Latest Post

Reformasi, Uang, Kawan: Percakapan Panjang dengan Efek Rumah Kaca

* * * *

Universitas Indonesia, 2012. Saya masih ingat orang itu. Wajahnya sumringah, peluh bercucuran dari pelipisnya. Dia memakai kaus abu-abu dan celana jeans belel yang nampaknya bisa robek berkeping-keping kapan saja. Tangan kirinya menenteng tas kecil yang dia bawa-bawa kemana-mana. Tangan kanan-nya memegang rokok. Dia menawarkan rokoknya pada saya, dan saya menolak dengan halus.

Nama band itu Efek Rumah Kaca. Mereka sudah ada sejak 2001, namun entah kenapa baru merilis album debut pada tahun 2007. Nyaris segera, mereka menjadi tenar di kalangan indie (satu lagi istilah yang sudah melelahkan untuk dipergunakan, sebenarnya) dengan lirik-lirik mereka yang tajam dan musik mereka yang terbilang bernas. Sebuah band menyanyi dengan bahasa Indonesia bukan barang baru. Namun sebuah band yang memiliki karisma populis tersendiri, bernyanyi dengan bahasa Indonesia, dan menyentuh topik-topik tajam seperti konsumerisme, Munir, hingga pornografi? Wow.

Cholil memegang vokal dan gitar, Akbar bermain drum, Adrian memegang bass. Formasi yang brilian. Usai tenar karena memberi kritik pedas pada homogenisasi musik pop di ‘Cinta Melulu’, mereka lanjut dengan album kedua, Kamar Gelap, yang juga sarat dengan lagu-lagu pedas dan lirik brilian.

Orang itu menawarkan rokok-nya lagi. Kini dia menandak dan menabrakkan diri ke penonton yang lain; menunjuk-nunjuk udara sambil berteriak sesuai dengan lagu-nya. Hujan mendadak turun, air rintik-rintik membasahi bumi. Cholil menyerukan riff lagunya; “Hujan, hujan, jangan marah.” Kami semua ikut berteriak bersamanya, memohon.

Besoknya lapangan itu tergenang. Berlumpur. Kembali menjadi tempat parkir. Tidak ada yang peduli. Sudah. Baiklah.

Habis perkara.

 

* * * *                                                                  

Bagaimana kalian mulai bermusik?

Cholil: Sejak usia 7 tahun sudah suka musik. Mulai ngeband pertama kali usia 13 tahun, di SMA ikut band sekolah, mulai ngeband dan ikut festival. Lalu mulai ikut di band yang membuat lagu sendiri dari kelas 1 SMA. Pernah buat band yang pernah merilis album mayor, tapi gagal karena krisis moneter tahun 1998. Lalu mulai bermain-main, bareng dengan Adrian di kamar, membuat lagu. Itu sekitar tahun 1999. Bertemu mereka dan membentuk ERK sekitar tahun 2001.

Akbar: Kalau gue dari SMA. Itu sekitar tahun 93’an ya? Dari SMA sudah main drum, tapi sadar senang musik sudah sejak kecil. Saat umur 5-6 tahun dan Bokap nongkrong dengan teman-temannya, mereka memutar lagu, gue pasti ikutan. Lalu coba main gitar; gitar-nya terlalu besar, tapi sudah bisa buat komposisi instrumental sendiri. Sudah ngarang beberapa part. Ketemu itu baru SMA, walau sudah suka sejak kecil. Kuliah, gue ngeband. Lulus tahun berapa ya? 94-95. Itu mulai nge-band dengan lagu macam-macam. Tadinya di SMA main musik rock, lalu di tahun 94-95 baru mulai main pop atau jenis musik lainnya, main di kafe. Gue juga merasakan efek krismon itu. Lagi main di kafe, tiba-tiba kafe-nya bangkrut. Dia di daerah Sudirman. Kafe-nya tidak bisa bayar sewa karena dollar naik terus. Akhirnya kolaps. Gue ketemu anak-anak ERK tahun 2001.

Adrian: Pertama kali ngeband tahun 1991, SMA kelas 1. Tapi itu masih band kelas. Tidak ada target, tidak ada apa-apa, tidak ada keinginan yang lebih. Benar-benar cuma kalau lagi bisa, ya latihan. Mulai serius sekitar tahun 1995, saat mulai kuliah. Sebenarnya gue satu SMA dengan Cholil, tapi beda band. Nongkrong bareng, pernah sekelas. Tapi Cholil punya band sendiri, gue punya band sendiri. Tahun 1995, sudah bikin lagu, sudah mau bikin album, ternyata tidak jadi. Bandnya juga ga jalan. Sekitar 1998 juga band Cholil sempat mau masuk label major, tapi gagal. Akhirnya, mungkin mood mereka turun.

Band gue juga berantakan. Dari band gue yang tersisa hanya gue, band Cholil yang tersisa hanya Cholil, masih jalan berdua. Yang paling berasa apa ya? Mungkin salah satu yang buat ngeband berat karena dulu ngeband itu bersifat iseng, dan masih terjangkau. Setelah krismon, rasanya ngeband seperti ‘punya’ orang mampu. Karena biaya sewa studio latihan dan studio rekaman naiknya cepat. Hal-hal paling mendasar, lah.

 

(Cholil kembali ke dalam studio untuk merekam part gitar-nya)

 

Tadi kita sudah ngobrol tentang era Pra-Reformasi, gimana kalian bermusik di masa itu. Bang Adrian sudah sejak tahun 91, bang Akbar sejak 93, bang Cholil juga. Scene musik kita waktu itu bagaimana? Sudah ‘rame’ belum?

Akbar: Jaman segitu baru PAS Band yang meledak ya?

Adrian: Sama Pure Saturday mungkin.

Akbar: Ya, Pure Saturday di era-era itu.

Adrian: Mungkin Rumah Sakit juga, buat orang-orang yang mengikuti.

Akbar: Ya, Rumah Sakit. Cherry Bombshell juga. Wah, saat itu malah luar biasa. Era 90’an di Indonesia sangat sehat. Mainstream juga ada, tapi bergerak bersama. Campurannya hampir sepadan.

 

Dari segi kualitas?

Akbar: Ada bermacam ide, bermacam genre. Lagunya tidak cuma yang standar – kalau pop lagunya pasti tentang cinta. Saat itu PAS Band merilis ‘Impresi’, contohnya. Jadi ada banyak tema-tema yang baru. Pure Saturday merilis ‘Kosong’. Jadi, ada banyak ya waktu itu?

Adrian: Tapi kalau dibandingkan dengan sekarang ya jauh. Tidak seperti sekarang. Kalau sekarang, indie sudah seperti... apa ya? Kalau menurut gue, karena sudah banyak, justru menjadi indie itu memiliki prestise tersendiri. Karena sekarang industri-nya lagi down.

Akbar: (tertawa) Lagi ga tahu mau kemana, ya?

Adrian: Kalau dulu Slank masih oke, Dewa masih oke. Indie jadi seperti selipan yang menawarkan sesuatu yang baru. Begitu saja. Walaupun secara nilai-nilai sudah jalan. Waktu itu ada juga Kubik yang sempat distribusinya menaruh di majalah Hai. Itu juga dilakukan band-band major kan.

 

Pada jaman itu, apakah menjadi musisi itu prospek yang cerah? Apakah ada banyak orang yang mau jadi musisi? Atau justru menjad musisi itu sesuatu yang eksklusif?

Adrian: Kalau gue biasanya karena melihat idola. Kalau gue merasa idola gue sukses, kenapa gue enggak? Slank, misalnya. Kalau di sekolahan, lingkungannya heterogen. Ada yang tingkat ekonominya tinggi sampai yang tongkrongan banget, dan semuanya mendengarkan Slank. “Berarti kalau gue bisa bikin musik yang bagus, gue bisa dikenal semua orang.” Polos-nya begitu. Sangat menjanjikan memang. Tapi itu berubah setelah mulai ngeband serius era 1998 ke atas. Apalagi setelah kita mulai. Cholil gagal. Untuk ukuran era segitu, album Cholil dan bandnya bagus banget.

Nama bandnya Lull. Mereka sempat produksi kaset tapi hanya 200 kopi. Laku cepat, dan memang kualitasnya bagus. Tapi mereka gagal. Akhirnya pesimis, mau bikin apa lagi? Karena musik mereka, walau secara musikalitas cukup baru, tapi masih bisa dibilang catchy banget. Jadi, ternyata catchy saja tidak cukup. Kita perlu strategi lain, yang kita tidak tahu, karena kita cuma tahu main musik. Kita tidak tahu apa pertimbangan orang yang ada di bisnis musik. Kita pesimis. Jujur saja, saat Efek Rumah Kaca jalan, ketemu Akbar juga pada tahun 2001...

Akbar: Kita nothing to lose.

Adrian: Tidak ada keinginan lebih. Cuma bersenang-senang. Mungkin kalau setelah album pertama kita tidak jalan, kita tidak akan bisa sampai sekarang. Pokoknya sudah puas, sudah bikin album.

