Latest Post

Merayakan Apa?: Refleksi atas Bandung Zines Fest

Foto: Juan Antonio

Bandung Zines Fest (selanjutnya ditulis BZF) adalah perhelatan tahunan yang mengangkat zines1 sebagai objek utama dalam medan self-media2. Tidak terasa, sudah tiga tahun acara itu berlalu, dan banyak kawan (baik dari pihak pengorganisir maupun pihak non-pengorganisir) yang menyarankan untuk menyelenggarakannya kembali.

Memang, pernah terjadi kesepakatan di antara kawan-kawan (terutama pihak pengorganisir) untuk menyelenggarakan BZF pada tahun ini, atau dengan kata lain, event itu bersifat biennale (penyelenggaraan yang bersifat dua tahun sekali). Akan tetapi, dalam tulisan ini saya tidak akan membicarakan event itu yang bersifat biennale, setiap tahun, atau triennale (penyelenggaran yang bersifat tiga tahun sekali), melainkan abainya sikap kawan-kawan dalam mempertanyakan kembali maksud dan tujuan BZF seperti:

  1. Mengapa event tersebut harus diselenggarakan kembali?

  2. Seberapa pentingkah event tersebut?

  3. Wacana apa yang akan disampaikan dalam event tersebut?

Sebelum menjawab ketiga pertanyaan tersebut, terlebih dulu saya paparkan latar belakang penyelenggaraan BZF pada 2012 dan 2013.

***

BZF 2012 —yang juga merupakan penyelenggaraan perdana— bertujuan untuk merayakan dan memetakan pertumbuhan zines beserta perkembangan komunitasnya3 yang telah berjejaring sejak dekade 1990-an hingga awal dekade 2000-an4. Dapat dikatakan, zines yang terbit pada kurun waktu itu mayoritas merupakan zines yang mengangkat isu seputar komunitas musik (biasanya diasosiasikan dengan subkultur punk, baik musik hingga beragam atributnya yang saling beririsan), politik, personal, gender, sastra, seni visual, dan lain-lain.

Berikutnya, BZF 2013 mencoba untuk merayakan dan memetakan zines yang mulai diinisiasi oleh komunitas zines paska-BZF 2012, atau komunitas zines yang tumbuh pada era internet5. Memang para kreator generasi sebelumnya juga turut berpartisipasi, dan kemudian malah terjadi penumpukan tanpa kurasi yang ketat sehingga penyelenggaraan kedua cenderung identik dengan suasana ‘pasar kaget’. Tetapi dari pemaparan di atas terdapat poin yang patut untuk dgarisbawahi, yakni perbedaan nilai-nilai yang dianut oleh kedua penyelenggaran itu, baik pola pengorganisiran, kreator yang berpartisipasi, hingga berkembangnya ragam pengunjung BZF.

Berkembangnya ragam pengunjung dan ‘pasar kaget’. Dua poin inilah yang menurut saya perlu dipertimbangkan untuk penyelenggaraan berikutnya. Berkembangnya ragam pengunjung BZF tentu patut disyukuri. Hal itu menandakan bahwa zines tidak lagi diproduksi dan dikonsumsi oleh komunitas tertentu saja atau dengan kata lain eksklusif. Namun, perkembangan ini juga bak pisau bermata dua. Salah satu implikasinya adalah kecendeungan munculnya ‘pasar kaget’ —terutama pada BZF 2013— yang kemudian hanya mengarah pada euforia sesaat. Pada BZF 2013, individu atau komunitas mendadak ‘berlomba-lomba’ untuk menjadi kreator zines pada festival itu. Tidak ada yang salah memang, sebab paska-BZF 2013 memang terjadi pertumbuhan produksi zines —terutama di kalangan anak muda alternatif—, bahkan di luar komunitas punk yang selama ini cukup dominan. Namun, memasuki 2015, selain zines yang bertema seni visual, produksi zines (terutama cetak dan pdf6) kembali surut. Hal itu menadakan bahwa euforia pertumbuhan zines pada BZF 2013 dan paska-BZF 2013 (2013-2014) hanya bersifat sesaat7.

Selain itu, dapat dikatakan bahwa gejala ‘perlombaan’ menjadi kreator zines memiliki kecenderungan yang mirip dengan fenomena ‘perlombaan’ mendirikan clothing line satu dekade sebelumnya. Tentu hal ini akan sedikit mereduksi maksud dan tujuan penyelenggaran BZF, dan juga memungkinkan terjadinya kejenuhan publik sebagai implikasi dari kehadiran festival yang (hanya) terus-menerus memproduksi rutinitas.

