Latest Post

Presensi

“HEY, sedang apa kamu di sini?”

Setelah bertanya begitu, ia duduk dan mulai membaca buku. Ia selalu datang antara pukul tiga sampai empat sore, dan ia tak pernah lupa melontarkan pertanyaan itu saat berjumpa denganku. Susunan kata dan intonasi suara yang sama persis. Tidak pernah berubah sedikit pun.

Aneh. Ia jelas sudah melihatku sedang membaca buku bahkan ketika ia baru masuk, dan aku akan selalu sedang membaca buku ketika ia datang. Lagi pula, ia sudah tahu, aku tidak mungkin sedang berenang. Tak ada kolam renang di dalam perpustakaan tua ini.

Seharusnya ia sudah tahu, tak perlu memberiku pertanyaan itu lagi. Tetapi nampaknya, pertanyaan itu sudah menjadi berhala kebiasaan yang sulit ia hilangkan. Mungkin ia merasa ada yang kurang jika ia tak melakukannya. Pada akhirnya, kupikir, aku yang harus memaklumi agar tak terganggu dengan pertanyaan itu. Namun, jujur saja, itu sulit. Selalu muncul rasa ingin tahu tujuan kebiasaannya itu, sesungguhnya itulah yang menggangguku. Dan aku mulai kesal.

****

LELAKI itu pertama kali mengunjungi perpustakaan ini pada hari Jumat pukul tiga sore di bulan April. Hari itu angin kemarau berhembus kencang menabrak-nabrak daun jendela. Setiap beberapa menit sekali, daun jendela yang terbuat dari kayu itu akan menghajar dinding hingga terdengar suara seperti letupan meriam dan ibu penjaga perpustakaan yang latah akan meracau kalimat-kalimat lucu karena kaget.

Ia datang saat aku sedang menyelesaikan cerita pendek karya Franz Kafka yang diterjemahkan oleh Eka Kurniawan berjudul Metamorfosa. Ketika lelaki itu berbincang dengan ibu penjaga perpustakaan, untuk kesekian kalinya, jendela itu menabrak dinding sehingga ibu perpustakaan sedikit terperanjat dan mulai meracau kalimat-kalimat lucu.

Beberapa menit kemudian, ia membawa satu buku dan berjalan mendekatiku. Kursi di hadapanku memang selalu kosong, rata-rata pengunjung perpustakaan akan lebih memilih membaca di lantai dua, mungkin untuk menghindari tatapan ibu penjaga perpustakaan yang—menurut mereka—sedikit menyeramkan. Sebelum duduk, ia memerhatikan wajahku. Menyadari sedang diperhatikan membuatku salah tingkah, aku memilih untuk menyembunyikan wajahku dengan buku yang sedang kubaca.

“Hei,” sapanya, “sedang apa kamu di sini?”

Agak kikuk, aku membenarkan posisi duduk dan menurunkan buku yang menutupi wajahku sambil memerhatikan ke kiri dan ke kanan. Aku ragu pertanyaan itu diberikan untukku, sebab sebelumnya tak pernah ada yang menyapaku. Pengunjung perpustakaan ini memperlakukanku seolah aku tak ada di sini, dan karena sudah terbiasa, aku cenderung tak peduli.

“Sedang membaca,” jawabku. “Kamu?”

Hening. Lelaki itu tak menjawab, ia mulai membaca.

Selama beberapa menit—mungkin tigapuluh menit—aku tidak bisa berkonsentrasi dengan bacaanku. Aku resah menanti jawabannya. Aku mengharapkan akan ada percakapan panjang di antara kami. Karena aku tak ingin mengecewakan harapanku sendiri, aku membuat kemungkinan yang menyenangkan dan menenangkan. Mungkin ia terlalu gugup untuk memulai percakapan. Mungkin satu jam lagi suasana kikuk di antara kami akan mencair, dan setelah itu kami akan berbicara panjang lebar layaknya sebuah pertemuan.

Kenyataannya hingga pukul lima sore ia tetap diam, mengintip pun tidak pun tidak. Saat ia beranjak dari kursi, jendela sekali lagi menabrak dinding. Suaranya terdengar lebih nyaring dari sebelumnya.

****

RASANYA sudah lama sekali aku tidak berbicara panjang lebar dengan orang lain, mungkin lima atau enam tahun, dan selama itu aku mengakrabi kesunyian. Aku hanya berbicara seperlunya saja, mungkin karena itu pula bakatku berbicara semakin lama semakin hilang. Bukan tanpa alasan, selain—mungkin—di negara ini hanya kesunyian yang tidak bisa dipolitisir, juga karena aku tak pernah bisa merasa nyaman ketika berbincang dengan orang lain. Ada keyakinan aneh yang menyelimuti pikiranku bahwa orang lain hanya ingin mendengar apa yang sungguh-sungguh mereka ingin dengar, masalahnya adalah yang ingin mereka dengar adalah hal yang tak ingin kudengar dan begitu pula sebaliknya. Akhirnya, mereka hanya bisa menjawab ‘oh’, ‘benar’, ‘asik’, atau hanya mengangguk ketika aku menceritakan sesuatu, dan sebaliknya.

