Latest Post

Raja Terakhir di Rumania

Pada tahun 1989, terjadi serangkaian revolusi di Eropa Timur. Satu per satu, diktator komunis di negara-negara Tirai Besi tunduk pada kehendak rakyat dan diturunkan. Di Rumania, tempat rangkaian revolusi tersebut bermula, sang Bapak New Wave Rumania menatap dalam diam ketika tirani di negaranya dibongkar.

Nama pria itu Rodion Rosca.

 

****

Malam tahun baru, 1980. Rodion G.A dipanggil menaiki panggung di acara konser tahun baru yang diselenggarakan oleh TVR, televisi nasional Rumania yang dikendalikan dengan ketat oleh pemerintahan diktator Nicolae Ceausescu. Mengenakan kemeja dan dasi longgar serta rambut yang disisir rapi, penampilan mereka tak jauh beda dengan kerumunan penonton yang berdansa diiringi lagu mereka.

Penampilan itu dimulai dengan riff keyboard yang melengking, lantas berbaur dengan ketukan drum yang repetitif dan gitar yang penuh distorsi. Lagu nyentrik yang dimainkan Rodion G.A malam itu takkan terdengar salah tempat di konser-konser post-punk dan psikedelia bawah tanah yang ramai di akhir dekade 70’an dan awal tahun 80’an. Seusai empat menit yang bising, penonton memberikan tepuk tangan meriah. Rumania tengah berpesta, setidaknya di ruangan itu.

Namun, di luar ruangan, Rumania mulai lepas kendali. Dekade 80’an akan membawa paceklik, kemiskinan, represi dan paranoia pemerintah, dan berujung pada runtuhnya pemerintahan komunis. Begitupun di scene musik lokal. Kreativitas dikekang habis-habisan. Band-band yang muncul di era itu disensor dan dikendalikan penuh oleh agen-agen pemerintah, yang beroperasi berdasarkan ‘doktrin kebudayaan’ ketat. Pada tahun 1980, band-band se-‘nyeleneh’ Rodion G.A sudah jadi barang langka.

 

 

Awalnya tidak seperti itu. Mulai dari tahun 1965 hingga 1972, Rumania dikenal sebagai negara Tirai Besi yang paling terbuka pada dunia luar. Ya, bahkan orang tolol pun tahu Nicolae Ceausescu adalah diktator yang gila dan korup. Namun, setidaknya ia membuka diri pada pengaruh Barat, dan tidak membeo Uni Soviet seperti negara-negara Eropa Timur lain. Kunjungan dan penghargaan dari Ratu Elizabeth II, Presiden AS Richard Nixon, hingga Kerajaan Denmark membuai Rumania.

Keterbukaan ini juga berimbas pada dunia musik. Penduduk Rumania menikmati musik-musik balada macam Tom Jones dan Cliff Richard, hingga jenis-jenis musik yang lebih asing seperti musik progressive rock, krautrock, dan jazz eksperimental yang datang dari negara tetangga dan negara-negara Barat. Jelang tahun 70’an, scene musik progressive rock/psychedelia yang ramai mewabah di Rumania. Band-band seperti Phoenix, Sfinx, hingga Dorin Liviu jadi idola generasi muda. Di kota Cluj, 300 kilometer dari ibukota Bucharest, Rodion Rosca menjadi bagian dari generasi ini.

“Setiap Sabtu malam, ada malam dansa di setiap SMA.” Kisah Rosca dalam sebuah wawancara. “Beat-Group 13 adalah salah satu band yang bermain di sana.” Sebagai salah satu anggota Beat-Group 13, Rosca muda mulai tenar di kalangan anak muda. Acara malam dansa itu – semacam versi Rumania dari pentas seni di Indonesia – memberi ruang bagi band-band muda untuk bermain dan mengekspresikan diri. Berbagai band dengan musik ‘aneh’ terbentuk dan berkembang dari malam dansa seperti ini. Scene musik alternatif di Cluj pun ramai dengan band-band legendaris seperti Chromatic dan Experimental Quintet.

