Latest Post

Studiorama dan Spektakel Kita

Konser, lebih dari apapun, adalah sebuah spektakel.

Fakta ini disadari benar oleh Studiorama, kolektif asal Jakarta yang Sabtu (18/10) lalu menyelenggarakan konser Studiorama #5. Usai setahun absen mengadakan acara sendiri dan muncul berkolaborasi dengan pagelaran lain seperti RRREC Fest tahun lalu, mereka kembali dengan format lama yang menonjolkan kolaborasi lintas disiplin dari penampil musik dengan pertunjukkan visual dari berbagai seniman. Bertempat di Rossi Musik Fatmawati, kali ini mereka mengundang Ramayana Soul, Future Collective, dan Voyagers of Icarie untuk mengisi panggung bersama duo penari Aras Ratri Kara dan Aya Adhani, seniman visual Isha Hening dan Endira F. Julianda, serta sound artist Duto Hardono.

Lantai teratas Rossi Musik telah dibuka sejak jam 2 siang, dengan amunisi DJ seperti Ari (MassiveWhat), Kimo (Double Deer), MMS (Mela, Mar, Sari), Iman Hilman (Fever Soundsystem), Satomata (Djarumondo), dan Moustapha Spliff (W_Music) yang sibuk memainkan turntable dan mengajak penonton yang baru hadir berdansa di teras. Baru jelang jam 19.30 malam panggung di seberang beranda itu dibuka untuk umum. Bibir lokasi panggung yang tampak tak jauh beda dari gelanggang olahraga di video klip ‘Smells Like Teen Spirit’ itu dikelilingi lilin kecil, membentuk separuh lingkaran. Dari samping panggung, muncul Ramayana Soul. Band yang memainkan raga/psychedelic rock ala Kula Shaker atau The Brian Jonestown Massacre ini mengajak penari Aras Ratri Kara dan Aya Adhani bergabung di atas panggung, meliuk gaya India diiringi psikedelia memabukkan yang mereka mainkan. Penampilan band yang segera merilis album debutnya ini berubah-ubah dari momen sendu hingga gerutuan manic yang lepas kendali. Sang penyanyi, Angga, tampak sibuk mondar-mandir antara keyboard, sitar, dan berkeliling di dalam separuh lingkar lilin sambil berteriak-teriak dan membanting diri ke lantai.

Berikutnya, hadir Future Collective. Lilin-lilin yang melingkari bibir panggung telah dipinggirkan, diganti trio mikrofon yang berdiri di depan dua gerombolan keyboard dan laptop yang berhadap-hadapan. Sound artist Duto Hardono maju ke depan, membacakan potongan dialog dari tiga karakter imajiner yang masing-masing mendapat satu mikrofon. Mulai dari gerutuan seorang karakter yang mengeluhkan mantan pacarnya, observasi rekannya tentang Jakarta dan kekosongan, hingga seorang anarkis yang (nampaknya) mabuk, penampilan spoken word ini mendahului lagu-lagu Future Collective. Duo yang beranggotakan Sawi Lieu dan Tida Wilson ini memainkan musik elektronika yang – terlepas dari kata-kata deskripsi yang mungkin klise – terdengar smooth, rumit, dan menenangkan pada saat bersamaan. Diiringi seorang drummer dan pemain bass, musik yang mereka mainkan terdengar seperti duduk dekat jendela dalam perjalanan kereta menuju French Riviera. Jelang lagu penutup, Duto maju untuk terakhir kalinya dan berteriak ke mikrofon, “I spell ANARCHY any way I want!! Future Collective, Motherfuckers!!!”

