Latest Post

Nova Ruth & Filastine: LAWANLUPA Mixtape

Saat Nova Ruth bilang ingin membuat mixtape untuk merespon film The Act of Killing di bulan Maret atau April (saya lupa tepatnya kapan), saya sama sekali belum tertarik untuk menonton film itu. Tampaknya karena saya memang kurang akrab dengan hal-hal yang berbau sejarah. Sifat masa lalu sejarah membuat saya tak berdaya. Tak ada yang bisa saya lakukan untuk mengubah sejarah, apalagi menolong korban sejarah sebelum mereka menjadi korban. Saya tak bisa mencegah para penjahat dengan jaring-jaring atau pisau sebelum mereka menyiksa perempuan dan anak-anak yang tak berdosa. Belajar sejarah hanyalah menumbuhkan rasa tak berdaya ini. Dan saya benci jadi orang tak berguna.

Tapi, lalu rilisnya mixtape LAWANLUPA di bulan Mei menarik tangan saya untuk mengunduh film The Act Of Killing dan menontonnya sampai selesai. Sebabnya karena mixtape ini disusun oleh Filastine dan Nova Ruth (ya, saya tertarik bahkan sebelum mendengar isinya. Hanya melihat penggagasnya). Dua orang perfeksionis yang selalu punya konsep matang di tiap karyanya dan sama-sama punya kepedulian besar pada isu kemanusiaan juga lingkungan. Saya percaya pada penilaian mereka, melebihi penilaian Penghargaan Oscar yang sempat memasukkan film ini sebagai nominasi di tahun 2012 (silahkan bilang saya fans fanatik. Itu memang benar). Jadi, ketika mereka sampai meluangkan waktu untuk merespon film besutan Joshua Oppenheimer itu dalam bentuk mixtape, saya merasa harus menonton filmnya. Belakangan saya menonton film ini selama 5 jam karena tak kuat dengan imajinasi pembunuhan di kepala. Saya harus berulangkali bolak-balik ke kamar mandi. Muntah.

Mendengar LAWANLUPA (tentu saja setelah menonton filmnya) kemudian seperti memutar kembali adegan film The Act Of Killing di kepala. Pengalaman saya menonton 5 jam film itu dengan diselingi muntah dan pusing, kembali terulang di tubuh saya tiap mendengar mixtape ini. Termasuk juga tentang kesalnya saya setiap melihat kegembiraan semu para algojo karena mereka merasa berhasil menjadi pahlawan negara. Dan tentang sadarnya saya bahwa belajar sejarah menghindari saya dari sesat pikir yang saat ini sering kali terjadi di kalangan anak muda. Sesat pikir yang merasa bahwa apa yang terjadi di tahun 65 akan tetap tinggal di tahun itu. Sesat pikir yang memaksa para keluarga korban untuk “move on” karena merasa kasus pembunuhan sama dengan kasus ditinggal pacar. Sesat pikir yang lebih hina dari dukun cabul manapun.

 

 

Maka beginilah saya menyarankan Anda mendengar mixtape ini. Isi mixtape ini ada 24 bebunyian dan lagu. Saya sebut juga bebunyian karena beberapa adalah sampling dari film The Act of Killing itu sendiri. Beberapa didigitalisasi oleh Nova dari koleksi vinyl Museum Musik Malang. Lalu kesemuanya disambung oleh Filastine dengan halus. Bentuknya semacam footage, yang hanya diambil sebagian, tidak utuh. Sehingga, panjangnya tidak sampai satu jam. Hanya 43 menit.

Diantara 24 itu ada lagu dari Lilis Suryani (Genjer-Genjer), A. Rafiq (Pantun Berjudi), Shabara & Wukir (Senyawa), Yanti Bersaudara (Anggrek Merah), Lilis Suryani (Ontoek PJM Presiden Soekarno), dan Madesya Group & Aan Darwati (Sapu Nyere Pegat Simpay). Ada juga White Shoes and The Couples Company (Tjangkurileung), Mang Koko (Sabilulungan), dan Yanti Bersaudara (Djangger). Kalau diperhatikan, kebanyakan memang punya harmoni ceria. Tapi, jangan senang dulu. Kalau sudah menonton filmnya, saya yakin keceriaan ini akan terasosiasi dengan joget senang Anwar Congo ketika bercerita tentang caranya membunuh korbannya. Joget cha-cha dengan sepatu pantofel putih itu akan terbayang di kepala. Ceria-ceria sakit!

O,ya sebenarnya mixtape ini pernah diulas oleh Pitchfork dengan judul artikel DJ /rupture Releases Mixtape Inspired by the Film The Act Of Killing. Dalam artikel tersebut, mixtape yang dibicarakan sebenarnya sama dengan mixtape LAWANLUPA. Hanya saja judulnya berbeda. Dalam artikel itu, mixtape-nya berjudul Stage Boundary Songs Mixtape. Pitchfork tidak keliru. Memang benar DJ / rupture ikut memproduksi mixtape itu dan memang benar judulnya seperti itu. Hanya saja karena beberapa hal, akhirnya Filastine dan Nova Ruth merilis ulang sendiri mixtape tersebut dengan nama dan isi yang sedikit berbeda dalam bentuk kaset. Mixtape ini juga diunggah di akun soundcloud Filastine.

Jadi, sudah siap mengulang kembali adegan Anwar Congo di kepala dalam bentuk nada? Dengarkan mixtape ini sambil memejamkan mata. Jangan lupa siapkan baskom di depan agar tak perlu bolak-balik ke kamar mandi untuk muntah seperti saya. Lalu ingat untuk meneruskan cerita sejarah tahun 65 ini ke film Joshua yang selanjutnya agar tak tersesat lama: Senyap.

Cheers!

Omingpu