Latest Post

Mike Azerrad: “Our Band Could Be Your Life”

Saya adalah salah satu penyimak hardcore/punk, baik dalam kapasitas musikal ataupun pemberontakannya. Hardcore/Punk adalah pemberontakan? Bagi saya iya, walaupun konteks pemberontakannya bukan melulu tentang menghancurkan sistem yang sudah ada, tapi lebih tentang menciptakan sebuah sistem tersendiri sebagai tandingan. Counter Culture. Dan begitulah pula saya memaknai ethos Do It Yourself, budaya "Lakukan Sendiri". Membiasakan diri untuk menjadi mandiri, dan sekaligus meminimalisir ketergantungan terhadap apapun yang mutlak berkaitan dengan jual-beli serta melulu ujungnya pamrih dan profit. Dan membawanya dalam praktek hidup sehari-hari, kadang kala memang dipandang aneh oleh orang-orang sekitar. Tapi sekali lagi, bukankah ini pemberontakan? Dan pemberontakan pasti untuk perubahan, bukan?

Hardcore Punk dalam konteks musikalnya menerapkan metode pemberontakan yang semacam. Etos Do It Yourself dalam hingar bingar dunia musik, bisa dikatakan memicu kultur indie. Kultur indie yang dalam pemaknaan musikal, bisa berarti memerdekakan diri dalam aktivitas bermusik itu sendiri, lepas dari segala aturan bermusik konvensional yang sebelumnya ada dan mapan. Dan walaupun dalam masa sekarang makna dari ‘menjadi indie’ sendiri sudah menjadi begitu kabur dan overrated, tapi paling tidak, pernah ada sebuah awal dimana pemaknaan menjadi indie mengalami penerapan yang militan, dan akhirnya menjadi dasar dalam memaknai pengartian kata independen itu sendiri pada masa sekarang. Dan hal tersebut bisa jadi berfungsi sebagai pengingat ketika segala diskusi tentang indie dengan segala macam pe-redefinisian-nya mengalami kebuntuan.

Kultur musik indie tentu saja pernah mengalami masa-masa awal dalam usaha penerapannya oleh band-band pionir yang meyakininya. Dan band-band pionir inipun mengalami transformasi perjalanan yang berbeda-beda dalam memaknai kata "indie" itu sendiri. Ada yang tetap tegar dengan kemandirian, menjauhkan diri dari cengkraman korporat-korporat musik. Dan ada pula yang menjadikan "indie" sebagai sekedar batu loncatan untuk akhirnya menjatuhkan diri pada industri musik korporat-korporat tersebut. Dan banyak dari kita yang berada di Indonesia sangat terinspirasi dengan band-band ini. Tentu saja kita tidak akan menyangkal betapa dipujanya nama-nama seperti Black Flag, Minor Threat, ataupun Sonic Youth di kalangan praktisi musik independen negeri ini. Band-band seperti mereka-lah yang pernah menjalani darah dan air mata menjadi pionir kultur musik indie pada era di mana hal tersebut bukanlah hal yang populer dalam dunia musik itu sendiri.

Kenapa saya sebut darah dan air mata? Karena memang tidak mudah menjalani apa yang mereka lakukan pada masa-masa dimana mereka menjalaninya. Berani bersusah-payah dengan kemandirian dalam mengorganisir gig, manajemen band, mencetak flyer, ataupun distribusi rekaman. Apa yang mereka lakukan itu saya pandang sebagai pemberontakan terhadap sebuah sistem industri musik yang sebelumnya ada. Mereka melakukannya karena mereka yakin terhadap apa yang mereka lakukan, walaupun sekali lagi, susah payah dalam menjalaninya. Dan hasilnya pada masa sekarang? Filosofi Do It Yourself berhasil menjadi lebih dari sekedar filosofi, tapi juga sebuah konsep yang berhasil menjadi tandingan dari monopoli industri musik arus utama yang eksis. Singkatnya, menjadi sistem alternatif dalam bermusik itu sendiri. Michael Azerrad dengan bukunya yang berjudul "Our Band Could Be Your Life" mendokumentasikan dengan bagus kisah dari 13 band krusial yang dia pandang menjalani hal-hal tersebut. 13 band yang memang memberikan inspirasi besar terhadap band-band sekarang yang menjalani warisan filosofi mereka, filosofi Do It Yourself.