Rosca mulai bermain-main sendiri, mencari gaya musik baru. Usai membeli reel to reel tape recorder merek Tesla Sonet Duo dari temannya, ia mengumpulkan drum machine dari Jerman Timur, keyboard Casio VL Tone, Faemi Organ buatan Uni Soviet, dan berbagai pedal efek. Dipersenjatai alat-alat ini, ia mulai bereksperimen, memodifikasi, dan merekam dirinya sendiri pada 1969. Musik yang ia rekam dengan alat-alat ini terdengar seperti campuran aneh krautrock dengan lengkingan elektronika dari luar angkasa. Rosca pun memperluas pengetahuan musiknya. Bermula dari korespondensi dan tukar referensi melalui surat pembaca di berbagai majalah, ia perlahan-lahan mengakumulasi koleksi piringan hitam yang eklektik dan ekstensif.

Pada tahun 1975, Rosca bertemu Gicu Farkas di pabrik tempat mereka berdua bekerja. Gicu, seorang bassis handal, menyombong pada Rosca bahwa kemampuannya menyanyi juga tak tertandingi. Rosca merasa dirinya pun perlu menyombong. “Ikut ke apartemen saya, dan saya tunjukkan musik sesungguhnya.” Gicu mendengar rekaman-rekaman eksperimental yang selama ini disimpan Rosca, dan terkesan. Keduanya sepakat membentuk Rodion G.A saat itu juga. Mengandalkan jejaring mereka di scene musik bawah tanah Rumania dan konser-konser siswa yang relatif terbuka, Rodion G.A perlahan-lahan jadi salah satu nama yang paling diperhitungkan di scene musik Cluj.

 


"Ideologi militer dan propaganda pro-pemerintah diwajibkan dalam setiap karya seni, dan para seniman yang tak menurut harus menghadapi sensor dan pembredelan dari negara."


 

Namun, sejatinya pemerintah Rumania masih menaruh rasa curiga pada fenomena rock. Berbagai simbolnya, seperti rambut panjang, pakaian jeans, dan gaya liar di atas panggung dianggap tidak pantas dan berlebihan. Pun, ide pemberontakan dan idealisme diri yang dibawa oleh rock dianggap bertentangan dengan prinsip-prinsip partai yang berkuasa. Nicolae Ceausescu sendiri tidak paham, apalagi menyukai perkembangan subkultur rock. Lahir di pedesaan Scornicesti yang jauh dari teknologi, kecintaannya pada lagu-lagu folk tradisional serta keinginannya untuk menggunakan seni sebagai medium propaganda membuatnya sangat waswas akan popularitas rock di kalangan anak muda.

Titik baliknya terjadi pada 1971. Terkesan dengan kontrol penuh pemerintah yang ia lihat di Korea Utara dan Republik Rakyat Tiongkok (RRT), Ceausescu mencoba menerapkan kendali itu di negaranya sendiri. Ia mulai menciptakan personality cult serupa dengan Kim Il-Sung di Korut dan Mao Zedong di RRT, dan menciptakan Revolusi Kebudayaan-nya sendiri lewat pidato ‘Tesis Juli.’

Rumania berubah total. Tesis Juli di antaranya menyuarakan peran seni budaya dalam membentuk ‘karakter bangsa’. Ideologi militer dan propaganda pro-pemerintah diwajibkan dalam setiap karya seni, dan para seniman yang tak menurut harus menghadapi sensor dan pembredelan dari negara. Band dilarang menyanyikan lagu-lagu bahasa Inggris, dan hanya boleh menyanyikan lagu berbahasa Rumania atau bahasa Prancis dan Italia yang serumpun. Industri dan scene musik Rumania, yang tadinya penuh dengan band-band alternatif dengan musik-musik yang ‘beda’, ikut diguncang. Label musik Rumania, seperti label Eropa lainnya pada masa itu, masih banyak bergantung pada penjualan versi cover dari lagu-lagu populer Barat. Sementara di scene bawah tanah, larangan itu ikut memotong suplai piringan hitam baru dari luar negeri dan membuat konser rock semakin sulit diselenggarakan. Mendadak, Rumania bertransformasi dari salah satu negara paling liberal di balik Tirai Besi, menjadi salah satu negara paling represif.