 

 

* * * *

Ini masalah kuasa, alibimu berharga. Kalau kami tak percaya, lantas kau mau apa?

Ini mosi tidak percaya, jangan anggap kami tak berdaya!”

– Efek Rumah Kaca, ‘Mosi Tidak Percaya’

 

* * * *

Bagaimana kalian mengenang masa Krismon dan menjelang Reformasi? Suasananya, atmosfirnya? Bagaimana Indonesia pada waktu itu?

Akbar: Wah, kalau pas mendekati Reformasi, apalagi saat demo-demo mulai banyak, lalu ada pendudukan dan aparat masuk kampus, Indonesia sangat mencekam. Waktu itu kita masih kuliah ya?

Adrian: Iya.

Akbar: Tapi kita belum ketemu. Saya ngerasain banget itu. Kampus saya di Rawamangun, kita lewat Ponogoro. Itu lumayan mencekam. Apalagi saat melewati markas PDI dulu, Rumah Sakit Cipto, Borobudur, dan juga di daerah Atmajaya, Trisakti. Selalu ada koordinasi dari teman-teman, “Kita mesti aksi itu, aksi ini,” Setiap hari selalu ada aksi. Kebetulan saat itu di kampus saya punya band juga. Kita berpikir, “Ya sudah, latihan saja lah!” Saya sukanya memang main musik. Suasana mencekam itu memang kita rasakan, tapi waktu itu pikiran saya, “Ah lebih enak ngeband nih!” Lebih enak masuk studio.

Adrian: Tahun 1997 paling lekat di ingatan gue. Kala itu gue masih kuliah, dan kampus gue jauh. Di Srengseng Sawah, gue dari Kebayoran Lama. Terasa banget susah hidupnya! (tertawa) Biasa bisa makan dua kali, sekarang cuma satu kali. Biasa bisa beli rokok, sekarang harus patungan. Medio tahun 94 sampai 96 harga mulai naik perlahan-lahan. Di 97 naiknya drastis banget. Jadi terasa susah, dan sekitar gue juga banyak orang susah.

Akbar: Jadi susah semua. Mungkin dulu, yang tadinya sedang kemampuannya sekarang jadi orang ga mampu. Apalagi yang sejak awal ga mampu, tambah parah itu! Kacau memang.

Adrian: Kelihatannya sih biasa saja. Tapi kalau sudah bicara belanja, makan, semua itu jadi masalah.

(keduanya tertawa)

 

Apakah kalian terlibat dengan, atau setidaknya mengikuti lewat media atau kabar dari teman, demonstrasi dan protes yang berlangsung?

Akbar: Oh iya. Setiap hari saat datang kampus, selalu ada pertanyaan “Hari ini kita aksi apa?” Arahnya selalu ke Istana, ke DPR. Selalu.

Adrian: Sebelum Trisakti di kampus sudah mulai, tapi masih sangat terkoordinasi. Jarang ada demo. Kalaupun ada, sudah sangat dipersiapkan isu yang mau dibawa. Dan masih sedikit yang ikut. Tapi setelah Trisakti, itu gila-gilaan. Kampus sampai libur gara-gara demo.

Akbar: Dosen-nya juga libur.

Adrian: Sudah mulai terasa bahwa ini darurat.

Akbar: Pokok-nya jaman itu sucks banget! Ada Pamswakarsa segala (tertawa). Wah, gila! Udah aparat masuk kampus, ada istilah Pamswakarsa, itu menyebalkan banget. Apa sih itu? Mereka jadi musuh bulan-bulanan kita. Bukan cuma aparat, tapi mereka juga. Itu cemen banget tuh! (tertawa)

Adrian: Setelah Trisakti, kalaupun lo ga ikut demo sekali-kali, ya di depan TV kita melihat perkembangan terus.

Akbar: Saat kerusuhan pecah, yang orang menjarah di mana-mana, dampaknya sampai ke Radio Dalam, daerah rumah saya. Teman-teman saya yang sering ke Masjid bareng, sholat berjamaah, mereka mengangkat kulkas, angkat mesin cuci. Kami sekeluarga berjaga-jaga di depan gang agar tidak ada yang masuk. Sayang saja melihat teman-teman yang biasa di Mushola bareng bawa barang-barang itu. “Woi, pada ngapain lo?”

Sebenarnya, daerah saya termasuk daerah yang aman dan tentram, tapi kerusuhan yang pecah itu jadi inspirasi. Orang-orang yang tadinya adem ayem jadi ikut-ikutan. Saat itu benar-benar gila, ga tahu mesti ngapain. Chaos banget suasananya.

Adrian: Ternyata Indonesia potensi konfliknya gede. Baru nyadar kita, karena sebelumnya adem-adem saja di jaman Soeharto. Potensi konfliknya gede, dan pada waktu itu yang ikut sudah nge-blend antara orang yang susah dan tidak. Jadi sudah absurd. Semua orang memberontak. Kebetulan diakomodirnya dengan cara begitu, ya mabok semua, ikut semua.

 

Masa-masa itu, kalian sudah aware dengan isu-isu HAM tidak? Misalnya, sudah tahu siapa itu Munir, siapa itu Wiji Thukul.

Akbar: Belum. Kalau Munir pada jaman itu kita belum mengikuti. Tapi kita sangat prihatin dengan aparat masuk kampus, karena kita anak kampus juga, lalu melihat di TV juga. Senjata ga ada yang diarahkan ke udara, tapi memang sudah diarahkan ke kampus, langsung ke mahasiswa, ke crowd. Dan dengar cerita banyak yang hilang, banyak yang apa, dan segala macam. Untuk aware banget dengan apa yang terjadi, belum. Tapi jelas prihatin luar biasa. Namanya juga di kampus, solidaritas-nya tinggi. Saat itu memang ini jadi musuh bersama, jadi kita merasakan banget.

Adrian: Kebetulan dari kampus gue ada yang hilang juga di era-era 97. Karena kebetulan gue kuliah di situ, jadi gue sudah mulai... bukan peduli sih, tapi sudah mulai tahu, sudah mulai ikutin. Karena kebetulan kampus kita juga politiknya hidup lah. Hidup dalam artian, macam-macam yang hidup di kampus. Dan yang paling kiri pun ada, mereka vokal biasanya.

 

Kalau boleh tahu, kampusnya dulu di mana?

Adrian: Kalau gue dulu di ISTN.

Akbar: Aku di Akademi Media, Radio, dan Televisi. Itu di daerah Rawamangun.

 

Apakah, pada masa itu, dengan semua kekacauan dan chaos itu, kalian sempat berpikir, "Ya sudah. That’s it. Udah kacau negara kita, infrastruktur udah turun, situasi sudah lepas kendali. Kita tidak mungkin bisa bermusik lagi dengan situasi negara seperti ini. Gak ada masa depan lagi di musik." Kafe tutup, studio sudah gak jelas... sempat terpikir begitu?

Adrian: Kalau gue gak. Kalau cuma target-nya ekspresi... karena dari dulu gue sering di studio. Kalau gak di studio ya nongkrong-nongkrong di rumah, bikin-bikin lagu. Jadi sebenarnya gak terlalu merasa terganggu. Ekspektasi-nya saja tentang musik yang langsung ngeh dan harus berubah. Mau jadi apa?

 

Perubahannya apa?

Adrian: Ya, kita merasa bahwa... Waktu tahun 98 itu kita ga kebayang kalau kondisi-nya sekarang seperti saat ini. Yang dibayangkan dulu akan lebih parah dari ini. Ga kebayang, kan? Sudah kudeta, kerusuhan massal, kayaknya ga ada masa depan. Bayangannya begitu. Jadi, bayangannya “Ah, udah ancur lah ini negara!” Jadi ya kita gak punya ekspektasi apa-apa.

Akbar: Gue juga sama. Awalnya syok dulu, tapi kita sudah senang musik. Passion kita ada di musik. Apalagi waktu itu saya juga sudah mulai bisa terima uang dari musik. Ya, syok sih, tiba-tiba kafe tempat kita main ga ada lagi. Sempat jobless juga, sempat ga main di mana-mana. Tapi akhirnya recovery. Tapi waktu itu sebenarnya gak pernah ada rasa putus asa. Kalau menurut saya, saya dalam tahap belajar, terus mencari dan terus menggali. Kalau gara-gara begini doang semangat jadi hancur, cemen banget!

Berharap saja, pasti ke depannya bisa balik lagi nih. Bisa normal. Memang saat itu melihat kudetanya, syok berat. Lihat ada panser di depan Pondok Indah Mall... Pusing juga sih. Perekonomian saat itu berhenti. Keputusasaan itu mungkin sempat ada, tapi gak bertahan lama.

Bener apa yang tadi Adrian bilang. Kelihatannya runtuh semua, kolaps semua. Tapi ya, kalau untuk menghalangi rasa ingin main musik... saya rasa tidak ada yang bisa. Itu adalah passion yang kita punya. Karena saking kuatnya, ya makanya kita bisa bertahan sampai sekarang.

