Latest Post

Rully Shabara & Soni Irawan: Seroja

Mendengarkan karya-karya Soni Irawan maupun Rully Shabara terasa seperti mendengar teriakan-teriakan makhluk sub-human. Musik yang mereka ciptakan di proyek masing-masing – baik Rully yang dikenal sebagai vokalis Zoo maupun Soni yang menggawangi Seek Six Sick – selalu luput dari kompartemen genre, interpretasi mudah, dan permainan definisi yang lurus. Musik mereka seringkali terdengar liar, hewani, dan bising. Maka terbilang mengejutkan bahwa ketika mereka akhirnya berkolaborasi pada 'Seroja', EP yang dirilis oleh netlabel YESNOWAVE awal tahun 2014 silam, kedua musisi eksperimental asal Yogyakarta ini malah menciptakan musik yang indah.

Namun, seperti biasa, definisi 'indah' yang mereka sajikan mungkin tak sepenuhnya pas dengan pengertian kebanyakan orang. Mengambil pengaruh dari bebunyian tradisional Melayu dan India, EP ini sarat dengan reverb yang meredam gemuruh vokal Rully serta cengkok terang dari Soni, ambience yang memabukkan dan trippy, serta gabungan dari strumming gitar dan perkusi yang terdengar mirip tabla di latar belakang.

'Mereda Merekah' membuka EP ini dengan nada optimis, "Mereda, hujan kini mereda, meredam gelisah kebimbangan," nyanyi Rully diiringi strumming lembut gitar yang sarat pedal efek. "Merekah, semangat pun merekah, tenggelamlah duka dan derita." Dalam lagu '(Melayang) Tanpa Tinggalkan Tanah', Seroja bereksperimen dengan memainkan bebunyian khas sitar – satu atau lebih senar memainkan melodi, sementara senar lain dibiarkan menggema di latar belakang. Lagu berikutnya, 'Menarilah, Adinda' terdengar seperti tarian para Sufi yang kerasukan setan di sekeliling api unggun padang pasir.

EP ini lantas ditutup oleh 'Hanya Dunia' dan 'Hanya Hidup', dua lagu yang menyudahi ritual yang sedari tadi (kedengarannya) dinyanyikan oleh Soni dan Rully. 'Hanya Dunia' dimulai dengan permainan sitar/gitar dan perkusi, sebelum pecah pada aksi chanting yang berujar, "Dunia bukan hidup, dunia bukan hidup!" Lagu terakhir, 'Hanya Hidup', bisa jadi adalah momen terbaik di EP ini. Seruan "Hey-ya!" dari Rully disambut oleh Soni yang berteriak di latar belakang, "Hidup kita indah, bukan? Ada tanah, pohon, sungai, burung, laut, gunung, sawah, ladang, hutan, manusia!" Lagu ini adalah momen paling memabukkan di sebuah EP yang mengejutkan.

Apakah EP ini terdengar 'pop' dan 'mudah dicerna'? Dalam standar Soni Irawan dan Rully Shabara, tentu saja. Dalam standar kurang lebih semua orang lain di dunia ini, tidak. Namun, bagi saya, justru disitulah letak keberhasilan EP ini. Seroja berhasil terdengar indah dan 'menyenangkan' tanpa harus kehilangan elemen keanehan yang menjadi ciri khas baik Soni maupun Rully. Setidaknya mengacu pada repertoar Zoo dan Seek Six Sick, musik mereka berhasil karena mereka sama sekali tidak predictable. Musik mereka terdengar apik karena mereka tidak berusaha terdengar normal, dan juga tidak berusaha terdengar aneh. Memang begitulah adanya mereka – dua orang yang sama-sama menikmati dan mengeksplorasi sisi musik yang jarang disentuh.

Mendengarkan mereka terdengar seperti mengintip sekelumit ritual dari suku pinggiran yang terasing dari peradaban. Atau bisa jadi, ironisnya penggambaran barusan sudah klise dan predictable. Seroja telah mendeskripsikan musiknya sendiri dengan apik. Mendengarkan mereka terdengar seperti 'Melayang Tanpa Tinggalkan Tanah.'

 

Rully Shabara & Soni Irawan akan tampil di RRREC Fest, yang akan digelar pada 31 Oktober - 2 November 2014 di Tanakita Camping Ground, Sukabumi. Beli tiket dan tonton mereka segera di sini.

Unduh EP mereka di sini.