Latest Post

Vague: Footsteps

Jujur saja, anda tidak mendengarkan musik karya band-band seperti Vague untuk mendengar keindahan. Trio asal Jakarta yang beranggotakan Yudhistira (vokal/gitar), Gary Hostage (bass), dan Januar Kristianto (drum) ini kerap dibanding-bandingkan dengan jagoan post-hardcore/indie rock macam Dinosaur Jr, Fugazi, serta Sonic Youth. Bukan nama-nama yang dikenal dengan melodi manis, ritme menenangkan, dan harmonisasi lembut nan gemulai. Anda mendengar musik sejenis Vague untuk mendengar desau gitar yang membuat pekak telinga dan ekspresi kemarahan yang meluap-luap.

Dan di ranah inilah Vague pantas diuji dan, usai mendengar hasil akhirnya, dipuji. Kemarahan yang tertuang dalam Footsteps, album perdana mereka, tidak terdengar seperti semburat emosi yang asal. Meski vokal dan permainan gitar Yudhistira tidak bisa dibilang rapi dan terencana, ada elemen keteraturan dalam lagu-lagu Vague yang menjadikan mereka terdengar lebih dari sekedar satu lagi band revivalist 90'an. Musik mereka terdengar lebih rumit, kaya, dan menarik. Di satu sisi, kualitas rekaman yang jauh lebih baik ketimbang debut EP mereka yang menjanjikan namun berantakan, Vague EP (2013), berperan besar. Namun, faktanya adalah, Vague menjadi lebih dewasa sebagai band.

 


“Around the corner I turn to hide,

A man plays guitar to no crowd,

Starngers’ footsteps, they’re so loud,

Echoing clouds of my self-doubts.

I am nothing but a mistake that repeats itself.”

- “Footsteps”


 

Album ini dibuka dengan 'Footsteps', yang bahkan dalam versi demo-nya sekalipun terdengar seperti lompatan jauh ke depan untuk Vague. Gelombang distorsi gitar dan teriakan kencang dari Yudhistira kemudian bertransformasi jadi comedown yang ciamik dan didominasi bassline ganas dari Gary Hostage. Single perdana album ini, 'Inadequate', dan nomor 'Retreat' melanjutkan kepiawaian Vague dalam memainkan tempo dan mood lagu. Kemudian datang salah satu lagu paling impresif di album ini, 'A Giant Blur'. Sebuah roller-coaster emosi sepanjang enam menit tiga puluh detik yang mengajak anda moshing macam kerumunan punk di Rossi, lantas menutup mata seperti jemaat post-rock paling taat di Bandung.

Momen-momen seperti itulah yang menjadi kunci kenapa album ini berhasil membius saya. Pada EP debut mereka, sejatinya masalah terbesar Vague cukup jelas. Bagi saya, mereka terdengar seperti band yang terburu-buru. Anda tak sempat menikmati mereka, dan mereka sudah pergi. Tidak lagi. They take their time now, and damn they use it well.

 


“The values that I uphold, the values of my youth.

The values that I’m left with – what do they mean now?

Absolutely nothing. Absolutely everything!”

- “Fade”


 

Kontras dengan lirik mereka yang sarat dengan tema-tema keterasingan, angst, dan keputusasaan, di Footsteps, mereka terdengar seperti band yang jauh lebih nyaman di kulit mereka sendiri, yang paham akan identitasnya dan memberi waktu bagi diri mereka sendiri untuk menikmati musik yang mereka mainkan. Bahkan di paruh kedua album ini yang jauh lebih pendek dari paruh pertama yang brilian, masih ada lagu-lagu seperti 'Untitled' dan 'Fade' yang terdengar matang, terkonsep, dan masuk akal. Tiga istilah yang tidak biasanya diaplikasikan untuk musik-musik seperti ini.

Namun, sekali ini saja, anggap itu pujian. Kenyataannya, ini album yang beringas. Dalam 'Footsteps', Vague menyajikan album penuh amarah dan kebingungan yang bisa didengarkan dan dinikmati tanpa harus marah dan bingung. Dan bagi saya, itu adalah pencapaian yang mengesankan.

 

“Footsteps” dirilis dalam format kaset oleh Ruangkecil Records dan dalam format CD oleh Sonic Funeral Records. Pesan langsung ke Yudhistira di 08179837029, atau kirim surel ke sonicfuneralrecs@gmail.com.

PS: Tanyakan pada Yudhis, kapan Clatter mau rekaman?