Latest Post

Polisi Skena dan Lingkaran Setan Cyberbullying

Setelah sekitar seribu tujuh ratus komentar menyesaki akun Instagram band Barasuara, ada yang berseloroh: “Sudah beres belum perang antara polisi skena melawan polisi media sosial?”

Komentar itu seolah merangkum bagaimana polemik tersebut telah berubah jadi ajang rumpi yang (semakin) konyol. Sedikit latar belakang: pada sebuah foto konser yang diunggah ke laman Instagram band asal Jakarta, Barasuara, seorang jurnalis yang bekerja untuk majalah musik kenamaan* mengkritik perilaku salah satu hadirin konser melalui kolom komentar. Di tengah kerumunan penonton yang melambaikan tangan dan moshing, sosok pemuda berkemeja biru ini tampak melipat tangan dan hanya menyunggingkan senyum kecil. Yang membuat jurnalis ini kesal, ia berdiri di barisan paling depan. Jurnalis yang bersangkutan lantas menulis:

 


Adalah sebuah penghinaan bagi band yang mencurahkan segala energinya saat tampil di panggung jika cuma dapat respons dengan cara yang lebih cocok untuk antrian perpanjangan STNK. Orang-orang seperti ini harus dibasmi agar pertunjukan musik leih seru bagi semua pihak yang terlibat. Kalau mau menikmati musik dengan cara seperti robot berwajah datar, lebih baik di rumah saja.”


 

Nukilan komentar di atas adalah satu dari sekian banyak ungkapan bernada serupa dari jurnalis tersebut. Pemuda berkemeja biru yang jadi sasaran amarah lantas muncul dan membela diri. Ia menjelaskan bahwa meski ia tidak ikut moshing dan mengangkat tangan, ia juga menyukai dan mengapresiasi musik Barasuara. Respon pemuda ini rupanya tidak memuaskan. Jurnalis tersebut mengaku “berdiri persis di kiri belakang” pemuda berkemeja biru, dan “bisa lihat apa yang kamu lakukan – atau tepatnya, apa yang kamu tidak lakukan.” Dalam komentar panjang yang menghabiskan beberapa paragraf, jurnalis tersebut menjelaskan bahwa sebagai seseorang yang telah “menghadiri ratusan konser”, ia menyadari pentingnya partisipasi penonton yang ada di barisan terdepan untuk membuat konser jadi lebih hidup. Reaksi pemuda berkemeja biru yang “seperti patung” ini dianggap tak menghargai penampil, karena tidak mungkin seseorang yang betul-betul menyukai musik Barasuara bisa diam begitu saja saat band tersebut bermain persis di depan mukanya.

Debat kusir tak terhindarkan lagi. Pemuda berkemeja biru tersebut bahkan perlu me-mention temannya yang ikut menghadiri konser tersebut, untuk menjadi semacam saksi bahwa pemuda ini betul-betul berdansa dan menyukai Barasuara. Setelah dua minggu masa tenang, keributan mini tersebut diangkat kembali oleh beberapa orang yang mencibir respon sang jurnalis yang dinilai berlebihan. Ibarat bola salju, berbagai orang mulai berbondong-bondong mengekspresikan pendapatnya dan membela si pemuda berkemeja biru.

Mulanya ada segelintir orang yang memberi respon serius dan argumen yang sebenarnya masuk akal. Namun, lama kelamaan kolom komentar tersebut penuh sesak dengan akun-akun yang mengejek si jurnalis lewat komentar-komentar yang absurd: mulai dari lirik lagu Pop Melayu, iklan peninggi badan, sampai ungkapan magis bahwa “Kylo Ren mirip Revaldo”. Mendadak, para netizen yang beringas menemukan sosok baru untuk ditertawakan. Jurnalis tersebut lantas mendapat julukan baru: “Polisi Skena.”

 

(Sumber: Instagram @barasuara)

 

****

Jurnalis tersebut benar ketika ia mengalusikan bahwa ia telah jadi korban cyberbullying. Ia pun berhak membela diri lewat komentar-komentar tambahan dan post di akun pribadinya. Selain itu, ada benarnya juga komentar beberapa pembela jurnalis tersebut, ketika mereka menyebut bahwa para polisi media sosial ini sebenarnya juga adalah polisi skena dalam bentuk lain. Namun, hiruk pikuk seperti ini bukannya tidak pernah terjadi sebelumnya.