 

Kalau sekarang kalian melihat ke belakang, seberapa besar pengaruh era itu pada siapa Efek Rumah Kaca sekarang? Misalnya dari kesadaran sosial kalian yang terekspresikan dari musiknya, atau dari liriknya, atau dari attitude kalian terhadap musik sekarang. Adrian: Berpengaruh banget memang. Sebelum 1998, dengerin Slank atau Iwan Fals, misalnya. Topik-topik yang dibahas rata-rata tentang isu sosial. Artinya apa? Ada banyak masalah di sosial. Tapi di era 1998, selain sosial isu politik juga ada. Maksudnya politik dalam kelas yang baru, anak-anak yang baru. Sudah mulai aware politik. Karena sebelumnya, politik itu cuma soal pemilu.

(Akbar tertawa)

Adrian: Pemilu, Menteri Penerangan ngobrol, dan Presiden. Kalau di 1998, politik ada di TV setiap hari. Mungkin seperti sekarang, tapi bedanya waktu itu kondisinya darurat. Nongol terus di TV. Menurut gue, kalau Efek Rumah Kaca, lirik memang banyak dibuat Cholil, tapi era itu banyak bersentuhan. Ketika tahun 1998, Reformasi, orang mulai berani buat LSM karena memang sudah mulai bebas. Cholil lahir dari situ.

Mungkin kalau dibandingkan, ada lagu-lagu yang dibuat di awal, sudah mulai dibuat sebelum tahun 1998, atau baru mulai dibuat di tahun 1998. Ada Insomnia, Hujan Jangan Marah.

Akbar: Hujan Jangan Marah itu sekitar tahun 1998.

Adrian: Semua lagu itu sudah dibuat. Itu temanya... Insomnia tentang insomnia, Hujan Jangan Marah sebenarnya lagu sosial, tapi lebih ke pengalaman Jakarta banjir. Tidak ada lagu-lagu yang benar-benar masuk ke dalam konteks politik. Setelah era itu baru Cholil banyak bikin lagu yang bersentuhan dengan itu. Ada Jalang, ada Di Udara, ada Menjadi Indonesia. Lumayan banyak.

 

Kalau menurut bang Akbar gimana?

Akbar: Akhirnya kita berpikir, kalau kita ngobrol tentang politik jadi nyambung. Misalnya kita sebal nih sama politisi, setelah era itu kan saya jadi ikutin perkembangan politik. Kan lumayan itu di TV ada terus, di koran juga. Ini kayak apa sih? Orang yang ngomong ini-itu, dan sebagainya. Orang semakin berani mengajukan pertanyaan. Lalu ada seperti Metro TV, TvOne, ada talkshow dan semacamnya. Akhirnya kita mulai bisa ngobrol tentang hal-hal itu.

Adrian: Kalau dulu mikirnya, “Berat banget sih ngomongin politik?”

Akbar: Iya, iya. Keresahan itu jadi kita rasain bareng-bareng juga. “Undang-Undang Anti Pornografi ini kok gimana banget ya, rasanya?” Makanya kita buat lagu Jalang. Lalu saat ada kasus Munir, dia membuat lagu Di Udara. Tapi kita ngobrol dulu. Sebelum Cholil membawa lagu Di Udara itu, saya sudah tahu sedikit tapi belum dalam. Lalu kita berpikir, “Memang dia siapa? Dia penting ya?” Kemudian ngobrol, dan baru kita tahu, “Wah, ternyata dia luar biasa.”

Adrian: Kalau di musik, yang sudah masuk ke isu itu mungkin baru Iwan Fals dan Slank. Yang lain cenderung main aman.

Akbar: Iwan Fals dan Slank itu sangat dekat dengan ERK, apalagi Iwan Fals. Kita bertiga senang dengan Iwan Fals. Isu-isu yang dia bawa di lagunya kan apa saja, menyentil politik juga. Kita juga senang Warkop, lawakan mereka sebenarnya menyentil politik juga. Mereka juga bandel.

Adrian: Iwan Fals kan sempat bikin lagu Bento, Bongkar.

Akbar: Jangan-jangan Bento itu Benny Soeharto...

(tertawa terbahak-bahak)

Akbar: Ya kita jadi mikir, Benny Soeharto itu siapa sih? Saking ngaconya.

(tertawa)

Akbar: Kalau jaman dulu itu katanya Toshiba. Tommy...

(tertawa)

Akbar: Jaman segitu ya mereka sudah ngocol soal itu. Ya kita sudah terbiasa. Cuma, waktu itu kelihatannya keadaan aman terkendali. Kita benar-benar ditekan. Beda sama sekarang. Sekarang kan sudah gila-gilaan, sudah cuek.

 

 

* * * *

“Anjrit, band ini masih ada? Lo masih pada latihan? Gila lo!”

 

* * * *

Setelah Reformasi, sekitar tahun 2001 kalian membentuk Efek Rumah Kaca. Eh, waktu itu namanya bukan Efek Rumah Kaca kan? Superego, kalau tidak salah.

Akbar: Waktu itu namanya Hush. Tapi sebenarnya kita tidak benar-benar punya nama apapun. Itu cuma nama buat booking studio. Kalau ditanya orang studionya, “Mau booking ya? Nama bandnya apa nih?” Ya kita bilang saja namanya Hush, namanya Superego. Percuma saja, karena kita juga tidak pernah manggung. Kalau kita manggung dan ganti nama, banyak orang pasti tahu. Ini kalaupun kita ganti nama yang tahu cuma kita dan orang studionya. Akhirnya kita memutuskan pakai nama Efek Rumah Kaca saat akan manggung pertama kali, di tahun 2005 itu. Tapi sebelumnya sebenarnya sudah pede dengan nama Superego.

 

Dan sempat Rivermaya juga.

Akbar: Sebenarnya kita dapat nama Rivermaya sudah lama, tapi band lain itu ngetop duluan. Superego sebenarnya sudah enak. Kita mau latihan nih, ditanya orang studio-nya, “Oke, dari jam 8 sampai 10 dibooking Superego.” Beberapa bulan aman. Eh, teman gue yang punya studio ngeband ke Yogyakarta. Ternyata di situ ada band punk bernama Superego. “Yah, ternyata ada.” Setelah itu, balik lagi kalau mau booking, ditanya apa nama band-nya. “Ya sudah, ditulis Akbar aja.”

(tertawa)

Akbar: Ya sudah, Akbar. Kalau Adrian yang telpon, ditulis ‘Adrian’. Jadi kita balik, gak punya nama. Saat mau manggung pertama, baru kita berpikir mencari nama. Masa mau manggung gak punya nama, pakai nama orang? Kebetulan waktu itu kita punya lagu berjudul ‘Efek Rumah Kaca’. Dan yang memberi ide memakai nama itu manajer kita, Bin (Harlan ‘Bin’ Boer). Nama band dia kan C’mon Lennon. Jadi gue berpikir, “Panjang amat namanya.” Ada C’mon Lennon, ada Efek Rumah Kaca. Mungkin lagi mode-nya ya? Sikat aja. Ya sudah, ambil deh. Masa ga ada nama?

Tapi pas jamannya kita baru keluar, orang selalu nanya, “Ini band lingkungan hidup ya?” Enaknya, kita jadi sering dipakai di acara-acara lingkungan hidup. Dikiranya, lagu kita banyak yang tentang lingkungan hidup. Padahal paling cuma 2-3 lagu.

 

Dengan nama yang diambil terbilang asal-asalan itu, apa pertanyaan paling menyebalkan yang pernah ditanya orang soal nama kalian?

Akbar: “Kenapa namanya itu?” Lalu lebih miris lagi, kita sempat interview di Bandung. Ada seorang guru telfon ke kita, ngobrol-ngobrol. “Gara-gara kalian nih!” Jadi dia pernah kasih pertanyaan ke murid-nya, “Ada yang tahu ga Efek Rumah Kaca itu apa?” Ada yang menjawab, “Oh, saya tahu bu! Itu band dari Jakarta!” Jadi mereka gak tahu artian yang sebenarnya!

 

Sebenarnya bagaimana ceritanya Efek Rumah Kaca pertama terbentuk?

Akbar: Justru gue orang terakhir yang gabung. Sebelum ketemu, Adrian dan Cholil ini memang sudah kenal sejak lama, sudah tidur berdua, sudah membuat lagu bersama. Sudah bikin not-not ga jelas. Tapi itu pasti not-not surga, jadi not-not itu akan diperdengarkan kalau mereka masuk surga. Kalau gak masuk surga ya gak diperdengarkan. Jadi ada mereka berdua, ada pemain gitar – Cholil dulu belum main gitar. Dia semakin ke sini semakin bagus mainnya.

 

Dulu dia gak bisa sama sekali?

Akbar: Sudah bisa, tapi memang sejak SMA posisi dia sebagai vokalis. Dia sering juara vokalis. Masa juara vokal main gitar? Tadinya begitu pikirannya. Saat waktu itu gue ketemu, mereka sudah berempat. Ada gitaris-nya, nama dia Hendra dan pemain piano, Sita. Ada piano dulu. Ya sudah, kita main-main saja dengan formasi itu. Sekitar tahun 2003, dua orang keluar. Pemain gitar dan pemain pianonya keluar. Akhirnya hanya ada kita bertiga, sampai sekarang.