 


Para pemilik tempat konser dituntut waspada akan kedatangan para inspektur sensor, yang kerap ‘blusukan’ secara mendadak ke konser-konser.


 

“Meski sensor pemerintah sangat ketat, sebenarnya mereka tak bisa mengendalikan segalanya.” Kenang Rosca. “Misalnya, di malam dansa SMA, semua band memainkan dan menyanyikan lagu apapun yang mereka mau.” Namun, bukan berarti semua band mau mengambil resiko itu. Securitate, polisi rahasia Rumania, dikenal kejam dan ditakuti. “Mungkin saja kita bisa menyanyikan lagu protes, tapi itu berbahaya karena ada informan di mana-mana. Di antara para dewan sekolah, dan guru. Mereka wajib melaporkan ‘kenakalan’ murid-muridnya.

“Kadang kami diberi ‘kunjungan dadakan’ dari inspektur sensor. Mereka mendengarkan setiap band, musik apa yang mereka mainkan, dan cara mereka memainkan musik tersebut. Jika band itu bermain terlalu keras, izin tampil mereka bisa dicabut, atau kontrak mereka dengan label bisa diputus secara paksa.”

Rosca sendiri termasuk orang yang tak menyukai kondisi politik pada saat itu, namun memilih untuk tak menyuarakan kekhawatirannya secara terbuka. “Saya menulis beberapa lagu protes, tapi tidak saya rekam.” Terangnya. “Saya takut. Sejak kecil, saya tak suka tentara dan polisi. Kala itu saya pikir mereka makhluk yang datang dari tempat-tempat liar.”

Ketakutan yang sama dirasakan oleh banyak band-band rock bawah tanah. Banyak dari mereka bubar jalan setelah dicabut izin tampilnya, atau mulai menurut dengan sistem dan memainkan lagu-lagu yang lebih ‘sopan.’ Bahkan band-band yang luar biasa populer dan punya massa besar sekalipun, seperti unit progressive rock legendaris Transsylvania Phoenix, hanya bisa mengekspresikan kritik melalui perumpamaan-perumpamaan yang sangat halus. Scene musik Rumania berubah jadi anjing yang dikekang dalam kandang.

Salah satu band yang tetap ‘menjadi aneh’ adalah Rodion G.A. Dan hebatnya lagi, mereka sukses besar. Mereka mulai rutin tampil di televisi nasional, salah satunya di pesta tahun baru 1980 itu. “Musik kami dimainkan sebagai jingle acara olahraga radio, di berita televisi. Teman-teman saya selalu bilang, ‘Rodi, mereka memainkan musikmu lagi!’” Namun, ada konsekuensi dari menjadi aneh. Izin rekaman sulit mereka peroleh, dan mereka hanya sempat merekam beberapa single untuk stasiun radio, serta menyumbangkan dua lagu di kompilasi rock yang dirilis label ‘resmi’ negara, Electrorecord. Tetap saja, popularitas Rodion G.A tidak menurun. “Setiap lagu yang kami rilis lewat radio memuncaki tangga lagu!” ujar Rosca, bangga.

Sepanjang dekade 1980’an, ketika Rumania mulai merasakan dampak krisis ekonomi dan pangan yang parah, Rodion G.A terus mencoba bertahan. Lewat jejaring dari scene musik bawah tanah Rumania, berbagai festival dan konser kecil-kecilan diadakan, utamanya di resor dan kota-kota tujuan wisata di Rumania. Protes kecil-kecilan terus dilakukan. Banyak band yang tampil di konser-konser kecil ini memaksa diri memainkan versi cover dari lagu-lagu Barat. Para pemilik tempat konser dituntut waspada akan kedatangan para inspektur sensor, yang kerap ‘blusukan’ secara mendadak ke konser-konser.

