Latest Post

Menyanyikan Kembali Genjer-Genjer

Jika saya harus percaya akan satu hal, maka saya akan mempercayai adanya rasa takut. Rasa takut akan segala yang asing, tak biasa, dan di luar perkiraan. Pada pojok gelap yang tak terlihat di ujung teras, pada tetangga yang menutup pintu rapat-rapat dan lewat di depan rumah tanpa pernah permisi. Dan dalam kegagapan saya meruntuhkan rasa takut ini, saya menemukan bahwa dunia di sekitar saya pun penuh dengan rasa gentar yang sama. Memangnya apa yang membuat kita merasa takut? Otak kita begitu ahli menarik kesimpulan sembarangan dari informasi yang separuh-separuh, begitu hobi membayangkan skenario acak yang belum tentu sesuai dengan nalar, apalagi kenyataan. Mengutip Georges Sorel, “It is the myth, in its entirety, which is alone important.”

Dan salah satu mitos yang begitu lama bertahan adalah mitos tentang Genjer-Genjer. Pada tahun 1943, seorang seniman pemukul Angklung asal Banyuwangi, Muhammad Arief, menulis syair dalam bahasa Osing untuk sebuah melodi yang ia ciptakan berdasarkan lagu dolanan tradisional, Tong Alak Gentak. Balada sederhana yang ia ciptakan pada hari itu ia beri judul Genjer-Genjer. Liriknya yang melankolis mengisahkan kesengsaraan rakyat Indonesia pada masa-masa penjajahan Jepang. “Isinya tentang penderitaan masyarakat saat itu, yang harus makan genjer yang juga dijadikan makanan bebek.” Terang Sinar Syamsi, anak M. Arief, saat diwawancarai harian Kompas. “Ibu saya sering masak daun genjer karena memang saat itu bahan makanan tidak ada."

Setelah Indonesia merdeka, Arief bergabung dengan Lembaga Kesenian Rakyat (Lekra), dan mendirikan grup Sri Muda. Lewat hubungannya yang semakin erat dengan Lekra dan Partai Komunis Indonesia (PKI), Arief dan grupnya mulai rajin diundang konser di berbagai kota. Irama Records di Jakarta segera mengajak Arief merekam lagunya yang semakin tenar, dan lantas menjadi hit di radio-radio se-Nusantara. Penyanyi kawakan seperti Lilies Suryani ikut merekam ulang lagu tersebut. Bahkan Genjer-Genjer dinyanyikan juga oleh Bing Slamet dan menjadi salah satu lagu yang masuk dalam Mari Bersuka Ria, sebuah album yang mengaransemen ulang lagu-lagu kesukaan Presiden Soekarno.

 

 Kompas

 

Sayangnya, sejarah tak selamanya berpihak pada Arief. Ketika PKI dan Orde Lama jatuh di tengah hiruk pikuk Peristiwa 30 September 1965, tamat sudah riwayatnya. Muhammaf Arief adalah salah satu dari ratusan ribu, bahkan jutaan jiwa yang melayang sia-sia pada peristiwa pembantaian tertuduh PKI oleh TNI dan pendukung Orde Baru antara tahun 1965 hingga 1966. Sinar Syamsi ingat betul saat rumah keluarganya di Temenggungan digasak oleh massa yang marah. Bapaknya, yang kala itu menjadi anggota Lekra dan sempat menjadi anggota DPRD, baru pulang 5 hari ke Banyuwangi setelah mengurus izin tampil ke Republik Rakyat Cina. Feature singkat Kompas dengan lugas merekam kenangan Syamsi tentang malam mencekam itu. Arief mendengar di radio bahwa pembantaian besar-besaran tengah berlangsung di Jakarta. “Keesokan harinya sudah banyak orang berkumpul dari lapangan yang sekarang jadi Stadion Diponegoro, lalu ke timur melewati Taman Blambangan.” Kenang Syamsi. “Saat lewat depan rumah, massa langsung masuk ke dalam. Saya sama ibu melarikan diri.”

Kini, yang tersisa dari Muhammad Arief adalah tiga buku tulis lusuh yang dibawa Syamsi secara diam-diam sebelum rumahnya dihancurkan massa. Di antara ratusan lagu yang digubah oleh Arief, Genjer-Genjer masih menjadi bintang utama. Seorang kawan menuliskan ulang lirik Genjer-Genjer dengan tinta merah, seraya menggambar palu arit di pojok atas halaman. Halaman tersebut, yang mulai pudar tintanya, bertanggal 19 Juli 1965.