Untuk menghindari kecenderungan ‘pasar kaget’ tersebut, penyelenggara berikutnya perlu mempertimbangkan adanya sistem kurasi yang selama ini luput dari kedua penyelenggaraan sebelumnya, entah dalam bentuk pemilihan tema, wacana yang akan diangkat. hingga perkembangan apa yang perlu ditangkap oleh kawan-kawan pengorganisir BZF sehingga tidak perlu terjadi pengulangan ‘pasar kaget’ untuk kedua kalinya.

Proses kurasi dan pembacaan gejala tersebut juga diperlukan untuk merespon gejala ‘pasar kaget’ yang dibarengi dengan gejala ‘perlombaan menjadi kreator zines (fisik)’. Karena, ada hal yang luput dari para agen-agen atau yang terkondisikan sebagai komunitas zines, yakni {meminjam dan mengadaptasi konsep Sanento Yuliman (2001:118-119 dalam Hujatnikajenong, 2015:183-184) yang digunakan dalam membaca medan seni rupa} terjadinya gejala ‘pendusunan’.

Maksud dari ‘pendusunan’ di sini dapat dibaca dari menyusutnya kesadaran akan sistematika penulisan yang dapat dimengerti oleh publik, terutama di mana para kreator zines sibuk merayakan ‘gaya komunitasnya’ tanpa perlu menindaklanjuti strategi dalam hal kemasan (baik bahasa maupun artistik kemasan visual) yang dapat dimengerti oleh publik. Padahal, di satu sisi mereka (komunitas zines) sering ‘mengkampanyekan’ bahwa isu yang mereka angkat dirasa penting dan patut untuk diketahui oleh publik. Hal itu tidak terlepas dari gejala ‘perlombaan’ atau dengan kata lain “yang penting aku bikin zines”.

Gejala lainnya juga dapat dicermati adalah, komunitas zines justru jauh dari realitas kebiasaan yang dipraktikkan oleh publik. Misalnya, ketidaksadaran dalam merespon perubahan zaman – atau lebih tepatnya, menanggapi kemunculan media komunikasi mutakhir yang sering diistilahkan media baru, di antaranya radio online, kanal video komunitas, meme, website, blog atau yang kadang-kadang diistilahkan sebagai webzines. Penting juga untuk mewacanakan dan mengelaborasi kemunculan wujud media baru tersebut dalam wacana penyelenggaraan BZF berikutnya, seperti “Apakah kemunculan ragam media baru dapat dikategorikan sebagai wujud transformasi dan adaptasi dari zines?” Memang masih banyak komunitas yang menganggap zines fisik sebagai kultus yang ajeg. Tentu, hal itu perlu untuk ditindaklanjuti dalam hal meredefinsi zines atau bahkan penamaan dari festival itu sendiri. Entah dalam istilah lain, misalnya istilah community media, self media atau mencoba meminjam dan mengadaptasi wujud media baru seperti dipaparkan di atas.

Sementara, (terutama) untuk medan zines (fisik) dapat dikatakan cukup banyak indikator-indkator yang dapat diwacanakan untuk penyelenggaraan BZF berikutnya, salah satunya: “Konsistensi para kreator zines yag berada di medan zines visual pada masa boom zines hingga surutnya produksi zines dalam satu tahun terakhir.

Selain itu, bukankah festival sendiri bermakna sebagai bentuk perayaan dari sebuah komunitas dengan indikator-indikator yang dapat dijadikan landasan untuk melakukan sebuah praktik perayaan? Tentu akan terdengar absurd, apabila sebuah komunitas tetap ngotot mengadakan festival tanpa mengetahui nilai apa yang perlu dirayakan dari komunitasnya tersebut.

Bahkan, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008: 391) festival diterjemahkan sebagai hari atau pekan dalam rangka peringatan peristiwa penting atau bersejarah.

Festival tanpa landasan perayaan mungkin sama saja dengan gejala ‘pendusunan’ seperti yang dikatakan Sanento Yuliman dalam membaca gejala boom seni rupa Indonesia pada periode 1980-an, di mana orang-orang berlomba-lomba untuk memproduksi dan memamerkan karyanya, namun jauh dari realitas yang sedang berkembang.

Lantas, bila wacana itu belum ada atau belum penting dirayakan, tentu festival tidak harus dipaksakan untuk diselenggarakan, bukan?

