Latest Post

Sajama Cut - Hobgoblin: Track-by-Track Review

Manimal adalah album pertama yang saya beli dengan uang saya sendiri. Dan Sajama Cut adalah band "indie" pertama yang saya sukai, walaupun dari tahun 2009 sampai sekarang dan setelah mendengarkan dua albumnya, hingga kini saya masih tidak paham sama sekali lirik mereka. Sepanjang lima tahun sejak rilisnya Manimal, Marcel Thee - vokalis dan frontman mereka - sibuk melepas serangkaian proyek lain dan bereksperimen dengan berbagai genre, mulai dari yang luar biasa keren (With Strong Hounds Thee) sampai yang kurang lebih bisa dimaafkan (Roman Catholic Skulls).

Kami mewawancarai mereka beberapa waktu lalu saat mereka sedang latihan di sebuah studio di Jakarta Selatan (tonton videonya di sini) dan mendengar beberapa lagu mereka, namun kala itu mereka masih menyembunyikan banyak hal. Lagu mereka terdengar menjanjikan dan jauh berbeda dari apa yang pernah kami dengar sebelumnya, namun masih belum teraransemen dengan matang. Mereka kerap menghentikan lagu di tengah-tengah untuk merevisi ini-itu, dan - seingat saya - Marcel sama sekali tidak bernyanyi. Saya malah sempat menduga bahwa album keempat mereka akan menjadi album post-rock.

Beruntung, hasilnya jauh berbeda dari dugaan saya. Setelah Bloodsport, single perdana mereka, dilepas di Soundcloud, saya terkesan dengan aransemen mereka yang mumpuni dan selera humor mereka (tonton video liriknya). Album keempat mereka, Hobgoblin, akan dirilis pekan depan, dan saya cukup beruntung bisa mendengarkan album tersebut dari awal sampai akhir.

Ini kesan pertama saya.

 

 

1. History of Witches (2:45)

Lagu pertama ini seperti melanjutkan langkah melankolis yang sempat mereka gali di penutup album Manimal, Street Haunts. Dengan suara koor keyboard yang kental dan vokal sarat efek, History of Witches takkan terdengar salah tempat di With Strong Hounds Thee maupun Strange Mountain.

 

2. Bloodsport (4:11)

Video lirik album ini menampilkan potongan adegan pertarungan dari film berjudul sama yang dibintangi Jean-Claude Van Damme, bintang laga favorit Om kita semua. Menariknya, dengan nuansa epik yang kental, lagu ini memang cocok dipasangkan dengan film laga heroik 80'an seperti itu. Mulai dari nada-nada gitar di awal, derap drum bergaya post-punk yang mengundang anggukan kepala, hingga chorus-nya yang (meminjam istilah klise) anthemic, lagu ini mengundang imaji-imaji latihan dropkick di dojo reot, pertarungan penghabisan yang berdarah-darah, dan dendam kesumat yang minta dibalaskan.

 

3. The German Abstract (4:20)

The German Abstract adalah lagu yang, secara sonik, paling mendekati warna musik yang coba mereka preteli di Manimal. Setelah dua album (Apologia & The Osaka Journals) yang didorong oleh suara gitar yang kental, eksperimentasi dengan suara keyboard dan brass menjadi salah satu ciri khas Manimal. Menggunakan keyboard sebagai pemula, terang mereka, malah membawa kemungkinan-kemungkinan baru. "Dengan tidak mengenal sama sekali teori atau cara main yang 'benar' di instrumen-instrumen tersebut, kita mendapatkan perspektif dan pendekatan yang sama sekali baru." Ucap Marcel. "Kenaifan dan 'kebodohan' gue malah akan memberikan kejutan-kejutan baru.

Dengan chorus-nya yang riuh, lagu ini adalah lagu yang paling bisa membantu pendengarnya mencapai titik puncak yang disinggung oleh mum: To sing along to songs you don't know.

 

 

4. Curtains for Euro (4:24)

Dengan perkusi yang mengundang kenang-kenangan masa Natal dan efek koor yang kental, lagu ini mulanya terdengar seperti winter carol bagi para gembala yang diusir dari gerejanya. Namun, ketika imaji lonceng hari natal itu digeser oleh denting gitar dan drum yang bising, hasilnya adalah salah satu usaha terbaik Sajama Cut dalam mereka ulang kesan stadium rock tanpa harus menjadi Coldplay. "And you could be a winner, oh you could be someone!" nyanyi Marcel, selagi orkes meriah di sekitarnya perlahan padam dan bersembunyi lagi.

 

5. Beheadings (1:42)

Salah satu lagu paling menarik yang pernah dirilis oleh Sajama Cut, dan salah satu momen terbaik album ini bagi saya. Dengan lengkingan gitar yang nyaring dan sahut-sahutan keyboard yang ramai, lagu ini terdengar seperti campuran antara interlude brilian yang tercipta setelah soundcheck asal-asalan dan sebuah demonstrasi akan potensi sonik yang dapat dicapai oleh Sajama Cut, bila mereka mau. Sayangnya, lagu ini usai setelah kurang dari dua menit.