Temanku hanya sedikit, mungkin hanya seputar kampus saja. Terakhir kali aku berbicara dengan orang lain adalah dengan Ana, kami bertetangga. Ia tinggal di sebelah kamar yang kusewa dan kami saat itu sering berangkat ke kampus bersama.

Ana adalah gadis populer di kampus dan ia tipe gadis yang suka mendefinisikan orang lain, ia sering mengutarakan penilaiannya terhadap orang lain kepadaku. Awalnya, aku merasa tidak terganggu dengan hal itu, meski sesungguhnya aku tidak terlalu ingin tahu bahkan tidak kenal dengan orang yang ia ceritakan. Hingga pada suatu hari, aku merasa aneh, seluruh penilaian Ana tentang teman-temanku yang lain mengubah caraku bertindak dan menyikapi mereka. Tiba-tiba semua orang yang kukenal di kampus—yang juga teman Ana—berubah menjadi serigala-serigala yang menatapku dengan tatapan lapar, karena Ana selalu menceritakan dosa-dosa mereka kepadaku. Akibatnya, aku ketakutan dan sangat berhati-hati kepada orang lain.

Dan pada suatu hari, aku menyadari bahwa Ana selalu mendefinisikan seseorang selalu berasal dari sesuatu yang nampak, seperti cara bertutur, penampilan, atau gerak-gerik seseorang. Kemudian, Ana mengalikan hal-hal tersebut dengan pengalaman-pengalaman yang ia dapat sebelumnya. Hingga muncul definisi tentang orang itu di kepala Ana. Menyadari hal ini membuatku khawatir; bagaimana jika Ana melakukan hal yang sama terhadapku? Bagaiamana jika Ana, tanpa kuketahui, menceritakan penilaiannya terhadapku kepada orang lain?

Sejak menyadari hal itu, aku menjauhi Ana, dan pula menjauhi orang lain.

Aku lebih senang berteman dengan benda-benda mati. Kursi yang kududuki ini tidak mungkin menggulingkan tubuhku meski berat badanku pasti menjadi beban untuknya. Novel sedih yang kubaca tidak bisa mengolok-olok kesedihanku. Pohon tempatku bersandar tidak bisa melilitku dengan akar-akarnya karena aku mengganggu tidur mereka. Semua benda mati mahir menyimpan rahasia, dan mereka dapat dipercaya sebab mereka tidak memiliki kesadaran laku manusia.

Berpikir seperti itu membuatku tak betah berlama-lama di tengah kerumunan. Aku pikir, harga sebuah kebebasan adalah kesepian, dan harga sebuah keramaian adalah kebosanan.

****

LELAKI yang sering menyapaku dengan pertanyaan yang sama itu pernah berhasil membangkitkan rinduku akan keramaian, akan sebuah pertemuan yang menyenangkan seperti di novel-novel. Pernah, dan mungkin masih.

Aku pikir, aku pernah menyukainya. Pernah, dan mungkin masih. Belum kuputuskan.

****

AKU melirik jam dinding, pukul tiga lebih lima menit. Aku menutup buku dan meletakkannya di atas meja. Kulihat kalender yang digantung di bawah jam dinding, bulan Oktober tanggal 21. Sudah enam bulan ia selalu menyapaku dengan pertanyaan itu, dan kelihatannya ia belum berniat untuk bertaubat dari kebiasaannya yang mulai mengangguku. Hari ini, ia harus menjelaskan segalanya.

Di luar sedang gerimis, Oktober, bulan di mana hujan mengecup malu-malu sebelum kelak pada puncaknya mereka akan turun seperti libido yang sudah tak tersalurkan selama bertahun-tahun. Sesuai dugaanku, ia datang.

“Hey, sedang apa kamu di sini?”

Aku melirik jam dinding, pukul tiga lebih enam belas menit. Seperti biasa, ia langsung duduk dan bersiap untuk membaca.

“Kenapa kamu selalu bertanya seperti itu?”

Ia tidak menjawab, ia mulai membuka halaman pertama.

“Aku awalnya tidak keberatan dengan pertanyaan itu, tetapi, tahukah kamu? Aku sungguh benci sapaan basa-basi yang konyol. Kamu sudah tahu aku sedang membaca, kenapa pula kamu masih bertanya?”

Ia masih kelihatan khusyuk membaca, bibirnya tertutup rapat.