 

* * * *

“Yang muda lari ke kota, berharap tanah yang mulia. Kosong di depan mata – banyak asap di sana.

Menanam tak bisa. Menangis pun sama.”

- Efek Rumah Kaca, ‘Banyak Asap Disana’

 

 

* * * *

Oke, gue mau melihat ke salah satu lagu-nya Efek Rumah Kaca, ‘Banyak Asap Disana’. Kalau untuk gue, itu salah satu lagu kalian yang paling kuat, setidaknya dari segi lirik. Sebenarnya apa yang melatarbelakangi lagu itu?

Akbar: Bagi-bagi kue aja ya itu, Adrian? Kuenya ga rata (tertawa)

Adrian: Awalnya kita diajak mengikuti kompilasi yang diadakan KawanKu. Tentang fair trade, ya? Sebenarnya Cholil yang bikin lagu itu. Isi lagu itu tentang...

Akbar: Pemberatan ekonomi, ya?

Adrian: Kesempatan usaha dan kesempatan untuk menjadi kaya yang tidak merata di Indonesia. Terutama yang hulu. Petani, nelayan, dalam konteks sebagai hulu, tidak akan pernah jadi kaya. Karena sistem ekonomi Indonesia konglomerasi. Lebih banyak merugikan mereka. Efeknya ke mana-mana; urbanisasi dan pengangguran di kota.

 

Bicara soal kota. Kita tinggal di Jakarta, yang kelihatannya kota paling belibet di Indonesia. Dan, correct me if I’m wrong, tapi kalian juga bukan band milyuner. Kalian masih kerja, bang Cholil masih kantoran...

Akbar: Ga sesuai, ya?

 

Ya, kalian bukan rockstar dengan segala bling-bling. Jadi, bagaimana Jakarta dan segala lika-liku-nya mempengaruhi Efek Rumah Kaca?

Akbar: Susah. Ya, kita berjuang, kita struggle, kita mulai dari nol. Dan kita banyak ditolong orang. Bahkan, membuat video klip saja kita jarang bayar. Malah kita dibayarin, dibelikan makan. Video klip pertama kita, Cinta Melulu, itu yang bikin Indra Ameng, manajer White Shoes and the Couples Company. Begitu selesai syuting, dia malah bayarin kita makan. Bukannya kita yang bayar, malah dia yang bayar. Gratis banget pokoknya! Lalu yang bikin video klip Desember juga. Pokoknya, banyak teman yang membantu pada saat itu. Kalau tidak ada yang membantu kita tidak akan bisa seperti sekarang ini.

Kalau di Jakarta... Sebenarnya bukan Jakarta saja ya. Industri musiknya memang tidak mendukung musik seperti kita. Gak adil lah, saat itu.

Adrian: Terasa lah solidaritas dari teman-teman di komunitas yang sesama musisi dan lingkungan seni. Ternyata kita ditolong oleh mereka juga dalam banyak hal. Dalam lingkungan, dapat banyak ide dari teman-teman dan dari produksi juga secara budget kita banyak terbantu. Gak kebayang juga, kalau di label budget-nya gede.

 

Mungkin agak susah parameter-nya memang, tapi arguably, Efek Rumah Kaca salah satu band indie terbesar di Indonesia sekarang. Apakah kalian merasakan tekanan dengan menjadi ‘salah satu band indie terbesar’ itu?

Akbar: Barometernya lebih dari kita sendiri. Kita ngomong soal musik, karena kita bertemu bertiga di musik. Kita terus menantang diri kita. Mungkin album ketiga kita ini justru akan jadi album yang paling jelek. Jadi kita memperbaiki diri, membuat album yang lebih bagus lagi ke depannya. Kita terus menantang diri kita sendiri. Itu justru lebih susah dibandingkan dengan tekanan dari luar yang kamu bilang itu.

Kita bertiga bertemu di musik. Jadi buat apa berbicara tentang hal yang lain itu? Bicara soal musiknya saja. Malah kadang ada yang bilang, “Ah, lo sudah ngebuka Creed kok bajunya masih kaya gini-gini sih? Rambut lo kok masih gitu-gitu aja sih?” Oh iya ya? Gue gak kepikiran hal-hal seperti itu.

Adrian: Di album sebelumnya, kita jalan dari 2001 sampai 2007. Kita kumpulin lagu tanpa beban. Waktu akan produksi album, kita tinggal mengumpulkan lagu-lagu terbaik yang kita punya. Proses album ketiga ini beda penanganannya. Kita sempat stuck, tidak bikin lagu karena kayaknya lagunya itu-itu lagi. Ada yang tidak beres, nih. Kita memaksa diri sendiri untuk memecah kebuntuan. Dan itu proses-nya lama.

Akbar: Album ketiga ini sudah tiga tahun. Baru sekarang dikerjakan.

 

Dalam satu wawancara tentang Devildice, proyek sampingannya, Jerinx sempat menyebut bahwa di SID mereka juga kadang berhenti sejenak dan berpikir, “Apakah fans SID bakal suka lagu ini?” Karena mereka sudah punya massa yang substansial. Apa ERK tidak berpikir begitu?

Adrian: Kita tidak terlalu memikirkan ekspektasi orang. Dalam hal itu, kita tidak mau musik kita disetir. Kenyataannya, banyak band-band yang sudah punya fanbase kuat atau fanatik kadang ngeblur antara sang pendengar dan musisinya sendiri. Saking dekatnya sang pendengar, saking emosionalnya mereka, ada ekspektasi lebih. Dan kadang, dalam beberapa hal, menurut kita dari sudut musik kita terlalu diintervensi. Padahal, pendengar ada banyak, bukan hanya satu orang.

Mengikuti orang banyak belum tentu akan jadi solusi yang baik untuk musik kita, kan? Kalau dalam hal musik kita tidak memikirkan orang. Satu hal yang pasti, kita harus berubah. Karena harapannya, kalau kita berubah, pendengar juga akan senang, sebenarnya.

Akbar: Di antara kita bertiga, kalau bikin lagu kita bertanya, “Ini enak gak?” Dan kita channel terus. Kadang-kadang, lagu sudah mau jadi, ternyata terasa tidak enak dan dibuang. Itu sering. Terkadang tinggal satu not terakhir ternyata, “Ah gak enak!”, ya sudah, dibuang. Itu prosesnya selama 3 tahun ini. Hancur-hancuran.

 

Kembali ke ‘Banyak Asap Di Sana.’ Kalian bicara soal ketidakseimbangan, ketimpangan pasar, tidak adanya peluang-peluang yang setara untuk berhasil. Apakah itu juga ada di scene indie Indonesia?

Akbar: Paling berasa di mainstream. Kalau di indie, justru mereka mau keluar dari sistem itu. Indie adalah gerakan berbeda. Dia tidak mau ikut dengan yang ada. Mereka pergerakan. Dan ini gak cuma di Indonesia, skena di dunia memang sudah ngaco. Benar-benar sudah money-minded, dan dibentuk kalau band harus begini, harus begitu... Ga bisa. Misalnya begini; Peterpan terkenal. Pasti band-band yang meniru Peterpan itu tidak akan bisa sebesar Peterpan. Itu juga ada di mainstream. Seperti dulu, Cholil juga ada proyek major. Kalau ga salah, waktu itu yang gede Sheila on 7.

Adrian: Ya, Sheila on 7 dan... apa itu namanya? Oh ya, Warna.

Akbar: Mereka jadi berpikir, “Kayaknya musik-nya terlalu aneh ya? Kayaknya memang belum bisa diterima.” Itu sekitar tahun...

Adrian: Tahun 1998.

 

Itu waktu dia masih di Lull?

Akbar: Ya, dan mereka benar-benar diarahkan. Karena buat mereka, bikin band itu investasi.

 

Jadi bukan pertanyaan estetika, tapi bisnis?

Akbar: Ya, dan sekarang begitu. Untungnya, perkembangan teknologi dan Internet sangat pesat, dan akhirnya ada pasar sendiri juga. Mereka membentuk pasar sendiri, dan akhirnya para band-band sidestream ini bisa hidup juga. Karena di sana diakomodir dengan baik. Sementara industri sudah gak tahu mau kemana, yang berkembang justru sidestream.

Adrian: Rilis bayar. Tampil di TV bayar. Semua bayar. Kita sudah gak mungkin mengikuti mainstream, karena gak kuat di budget.

(tertawa)

Akbar: Dulu kita sempat ditawari salah satu stasiun TV, untuk tampil di salah satu acara musik pagi itu, dan mereka nanya, “ERK bisa kasih budget berapa ke kita?” Hah? Bukannya kita yang dibayar? (tertawa) “Oh, enggak, harus ada budget-nya.” Wah, kalau gitu ya ga bisa. Kita ga punya budget. Take it or leave it. Akhirnya mereka gak jadi nawarin karena mereka minta budget di depan.

