Latest Post

Netlabel: Galikan Aku Kubur yang Dangkal Agar Aku Dapat Merasakan Rintikan Hujan

Oleh Andaru Pramudito, Aga Rasyidi Sukandar & Raka Ibrahim

Prolog

Jadi, mungkin tidak ada yang mengerti referensi Dave Matthews Band pada judul di atas – maaf,  khilaf, iya lame banget memang – namun mungkin judul ini sangat cocok apa yang sekarang  dapat dikatakan mengenai netlabel. Pada saat artikel ini ditulis (26 Oktober 2014), inmyroom. us tercatat terakhir merilis dua bulan lalu, hujanrekords.com expired domainnya, lalu... StoneAge  Records membuat label fisik, Rizkan Records... ah, kali ini, fuck research.

Poinnya adalah netlabel perlahan mati. Jangankan menjadi gerakan yang kita semua dambakan,  untuk membayar hosting server saja kesulitan. Pun jika itu dapat dilakukan, untuk sekadar  mengupdate konten, sulit rasanya untuk menyisihkan waktu. Hasrat DIY punk tenggelam perlahan  dihantam oleh kejamnya realita bahwa untuk menafkahi passion sejumlah uang kartal ataupun  giral dibutuhkan. Kenapa beberapa DIY punk bisa hidup? Because evidently they sell shit.

The problem is that the DIY scene exists in a little bubble where prices have to be kept lower than  the realistic cost of production and labor. Each time we try to raise our prices to be a little closer  to reality, we face staunch resistance from those who say we charge too much money or shouldn’t  be paid for our work in the DIY scene. This narrow-minded attitude doesn’t allow extra money for  food, clothing, and shelter, and therefore doesn’t realistically support its own movement.

Kutipan diatas diambil dari – lagi-lagi – Punk Productions oleh Stacy Thompson yang merupakan  surat editorial terakhir Profane Existence, sebuah zine anarcho-punk dari Minneapolis, AS  sebelum mereka gulung tikar. Ya, dunia kejam.Untuk beberapa menit saja, saya menghimbau  agar kita menyingkirkan asumsi kolot bahwa netlabel harus gratis tanpa melupakan netlabel  sebagai movement yang mengedepankan gift economy – yang tentu saja akan saya bantai  diakhir artikel ini.

Non-Fisik Vs. Fisik

Lima hingga enam tahun yang lalu, rilisan digital oleh netlabel mungkin saja menjadi primadona  bagi musisi yang baru akan merilis karyanya ataupun musisi lama yang kembali lagi dari tidur  panjangnya. Sebut saja kala itu The Upstairs merilis Ku Nobatkan Jadi Fantasi pada 2008 melalui  Yes No Wave Music, Kompilasi Beyond The Sky (2009) yang dirilis Invasi Records (Netlabel  keren ini sudah almarhum juga.) berisikan band-band ambient dan post-rock yang saat itu sedang  ramai di skena post-rock lokal seperti Ansaphone, Under The Big Bright Yellow Sun, dan Marche  la Void. Semua merilis di netlabel dengan asumsi sebuah jalur distribusi ekstra luas dengan biaya  produksi yang boleh dikatakan sangat minim.

Namun kini, kenyataannya berbeda. Merilis album di netlabel boleh jadi semacam “plan B”  bagi musisi independen yang akan melepas karyanya ataupun bagi musisi yang sudah malang  melintang. Rilisan fisik dalam berbagai media, vinyl, kaset dan CD, bisa jadi kembali menjadi  pilihan utama bagi mereka. Berbagai pengalaman kurang menyenangkan yang berhubungan  dengan rilisan digital via netlabel boleh jadi alasan. Di luar kesuksesan Bottlesmoker yang  memang tidak hanya berpangku tangan pada netlabel melainkan jalur DIY melalui jalur pribadi  http://www.bottlesmoker.asia, Self Address Self Envelope (SASE), medium file sharing dan  berbagai gimmick lainnya, boleh jadi perilisan materi melalui netlabel seringkali menemui  jalan buntu. Rilisan hilang tak berbekas, tidak “nyangkut” di hati pendengarnya. Belajar dari  ketenaran Starlit Carousel oleh Frau dan Trilogi Peradaban oleh Zoo, kita tak bisa mengingkari  fakta netlabel membantu promosi kepada khalayak yang lebih luas. Namun, promosi diri oleh  produsen seni dan management jauh lebih signifikan.