“Pertanyaanmu itu seperti kamu bertanya kepada orang yang sedang berenang, kamu tahu ia sedang berenang tetapi kamu masih menanyakannya. Untuk apa? Sekadar untuk tidak dibilang sombong? Kalau mau berbasa-basi, paling tidak, berbasa-basilah dengan pintar, dan santun!”

Ia belum berkata apa-apa.

“Kenapa diam saja? Apa kamu tuli?! Harusnya kamu tahu, kamu adalah satu-satunya orang yang menyapaku. Tak ada orang lain yang peduli dengan keberadaanku di sini. Meskipun aku tidak peduli, tetapi kamu sudah memulai sesuatu yang tidak perlu, aku berharap bisa berbincang denganmu, kalau kamu tidak bermaksud seperti itu, kamu seharusnya tidak perlu berbasa-basi. Bisakah… bisakah kamu berhenti menyapaku seperti itu?!”

Aku tidak tahu apakah ini kesal, frustasi, atau justru sedih. Perasaan aneh ini mendorongku untuk bangkit dari kursi dan mendatanginya.

“Bisakah kamu berhenti menyapaku seperti itu?” ujarku lirih.

“Apakah kamu pernah berpikir kenapa aku terus bertanya seperti itu?” Ia balik bertanya sambil matanya tak lepas memandangi halaman buku.

“Nah! Itu kamu bisa bertanya pertanyaan lain. Kenapa tidak da—“

“Apakah kamu pernah berpikir kenapa aku terus bertanya seperti itu?” ia memtong kalimatku dengan mengulang pertanyaannya. Menyebalkan.

“Buat apa? Itu hanya pertanyaan kosong yang tak perlu jawaban!”

“Mestinya kamu pikirkan pertanyaanku, karena menurutku pertanyaan itu sangat penting bagimu.”

Ia berdiri, kini hidungnya tepat berada di depan mataku. Wangi parfumnya tercium samar, mungkin sudah luruh dibilas gerimis dan keringat. Dari jarak sedekat ini, aku bisa melihat pulau kecil di dagunya, tanda lahir berbentuk seperti pulau Kalimantan berwarna cokelat.

“Lihat mataku,” pintanya.

Aku menunduk, jantungku berdegup cepat. Jika saja ada cermin, mungkin aku bisa melihat pipiku yang merona seperti apel pink lady. Ini pertama kalinya aku berada dekat dengan lelaki. Terlalu dekat. Rawan terjerat.

“Kalau kamu ingin tahu jawabannya, lihatlah mataku.”

Perlahan, kuangkat daguku.

“Apa yang kamu lihat?”

Aku diam, antara tidak mengerti dan menikmati.

“Hey, sedang apa kamu di sini?” ia melontarkan pertanyaan itu lagi, kali ini dengan intonasi lebih lambat. “Apakah kamu merasa kamu seharusnya ada di sini? Apakah kamu yakin tempat ini, perpustakaan ini, adalah tempatmu?”

Pertanyaan-pertanyaan darinya, entah kenapa, mendorongku untuk terus menatap matanya. Memperhatikan dengan cermat apa yang terpantul di sana, lantai perpustakaan. Dahiku mengerenyit.

Ke mana perginya pantulan tubuhku? Aku berada tepat di hadapannya, namun yang tubuhku tidak tertangkap pupil matanya. Apakah tubuhku gagal memantulkan cahaya sehingga tak tampak di sana? Tidak mungkin. Wajahku seharusnya ada di sana, dikurung bola matanya.

“Hey, Cantik… sedang apa kamu di sini?”

Sesaat, aku menyapu pandanganku ke seluruh ruangan. Aku mengenyahkan tubuhku sendiri. Perpustakaan ini menjadi tempat asing yang tak kukenali, tak ada sesuatu yang kucari di rak-rak buku itu, di lantai-lantai yang selalu berdebu, bahkan di dinding yang catnya mulai mengelupas. Aku baru menyadari buku yang kubaca selalu sama dan tak pernah beranjak dari halaman 114. Aku, sekali lagi, baru menyadari tak ada sesuatu yang mengharuskanku ada di sini.

Aku berusaha melihat kakiku sendiri, mengambang. Aku tak hadir di dalam mata siapa pun. Aku seharusnya tak ada di sini. Sedang apa aku di sini?

Jendela menabrak tembok, kali ini terdengar lebih nyaring. Suaranya memantul di sudut-sudut anomali ruangan ini. Siapa aku? Apa yang kulakukan di sini? Apakah aku hanya memori usang perpustakaan ini?

 

Bogor, 21 Oktober 2013

Sabda Armandio Alif

 

*) Buku karya Sabda Armandio, 'Kamu (Cerita yang Tak Bisa Dipercaya)', bisa didapatkan melalui @mokabuku.
**) Ilustrasi oleh Anzi Matta.