 

Sayangnya orang-nya ga ada, tapi waktu itu di salah satu wawancara dengan Rolling Stone, bang Cholil sempat berbicara soal obsesi dengan meninggikan honor yang ada di band-band masa kini. Apakah menurut kalian obsesi dengan uang di skena musik Indonesia, bahkan di ranah indie sekalipun, sudah parah? Dan bagaimana cara ERK mencegah agar tidak terobsesi dengan uang juga?

Akbar: Ya itu dia, kalian menempatkan musik sebagai apa? Mau cari duit di musik, mau musik sebagai hiburan, mau musik sebagai apa? Itu pertanyaan pertama. Lo bikin band, lo rekaman, itu mau apa? Motivasinya. Kalau larinya ke sana jelas. “Eh, lo bikin lagu yang bakal laku dong!” Emang lo tahu lagu yang laku kaya gimana? Gak pernah tahu kan? Kalau belum pernah dilempar ke pasar, lo gak akan tahu. Kalau memang motivasi lo seperti itu, kalau memang musik hanya dianggap hiburan, ya hasilnya seperti yang lo gambarkan itu.

Adrian: Sekarang dibalik. Kalau mau kaya, jangan main musik. Sebelumnya, kalau mau kaya main musik. Sekarang, kalau mau kaya jangan main musik.

 

Kalau mau kaya, masuklah ke politik?

(tertawa)

 

 

* * * *

“Ku bisa tenggelam di lautan, aku bisa diracun di udara, aku bisa dibunuh di trotoar jalan.

Tapi aku tak pernah mati, tak akan berhenti!”

- Efek Rumah Kaca, ‘Di Udara’

 

* * * *

Oke, kita mulai bicara tentang ‘isu wajib’ saat ngobrol dengan Efek Rumah Kaca: politik. Kayaknya bosan ya?

(tertawa)

Misalnya, Di Udara tentang Munir, Banyak Asap Disana tentang konglomerasi pasar. Apakah, kalau begitu, kalian sengaja ingin mengkampanyekan isu-isu tertentu? Apakah kalian merasa seperti ‘aktivis musik’?

Akbar: Tema itu bisa memanggil kita, atau kita memang sudah muak. Misalnya kita muak dengan korupsi, dengan para orang DPR yang ngaco-ngaco itu, dan akhirnya kita membuat lagu Mosi Tidak Percaya. Mungkin kita protes. Sebaiknya tema-tema itu yang memanggil kita, bukan sebaliknya.

Adrian: Memang tema-nya sudah kuat, ya?

Akbar: Ya. Misalnya di lagu ‘Kenakalan Remaja di Era Informatika’, waktu itu sedang marak-maraknya anak-anak – eh, bukan cuma anak-anak ya? Intinya orang-orang kaget teknologi. Handphone bisa bikin video, ujung-ujungnya mereka membuat video porno. Kita membaca, dan isu itu sering ada di majalah, di TV. Kita mulai terlecut, dan berpikir, “Wah, kita mesti protes nih.” Memang kita mengambil tema-tema yang sudah meresahkan kita.

 

Apakah yang membuat ERK masih percaya dengan politik, apalagi di Indonesia? Atau jangan-jangan ERK sudah tidak percaya dengan politik?

Akbar: Percaya itu harus. Yang harus dibangun adalah: setelah kita memilih entah siapa itu pilihan yang digelontorkan di arena politik, kita perlu kontinyuitas untuk mengikuti calon-calon yang sudah kita pilih itu. Apa janji-janji yang sudah mereka beri? Kita tagih. Kita kawal. Kita lihat. Pilihan kita perlu dikawal – janji-nya, aksi-nya. Dan itu butuh tenaga banyak.

Ini bukan tugas per orang, ini tugas bersama-sama. Tapi memang jika menuju satu hal yang baik, kita harus terlibat dalam itu. Jadi ga bisa kita tidak berpolitik. Untuk mengubah kondisi yang sekarang ini, ada pekerjaan yang besar. Ya sudah, kita kerjakan bersama-sama.

Adrian: Dari sekian banyak politikus yang sudah kotor, gue masih optimis karena ada politikus yang bersih, walau sedikit. Gue harap politikus bersih itu gak akan pergi dari kancah politik, karena memperjuangkan politik yang bersih itu masih mulia. Gue rasa orang-orang KPK masih bersih.

 

Apakah Efek Rumah Kaca sebenarnya ‘muak’ disebut band politik?

(tertawa)

Akbar: Enggak, ah! Biasa aja ya?

Adrian: Tapi di setiap wawancara, kita sudah sering bilang bahwa kita bukan band politik. Kita angkat apa saja yang mau kita bahas. Sayang kalau kita cuma membahas politik, karena hal-hal lain banyak yang bisa diangkat.

 

Seperti terlalu sempit, ya?

Akbar: Ya, jelas. Misalnya, kita cuma buat lagu cinta saja. Jadi gak luas kan?

Adrian: Apalagi ga semua aspek politik kita kuasai. Semua hal yang masih tertangkap radar kita, kita tulis. Karena toh tidak ada dari kita yang politik aktif kan.

 

Oke, sedikit pertanyaan basa-basi. Kalau di atas panggung, apa lagu yang paling membuat kalian ‘merinding’?

Akbar: Kalau gue, ‘Sebelah Mata’. Karena lagu itu tentang Adrian (menepuk paha Adrian). Menurut gue, lagu itu mencekam, sebenarnya. Itu bikin gue berbulu-kuduk.

Adrian: Kalau gue ‘Melankolia’. Di antara album-album ERK, nada-nya terbilang unik buat gue. Notasi-nya. Dan lagu itu paling romantis, dalam artian suasana-nya.

Akbar: Musik ERK pertama terbentuk dari ‘Melankolia’. Bisa ketemu gaya-nya, “Oh, kita mau main yang kaya gini!” itu dari ‘Melankolia’.

 

Itu salah satu lagu pertama?

Akbar: Bukan lagu pertama, tapi kita pertama ketemu gayanya di situ. Rada minimalis, meruang, mungkin kaya begini ya? Kita langsung klik dengan lagu itu. ‘Melankolia’ sangat gampang dikerjakan. Cholil ketemu riffnya, Adrian masuk bass, gue masuk drum, dan semuanya klik. Rasanya pas. Kayaknya proses membuat lagu itu paling cepat.

 

* * * *

 

[BAND DI DALAM STUDIO BERMAIN ‘CINTA MELULU’]

ADRIAN: ITU ORANG LAGI LATIHAN?

RAKA: BAND YANG TADI MASUK YA?

AKBAR: IYA LAH. MASA CHOLIL YANG MAIN? [TERTAWA]

[“NADA-NADA YANG MINOR. LAGU PERSELINGKUHAN.”]

AKBAR: MEMANG ADA CHOLIL, DI DALEM. MELOTOTIN MEREKA. MAKANYA MEREKA MAIN LAGU ITU.

[CAMERA ZOOM OUT]

[SEMUA TERTAWA]

[“WO-HOO, LAGU CINTA MELULU. KITA MEMANG BENAR-BENAR MELAYU.”]

AKBAR: GILA YA? GILA YA? HAHAHAHA

RAKA: BANG CHOLIL NGELIHATIN YA?

AKBAR: CHOLIL SAMBIL KERLING-KERLING MEGANG KUMIS DISITU! GILA! SEREM BANGET YA, ADRIAN?

[ADRIAN MENGANGGUK-ANGGUK; TERSENYUM KECIL]

[“ELEGI PATAH HATI, ODE PENGUSIR RINDU.”]

AKBAR: (KE RAKA) YA? SUDAH WAWANCARA-NYA?

[RAKA MENGANGGUK; TERTAWA; KEPALA BERPALING MENCOBA MENDENGAR BAND DI STUDIO]

[PERCAKAPAN TIDAK BISA DIDENGAR]

[SUARA TERTAWA; KAMERA MENYOROT MANGKUK KOSONG ADRIAN]

[“LAGU CINTA MELULU!!!!”]

[FADE OUT]

 

* * * *

“Bang Cholil sudah selesai take?”

“Sudah kok. Lo masih ada pertanyaan-pertanyaan lagi?”

“Ada sih, beberapa. Kita ngobrol sebentar di sini gapapa?”

“Ya sudah.”

“Langsung aja ya? Bentar, saya ambil daftar pertanyaan-nya dulu.”

“Oke.”

 

 

* * * *

Lo pernah bilang bahwa banyak permasalahan sosial jadi overrated, hanya jadi tren baru dan pasar baru tanpa feedback. Apa yang dimaksud dengan 'overrated'?

Jaman sekarang dan jaman dulu berbeda. Kini ada saluran, dan semua orang bisa ngomongin politik, bisa ngomongin isu-isu sosial. Tapi jadi sekedar ngomongin saja. Movement-nya ya gitu-gitu juga.

 

Tidak ada perubahan nyata?