Pada 16 November 2015 di grup Facebook salah satu webzine ternama asal Jakarta, seorang anggota grup berinisial AE menulis post yang mengajak kawan-kawan grup tersebut berdiskusi. Premis yang diangkat AE, setidaknya menurut pendapat saya, kurang tepat sasaran: Ia menulis bahwa sebelum band-band muda ingin “mencari duit” dari musik, mereka harus memikirkan “bagaimana musik kita bisa enak di denger orang-orang, bagaimana gaya dan penampilan kita saat perform di atas panggung bisa membuat orang tertarik,” dan bagaimana membuat rekaman demo yang layak dengar. Kontan, AE menjadi korban sarkasme dan bullying massal dari berbagai musisi kawakan, jurnalis ternama, dan figur lain yang dihormati dalam scene musik independen Jakarta. Termasuk, salah satunya, si jurnalis yang kemudian dijuluki Polisi Skena. “Saya mendapat pencerahan,” tulisnya sarkas, sebelum menambahkan:

 


“Tapi bang, ane dengan kemampuan pas-pasan sudah bisa manggung di festival-festival besar yang ada banyak artis internasionalnya, dan juga beberapa kali main di televisi nasional. Gak apa-apa kali ya? Biar gak dibilang mendustai nikmat Tuhan.”


 

Perlu diakui bahwa poin yang diutarakan oleh AE – paling tidak – sangat naif. Namun, AE bukan @ijalpostrock yang bukan main keblingernya. Pandangan AE adalah opini wajar dari seseorang yang belum pernah terlalu giat berpartisipasi dalam scene arus pinggir, tidak mempunyai akses berlebih pada referensi budaya tertentu, dan tidak punya ‘senioritas’ tertentu dalam suatu scene. Singkatnya, opini AE adalah opini naif kebanyakan orang. Ia – dengan segala hormat – lebih terdengar seperti pemula yang bermaksud baik namun tidak mendalam referensinya, ketimbang seperti orang bodoh yang perlu diserang ramai-ramai.

Semesta rupanya punya selera humor yang baik. Selang beberapa pekan kemudian, penyanyi kondang Marcell Siahaan menuliskan argumen yang nyaris persis sama untuk artikelnya di salah satu media online. Seketika, saya tergelitik untuk bertanya: “Kira-kira, apakah para figur perskenaan ini – apalagi yang kerja sebagai jurnalis – bakal berani mencibir Marcell seperti mereka mencibir AE?” Minimal, akankah mereka menyampaikan ketidaksepakatan mereka dengan cara-cara yang lebih hormat?

Dalam kasus lain, Jakartabeat.net sempat menjadi tuan rumah diskusi yang panas pada September 2012 lalu, saat mereka menerbitkan ulasan dari Adi Renaldi, berjudul Suara Kita (Bukan) Suara Tuhan. Dalam ulasan lagu Suara Kita Suara Tuhan karya Max Havelaar tersebut, Adi dianggap terlalu banyak melakukan “masturbasi intelektual” dengan menggunakan kata-kata rumit untuk menyampaikan argumennya. Ia juga dituduh terlalu fokus membedah lirik Max Havelaar dan mengaitkannya dengan teori-teori politik, ketimbang sungguh-sungguh mengulas musik yang tersaji di lagu tersebut. Meski awalnya ada beberapa netizen yang memberi tanggapan serius dan melempar argumen yang masuk akal, pada akhirnya kolom komentar di artikel tersebut – dan juga pembahasan di media sosial – dipenuhi nada-nada sarkas, ejekan, dan jadi ajang kumpul bocah bagi para sarjana sastra.

 

(Sumber: Supermusic.id)

 

Kasus AE, Adi Renaldi, dan Polisi Skena membuktikan bahwa lingkar cyberbullying dan sikap sok tidak dimulai dan berhenti pada sosok Polisi Skena. Snobbisme adalah penyakit semua orang. Tidak ada seorangpun yang berhak sok suci – termasuk saya sendiri. Jujur saja, saya salah satu orang pertama yang ikut berkomentar ketika polemik Polisi Skena mulai menyeruak. Pada akhirnya, harus diakui bahwa tidak ada pihak yang tampil sebagai pemenang di ketiga perdebatan tersebut. Semua orang tampak konyol dan munafik dalam satu atau lain cara. Semua orang menjadi Polisi Skena dengan caranya masing-masing.