 

****

Rumah pertama saya di Jakarta hanya berjarak sekitar 5 menit dari Lubang Buaya, sentra penciptaan mitos tentang 30 September 1965. Di lubang inilah, katanya, 6 orang jenderal dan satu tentara diculik, disiksa, dan dibantai oleh oknum-oknum PKI dan Gerwani, yang hendak berkhianat dan mengambil alih Indonesia. Monumen Pancasila Sakti dan museum di Lubang Buaya menyajikan diorama-diorama yang gamblang menggambarkan kekejian PKI. Satu jam saja di sana, dan anda akan pulang dengan membawa kebencian yang mengakar pada komunisme dan segala perwujudannya di era modern, atau – seperti saya – anda akan pulang membawa lebih banyak pertanyaan daripada jawaban.

Namun narasi tersebut mulai dipreteli satu per satu. Film Jagal dan Senyap karya sutradara Joshua Oppenheimer mengagetkan dan mempermalukan Indonesia dengan menyajikan sisi lain sejarah yang menampar. Film dokumenter 40 Years of Silence, hingga buku Dalih Pembunuhan Massal karya John Roosa pun menggali lebih dalam tentang ilusi sejarah 30 September 1965 yang diciptakan oleh rezim Orde Baru. Kini, wacana-wacana lama tentang sejarah, PKI, dan Komunisme digali lagi, dibuka dan dipertanyakan ulang dalam diskursus publik yang (terkadang) rasional dan mencerahkan. Simbol-simbol yang selama ini tabu mulai kita angkat lagi setelah lama dipinggirkan. Salah satunya adalah Genjer-Genjer.

Sulit bagi saya – yang masih mempelajari sejarah versi Orde Baru di sekolah – untuk tidak tersenyum saat mendengar grup Tika and the Dissidents menyanyikan ulang lagu tersebut. Memang, kesannya sepele. Toh, apa yang salah dari sebuah lagu? Tapi, mungkin pengertian saya yang sederhana ini berbeda dengan orang lain, utamanya yang lebih tua dari saya. Beberapa bulan lalu, setelah sebuah acara keluarga, saya berkumpul dengan Kakek dan Paman saya di balai rumah. Obrolan kami bermuara ke musik, dan saya memasang Genjer-Genjer versi Lilies Suryani di komputer jinjing. Kakek saya – yang menyaksikan langsung pembantaian 1965 saat masih seumuran adik saya – refleks berjengit. “Kamu kok punya lagu ini? Ini lagu terlarang, loh.” Saya mengganti ke lagu Hurry-ku, juga karya Lilies Suryani, dan ia tersenyum lebar sambil bercerocos tentang jazz, pemilu, dan tetek bengek lainnya.

 

 

Inilah yang terjadi ketika sebuah lagu berhenti menjadi serangkaian not balok dan nada yang imajiner. Ia menjadi bagian dari sejarah yang panjang, rumit, serta – dalam konteks ini – penuh tragedi dan mitos. Menyanyikan Genjer-Genjer menjadi lebih dari sekedar tindakan mengalunkan ulang nada-nada sendu yang digubah Muhammad Arief.  Ketika saya mulai melafalkan ulang lirik bahasa Osing dan membayangkan kemiskinan yang digambarkan olehnya, nyanyian tersebut terasa seperti tindakan yang membebaskan. Entah apa kata yang bisa saya gunakan untuk menggambarkan kontras antara keraguan Kakek saya (yang diam-diam hafal lagu tersebut) dengan sikap saya yang sembarangan menyanyikan Genjer-Genjer. Entah apa kata yang bisa saya gunakan untuk menunjukkan bahwa beban sejarah yang dibawa oleh generasi Kakek saya, rupanya tidak ikut dipikul oleh generasi saya. Mungkin, istilah ‘lega’ tak sepenuhnya salah.

‘Lega’ rasanya melihat Genjer-Genjer kembali ke ranah publik. Karena ia memang lagu yang kaya makna dan selalu menarik. Mulai dari versi Tika and the Dissidents, versi Filastine & Nova Ruth, hingga versi bahasa Khmer yang diterjemahkan dan dinyanyikan ulang oleh Dengue Fever. Nama yang disebut terakhir adalah kasus yang menarik. Grup asal Los Angeles ini dikenal rajin mendokumentasikan dan menginterpretasikan ulang lagu-lagu dari scene rock/psychedelic Kamboja yang tumbuh subur pada tahun 1950-60’an. Ironisnya, ketika rezim komunis Khmer Rouge menguasai Kamboja, justru scene musik rock itulah yang jadi salah satu sasaran utama pemusnahan massal. Para penyanyi yang meramaikan scene rock di Phnom Penh, di antaranya nama-nama besar seperti Sinn Sisamouth dan Ros Serey Sothea banyak yang meninggal dan menghilang secara misterius karena dituduh musuh rezim Komunis. Konser-konser dibatalkan, artis-artis disensor dan dibunuh, serta rekaman musik mereka dihancurkan secara massal. Tanpa usaha dari pihak-pihak seperti Dengue Fever, mungkin jejak rekam sejarah musik Kamboja yang kaya tersebut akan hilang selamanya. Lantas, apakah ironis bahwa mereka kemudian begitu khidmat menyanyikan ulang Genjer-Genjer  - lagu yang begitu lama diasosiasikan dengan gerakan Komunis?

Atau mungkin penjelasannya jauh lebih sederhana. Genjer-Genjer, bagi mereka, adalah lagu yang enak. Cukup begitu saja.

 

 

****

Entah apa yang dipendam Sinar Syamsi di benaknya selama ini. Nama baik ayahnya, sang seniman hebat yang selama hidupnya begitu dihormati, compang-camping digerus politik. Mahakarya ayahnya, yang seharusnya jadi kebanggaan keluarga, malah dibungkam dan tak boleh dilantunkan selama lebih dari tiga dekade. Bagaimana rasanya tumbuh besar sebagai anak dari pencipta salah satu lagu paling kontroversial dalam sejarah Indonesia? Bisakah anda membayangkan?

Suka atau tidak, Genjer-Genjer belum akan lepas sepenuhnya dari beban sejarah. Rasanya, ia akan selamanya mengingatkan kita akan sejarah kelam dan simpang siur yang melatarbelakangi tahun-tahun penuh pergolakan tersebut. Judul lagu tersebut akan selalu erat dengan kontroversi, pro kontra, pelarangan, dan debat kusir yang menggelikan tentang ideologi, nasionalisme, dan kebangsaan. Masih ada terlalu banyak persoalan yang perlu diselesaikan sebelum kita bisa menikmati dan menyanyikan lagi Genjer-Genjer sebagaimana adanya. Sebagai lagu yang enak, indah, dan membuai. Tak lebih.

Nova Ruth, dalam catatan di situs pribadi-nya, mengenang kunjungannya ke daerah Baung di Purwodadi. Menurut sejarah lisan warga, di daerah tersebut terdapat sebuah makam massal PKI. Ketika Nova dan kawannya mengadakan pentas kecil-kecilan untuk penutupan sebuah acara, ia menyanyikan Genjer-Genjer, tak mengindahkan peringatan warga yang melarangnya menyanyikan lagu tersebut. Listrik kontan mati, sebelum menyala lagi dan membuat panik Nova, kerumunan penonton, dan warga sekitar. Menurut warga sekitar, Nova telah membuat marah para arwah PKI yang merasa ‘tidak diajak’ ikut bernyanyi.

Penduduk lokal datang lagi.” Tulis Nova. “Kali ini dengan perintah. ‘Mbak.. katanya minta dibakarkan ayam 2 potong dan minta mbak yang bawa ke dapur untuk dikasihkan kepada juru kunci, Pak Tris.’ Jadi saya kembali menyimpulkan, rupanya ‘mereka’ tidak marah sama sekali, melainkan ingin menjadi bagian dari pesta kami, para aktifis yang selalu mengenang kepergian mereka yang sia-sia. Saya membakar ayam-ayam itu dengan ikhlas. Saya hampiri Pak Tris dan berkata, ‘Niki Pak.. Sampeyan ngomong nggih.. Kulo mboten onten niat elek.’ (Ini pak.. Anda bilang ya.. saya tidak ada niat jelek).

“Pada titik ini saya merasa ini adalah sebuah restu dari ‘mereka’ untuk terus menyanyikan lagu indah ini kapan pun saya mau. Selain itu, saya merasa mencuatnya ‘mereka’ dengan apapun sinyal yang mereka buat, lampu mati, minta sesaji dan yang lainnya, adalah pertanda bahwa ‘mereka’ tidak ingin dilupakan.

Lima puluh tahun setelah kematian penciptanya, lagu tersebut terus dinyanyikan dalam berbagai rupa. Agaknya, ia masih menjadi jembatan kecil kita dengan masa lampau.