Movement-nya tidak berubah, tapi obrolannya iya. Sekarang semua orang punya kanal, ada Twitter dan lainnya. Tapi pergerakannya sama saja, pergerakan politiknya begitu-begitu saja, kesadaran politik-nya begitu-begitu saja. Sama. Politik bukan hanya pemilu. Lebih lanjut dari pemilu. Setelah lo memilih orang, lo tagih mereka. Kalau tidak ya lo protes. Lo mengendalikan dan mengawasi jalannya pemerintahan. Jadi partisipasi politik tidak hanya memilih di pemilu dan bayar pajak.

Kalau itu sekarang sudah banyak. Tapi demokrasi tidak hanya itu. Saat orang bicara politik tapi kenyataannya seperti itu, jadinya agak ‘overrated’.

 

Misalnya seorang anggota DPR ketahuan korup, seringkali kita seolah tidak 'kaget' lagi. Seolah sudah ada ekspektasi bahwa politisi itu kotor. Apakah ini fenomena yang berbahaya?

Itu buah dari keterbukaan dan transparansi. Karena itu, ada yang tertangkap. Tapi pada kenyataannya kita memakai sistem yang kaya gini, jadi memang harus dibenerin. Dibenerin dalam artian, kalau lo mau memakai sistem yang parlementer seperti sekarang ini, atau sistem partai politik, ya mau tidak mau kita harus membuat partai politik kalau mau membuat perubahan dari dalam. Karena banyak hal yang berawal dari partai politik.

Pergerakan dari luar sangat kecil dampaknya pada pemerintahan. Mungkin masyarakat banyak mendapatkan manfaat; misalnya dari aksi-aksi pendampingan baik dari LSM maupun kaum anarkis. Tapi kalau pada pemerintahnya, atau dalam perlawanan terhadap sistemnya, tidak terlalu signifikan. Ada yang main di dalam, ada yang main di luar. Ibaratnya, kalau lo mau main di dalam, ya capek-capeknya di partai politik. Tapi yang menyebalkan, partai politik di Indonesia begitu semua.

Mereka ancur? Sudah pasti. Tapi mereka tidak memberi ruang bagi yang muda. Rata-rata orang muda kalaupun tidak terkontaminasi tidak punya suara. Mereka gak bisa berbuat apa-apa, juga di kebijakan partai di garis besar-nya. Akhirnya, capek kan kita? Ada orang yang bagus dari satu partai, tapi kebijakan partai-nya juga caur. Korup juga. Jadi, mau dibawa ke mana? Malas juga.

Tapi kalau kita menggunakan sistem partai politik, ya harus begitu. Ibarat buah simalakama. Gak dilakukan salah, dilakukan juga salah. Tapi, yang paling utama, orang tidak bisa antipati terhadap partai politik. Walaupun gue sendiri masih agak antipati sih. Keberpihakan sih punya, tapi hanya untuk mendukung orang-nya saja. Ada orang yang bagus, maju, ya didukung. Tapi jika melalui partai, rasanya agak sebal pada partai politiknya. Bukan pada orangnya.

Kepartaian ini memang rese. Mungkin karena biaya berpolitik tinggi, jadi begitu. Tapi sebenarnya kita gak boleh benci pada partai politik, karena jalan untuk pembenahan memang dari situ. Kecuali sistem berubah, kita tidak pakai model sekarang, tidak pakai model partai politik ini, mungkin kita punya cara lain. Tapi kalau sistem-nya masih seperti ini, gak ada jalan lain. Bukan mau jalan pintas sih, lebih ke mekanismenya. Perlawanan-perlawanan dari luar perlu. Tapi akhirnya, ketika pemegang kunci dari partai politik bersikap begitu..

 

Mungkin kita agak menarik kembali ke obrolan yang sempat terpotong tadi. Bang Akbar dan Bang Adrian tadi mengobrol dengan saya tentang bagaimana era Reformasi dan pergolakan sosial itu membentuk mereka, membentuk Efek Rumah Kaca. Dari sisi kesadaran sosial, politik. Kita mulai dari awal saja. Bagaimana bang Cholil mengenang masa 97-98?

Suasana-nya mencekam. Kita punya agenda yang sama – mau menjatuhkan Soeharto. Sudah, selesai, Soeharto jatuh beneran. Setelah Soeharto jatuh, ternyata kita tidak siap dengan exit strategy. Setelah dia jatuh mau apa? Jadinya tidak semulus yang kita bayangkan. Prosesnya ada manfaatnya. Reformasi banyak manfaatnya. Pers bebas, akhirnya ada KPK. Tapi kalau kita punya strategi yang lebih baik, semua ini tidak akan jatuh ke birokrat-birokrat baru dan anggota parlemen yang korup. Dulu dikuasai segelintir orang, sekarang dikuasai banyak orang kecil-kecil. Perubahannya jadi tidak terlalu signifikan.

Harusnya bisa lebih. Gas-nya harusnya bisa 8, tapi sekarang baru 5. Tetap saja direbut oleh orang-orang itu, yang korup. Sekarang korupsi tersebar. Partai politik jadi seperti kartel, punya power untuk mengendalikan sesuatu.

 

Waktu itu sempat terlibat langsung di demonstrasi dan protes?

Gak. Gue malah sibuk nge-band. Gue datang ke gedung DPR, tapi biasa lah, bukan demonstran. Gue ada di gedung DPR, 1-2 kali ikut demo dari kampus. Tapi gue bukan demonstran. Lebih ke ikut-ikutan. Ada di sana, tapi gak merasa seperti revolutionary. Gue biasa saja. Kalau ditanya, saat itu fokus gue lebih ke musik. Lagi senang main musik. Karena ada band sejak SMA yang mau dirilis oleh label major. Tapi gagal.

 

Bagaimana ceritanya band itu akhirnya gagal rilis di major label?

Kalau tidak salah itu karena krisis moneter. Setelah Krismon, label harus mengirit atau menunggu situasi membaik. Mungkin gue harusnya juga menunggu. Tapi bandnya sudah keburu bubar. Jadi akhirnya, ya sudahlah.

 

Bang Akbar dan Adrian bilang mereka belum terlalu mengerti tentang isu-isu HAM sebelum 98. Bagaimana dengan lo?

Gue baca koran dari kecil. Gue pusing kalau gak baca koran. Dari usia 4-5 tahun sudah baca koran, walaupun memang rubrik olahraga. Tapi ketika hari libur, dan gak ada koran, gue pusing. Jadi gue senang baca. Apakah gue punya pengetahuan yang lebih banyak tentang isu-isu politik daripada Akbar dan Adrian, gue juga kurang tahu.

Tapi gue... bukan paham secara substansial, tapi setidaknya mengerti apa yang terjadi di sekitar lah. Karena gue baca terus koran. Kedalamannya mungkin bisa dipertanyakan, memang. Namanya juga anak SMA, SMP. Tapi, kejadiannya tahu. Misalnya apa ya? Tahun-tahun segitu... Marsinah, dan sebagainya. Gue baca lah. Kasus Tanjung Priok gue tahu dari koran, kasus-kasus kerusuhan dan bom, itu gue baca.

 

Semua itu masuk koran? Tidak ada sensor atau semacamnya?

Sensor pasti ada. Beritanya lebih distortif. Kalau dibandingkan dengan sekarang, pasti jauh lebih soft.

 

Nadanya sambil lalu?

Enggak juga sih. Misalnya gue dulu langganannya Kompas. Dia membicarakan pembunuhan, tapi tidak sampai menulis tentang ada dugaan.

 

Cuma bilang, “Ada yang dibunuh.”

Ya, kira-kira begitu. Kejadian seperti itu ada. Si X dengan si ini. Pemaparan-nya tidak sejelas sekarang, walaupun sekarang ini karena ada terlalu banyak informasi ujung-ujungnya jadi tidak jelas juga. Tapi dulu memang dihambat. Jadi, apa yang terjadi hanya kita ketahui bayang-bayangnya. Secara detail, sulit untuk tahu kecuali kita wartawan.

 

Setelah 98 baru mulai keluar semua informasi itu?

Itu karena pers bebas, jadi informasi lebih lancar. Standar sih. Kebetulan gue suka baca aja, jadi tahu berita politik. Kalau ilmu politik gue juga belum tentu tahu. Mungkin itu bedanya dengan Adrian dan Akbar ya? Tapi menurut gue, rata-rata teman sekolah gue juga gak tahu. Namanya juga anak SMA. Kita sukanya main-main, yang gaul-gaul dan wajar-wajar saja.

 

Belum terlalu peduli atau belum terlalu mengerti?

Tahu. Tapi kita seperti di-desain untuk tidak ikut-ikutan dengan politik.

 

Didesain?

Di keluarga tidak ada kebebasan politik. Pemilihan umum harus milih Golkar. Jaman segitu masih ada. Misalnya tahun 1992, di Pemilu. Masih ada praktik seperti itu.

 

Mereka benar-benar menyuruh memilih Golkar, atau lebih implisit?

Ya, kalau ga milih nanti ga lulus.

 

Jadi seperti tekanan-tekanan dari luar?

