Latest Post

The Young Liars: One-Eyed Jones

Pengulangan adalah perubahan. Dan lagu ini adalah contoh dari hipotesa tersebut.

One-Eyed Jones adalah single perdana dari album debut The Young Liars, band indie-rock asal Jakarta yang dibentuk tahun 2008 silam. Usai merilis EP self-titled di 2009, mereka lantas mewakili Indonesia di MIDEM Festival, Perancis, bersama White Shoes and the Couples Company pada 2012. The Young Liars, yang beranggotakan Rizki Aryo Wicaksono (gitar, vokal), Arya Lintang (gitar), Uton Nawai (drum), dan Tantra Hardiantra (bass) baru-baru ini mengumumkan bahwa mereka akan merilis album debut mereka, Rue Massena, akhir tahun ini.

Dimulai dengan riff gitar yang memanggil arwah-arwah Arctic Monkeys dan dentum drum yang kasar, The Young Liars menyanyikan lagu tentang ambisi yang salah tempat dan adiksi yang mematikan. Lagu ini terdengar lebih rapi daripada sekedar demo dari band yang menaikkan kenop volume ke angka maksimal dan berdoa. Suara vokal mereka terdengar lebih membaur dengan musik, alih-alih berlomba-lomba mencari perhatian dengan musik seperti di EP pertama mereka.

Cerita di balik lagu ini terbilang menarik. One-Eyed Jones, menurut frontman Rizki Aryo Wicaksono, ditulis "dengan spontan setelah mendengar kabar room-mate gue jaman kuliah terjebak dalam kelamnya dunia perjudian." Riff lagu ini yang dominan, ucap Rizki, dirancang guna menutupi "cerita di balik liriknya yang mengenaskan." Perbedaannya terasa. Kontras dengan EP self-titled mereka yang lebih ricuh dan sarat teriakan high-pitched, One-Eyed Jones terdengar lebih tenang, terukur, dan – meminjam istilah klise – ‘dewasa.’

Namun, apakah justru pendewasaan ini yang menjatuhkan The Young Liars? Gaya post-punk revival kasar dengan aroma Inggris kental yang mereka mainkan jelas mengundang perbandingan dengan Arctic Monkeys, sang pahlawan indie rock sejuta umat. Tapi, pada EP perdana mereka, The Young Liars tidak semudah itu dikotak-kotakkan. Mereka terdengar seperti The Datsuns yang lebih mentah, atau The S.I.G.I.T yang lebih modern. Meski akhirnya saat itu saya berkesimpulan bahwa band ini secara keseluruhan terdengar seperti masih mencari-cari identitasnya sendiri, setidaknya mereka punya nomor Here Alone yang (masih) wajib didengarkan. Gaya ugal-ugalan mereka menjadi ciri khas yang seru.

Kini, mereka terdengar lebih nyaman dalam kulitnya sendiri. Namun, baju siapa yang mereka kenakan? Sulit untuk menghindari jalan mudah dan tidak membanding-bandingkan mereka dengan Arctic Monkeys, karena pengaruh AM semakin kentara di single terbaru ini. Mulai dari suara gitar mereka, cengkok vokal Rizki, hingga cara lagu mereka menyajikan kontras antara musik yang riuh rendah dengan vokal menggumam berbahasa Inggris, lagu ini menampilkan band yang semakin dewasa dalam repetisi. Ada banyak jalan menuju Sheffield, dan The Young Liars menapaki semuanya tanpa ba-bi-bu.

Bisa jadi, ini kasus serupa dengan Chewing Sparkle. Generasi 2000 pertengahan yang tumbuh dengan pop-punk dan post-punk revival sudah mulai tua, mulai lulus dari universitas dan dipusingkan dengan urusan mencari pekerjaan. Maka, mereka butuh pelepasan. Mereka butuh band yang dapat memanggil kembali era-era keemasan dan musik yang mendefinisikan masa-masa tersebut. Menilik pendewasaan bersama ini, munculnya band-band semi-tribut seperti The Young Liars dapat dirasionalisasikan.

Lucunya, mereka menduplikasi semangat Arctic Monkeys era awal dengan menggebu-gebu, sementara Arctic Monkeys sendiri telah berubah drastis. Mereka bukan lagi sekumpulan bocah-bocah ingusan dari Sheffield yang ingin pesta rusuh dan minum bir sambil nongkrong. Lihat saja Alex Turner sekarang. Ada satu titik dalam karier Arctic Monkeys di mana mereka memutuskan untuk bertransformasi jadi superstar Hollywood purna waktu, dan itu tercermin dalam karya mereka. Silahkan diperdebatkan apa mereka jadi lebih baik atau lebih buruk ("Lebih buruk." - red). Intinya, perubahan itu ada. Evolusi itu ada.

Tapi, memangnya saya berhak apa untuk mengkritik mereka? Bisa jadi saya munafik. Toh, saya tetap menyukai Bangkutaman meski mereka sangat Madchester. Saya tetap menyukai Ramayana Soul meski orang bisa bilang mereka cuma Kula Shaker yang lebih 'India'. Memangnya siapa sih yang orisinil? Bahkan nama band ini dimulai dari ungkapan tak percaya teman Rizki, yang menuduhnya mengambil ide nama band tersebut dari orang lain. The Young Liars pun terbentuk, dan berkoar di halaman media sosial mereka: "Kami mengerti bahwa tidak ada yang orisinil, dan semua ide adalah kombinasi dari inspirasi-inspirasi yang dicuri. We are The Young Liars. We lie until we make it." Sebuah deklarasi yang berani dan, dalam konteks ini, sejatinya cukup pantas diacungi jempol.

Jadi, ketimbang sibuk berpretensi menciptakan orisinalitas, mari kita merayakan pengulangan. Repetition is a form of change. Repetition is a form of change. Repetition is a form of change.