Buku ini merangkum fokus pada 13 band berikut ini :

1. Black Flag (dari Hermosa Beach/Los Angeles, California)

2. Minutemen (dari San Pedro/Los Angeles, California)

3.  Mission of Burma (dari Boston, Massachusetts)

4.  Minor Threat (dari Washington, D.C.)

5.  Hüsker Dü (dari Minneapolis - Saint Paul, Minnesota)

6.  The Replacements (dari Minneapolis - Saint Paul, Minnesota)

7.  Sonic Youth (dari New York City, New York)

8.  Butthole Surfers (dari San Antonio, Texas)

9.  Big Black (dari Evanston/Chicago, Illinois)

10. Dinosaur Jr. (dari Amherst, Massachusetts)

11. Fugazi (dari Washington, D.C.)

12. Mudhoney (dari Seattle, Washington)

13. Beat Happening (dari Olympia, Washington)

Michael Azerrad terpacu untuk menulis buku ini setelah menyimak sebuah miniseri dokumenter tentang sejarah musik rock. Dimana dalam film itu, setelah menayangkan era punk rock 70-an, langsung melompat ke era Nirvana dan grunge 90-an. Michael Azerrad mungkin merasa tidak terima ketika band-band yang sangat militan dan inspiratif seperti Black Flag ataupun Minor Threat tidak dibahas dalam dokumenter tersebut. Padahal band-band tersebut, ketika disadari, adalah band yang melahirkan pemaknaan sebenarnya dari istilah hardcore/punk sendiri. Band-band yang berani mandiri dengan menjalani filosofi Do It Your Self dengan sepenuh hati. Band-band yang pada masa sekarang dihormati karena memberikan inspirasi besar tentang menjadi independen dalam bermusik itu sendiri.

Our Band Could Be Your Life di cetak pada tahun 2001. Dan buku ini saya baca dalam versi aslinya yang memakai bahasa Inggris (sambil bekal bawa kamus tentunya), sudah lama sekali, sekitar tahun 2004. Saya kurang begitu tahu apakah sekarang sudah ada yang menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia. Tapi yang jelas, buku ini sangat berharga ketika kalian menyisakan waktu untuk membacanya. Our Band Could Be Your Life bisa menyadarkan orang atau band yang mungkin merasa konsep hardcore/punk-nya orisinil, padahal sudah di terapkan dalam militansi yang tidak sembarangan oleh band-band dalam buku ini. Dan begitulah saya memaknai hardcore/punk, militansi penuh dalam menjalani filosofi hardcore/punk itu sendiri.

Militansi adalah sebuah kata yang berkaitan erat dengan keyakinan. Dan begitulah Our Band Could Be Your Life. Buku ini menggambarkan bagaimana band-band tersebut bisa membuktikan bahwa sebuah eksistensi kemerdekaan bermusik berhasil diterapkan di luar struktur korporat. Iya, band-band yang disebutkan dalam buku ini melakukan perang terhadap industri musik. Dan hebatnya, mereka menang. Atau paling tidak, pernah menang ketika bertarung atas sesuatu yang mereka yakini.

