Latest Post

Pestolaer: Tribute For You

Pestolaer bukanlah band tipikal sering menyombong atau ngeluarin segala jenis solo gitar yang dahsyat. Pestolaer lebih milih naikin volume vokal berat Taba dan nunjukin kepiawaian suara keyboard Haryo Widodo. Tapi, itu semua jadi sesuatu yang pantas dan harus diterima bareng-bareng sama penggemar dan pendengarnya. Karena apa yang dibikin Pestolaer akan selalu benar untuk siapapun, khususnya saya pribadi. Lagu-lagu yang dibikin Pestolaer pun memiliki kecenderungan lirik puitis yang engga murahan karena kecerdasan Taba merangkai lirik berbahasa Indonesia. Tetapi, semua itu dipadankan dengan musik yang engga radio friendly sama sekali.

Semua berawal pada dekade 90’an, ketika Pestolaer masih bergerilya dan menikmati magisnya kultur punk yang mereka bawa. Tapi kemudian ketika tren Britpop mulai masuk ke Indonesia secara gerilya, Pestolaer mengubah identitasnya 180 derajat. Mereka meresap inspirasi dari para pahlawan Madchester dan Britpop, utamanya The Stone Roses. Entah apa yang dipikirkan Taba dan kawan-kawan ketika itu. Setelahnya, mereka tetap memasukkan unsur punk ke dalam lagu-lagu mereka walaupun hanya secuil.

Pada tahun 2005 silam, Pestolaer merilis sebuah album berjudul ‘Tribute For You’. Album ini seperti kemenangan besar untuk Pestolaer, comeback untuk merayakan album barunya setelah terakhir merilis ‘Jang Doeloe’ pada tahun 1997.

Dibuka dengan sebuah lagu berjudul ‘They Are Who They Are’ yang masih menggemakan keistimewaan singgasana punk yang kental dan spesial. Lagu ini adalah pembukaan yang sangat manis, mengingat sentuhan dentingan piano Angga banyak menampilkan ‘sihir’-nya. Dilanjutkan dengan single ‘Tribute For You’ yang jauh dengan kata sederhana. Dibangun dengan fondasi punk yang menghentak dengan segala bibitnya, frekuensi yang terus melonjak kencang ini adalah serangan punk yang beresonansi terhadap telinga yang menelan mentah-mentah semua amukan suara. Sampai track ketiga, saya belum menemukan rasa bosan untuk mendengarkan album ini. Apa ini sebuah tuntunan bagi saya untuk menyatakan bahwa album ini adalah salah satu album terbaikdi scene lokal?

‘New Decade’ menjadi lagu paling lugas di album ini, menyambungkan titik temu kecenderungan punk yang catchy. Rasa hormat yang mendalam terhadap Pestolaer semakin memuncak ketika ‘Terlalu Melamun’ berkumandang. Mereka berhasil ngebungkus lirik ini dengan manis, seakan menceritakan takdir yang harus dilalui banyak orang. Lagu ini seperti kotak ajaib yang sewaktu-waktu bisa aja ngeluarin semburan darah. “Dan ku lupa akan indahnya semesta yang terbentang,” lantun Taba. ‘Menari Tanpa Gerak’ menyambut tongkat estafet berikutnya, sebuah lagu tentang kebahagiaan yang sebenernya tabu kalo didengerin secara seksama dan dibaca semua liriknya. Rancangan palet suara sayup-sayup, naik turun emosi dari vokal Taba, serta kerumitan yang ada di lirik lagu ini mengejutkan, tapi masih hidup dalam unsur suara yang tekstural. Dentingan gitar yang menonjol terdengar intim, menjadikan lagu ini semacam penawar racun yang magis dengan suara Taba yang menghipnotis.

Sebenarnya, apa yang ada di pikiran mereka ketika akan merekam dan merilis album ini? Mereka menggeser semua posisi punk keluar arena. Sound mentah punk Pestolaer, dijemur habis-habisan di bawah sinar Britpop dan bebunyian ala band-band Madchester, lalu dimasukkan ke dalam unsur-unsur musiknya. Tapi, nada-nada yang dihasilkan masih ada di jalur yang benar dan engga mengalami penyurutan dari segi kualitas. ‘Tribute For You’ dilanjutin dengan tembang ‘Istana Pasir’. Menuntun kita pada suatu energi yang kuat untuk menemukan keindahan dari rasa jatuh cinta yang intim. Ini adalah senjata yang manis untuk menaklukkan siapa saja yang denger.

Formula di album ini engga berhenti sampe di situ saja. Pestolaer tau gimana caranya menutup album yang cocok dan bisa dicerna dengan baik. Ngejembatanin musik yang engga biasa dengan pattern yang engga instan. Elemen-elemen Britpop dan punk melebur jadi satu, menambah sentuhan yang brilian.  Posisi mereka seakan engga pernah tergantiin di scene yang udah bikin mereka jadi kayak gini. Poster Café adalah salah satu saksi dari sejarah mereka. Eksperimen besar-besaran dilakuin Pestolaer di track terakhir yang berjudul ‘290892’. Saya bisa mendengar teriak-teriakan ayam, derik jangkrik, dan suara bebek di part terakhir lagu tersebut. Mereka memang sengaja menyodorkan microphone keluar jendela saat merekam lagu ini. Dan hasilnya? Segar dan magis. Suara ulama yang sedang mengaji bercampur dengan suara binatang-binatang. Penutupan yang mengerikan.

Bagi saya, ini yang harusnya dinobatkan sebagai album terbaik sepanjang masa. Banyak orang yang belum aware sama sekali tentang Pestolaer. Entah bagaimana cara mendefinisikan album ini. Britpop, Punk, whatever. Bagi saya, ini adalah salah satu album terbaik sepanjang masa. Esensial!

Tags: