frustasi ketika berusaha mencoba menirunya, dan selalu gagal.

 


"Dia selalu terlihat dingin ketika berada di atas panggung, tidak seperti kebanyakan gitaris rock lainnya yang selalu ingin menonjol ketika melakukan part solo gitarnya."


 

Miten sadar lagu-lagu Netral di album pertama tersebut sebenarnya berdasar pada konsep yang umum dipakai kebanyakan band punk rock, yaitu chord tiga jurus. Tapi dia tidak mau terpaku dan menjadikan rumus itu jadi baku dan seadanya. Dan inilah yang menyelamatkan album perdana Netral tersebut dan menjadikannya monumental (kalau tidak salah, album ini masuk dalam daftar album terbaik sepanjang masa versi majalah Rolling Stones Indonesia). Simak lagu 'Tiga Dini Hari' (lagu pertama pada side B album ini), lagu sederhana tiga kunci yang diselamatkan Miten menjadi lagu yang sangat menyayat dengan petikan gitar clean-nya yang tidak sederhana dan part solo yang juga tidak sekedarnya. Akhirnya, ia sukses membuat saya bingung; Apakah harus menempatkan Ian Antono atau Miten dalam top list Gitaris lokal terhebat versi saya.

Tiga album Netral setelah itu, 'Tidak Enak’ (lagi-lagi kata 'Tidak' di coret dengan tanda silang), ‘Album Minggu Ini’, dan ‘Paten’, terus saya buru demi mendengar permainan Miten, dan saya semakin sadar bahwa gitaris satu ini memang salah satu gitaris terbaik yang pernah dimiliki negeri ini. Dia memang tidak pernah begitu mencolok, pendiam, dan selalu tidak berusaha menonjol ketika di atas panggung (saya tiga kali menonton penampilan live mereka ketika Netral masih pada formasi pertama ini). Dia selalu terlihat dingin ketika berada di atas panggung, tidak seperti kebanyakan gitaris rock lainnya yang selalu ingin menonjol ketika melakukan part solo gitarnya. Dia seperti mempersilahkan Bagus dan Bimo untuk terlihat lebih mencolok, dan dia mendukungnya dari belakang di depan amplifier Marshall-nya. Tapi saya yakin, banyak lainnya yang mungkin seperti saya, yang kagum dengan model permainan gitarnya, pasti akan terus menerus menatap gerakan jari-jarinya di atas fretboard gitarnya yang sama sekali tidak pernah ragu atau meleset.

Dan ketika Miten memutuskan meninggalkan Netral, kekecewaan langsung menyergap diri saya. Karena apa? Karena seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya, menurut saya permainan gitar dari Miten adalah salah satu pilar krusial dari semua lagu-lagu Netral. Dan memang terbukti. Setelah Miten pergi, Netral seolah berubah menjadi band yang berdamai dengan pasar demi sebuah eksistensi, tapi dengan kualitas musik dan lirik yang ampun sumpah, sangat super kacrut. Saya terus terang kecewa. Tidak ada lagi raungan distorsi khas ataupun harmoni dengan pemilihan nada yang kuat dari seorang Miten. Yang ada adalah sebuah band yang ingin tampak lucu dengan lirik super kacrut yang sama sekali berbeda dengan lirik-lirik dari Bagus sebelumnya.

Juli 2012 lalu, Miten meninggal dunia karena kanker paru-paru. Dan kematiannya adalah salah satu berita yang membekaskan duka lumayan dalam bagi saya, yang bermimpi suatu saat nanti akan menjumpainya secara pribadi. Mengobrol dengannya, dan memintanya mengajarkan teknik-teknik gitarnya yang hingga kini tak bisa saya kuasai. Tapi beruntunglah, masih ada dokumentasi mp3 album pertama Netral tersebut yang hinggap di PC saya. Hampir setiap pagi, lagu-lagu itu saya putar begitu terbangun dari tidur.

Tulisan ini terus terang saya dedikasikan untuk Miten dan album pertama Netral tersebut. Keduanya memberikan pengaruh musikal yang sangat berarti pada diri saya, yang notabene suka sekali bermain gitar. Selamat jalan Miten, semoga suatu saat ketika waktunya tiba, saya bisa berjumpa dengan anda di sana, sehingga saya bisa mewujudkan impian-impian saya tadi.

Jika alam setelah kematian itu memanglah ada, tentunya. Tapi, berharap bukanlah hal yang buruk. Dan saya tetap menjaga harapan tersebut.

 

R.I.P Ricky ‘Miten’ Dayandani (1971-2012)

 

Album perdana Netral, 'Wa...lah" dirilis tahun 1995 oleh Bulletin Records

Wajib dengar : Lagu Rindu, Sampah, Tiga Dini Hari & Memo.

 

Foto-foto diambil dari Jimijimz.wordpress.com