Latest Post

PRIMΛTΛ: Kupu-Kupu

Tidak ada pekerjaan rumah yang lebih sulit, nampaknya, daripada membangkitkan sesuatu yang dianggap stagnan. Apalagi bila menyangkut musik post-rock. Sebuah genre musik yang keburu dicap (sudah) membosankan.

Di tengah skeptisisme yang juga saya rasakan ini, muncul sebuah band anyar, Primata (ditulis PRIMΛTΛ). Kuartet asal Jakarta-Bekasi yang beranggotakan Rama Wirawan (penulis dan pendiri zine ganas asal Bekasi, Plak! Zine), Rossi Rahardian, Andry Novaliano, dan Agung Rahmadsyah ini melepas single perdana mereka, 'Kupu-Kupu', akhir September lalu. Meski band ini baru resmi terbentuk April 2014 lalu, musik yang tertuang dalam Primata sudah mulai dikonstruksi sejak 2011 silam.

'Kupu-Kupu' dimulai dengan tiga menit sarat efek delay, diimbuhi geraman bass di latar belakang dan dinamika 'pelan-kencang-pelan-kencang lagi' yang sudah lazim dilaksanakan oleh dedengkot-dedengkot post-rock lokal lainnya. Terlepas dari kualitas rekaman yang (bagi saya, setidaknya) kurang mendukung dan tidak menonjolkan suara bass yang seharusnya bisa membuat tiga menit pertama itu lebih 'gemeretak', pencerahan sesungguhnya baru lahir di dua menit penutup. Dalam klimaks lagu ini, Primata melepas sejenak bobot post-rock atmosferik yang sedari tadi mereka bangun, dan dengan berani memainkan distorsi dan beat-beat menghentak yang lebih kasar. Bebunyian ala post-metal yang mereka mainkan tak begitu melenceng dari template band-band post-metal berkualitas seperti Uprising Fomalhaut atau Sadstory on Sunday. And yes, folks, it makes for some good listening.

Kata deskripsi 'sinematik', 'ethereal' dan 'atmosferik' memang sudah overused, apalagi bila menyangkut musik post-rock. Namun, kadang repetisi itu ada karena ia benar. Post-rock – setidaknya post-rock yang mengikuti kaidah 'post-rock sebagai musik instrumental' – tidak dapat mengandalkan kata-kata dan lirik sebagai penyampai makna. Tugas itu diserahkan sepenuhnya pada musik yang mereka mainkan.

Dan di ranah inilah post-rock menemukan ceruk spesialnya. Tanpa kata-kata, mereka menciptakan imaji dan adegan beranekarupa lewat musik. Telinga para musisi post-rock begitu awas memperhatikan penempatan waktu, tempo musik, dan menjadikan instrumen mereka sebagai – menyolong istilah Wikipedia – “Fasilitator berbagai timbre dan tekstur." Dan berbagai tekstur dan adegan itu tidak bisa digambarkan dengan mudah dan terburu-buru. Bisa jadi, post-rock adalah satu-satunya genre musik di mana lagu sepanjang 5-6 menit dikategorikan sebagai 'pendek'. Post-rock memang genre yang perlu didengarkan secara khusus, bukan sebagai lagu latar belakang.

Permainan tekstur dan adegan inilah yang belum dikuasai sepenuhnya oleh Primata. Atmosfir kelam lagu mereka seolah ingin menciptakan imaji-imaji post-apokaliptik, tapi mereka belum menata adegan itu dengan benar. Sulit untuk menemukan penggambaran yang lebih tepat dari ucapan M Hilmi di blog-nya, saat ia mengkritik single ini dengan berkata lagu ini "tidak jelek, namun masih terasa sketchy, nanggung." Primata terdengar seperti band yang belum melepaskan diri sepenuhnya. Mereka belum bisa liar seperti halnya, well, primata.

Menariknya, menurut Primata lagu ini memang tidak direncanakan menjadi bagian dari album apapun. Single ini berdiri sendiri, sebuah anomali di antara repertoar Primata yang lainnya. “Saya merasa perlu untuk, dalam tanda kutip, membuang lagu ini, karena lagu ini akan menjadi anomali jika dipaksakan untuk berada di dalam sebuah album bersama lagu-lagu lainnya yang tercipta belakangan." Terang Rama. "Sementara, lagu itu tercipta di fase hidup saya sebelum ini. Dan saya sudah tidak bisa lagi untuk membuat lagu dengan nuansa yang seperti itu. Karena kita tidak mungkin bisa kembali ke fase hidup yang sudah kita lampaui."

Sayangnya, selaras dengan predikat single ini sebagai 'lagu buangan', lagu ini tampaknya belum menonjolkan Primata yang sesungguhnya. Lagu ini terdengar seperti koleksi ide yang dikumpulkan secara terburu-buru, lantas diejawantahkan untuk dipinggirkan. Yang bikin gemas, saya bisa mendengar bahwa Primata sebenarnya adalah band yang menjanjikan. Dua menit penutup di 'Kupu-Kupu' adalah buktinya. Namun, saya secara pribadi mempertanyakan apa manfaatnya melepas lagu yang sejak awal memang dianggap buangan belaka.

Apakah anda akan suka lagu ini dan berpikir kalau saya salah? Bisa jadi. Faktanya, mereka memang likeable, kok. Dan terlepas dari apa yang saya ucapkan, ini memang lagu yang oke-oke saja. Tapi, saya sendiri lebih berdebar-debar menunggu single kedua mereka.