Kamar Loteng, Cimahi, 10 Maret 2016

 

Daftar Pustaka:

Duncombe, Stephen. 2008. Notes From Underground: Zines and The Politics of Alternative Culture. Bloomington: Microcosm
Hujatnikajenong, Agung. 2015. Kurasi dan Kuasa: Kekuratoran dalam Medan Seni Rupa Kontemporer di Indonesia. Tangerang Selatan: Marjin Kiri
Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Keempat. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
Tim Ayo Bikin Zine. 2006. “Tentang Zine di Indonesia” dalam Ayo Bikin Zine. Edisi 1

Catatan Belakang:

1Zines merupakan salah satu produk media cetak yang diistilahkan dalam kultur anak muda alternatif sebagai media alternatif. Biasanya, zines diidentikan sebagai media produksi dan berkomunikasi yang umumnya dilakukan oleh anak muda alternatif. Zines sendiri (biasanya) bertemakan isu-isu yang dianggap alternatif, serta kurang diangkat dalam isu yang berkembang di masyrakat umum. Zines dalam proses produksi dan distribusinya tidak secara massal, melainkan hanya oplah yang maksimal berkisar 100 buah, serta biasanya dicetak dan digandakan melalui mesin fotokopi (Duncombe, 2008: 31-35). Namun dengan berkembangnya teknologi dan informasi, produksi dan distribusi zines tidak selalu menggunakan mesin fotokopi. Bahkan, zines dapat diproduksi dan didistribusikan melalui portable document format (pdf), mesin cetak laser, dan berfornat layaknya majalah konvensional. Kultur ini tumbuh di komunitas fiksi ilmiah pada era 1950-an di Amerika Serikat dan kultur punk di Britania Raya pada era 1970-an. Di Indonesia sendiri, istilah zines mulai populer di kalangan anak muda alternatif (terutama yang diasosiasikan dengan kultur punk) pada dekade 1990-an, terutama di kota Bandung dan Jakarta (Tim Ayo Bikin Zine. 2007. “Tentang Zine di Indonesia” dalam Ayo Bikin Zine. Edisi 1, hlm. 27-28).

2 Penulis lebih memilih menggunakan istilah self media karena memiliki posisi yang lebih netral dibandingkan dengan istilah media alternatif yang kadang-kadang terjebak dengan pengistilahan atau nilai-nilai yang dipercaya oleh individu atau suatu komunitas. Selain dapat diproduksi sendiri, praktik ini juga dapat dilakukan bersama individu lainnya maupun komunitas. Untuk kepentingan tulisan ini, penulis lebih menyoroti zines sebagai salah satu produk self media (beserta produk lainnya yang dapat dikatakan memiliki pola produksi dan distribusi yang sama, di antaranya: newsletter, pamflet, D.I.Y comics, dan lain-lain) .

3 Maksud dari komunitas, yakni para kreator, ditributor, dan pembaca zines dan beberapa produk self media yang memiiki pola produksi yang sama dengan zines, di antaranya newsletter, pamflet, dan lain-lain.

4 Pada era sebelum dekade 1990-an, dapat dikatakan self media memiliki identitas yang berbeda dengan self media yang diproduksi pada dekade 1990-an hingga sekarang, di mana pada dekade 1990-an hingga sekarang, wujud dan identitasnya kerap diasosiasikan dengan medan musik yang diproduksi dan dikonsumsi oleh anak muda alternatif. Hal itu dapat dibaca dari penggunaan istilah zines sebagai penanda dari identitas self media yang diproduksi dan dikonsumsinya. Mayoritas self media yang diproduksi pada era sebelum dekade 1990-an belum menggunakan istilah zines, melainkan dengan menggunakan istilah (yang biasanya) koran atau buletin, di antaranya Koran Soenda Berita (1903), Buletin Gaya Hidup Ceria (1982), dan lain-lain. Hal itu dapat disebabkan pola produksi dan identitas yang dikonsumsi oleh publik pada periode 1990-an, mayoritasnya berasal dari anak muda alternatif yang kerap diasosiasikan dengan subkultur punk yang mulai dikonsumsi dan direproduksi pada era 1990-an (Lihat catatan kaki no 3) dan kemudian menjadi istilah populer sekaligus menjadi penanda identitas (bagi sebagian komunitas) hingga sekarang.

5 Lebih tepatnya, kreator, distributor, dan konsumen yang mulai memanfaatkan internet sebagai sarana untuk mengakses, mempromosikan, hingga mendistribusikan zines yang diproduksinya (baik dalam wujud cetak maupun pdf). Hal itu dapat dibaca dari aktivitas transaksi yang berwujud pre-order di website, blog, atau melalui pemanfaatan media sosial (di antaranya facebook, twitter, instagram, dan lain-lain), media unduh-berbagi (di antaranya mediafire, 4shared, internetarchive) yang kemudian dikombinasikan (secara bersamaan) dengan pemanfaatan sarana non-internet, di antaranya eksibisi, menggelar lapakan {biasanya di pementasan musik, pameran (fair)}, dan lain-lain. Kecenderungan ini mulai meningkat pada 2009 hingga sekarang.

6 Penulis membatasi hanya dalam wujud cetak dan pdf saja, sementara wujud website, blog, atau yang sering diistilahkan webzines tidak masuk dalam poin ini.

7 Penulis hanya menggunakan zines yang diprduksi dan diterbitkan di Bandung sebagai acuan dalam membicarakan surutnya pertumbuhan produksi zines di tahun 2015.