Terang saja, musik rock Rumania megap-megap di tengah atmosfir seperti itu. Dan Rodion G.A juga kesulitan. Jelang pertengahan dekade 80’an, mereka mulai jarang mendapat konser. Krisis ekonomi terus memburuk, dan bahkan serangkaian pekerjaan mengisi soundtrack dan jingle tak lagi cukup untuk menopang hidup para anggota Rodion G.A.

Akhirnya, pada tahun 1987, Rodion Rosca dan kawan-kawan naik ke atas panggung untuk terakhir kalinya. Usai penampilan terakhir di festival Mangalia, Rodion G.A memutuskan bubar.

 

 

****

Hanya dua tahun kemudian, Nicolae Ceausescu tergeletak tak bernyawa di lapangan. Sebuah pengadilan diumumkan secara dadakan tak lama setelah Nicolae dan istrinya, Elena, ditangkap warga usai kabur dari amuk massa di atap Istana Negara. Dalam persidangan yang canggung dan terburu-buru, tuduhan kejahatan kemanusiaan dan korupsi dilayangkan pada mereka. Persidangan itu usai hanya dalam 2 jam. Tanpa basa-basi, Nicolae dan Elena diputus bersalah dan ditembak langsung di luar tempat pengadilan. Kerajaan yang ia bangun tengah diruntuhkan.

Namun, muncul satu pertanyaan genting: Di mana Rodion Rosca berada?

Sejak Rodion G.A bubar, ia menghilang. Tidak ada berita tentang proyek baru sang legenda, atau desas-desus tentang karya baru yang ia rilis. Nama Rodion Rosca nampaknya tenggelam di tengah huru-hara yang melanda Rumania jelang akhir dekade 80’an. Dia sendiri sengaja tak mencoba melawan. Kenyataannya, Rodion Rosca telah muak pada musik. “Pada tahun 1989, Ibu saya meninggal karena kanker.” Ungkap Rosca. “Dan selama nyaris 30 tahun ke depan saya menolak bermain musik. Saya tidak tertarik lagi. Musik sudah tidak sepadan.” Ia pun sempat pindah ke London, dan bekerja sebagai buruh kasar. Memanfaatkan pengetahuannya tentang alat musik dan pengalamannya mengutak-atik alat selama di Rodion G.A, ia lantas pulang dan membuka toko servis dan reparasi alat musik.

Kemudian, ia ditemukan kembali. Blogger lokal Rumania, Sorin Luca, menggali sejarah Rodion G.A dan mengunggah beberapa lagu mereka ke Internet. Lagu-lagu Rodion G.A menarik perhatian kolektif musik Rumania, Future Nuggets, yang lantas melacak Rosca dan mengajaknya kembali ke atas panggung. Maka, pada 2012, Rodion Rosca kembali ke atas panggung, berkolaborasi dengan musisi dari Future Nuggets di depan penonton yang menyambutnya dengan meriah. Musiknya, yang menggabungkan elektronika, krautrock, dengan psikedelia, dicintai lagi oleh generasi baru scene musik alternatif Rumania. Pujian berdatangan. Ia disandingkan dengan Giorgio Moroder dan Syd Barrett, dan dijuluki ‘Bapak New Wave Rumania’. Pada tahun 2013, Strut Records merilis rekaman lagu-lagu Rodion G.A yang tak pernah dilepas ke publik sebelumnya. Retrospektif berjudul ‘The Lost Tapes’ itu diliput media massa dan mendapat sambutan hangat.

Hidup terus berlanjut bagi Rodion Rosca. Namun, ia masih menyimpan trauma dari represi era Ceausescu. “Sebenarnya perilisan album ini menyakitkan, karena sudah terlambat.” Ucap Rosca. “Kalaupun saya jadi kaya, sudah terlambat. Hidup saya sudah dihancurkan.

“Ceausescu menghancurkan masa muda saya dan hidup saya. Dan saya tidak sendirian.”