Acara ini lantas ditutup oleh Voyagers of Icarie, grup asal Jakarta yang naik panggung untuk pertama kalinya sejak tahun 2009. Panggung yang tadinya penuh ornamen kini tampak lebih sederhana dan sepi. Para personil Voyagers of Icarie berdiri di tempatnya masing-masing, sementara tiga layar kecil digantung di belakang panggung seperti trio All-seeing Eye. Penataan panggung yang sederhana dan pencahayaan gelap ini cocok dengan musik Voyagers yang temaram. Sekilas, saya teringat dengan warna musik Pandai Besi, proyek lain dari Monica Hapsari, seniman sekaligus salah satu penyanyi Voyagers. Namun, tak seperti Pandai Besi yang lebih keras dan hobi mengakhiri lagunya dengan ledakan suara yang bertenaga, musik Voyagers terdengar lebih senyap dan lambat. Dengan harmonisasi vokal yang apik serta petikan gitar lembut yang perlahan-lahan makin agresif, mereka terdengar seperti band koor gereja Gothic dari luar angkasa, memainkan musik untuk mengiringi perjalanan Hari Minggu menuju planet lain yang tak kunjung tampak di pelupuk mata. Di nomor ‘Past Life Promises’, mereka berkolaborasi dengan seniman visual Isha Hening dan Endira F. Julianda. Ketiga layar di belakang panggung itu menampilkan visualisasi buram yang perlahan menghilang dan beralih ke layar lainnya. Diiringi lagu Voyagers of Icarie yang kelam, panggung itu tampak lebih menghipnotis dari biasanya.

Beranjak turun dari lantai 4, saya menemui kerumunan yang bersimbah keringat dan bising di lantai dasar. Puluhan, bahkan ratusan anak muda yang ngos-ngosan terkapar di lantai, atau berbondong-bondong keluar mencari angin. Sebuah konser tengah berlangsung, dan lapak-lapak dadakan yang menjual kaos dan aksesoris band memenuhi lantai dasar hingga pintu masuk. Aroma keringat dan asap rokok memenuhi udara. Sontak, saya terhenyak dengan kontas antara Studiorama yang terukur dan nyaman dengan riuh rendah konser punk tersebut, apalagi keduanya saya temukan di bawah atap yang sama. Namun, pertemuan ini pun menyadarkan saya akan kekuatan utama Studiorama yang, dalam satu atau lain hal, menjadi kekurangannya yang paling gamblang pula.

Kita kembali ke awal, pada ide bahwa konser adalah spektakel. Prinsip ini bisa jadi diamini oleh semua penggerak konser di muka bumi, namun diartikan secara berbeda-beda. Konser-konser bawah tanah seperti acara punk di lantai dasar Rossi itu memutuskan untuk mendobrak ambang batas antara ‘penampil’ dan ‘penonton’, dan menjadikan percampuran itu sendiri sebagai spektakel. Panggung dan mikrofon tak lagi suci – belum afdhol rasanya bila belum ada invasi ke atas panggung atau penonton nekat yang merebut mic dan berteriak gila. Konsep umum seperti ‘acara yang rapi’ atau ‘musik yang bisa didengarkan dan masuk akal’ ditendang jauh-jauh. Acara seperti yang berlangsung di lantai dasar Rossi malam itu hidup dari kekacauan, dan semangat persaudaraan yang terjalin erat antara sesama bajingan panggung.

Sementara, Studiorama memilih rute yang berbeda. Mereka menciptakan sebuah pertunjukkan seni lintas disiplin yang menakjubkan, namun menegasikan percampuran audiens yang menjadi karakter konser di lantai dasar. Satu benang merah yang saya tangkap bila dibandingkan dengan Studiorama #4 tahun lalu: Menonton Studiorama lebih terasa seperti menghadiri performance art di pameran ketimbang ‘konser’. Di sinilah letak kehebatan Studiorama sebagai sebuah kolektif. Mereka begitu rinci dan ahli mengkonstruksi kolaborasi seni lintas disiplin yang dieksekusi dengan apik – meski kadang terkesan berlebihan. Studiorama menciptakan sebuah dunia ‘lain’, sebuah sirkus audiovisual yang menghadirkan banyak band-band berkualitas yang dikurasi dengan apik, dan menyihir penonton memasuki spektakel membius. Namun, elemen jarak itu masih ada. Panggung Studiorama terasa seperti tempat suci, dan menyentuhnya membuat saya merasa dekaden.

Beberapa konser menciptakan semesta baru yang penuh keajaiban untuk kita nikmati, konser lain meleburkan semesta dan menjadikan kita semua Tuhan-Tuhan kecil. Bukannya ini salah; toh perbedaan adalah dasar dari keindahan, bukan? Akan menarik untuk melihat apakah ke depannya, Studiorama akan bertahan dengan ceruk mereka sendiri dan mengeksplorasi sisi tersebut, atau keluar dari zona nyaman dan mencoba menempatkan audiens tak hanya sebagai tamu dan penikmat, namun juga sebagai bagian dari spektakel itu sendiri.

Apapun itu, saya punya ambisi baru: Untuk moshing di depan panggung Studiorama!