Keributan Polisi Skena dimulai, berlanjut, dan diakhiri pada hal-hal yang sebenarnya percuma. Sebagai veteran ratusan konser, semestinya jurnalis tersebut paham bahwa dalam sebuah ruangan berisi ratusan orang, tidak ada yang mampu (maupun berhak) menentukan bagaimana setiap penonton semestinya merespon konser. Respon ‘positif’ penonton selalu terikat pada peraturan-peraturan tak tertulis yang mustahil ditegakkan, karena toh mustahil dijabarkan pula.

Selorohan salah satu netizen yang berkomentar “menurut gue, musik yang gayanya kayak Barasuara enggak wajib disambut dengan joget” akan jadi jawaban yang terlalu sering muncul. Bagaimana jika pemuda itu memang tidak merasa bahwa musik Barasuara perlu disambut dengan moshing? Siapa yang berhak bilang ia salah atau benar? Perdebatan ini takkan berujung pada titik temu, karena didasari pemahaman yang subyektif. Kecuali anda sedang berada di konser musik klasik atau menonton opera, tidak ada peraturan tertulis atau etika menonton apapun yang wajib dan universal. Seruan Barasuara yang meminta penonton untuk me-“nyalakan Api dan Lenteramu” adalah ajakan yang berani. Namun, nukilan lirik tersebut akan selamanya menjadi sekedar himbauan, bukan hukum yang terkodifikasi dan pantas ditegakkan oleh siapapun juga – bahkan Iga Massardi sekalipun.

Tentunya berlebihan jika kita menyebut bahwa seseorang yang tampak pasif saat menonton konser indie harus “dibasmi”, seolah-olah ia parasit yang merusak keberlangsungan nusa, bangsa, dan skena. Para penonton yang tidak giat menyalakan api dan lenteranya di bibir panggung bisa jadi adalah penggemar setia yang rajin membeli merch dan rilisan teranyar band tersebut. Sebaliknya, penonton yang ikut berjoget ramai bisa jadi hanya penonton cabutan yang datang, membayar tiket (atau masuk tanpa membayar karena punya media pass/berteman dengan band yang main), dan pergi tanpa membeli makanan dan minuman di venue. Mengingat kebanyakan acara indie yang berlangsung di Jakarta difasilitasi oleh kafe-kafe dan bar yang punya kepentingan komersil, siapa yang lebih merusak?

Tentu saja, pertanyaan di atas adalah pertanyaan ngaco yang bisa menggiring kita menuju obrolan dan konklusi yang sangat berbahaya dan elitis. Namun, justru itu intinya. Walau respon ratusan netizen pada isu Polisi Skena memang berlebihan, bahkan jurnalis yang bersangkutan perlu mengakui bahwa ia sendiri yang memantik api dengan mengejar-ngejar pemuda berkemeja biru tersebut untuk menyampaikan kritik dan argumen yang, pada dasarnya, tidak penting untuk dibicarakan. Diskusi tersebut tak lagi menjadi obrolan yang masuk akal tentang bagaimana semestinya kita mengapresiasi konser. Tapi, lebih terlihat seperti kakak senior yang privileged menceramahi adik kelas yang (dianggap) tidak mengerti apa-apa.

 

(Sumber: M.A Manan Rasudi)

 

****

Terakhir kali saya mampir ke Bandung beberapa waktu lalu, saya bertanya kepada beberapa kawan tentang apa saja yang sedang mengganggu para scenester di sana. Sepanjang pengetahuan saya, Bandung adalah kota yang menarik. Sejak pindahnya Common Room, scene musik independen Bandung mulai bergantung lagi pada kafe. Dan meski Ridwan Kamil sudah membuat beberapa terobosan terkait ruang publik dengan membuka Taman Musik, taman tersebut belum benar-benar terbuka aksesnya ke pegiat musik independen, sehingga belum terlalu bisa dimanfaatkan. Selain itu, pengorganisir acara di Bandung dianggap terlalu bergantung pada sponsor rokok.