Siklus rilis-unduh-dengar-lupa adalah salah satu alasan banyak musisi yang dulunya merilis materi  mereka melalui netlabel kini harus berpikir dua kali untuk melakukan hal yang sama. Kurang  “collectible”nya materi rilisan digital menjadi salah satu alasan mengapa rilisan digital acapkali mudah dilupakan. Ketiadaan “rasa memiliki” yang dibangun oleh rilis digital membuatnya  kurang menarik bagi kaum eksistensialis; tidak ada bragging rights berbentuk plat atau cover art  atau poster yang digantung di kamar kos. Tidak ada manifestasi fisik yang dapat menunjukkan  bahwa konsumen ikut “memiliki” karya tersebut. Koneksi, perasaan “gue penikmat musik sejati”,  rasa nostalgia (terutama untuk kaset dan vinyl) vakum pada saat rilis berbentuk digital.

Di samping itu, ketiadaan benefit langsung bagi artis, terlebih bila netlabel yang menaungi  cenderung malas untuk mempublikasi dan mem-branding rilisan menjadi alasan berikutnya yang  tentu cukup menganggu. Oleh karena ketiadaan benefit tersebut, tiadanya pemasukan berupa  fresh-money ke kantong artis, absennya konsep distribusi langsung dan kurangnya branding-lah  mengapa kini rilis digital via netlabel sudah banyak ditinggalkan.

Netlabel dan Business Model Alternatif

Pertanyaan pertama adalah ini, dan mungkin pernah ditanyakan sebelumnya lebih dari sekali:  kenapa harus netlabel? Kenapa? Ya, paling tidak kita dapat berasumsi bahwa dengan internet  kita dapat memperluas jaringan distribusi yang tidak mampu disediakan melalui media rekam  dan jalur distribusi konvensional. Kurasi yang lebih bebas membuat musik-musik aneh memiliki  tempat di skena lokal.

Namun kenapa netlabel harus melulu merugi? Apakah menjadi normal bahwa sustainability  sebuah netlabel tergantung pada kemampuan kapital pengelolanya yang didapat dari pekerjaan  hariannya? Apakah netlabel harus melulu jadi alter ego? Idealis dan terlepas dari pengaruh – sayup  terdengar lagu L’internationale di latar belakang – kapitalistis !?

Maka sub-seksi ini akan membicarakan tentang alternatif yang bisa dilakukan untuk mempertahankan sustainability, paling tidak secara finansial.

Paling sederhana daripada model ekonomi ini, dan sudah berjalan, adalah unduh gratis,  manggung bayar. Tapi ini hanya berlaku untuk para produsen seni, para pengelola netlabel  sama sekali tidak mendapatkan keuntungan dari ini. Sangat disayangkan, padahal jadwal  panggung itu bisa saja didapatkan dari pengelola netlabel yang sudah cukup banyak meluangkan  tenaga untuk membangun dan mengurasi website tersebut. Ini menurut saya sangat tidak adil.  

Lantas, kembali pada argumentasi diatas bahwa bahwa egoisme ideologis di atas keringat  orang lain akan – pada akhirnya – membunuh ideologi itu sendiri. Namun, konsep sederhana  ini pun -- jika berhasil -- menjadi bermasalah pada saat akses terhadap panggung pun terbatas,  biaya yang diperlukan untuk menyelenggarakan acara tidak kecil. Gigs studio (di Jakarta)  membutuhkan biaya paling tidak 1,5 juta, belum termasuk biaya mempromosikan acara, kecuali  jika yang menyelenggarakan lumayan kesohor itu sehingga secara otomatis happening.