Memang ada tekanan. Harus memilih mereka. Itu di jaman dulu. Kalau dibaca bukunya soal era 70-80’an, mereka membuat sistem NKK/BKK. Karena setelah peristiwa Malari, banyak orang pemerintah menganggap kampus sebagai pusat demonstran. Akhirnya, melalui Menteri Pendidikan Daoed Joesoef, mereka melakukan NKK/BKK. Membatasi pergerakan politik dari kampus. Semua itu dilakukan juga. Itu di kampus, apalagi ke SMA. Mereka takut membuka peluang bahwa anak-anak SMA sudah paham politik. Gue gak tahu juga apakah mereka melakukan upaya itu melalui kurikulum SMA. Tapi kalau di kampus, memang ada.

 

Apa dampaknya?

Kita jadi apatis terhadap kehidupan politik. Politik itu hanya bisa ketika masa kampanye. Ngomongin politik hanya pada masa itu. Partai politik hanya ada tiga. Bahkan ketika ada Partai Rakyat Demokratik (PRD), itu jadi aneh. Kita seperti merasa salah. Buat partai itu seperti salah. Padahal memiliki partai itu hak warga negara. Gue merasa, “Oh, kok berani banget mereka.” Saking kita merasa bahwa apa yang dilakukan Orde Baru itu – yang sebenarnya bertentangan dengan Undang-Undang Dasar – sudah menjadi kekuatan hukum juga.

 

Melawan status quo itu jadi seperti pelanggaran norma?

Sebenarnya ide bahwa hanya boleh ada 3 partai politik itu kalau tidak salah tidak punya kekuatan hukum. Semuanya dilebur saja. Tapi, gak ada juga yang berani. Secara de facto tidak ada yang berani membuat partai sampai Partai Rakyat Demokratik. Mereka mendeklarasikan diri sebagai partai, dan menurut gue itu lumayan shocking bagi media-media. Ternyata ada yang berani melawan.

 

Melawan hegemoni 3 partai ini?

Ujung-ujungnya, mereka sebenarnya melawan hegemoni Soeharto. Golkar punya Soeharto, dan partai-partai lain juga binaannya. PDI yang dipimpin Megawati akhirnya punya power dan disingkirkan, akhirnya terjadi peristiwa 27 Juli, dimana banyak orang PRD yang hilang. Ya kira-kira begitu.

 

Bagaimana Reformasi membentuk Efek Rumah Kaca sekarang? Bagaimana situasi dan kondisi itu mempengaruhi kalian?

Masa itu memberi pelajaran. Pelajaran bahwa kesadaran politik bukan hanya tentang aktif di pemilu saja. Harus lebih dari itu. Apalagi kita mau memakai sistem demokrasi. Misalnya, kita lihat negara mana yang memakai sistem demokrasi. Amerika Serikat, katakanlah. Sudah berapa tahun pakai sistem itu? Sudah berapa lama? Dan bagaimana hasilnya? Apa yang terjadi? Apa bedanya dengan kita?

Ketika kita pakai sistem demokrasi, dengan proses yang seperti ini, perlu berapa lama sebelum kita bisa mencapai kondisi yang ideal? Karena kalau cuma kegiatan formil saja – seperti pemilu – kapan kita benarnya? Terlalu banyak faktor yang menunggangi. Harus lebih dari itu. Harus lebih substansial. Amerika juga pernah mengalami jaman Al Capone. Itu sudah memakai sistem demokrasi; preman-preman ada. Jadi dia maju itu sekarang, tahun 70’an, 90, 2000. Tapi dia pakai sistem itu sejak kapan?

Jadi wajar kalau kita masih kaya begini. Masih panjang. Tapi, kalau kita mau mempercepat, ya kesadaran politik itu harus tinggi. Ujung-ujungnya, di Amerika segregasinya jelas. “Gue orang partai X, gue orang partai Y.” Mereka gak malu berpartai karena partai punya visi yang jelas untuk berusaha membangun negaranya. Buat gue, aktivitas politik harus lebih tinggi di masyarakat di kehidupan yang notabene banyak dikendalikan hal-hal politik.

Banyak isu hukum yang selesai di wilayah politik. Permasalahan hukum diselesaikan melalui politik. Artinya, politik sampai saat ini adalah pemegang kekuasaan paling tinggi. Bukan ekonomi, bukan masalah hukum – walaupun kita negara hukum. Tapi politik. Deal-deal politik. Jadi, kesadaran politik harus tinggi. Bukan hanya aktif di partai. Minimal, mau melakukan pengawasan terhadap jalannya pemerintahan, aktif mau melakukan pemilu, dan berdemonstrasi bila perlu. Karena itu salah satu partisipasi politik. Semakin cepat kita punya aktivitas politik, semakin cepat terwujud demokrasi yang kita harapkan.

 

 

* * * *

Nama pria itu Akbar Bagus Sudibyo. Dia berjalan gontai, menatap panggung di mana sebuah band tengah memainkan lagu mereka. Temannya, Adi, memberikan kaset demo mereka padanya. Dia memaksa Akbar untuk mendengarkan kaset tersebut, dan mendatangi mereka. Sebenarnya dia merasa enggan, namun terserah. Toh, apa salahnya menemui satu lagi teman musisi?

Perjalanannya di dunia musik sendiri membuat dia menemui gurunya, yang bermain di salah satu kafe pada tahun 2000. Pada suatu hari, dia dihubungi dan diberitahu bahwa bandnya, yang bermain reguler di kafe itu, harus datang lebih awal keesokan harinya. Ada band lain yang akan mengisi slot malam, memainkan lagu-lagu The Beatles. Band Akbar bermain di malam itu, dan drummer dari band kedua itu datang lebih awal.

Dia menaruh peralatannya di meja, dan menatap langsung ke Akbar, yang bermain drum di atas panggung. Ketika waktunya datang untuk band itu, dia mengeluarkan stiknya dan mulai memainkan drum. Akbar terkesima dengan permainan drummer itu. Tapi dia gugup. Tiga bulan berlalu. Baru pada hari terakhir kontrak band tersebut di kafe, dia mengajak drummer tersebut berkenalan. Rudy Soebekti, namanya. Guru yang sudah dia cari selama bertahun-tahun, akhirnya ketemu juga.

Dari belajar dan nongkrong dengan Rudy Soebekti, Akbar bertemu Adi. Dan dari Adi, Akbar mendapatkan kaset demo itu. Kini dia berhadapan langsung dengan para punggawa band yang pernah menciptakan lagu-lagu di demo tersebut... dulu, sebelum krisis melanda. Mereka turun dari panggung, dan Adi mengajak Akbar untuk menemui penyanyi band tersebut.

“Cholil, ini teman gue.” Ujar Adi. “Nama-nya Akbar.”

 

* * * *

Akbar: Setelah mereka turun, mereka cerita kalau mereka memang butuh drummer. Ya sudah, kita kenalan. Kita mengobrol, lalu dia nanya, “Besok kosong ga?” Hmm, besok kosong kok. “Ya sudah, kita latihan aja ya!” Akhirnya kita pergi ke tempat pemain piano kita, Sita. Kita nongkrong. Mereka ajarin gue lagu mereka, lagu yang sudah mereka bikin pakai piano. Gue dengar itu dan gue berpikir, “Gue ngisi-nya gimana ini?” Tapi dia ga nanya apa-apa. Cuma bilang, besok kita langsung latihan ke studio. Langsung main saja, nge-blend tiba-tiba. Waktu itu kita memang berlima, kan. Ada gitaris kita, Hendra.

Saya: Oh ya, gitaris yang lain itu ya?

Akbar: Gitaris satu-satunya, karena Cholil ga megang gitar waktu itu! Ya sudah, kita akhirnya latihan rutin satu minggu sekali. Latihan, latihan terus, sampai yang itu tadi, yang gue bilang itu. Mereka keluar. Mereka berat untuk terus ikutin kita, karena kita juga tidak pernah manggung, mereka sudah berkeluarga... ya gitu deh.

Saya: Akhirnya sekarang... bertiga.

Akbar: Ya akhirnya bertiga begini nih. Akhirnya setelah mengalami ini semua, gue jadi berpikir, “Wah, kalau gak ada bang Rudy, gue gak ketemu Adi. Kalau gak ada Adi, gue gak akan ketemu Cholil.” Begitu. Jadi memang, Tuhan bekerjanya misterius banget.

Saya: Itu medio tahun berapa, kira-kira? Pertama kali lihat mereka main...

Akbar: Itu di tahun 2001.

Saya: Waktu itu nama band mereka apa?

Akbar: Itu band lokal di kompleks mereka. Jadi mereka biasanya mengisi acara di acara kompleks.

Saya: Mereka jadi talent lokal, ya? (tertawa)

Akbar: Iya, jadi mereka band lokal. Kalau kompleksnya ada acara, mereka dikirim untuk main.

Saya: Mereka belum jadi band versi...

Akbar: Belum, belum. Jadi kadang yang isi vokal siapa, yang isi gitar siapa. Suatu hari ada tambahan si A main rhytm. Mengalir saja.