Ketika saya bertanya kenapa saya kurang menemukan analisa setajam ini dari jurnalis dan musisi Jakarta (mungkin karena saya juga kurang gaul), salah satu kawan saya berkata: “Bisa jadi, anak-anak Jakarta sudah malas mikirin hal-hal kayak gitu karena di sana enggak kekurangan acara. Sponsor kenceng banget, dan kalaupun ada kafe yang bangkrut, pasti pekan depan ada lagi yang muncul.” Singkat kata, tidak ada ‘keadaan darurat’ seperti di Bandung yang memaksa scenester Jakarta memutar otak.

Selang sehari setelah Polisi Skena mulai meledak di Instagram, saya tak sengaja membaca berita buruk yang menampar saya habis-habisan: Rossi Musik, venue musik kondang yang terletak di Fatmawati, terpaksa non-aktif untuk sementara waktu karena terkendala perizinan dari kepolisian. Salah satu ruang budaya yang paling beragam, terbuka, dan konsisten mengadakan acara musik tersebut harus vakum. Lantas apa yang tersisa?

Ada benarnya bahwa Jakarta takkan kekurangan acara, karena toh inilah titik pusat dari subkultur budaya alternatif – dan, yang paling penting, konsumennya. Namun, sampai kapan kita bisa mengandalkan venue yang tidak mengkhususkan diri untuk konser musik – apalagi konser musik arus pinggir? Kita tidak bisa loncat terus dari satu kafe ke kafe lainnya, sampai semua venue di Jakarta Selatan bangkrut. Sampai kapan Borneo Beerhouse, 365 Ecobar, dan Bebop Studio bisa bertahan? Konser seperti apa yang akan tersaji, dan apakah acara-acara tersebut kondusif bagi munculnya band-band baru?

Regenerasi butuh prasyarat lebih dari sekedar  munculnya band yang bisa “menciptakan koneksi dengan penontonnya.”** Konser-konser yang terjadi di ruang yang punya kepentingan komersil, apalagi yang disokong oleh sponsor, belum tentu kondusif untuk memunculkan band-band baru. Hubungan antara pengorganisir acara dengan sponsor semakin mirip dengan hubungan antara LSM dengan lembaga donor. LSM takkan hidup tanpa program dan sokongan dana dari donor. Namun, kadang LSM justru gagal menciptakan perubahan sosial yang nyata dari akar rumput karena mereka kalah ngotot menentukan arah program dengan lembaga donor. Saat ini, sponsor bisa jadi adalah pendukung sekaligus musuh terbesar scene musik arus pinggir di Jakarta.

Tak lama setelah berita soal Rossi, saya membaca bahwa band asal Palembang, AUMAN, tersandung kasus hak cipta. Lagu-lagu dari albumnya, Suar Marabahaya, dimasukkan tanpa izin ke situs dan aplikasi penyedia layanan streaming musik online. Farid Amriansyah, vokalisnya, berujar pasrah di Twitter:

 


“Mimpi yang enak kek, mimpi menang kasus hak kekayaan intelektual dan jadi milyuner kek. Etapi realitanya, tak sanggup sewa corporate lawyer.


 

Jangan-jangan, sindiran kawan saya dari Bandung tersebut ada benarnya. Jakarta sudah kelewat tumpul karena ia merasa scene-nya aman. Walhasil, kami jadi luput mengobrol tentang hal-hal yang lebih esensial dan masalah yang lebih nyata. Masih banyak yang terlalu sibuk memamerkan senioritas dan referensi budayanya sendiri ketimbang berusaha berdialog secara simpatik dan waras. Ketika mereka dan publik tak mengenal respon apapun selain menertawakan dan mengejek, lingkar bullying itu akan selalu hidup. Kita tinggal menunggu polemik selanjutnya, lantas sadar bahwa rupanya kita masih belum belajar.

 

 

* Disclaimer: Saya sengaja tidak mau sebut nama. Rasanya sudah cukup banyak yang menyerang dia secara pribadi, dan maksud artikel ini bukan untuk melakukan itu.

** Kutipan langsung dari akun Instagram jurnalis yang bersangkutan.