Kita sebenarnya dapat mencontoh beberapa model bisnis yang menggunakan lisensi bebas  sebagai fondasi, Jamendo misalnya. Jamendo meskipun menawarkan unduh dan dengar gratis  dan bebas, mereka mempunyai model bisnis curated radio. Mereka menawarkan jasa pada  kafe-kafe, bar-bar atau tempat nongkrong yang tidak mempunyai uang yang cukup besar namun  ingin memutar lagu-lagu yang asik tanpa perlu khawatir biaya lisensi yang mahal. Jasa yang  ditawarkan berupa kurasi lagu-lagu dari database Jamendo untuk diputar sesuai tema yang  dipilih oleh tempat nongkrong tersebut. Lagu yang diputar tetap bebas dan produsen seni yang  membuat lagu tersebut mendapatkan profit sharing dari keuntungan yang diperoleh Jamendo.  Dalam hal ini produsen seni dipromosikan ke kafe/restoran/bar/panti pijat oleh Jamendo sembari meraup keuntungan.

Atau mungkin seperti model humble indie bundle? Humble Bundle menjual koleksi karya kreatif  digital (game terutama) DRM-free dengan harga yang sangat rendah untuk kurun waktu tertentu.  Model ini populer karena mengupayakan promosi efektif untuk developer. Memberikan sebagian  dengan sistem pay what you want dan dianggap sebagai donasi, jadi kurang lebih karya tersebut digratiskan. Iya, memang bukan CC BY-NC-SA, free culture tidak berlaku disini, tapi bukan itu yang  ditekankan. Alternatif bahwa pay what you want – untuk netlabel, lengkap dengan lisensinya  dapat digunakan dengan alasan biaya server dan promosi.

Di ranah open culture kita bisa menggunakan model Ardour, sebuah open source Digital Audio  Workstation (DAW) – ini keren banget, disarankan pake kalo punya Mac kalo pake Windows  ada versi derivasinya bernama Harrison Mixbus. Ardour bersifat open source. Seluruh kodenya  terbuka dan dapat digunakan, didaur ulang, dan dibagikan. Namun, mereka menawarkan  sistem langganan untuk non-poweruser yang menawarkan versi yang sudah diolah siap pakai  (dalam linux source code harus dicompile untuk dapat digunakan) dengan mengeluarkan kocek  $1 saja. Buat yang ingin terus menerima update terbarunya dapat berlangganan dari $1-$10  per bulan. Info lebih detail tentang opensource sebagai model bisnis alternatif dapat disimak di sini: http://www.matinyala.com/opensource-bebas-bukan-gratis/ (numpang promosi).

Ada juga langkah alternatif seperti model funding. Sebuah lembaga ornop (organisasi non-profit)  -diutamakan badan international- dengan semangat filantropinya menghibahkan dana kepada sebuah yayasan yang mengembangkan scene netlabel. Para produsen seni dapat dibayar dan penyelenggara tidak rugi karena mungkin mendapatkan hosting dan maintenance gratis, win-win  solution! Namun, ada yang problematik dengan situasi ini: pertama, sustainability model ini  hanya bisa berlangsung selama lembaga donor masih menaruh perhatian pada issue netlabel.  Kedua, konten kurasi dapat saja dikontrol oleh organ donor atau yayasan yang menyalurkan  dananya yang tentunya punya kepentingan. Sesuatu hal yang tentunya berlawanan dengan  dasar pendirian sebuah netlabel!

Pada intinya, bukan masalah model mana yang hendak dipilih, namun open source software  mana saja yang digunakan. Sebagai basis pemikiran Lawrence Lessig, orang yang merumuskan  Creative Commons – lisensi yang begitu dibanggakan dan digunakan  oleh para pengelola, produsen seni, dan pengguna netlabel – mendukung kapitalisasi software,  baik dari segi pengelolaan, pengembangan, pemeliharaan, bahkan penjualan value added  services. Untuk mengatakan bahwa netlabel harus gratis seperti mengatakan kucing itu feminin dan anjing adalah laki banget.