Saya: Jadi mereka kaya kolektif teman-teman saja ya?

Akbar: Nah, begitu. Teman-teman kuliah dan teman-teman SMA Cholil suka nongkrong di rumahnya, dia juga sejak SMA sudah ngeband melulu kan. Jadi begitu.

 

* * * *

“Nikmatilah saja kegundahan ini, segala denyut-nya yang merobek sepi.

Kelesuan ini jangan lekas pergi, daku menyelami sampai malam nanti.”

- Efek Rumah Kaca, ‘Melancholia’

 

* * * *

(Akbar tersenyum sendiri)

Akbar: Gue jadi ingat Adi lagi. Dia meninggalnya karena tumor di perut.

Saya: Dia teman di mana?

Akbar: Dia teman main drum.

Saya: Oh, yang satu tongkrongan dengan bang Rudy itu ya?

Akbar: Ya, di situ.

 

* * * *

“Yang kau jerat adalah riwayat. Tidak punah, jadi sejarah.

Yang bicara adalah cahaya. Dikonstruksi, dikomposisi.

Padam semua lampu.

Semua lampu.”

 

- Efek Rumah Kaca, ‘Kamar Gelap’.

 

* * * *

Akbar: Kita libur latihan itu cuma waktu Lebaran. Selesai Lebaran ya...

Saya: Latihan lagi?

Akbar: Latihan lagi. Tapi memang kita ga mengejar apa-apa. Cuma latihan bareng, berlima. Sampai tahun 2003 jadi cuma bertiga. Latihannya jadi semakin intens.

Saya: Biasanya band itu kepikiran mau cari label, mau manggung.

Akbar: Kita gak kenal siapa-siapa juga. Kita pun bisa manggung pertama kali karena studio tempat kita biasa latihan ulang tahun.

(tertawa)

Saya: Studio langganan kalian?

Akbar: Itu di Sinjitos, tempatnya Iyub Saryuf dari Santamonica.

Saya: Oh, di Sinjitos?

Akbar: Kita di Sinjitos dari awal, sejak mereka masih...

Saya: Masih kecil?

Akbar: Ya.

Saya: Masih rutin latihan di situ?

Akbar: Tidak kok.

[PRIA, BAJU HITAM, MELEWATI LORONG STUDIO]

[“PERMISI,”]

Saya: Silahkan. Jadi waktu itu, nongkrongnya di Sinjitos, kalian banyak ketemu band-band keren, dong?

Akbar: Tadinya itu rencananya! Kita masuk ke studio agar bisa kenalan sama band-band lainnya. Tapi waktu itu Sinjitos masih di hari-hari awal.

Saya: Oh, jadi belum ada ‘pelawat-pelawat’ yang keren?

Akbar: Ya, itu belum! (tertawa) Kita masih baru juga. Akhirnya malah terbentuk kenalan dengan teman-teman lain. Album pertama kita itu juga dibantuin Iyub. Bahkan drum yang kita pakai untuk take itu, kita berdua yang cari.

Saya: Kalian yang cari drumnya?

Akbar: Ya, cari drum saja.

Saya: Drum yang dijual?

Akbar: Ya, drum buat rekaman. Karena waktu itu dia sedang membentuk studio rekaman.

[SUARA MESIN PENGURAS AIR DI LATAR BELAKANG]

[PERCAKAPAN TIDAK BISA DIDENGARKAN]

 

* * * *

Saya: Tapi jaman segitu sudah kenal Harlan Boer?

Akbar: Kalau tidak salah dia sempat datang sekitar tahun 2004, menonton kita.

Saya: Nonton di studio?

Akbar: Ya, nonton kita latihan di studio. Lalu satu tahun kemudian, medio 2005, dia datang lagi dan kita masih ada. Dia bilang, “Anjrit, band ini masih ada? Lo masih pada latihan? Gila lu!” Soalnya di mana-mana band kalau tidak pernah manggung ya bubar. Lo gak pernah manggung ngapain latihan?!

 

* * * *

Akbar: ...ketika kita lagi cari nama, dia bilang, “Ya sudah, nama band lo Orang Gila Bertiga saja!”

[AKBAR TERTAWA]

Saya: Namanya Orang Gila Bertiga?

Akbar: Kita Orang Gila Bertiga aja deh! Habis kita gak pernah manggung, gak rekaman, jadi kalian itu latihan buat apaan?

Saya: Tapi sebenarnya kalian latihan buat apaan memangnya?

Akbar: Kita belum merasa menemukan lagu atau lokasi yang memang kita... kuncinya kalau kita dengar lagu, sebelum reading, kita dengerin beat. Kaya tadi itu, Cholil duduk dan nyari kunci gitar sampai klik dengan lagu-nya.

Saya: Oh, kalian cari terus.

Akbar: Ya kaya tadi itu. Kita seperti itu. Dan itu prosesnya sangat lama. Itu bisa satu tahun tidak jadi apa-apa.

Saya: Setahun terus cari lagu? (tertawa)

Akbar: Lagunya sudah mau jadi, rasanya enak, sudah mulai mikirin estetikanya segala, sudah ke mana-mana. Tiba-tiba ada inspirasi lagu baru. Ya sudah, lagu lama ini tenggelam.

[TERTAWA]

Akbar: Ya dulu seperti itu.

Saya: Agak mengikuti perasaan juga ya?

Akbar: Sesuai mood kita saja. Kita gak gampang puas. Kalau tadi bekerjanya bisa lebih cepat, karena sudah pengalaman. Kalau dulu itu mungkin, nafsu besar tenaga kurang. Dulu saat kita pertama jadi bertiga, Cholil belajar gitar lagi. Dia bener-bener belajar gitar lagi; fingering, posisi tangan. Tangannya sering pegal, karena dia tidak terbiasa. Dia biasanya jadi vokalis. Sudah belajar gitar, dia belajar lagi sinkronisasi main gitar sambil menyanyi. Susah lagi, kan? Di lagu-lagu ERK dia banyak meniru sound. Jadi nada yang dimainkan vokal dan notasi gitar sama.

Saya: Agar lebih gampang?

Akbar: Mungkin bukan cuma karena itu. Jadinya lebih unik.

[WHITEOUT]

 

 

* * * *

“Di mana terang yang kau janjikan? Aku kesepian.”

- Efek Rumah Kaca, ‘Lagu Kesepian’

 

* * * *

Cholil Mahmud terduduk di sofa itu, melongok ke layar komputer dan deck dengan tatapan bingung. Sesekali pandangannya beralih ke anaknya yang bermain-main dengan setting efek, lepas dari kendali sang operator. Dia sudah menghabiskan sepanjang hari mencari riff yang sesuai, efek yang sesuai, notasi nada yang sesuai. Track dasar itu sudah diputar berkali-kali, lagu baru Efek Rumah Kaca untuk album ketiga. Notasinya sudah terbentuk, drum dan bass dan rhytm gitar sudah terisi. Namun detail gitar belum ada, dan vokalnya masih berbentuk humming tanpa lirik.

Saya menepuk bahu Akbar, sang drummer. “Kenapa kok telinga saya mendengar influens Mew di lagu baru ini ya?” Dia terkekeh. “Ya, mungkin juga. Kita juga suka Mew. Album terbaru mereka, rilisan-rilisan awal juga.” Saya mengangguk. “Sudah final nih?” saya tanya. “Hampir final.” Jawab Akbar. “Semua track dasar sudah beres, tinggal detailnya saja.”

Cholil masih mencari. Dia sudah berimprovisasi, bereksperimentasi, berdiskusi dengan Akbar yang duduk di seberang ruangan dan Adrian yang termenung menutup mata di lantai, mencoba mencari layer gitar yang sesuai untuk melengkapi lagu tersebut. Tidak ada yang tahu apa yang ada di pikirannya. Mungkin di otaknya dia tengah menghitung. Percobaan kedua, percobaan ketiga, percobaan keempat. Belum ada juga. Belum ketemu juga. Layar ProTools itu masih sunyi, seolah menantang-nya untuk bergerak. Tangannya menekan tombol komputer itu.

“Oke,” ujarnya mantap. “Take lagi.”

 

* * * *

 “Air matanya yang berderai, menangkap kilasan merah terakhir di langit itu dalam bintik-bintik warna merah. Merah dari merahnya merah.

Matahari tenggelam. Seluruhnya. Merah di langit berkelompok-kelompok menuju warna kelabu.

Kemudian berangsur menuju warna hitam.

 

Malam telah tiba.

 

Bumi tenang. Damai.”

- Iwan Simatupang, ‘Merahnya Merah’

 

****

TAMAT

 

Fragmen dari wawancara ini dimuat oleh Jakartabeat.net pada Februari 2013 dengan judul Adrian ERK: Sedikit Demi Sedikit, Pandai Besi Mengajak Orang Bergabung.

Efek Rumah Kaca akan kembali ke panggung pada Simposium Cara Orde Baru Menciptaken Manusia Indonesianya, yang diselenggarakan oleh Indoprogress dan OK Video pada 15 Juni 2015 di Galeri Nasional.