 

 

6. Dinner Companion (4:45)

Sebuah lagu sore hari yang menginspirasi imaji-imaji tumblr-able seperti menatap mentari yang perlahan-lahan terbenam di atap kantor, jemuran yang ditiup secara subtil oleh angin sepoi-sepoi, dan kegiatan jogging yang disyuting dengan efek slow motion. Keyboard dari Hans Citra Patria dan bass dari Randy Apriza Akbar memainkan nada konstan, selagi Dion Panlima Reza asyik bermain-main dengan efek gitarnya, menciptakan penutup yang menyenangkan dan sinematik.

 

7. Fatamorgana (3:52)

Jika Bloodsport terdengar seperti lagu Sajama Cut yang paling pas untuk training montage film laga, Fatamorgana hendaknya dimainkan di adegan malam terakhir sang protagonis dengan kekasihnya sebelum pertarungan utama. "Songs that you sing, we can hope it causes a sound," nyanyi Marcel. "We can gather the right around, it can be a victory ground." Jika Manimal kadang terdengar seperti The Osaka Journals versi keyboard, Fatamorgana menunjukkan bagaimana Sajama Cut telah berkembang dan semakin dewasa - baik secara musikal, maupun secara emosional. Nada gitar yang apik di penutupan lagu ini adalah salah satu momen favorit saya di Hobgoblin.

 

8. House of Pale Actresses (2:49)

Sebuah nomor ambient indah yang membuat saya teringat akan momen-momen terbaik di EP East of Sadness. Ciamik untuk dijadikan pengiring tai-chi, menyeruput teh secara perlahan di depan taman, dan melongok keluar jendela bis di tengah perjalanan panjang di jalanan antar provinsi yang sepi.

 

 

9. Recollecting Instances (6:40)

Lagu terbaik di album ini. Sajama Cut tak terdengar terburu-buru, mereka membiarkan setiap lapisan muncul pada waktunya. Jika Bloodsport sukses memamerkan satu per satu kemampuan dan kontribusi para personilnya – “Ini Sajama Cut, bung! Bukan Marcel Thee dkk.” - Recollecting Instances menunjukkan bagaimana mereka mampu menerapkan pengertian bersama ini secara dewasa. "Album ini adalah  hasil dari serunya belajar bersama," ucap gitaris Dion Panlima Reza. Dan Recollecting Instances adalah salah satu buktinya.

 

10. Compassion (1:20)

Serupa dengan Beheadings, ia adalah nomor instrumental yang mengundang kita untuk meminta lebih. Sebuah interlude yang manis, walau tidak semenantang Beheadings.

 

11. Rest Your Head on the Day (7:17)

Dari dua album Sajama Cut yang telah saya dengarkan (Manimal dan The Osaka Journals), ada satu faktor yang selama ini belum muncul: sebuah penutup yang saklek. Mew, misalnya, memiliki lagu Comforting Sounds. Sebuah lagu yang tidak mesti paling catchy, tidak mesti paling memamerkan kebolehan teknik personilnya, bahkan tidak mesti masuk akal di luar konteksnya sebagai penutup. Ia hanya perlu menunjukkan kesadaran penciptanya akan pentingnya dinamika dan tempo. Kali ini, Rest Your Head on the Day mengisi kekosongan tersebut.

Sebuah lagu yang sarat keyboard dan aroma indah perpisahan. Saya tidak bisa membayangkan bahwa di album berikutnya, Sajama Cut akan tetap bersikeras dengan sound keyboard kental yang telah mereka gali dan rebut di Manimal dan, kini, di Hobgoblin. Mereka telah mematangkan sebuah sound yang menjadi ciri khas, dan Rest Your Head on the Day terdengar seperti konklusi yang manis untuk fase ini. "Oh, a perfect weather, a slow out today," ucap Marcel, dengan keceriaan tertahan dan wide-eyed wonder yang belum pernah saya dengar darinya sebelumnya. "A slow out day to stay, together every way." Koor keyboard itu lantas surut dan diganti denting gitar yang lembut, dan menutup Hobgoblin dengan apik.

Lima tahun telah berlalu sejak Manimal dirilis, bukan waktu yang sebentar. Selama itu, para personil Sajama Cut sibuk bekerja, berkarya, berkeluarga, bercanda, bercinta, dan belajar. Materi album ini banyak ditulis sebelum anak Marcel Thee lahir dan diselesaikan setelah ia berkeluarga. Dan saya bisa mendengar hasil dari perjalanan 5 tahun tersebut. Hobgoblin, mungkin, adalah album Sajama Cut yang paling lengkap dan paling dewasa.

 

 

Hobgoblin akan dirilis pada 10 Juni 2015 melalui Elevation Records. Pesan album mereka di sini.