Masalah “Gift Economy”

Ada satu komponen yang penting dalam gift economy, yaitu resiprokalitas. Menurut Malinowski,  seorang antropolog dan peneliti mengenai gift economy ini, tidak ada yang disebut sebagai  free gift. Ia menemukan bahwa sistem Kula di Papua Nugini yang mempraktekan gift economy  ini mendapatkan, sebaliknya, hadiah berupa akses terhadap sumber daya dan prestis yang  sebelumnya belum dimiliki.

A man who had Kula partners with exceptional valuables or a man who had access to large  amounts of yams had leverage with which he could increase his wealth. Access to resources was  important in being able to draw on the services of others, increase one’s pool of trading partners,  increase one’s rank, and, cyclically, increase one’s access to more resources.  - Sumber

Intinya bargaining position yang seharusnya disediakan oleh netlabel yang memiliki kekuatan  distribusi yang begitu hebat kandas karena netlabel hanya dijadikan tempat singgah produsen  seni saat tidak ada opsi lainnya. Bahkan sekarang mungkin sudah tidak dianggap pilihan. Musisi  lebih tertarik pada nabung lalu merilis vinyl atau kaset ketimbang mengunggah file audio ke ruang antah berantah digital.

Gift economy sebagaimana dijabarkan oleh Malinowski membutuhkan hadiah resiprokal, tanpa  hal tersebut gift economy akan sangat sulit berjalan. Jadi akhirnya kita kembali lagi pada  pertanyaan: kenapa netlabel? Senaif-naifnya manusia pada saat memilih menggunakan netlabel menaruh harapan pada kekuatan distribusinya. namun problema 4 tahun lalu dimana pengunjung  netlabel hanya datang dan mendowload tanpa terlalu banyak berinteraksi tidak berubah. Pada  akhirnya netlabel menjadi –apa yang seorang pelaku netlabel pernah katakan– tong sampah nada.

Gift dalam bentuk pure gift yang sustainable pada akhirnya hanya bisa diberikan oleh yang  memang mempunyai disposable income yang kurang lebih tak terbatas. Gift economy seperti ini  juga sebenarnya kurang mendidik.

“seperti gigs yang bayar 15,000 untuk FDC tapi malah dianggap kapitalis, zine yang bayar 5,000 buat ganti ongkos fotokopi tapi diprotes, ini terjadi ke teman gue, zinemaker asal Depok” -(pemilik dan wartawan zine, tentang resiprokalitas gift economy)

Ada semacam sifat nglunjak dari konsumen musik itu sendiri yang menginginkan sebuah  kepuasan tanpa mengorbankan apapun selain waktu mereka untuk hadir. Saya adalah orang  yang paling percaya bahwa eksploitasi kapital berlebihan, seperti copywrite royalty untuk  sebuah karya seni itu kurang tepat tetapi berekspektasi bahwa karya itu sepantasnya didapatkan  nir-modal adalah miskonsepsi yang akan sangat menyakitkan produsen seni. Seakan-akan  jam latihan di studio, beli midi controller, berjam-jam kontemplasi di atas WC adalah sebuah  pengorbanan yang wajib dipersembahkan pada publik.

Sustainability untuk netlabel membutuhkan modal, baik itu modal sosial, kapital, maupun tenaga,  dan ya, gift economy masih perlu dilakukan dan bersifat embedded dalam pelaksanaan gerakan  netlabel. Namun sampai saat ini, belum ada sebuah netlabel yang mengelola sebuah rilis  hingga meledak kecuali ketika produsen seni sendiri mempromosikan diri dengan baik atau  kebetulan memiliki jaringan di lingkar dalam media atau memiliki disposable income tak terbatas.  Apapun bentuknya netlabel masih belum dapat menjalankan sepenuhnya peran mereka sebagai mediator antara pendengar dan produsen seni dengan menggunakan premis “potensi distribusi tak terbatasnya Internet.”

 

* Tulisan ini pertama kali dimuat di #INF2 Zine. Unduh zine selengkapnya di tautan ini.