Musik rock produksi korporat arus utama mungkin melulu tentang hingar bingar mimpi kehidupan mewah. Sementara, musik independen adalah tentang hidup realistis dan kebanggaan karena telah menjalaninya. Band indie tidak perlu dana jutaan rupiah untuk promosi, tidak pula butuh riasan ataupun kostum mahal demi keperluan panggung. Menjadi band indie adalah tentang percaya pada diri sendiri, dan membuat beberapa yang lainnya akhirnya juga mempercayai semangat mereka. Semangat yang akhirnya menginspirasikan, bahwa setiap band itu bisa hidup dengan bermusik tanpa uang korporat. Tidak juga butuh parameter arus utama dalam menilai bagus atau tidaknya musik mereka.

Saya sangat terinspirasi ketika menyimak sebuah wawancara dengan Michael Azerrad, di mana dia bercerita bahwa suatu ketika dia menawari Fugazi sebuah sesi wawancara yang akan dimuat di majalah Rolling Stone. Dengan gamblang Ian McKaye (penyanyi Fugazi) menjawab bahwa mereka baru akan bersedia melakukan wawancara tersebut jika Rolling Stone bersedia membayar Fugazi sejumlah 1 juta dollar dalam bentuk tunai. Sebuah jawaban yang cukup satir dalam menyampaikan ketidak-sediaan mereka. Michael Azerrad sendiri melakukan riset dan wawancara yang aktif dengan para anggota ataupun mantan anggota dari band-band yang tercakup dalam buku ini. Dan hasil dari riset dan wawancara tersebut, kemudian menjelma menjadi narasi konstruktif yang nikmat untuk dibaca, dan tentu saja bukan fiksi.

Sebuah cerita yang akan menyampaikan bahwa mitos-mitos tertentu, seperti misalnya tentang bagaimana personel Sonic Youth, Thurston Moore, benar-benar membuat fanzine dalam upayanya membangun jejaring adalah nyata, bukan omong kosong. Buku ini akan memberi gambaran-gambaran yang menarik kepada kita tentang bagaimana band-band tersebut menjadi kreatif dalam menciptakan metode hasil pemahaman pribadi mereka terhadap filosofi Do It Yourself.

Seperti yang saya tulis sebelumnya, mungkin pemaknaan indie pada masa sekarang sudah menjadi begitu kabur dan dilebih-lebihkan. Patut dicatat, bahwa tidak semua band dalam buku ini yang pada akhirnya tetap kukuh menjalani kemandirian dalam perjalanan bermusik mereka. Dan memang banyak musisi yang menjalankan filosofi Do It Yourself sebagai sekedar batu loncatan untuk kemudian menjadi sell out dan masuk ke dalam industri. Tapi sekali lagi, apapun tujuan sebuah band dalam menjadikan independensi dalam jalan bermusik mereka, ternyata ada alternatif jalan dalam bermusik selain hanya mengemis kepada korporat industri musik. Itulah penyadaran yang saya raih, dan bahkan terpenting ketika menyelesaikan buku ini sampai halaman terakhir. Paling tidak mereka pernah melakukan sesuatu atas dasar filosofi ethos Do It Yourself, menjadi mandiri dan merdeka. Dan bagi yang tetap tegar menjalani filosofi ethos Do It Yourself, pasti merupakan kebanggan tersendiri. Melakukan pemberontakan dengan sebuah dasar yang sangat diyakini dalam skala kebenaran pribadi mereka.

Inspirasi dalam buku ini tidak sembarangan, karena kejadian-kejadian yang dituturkan bukanlah sekedar fiksi, tapi berdasarkan kejadian nyata. Our Band Could Be Your Life, ketika benar-benar disimak, akan mengubah seorang musisi ketika dia selesai membaca. Dan itulah kenapa judulnya se-frontal itu, penuh keyakinan, karena akan menginspirasi tumbuhnya sebuah keyakinan. Keyakinan bahwa seorang musisi tidak perlu lagi bersikap gampang merengek dan manja kepada korporat, tapi seorang musisi yang berani melakukan langkah awal penerapan dari filosofi Do It Yourself itu sendiri. Dan saya pikir, bukankah menjadi musisi yang mandiri itu keren?